Married With The Devil

Married With The Devil
Kenangan Buruk 2


__ADS_3

Alan tersenyum simpul seraya mengambil segelas air yang Bianca berikan padanya. Meneguknya hingga tersisa setengah lalu kembali meletakkannya di atas meja nakas di dekatnya. Sekilas, Alan melirik jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul sembilan.


“Beruntung aku masih punya kakek.” Ucap Alan. Kedua bibirnya tersenyum hangat ketika kembali mengenang sosok Arthur.


“Bagaimana dengan nenekmu?” Tanya Bianca penasaran. Iris coklatnya menatap Alan lekat.


“Grandma sudah lama meninggal. Jauh sebelum aku lahir.” Alan berucap sedih. Ia hanya bisa menatap foto neneknya yang ditunjukkan oleh Arthur ketika ia berumur tujuh tahun. Dan kesan pertama Alan ketika melihat potret Michelle–neneknya adalah, wanita berdarah Jerman itu memiliki kulit putih porselen, rambut perak dan mata berwarna biru-amber.


“Mereka berdua pasti bangga padamu.” Ucap Bianca seraya meremas lembut tangan Alan. Seakan ingin memberikan kekuatan pada pria itu.


“Tentu saja. Aku cucu kebanggan mereka berdua.” Jawab Alan bangga seraya tertawa kecil.


“Aku selalu meyakinkan diriku sendiri, selama kakek berada di sisiku, maka aku akan tetap baik-baik saja."


Arthur melangkahkan kakinya menuju ruangan kerja Albert yang berada cukup jauh dari halaman belakang rumah yang selalu menjadi tempat favoritnya. Suara tongkat kayunya menghasilkan bunyi nyaring ketika beradu dengan lantai granit yang dipijaknya. Samar-samar, ia bisa mendengar teriakan anaknya—Albert.


“Bodoh! Hanya mencari satu kesalahan saja kau tak bisa.” Albert kembali berteriak marah seraya memaki Alan yang duduk tak jauh darinya. Matanya berkilat tajam.


“Ma–maafkan aku.” Lirih Alan. Ia hanya bisa tertunduk takut seraya menatap jarinya yang tertaut.


“Lupakan berkas sialan itu dan cepat baca ini. Dalam waktu tiga puluh menit, kau harus bisa menguasai dan membuatnya.” Albert berucap jengkel seraya melemparkan sebuah buku grafik yang cukup tebal pada Alan. Ia ingin anak satu-satunya itu bisa menguasai segala sesuatu yang berhubungan dengan bisnis secara cepat dan juga tepat.


“Tapi aku–aku lapar.” Ucap Alan. Ia hanya sarapan pagi dan ketika waktu jam makan siang tiba, ayahnya menahan dan melarangnya untuk keluar ruangan sebelum ia mampu memuaskan keinginan pra itu.


Albert menggeram marah. Dengan cepat, ia bangkit dari duduknya untuk menghampiri Alan. Berdiri di hadapan Alan seraya menatapnya tajam penuh intimidasi.


“Dengarkan aku baik-baik, tak akan ada makan siang apalagi makan malam sampai kau bisa memenuhi keing—”


Alan dan Albert sama-sama menatap pintu ruangannya yang baru saja terbuka dengan pelan. Dengan kesal, Albert berbalik seraya menggeram. Ia sudah berpesan pada asisten pribadinya agar tak membiarkan siapapun mengganggunya saat ini.


“Bukankah sudah kukatakan untuk tak mengganggu—Dad.” Albert tak melanjutkan ucapannya ketika pintu ruangan kerjanya baru saja terbuka lebar dan mendapati Arthur tengah berdiri dalam diam.


Perlahan, Arthur melangkah masuk dengan tatapan yang terus mengarah pada cucunya. Anak kecil itu menatapnya memohon dengan wajah pucat.

__ADS_1


“Alan, kemarilah.” Ucap Arthur lembut seraya mengulurkan sebelah tangannya yang bebas. Bibirnya tersenyum hangat.


“Kakek!” Alan dengan cepat berlari menghampiri Arhtur. Ia langsung memeluk pinggang pria itu seraya menenggelamkan wajahnya di dalam perut sang kakek.


“Alan!” Teriak Albert marah sehingga membuat Alan segera bersembunyi di belakang tubuh kakeknya. Kedua matanya terpejam takut—tak berani menatap ayahnya.


“Bukankah sudah berkali-kali kukatakan padamu agar tak mendidiknya dengan terlalu keras?” Arthur bertanya dengan suara pelan. Namun matanya menatap lekat pada Albert.


“Ayah, anak itu memang harus dididik dengan keras. Menjadikannya bibit unggul sedari dini adalah hal yang tepat.”


“Bibit unggul? Dengan cara menyiksanya?” Kali ini, Arthur berucap dengan nada menyindiri. Kedua matanya menatap Albert tajam. Sekalipun sudah tak muda lagi, namun sikap tegas dan berwibawa di dalam diri Arthur masih melekat kuat.


“Alan saja yang terlalu lemah. Aku hanya tak ingin dia berakhir seperti Jasmine. Wanita bodoh itu lebih memilih untuk menikahi pria miskin seperti Wilson.”


“ALBERT!” Arthur berteriak marah seraya menatap anaknya dengan rahang mengeras. Albert tertunduk, sadar jika ia telah membuat ayahnya marah. Bagaimana pun juga, pria yang berada tak jauh darinya saat ini adalah sosok yang sampai kapan pun akan selalu dihormatinya.


“Seharusnya kau sadar, Jasmine lebih memilih untuk pergi dan menikah dengan pria miskin dari pada harus tinggal bersama manusia tak punya hati sepertimu. Alan, ayo.” Arthur segera menggenggam tangan Alan dan mengajaknya untuk melangkah pergi bersama. Di belakangnya, Albert terdiam dengan tangan mengepal.


Jasmine—adik perempuan satu-satunya yang ia miliki, memilih untuk pergi dan hidup bersama Wilson. Sekalipun Wilson berstatus sebagai seorang pengusaha, tapi Albert tidak akan pernah mau mengakuinya sampai pria itu berada di puncak seperti dirinya. Atau setidaknya, berdiri di tempat yang sejajar dengannya.


Menginjak usia sebelas tahun, kakeknya mulai sakit-sakitan dan lebih banyak menghabiskan waktunya dengan terbaring lemah di rumah sakit. Selama satu minggu dirawat, tak pernah sekalipun Alan menjenguknya karena Albert yang tak pernah mengizinkannya. Pria itu bahkan melarangnya untuk menginjakkan kaki di luar rumah walau hanya satu langkah kecil. Alan dipaksa untuk belajar di rumah. Dengan Albert yang menyewa guru-guru terbaik disetiap bidangnya.


Suatu hari, ketika mendengar kabar jika kakeknya akan pulang sebentar lagi, Alan berusaha keras untuk menyelesaikan semua tugas yang diberikan oleh guru privatnya.


“Ada apa?” Alan bertanya pada salah satu pelayan di rumahnya ketika baru saja keluar dari ruang belajarnya.


“Tuan Arthur sudah pulang.”


“Kakek.” Seru Alan senang. Dengan cepat, ia berlari menuju ruangan utama untuk menyambut kakeknya.


“Alan!” Panggil Albert.


“Di mana kakek?” Tanya Alan. Ia tak memedulikan wajah kesal ayahnya. Saat ini, satu-satunya hal yang ia inginkan adalah bertemu dengan sosok yang sangat dirindukannya.

__ADS_1


Alan kecil terus mencari di tengah kerumunan pelayan rumahnya. Ia juga melihat beberapa keluarga besarnya yang selama ini jarang ditemuinya.


“Kakekmu ada di sana.” Albert berucap datar seraya menunjuk sebuah peti mati berwarna putih. Dengan cepat, Alan menerobos kerumunan untuk bisa bertemu dengan Arthur. Namun, yang ia dapatkan adalah tubuh kaku kakeknya yang terbaring tak berdaya. Wajah pucat serta kedua mata yang terpejam. Alan menatap tak percaya dengan mata membulat. Tubuhnya bergertar hebat dan tak lama, tangisannya pecah.


Ia sudah cukup besar untuk memahami jika satu-satunya orang yang selalu berada di sisinya, memeluknya hangat serta menghapus air matanya, telah pergi untuk selama-lamanya dari dunia ini. Tak akan ada lagi yang menyambutnya dengan senyuman hangat. Atau pun yang menenangkannya ketika ia sedang ketakutan.


Alan meronta. Tangisannya semakin keras dan terdengar begitu memilukan.


“Kakek!” Alan kembali mengguncang tubuh kaku Arthur. Berharap jika pria tua itu kembali membuka kedua matanya. Namun harapannya sia-sia, Arthur telah memilih untuk tertidur selamanya. Meninggalkannya seorang diri.


“Cepat bawa Alan ke kamarnya.” Perintah Albert pada salah satu pelayannya.


“Baik, Tuan.”


“Tidak! Lepaskan aku. Aku ingin bersama kakek.” Teriak Alan. Ia kembali menggenggam erat tangan Arthur, seolah tak ingin berpisah.


Albert kembali memberi perintah pada beberapa pelayannya. Dengan sigap, mereka mengikuti perintah tuannya. Tubuh Alan berhasil digendong oleh dua orang pelayan pria.


“Ayah, biarkan aku bersama kakek.” Alan kembali berteriak memohon. Namun yang didapatinya adalah tatapan dingin Albert. Ditengah rasa sakit dan sedihnya akibat kehilangan satu-satunya sosok yang sangat ia sayangi, tangan Alan terkepal kuat. Iris hitamnya berubah gelap—pekat.


Alan balas menatap Albert tajam. Tak ada lagi wajah ataupun tatapan ketakutan yang selama ini ia tunjukkan ketika berhadapan dengan pria itu. Yang ada justru kebencian mendalam.


Di dalam hati, Alan bersumpah, jika ia akan membalas Albert. Dengan lebih buruk lagi.


“Kakek lebih memilih untuk meninggalkanku.” Alan berucap dengan suara tercekat. Kedua matanya terasa panas. Namun ia tak ingin meneteskan air mata di hadapan Bianca. Alan tak ingin terlihat lemah di depan wanita yang seharusnya ia jaga dan lindungi.


“Alan.” Bianca berbisik pelan. Ia segera menegakkan sedikit tubuhnya untuk merengkuh tubuh suaminya. Dengan cepat, Alan menenggelamkan wajahnya di dada Bianca. Kedua tangannya memeluk pinggang wanita itu erat.


Mereka berdua tak mengatakan apa pun. Bianca lebih memilih untuk mengelus rambut Alan lalu mendaratkan kecupan-kecupan kecil.  Hatinya di dalam sana juga ikut berdenyut sakit serta dipenuhi rasa sesak.


Bahkan untuk yang terakhir kalinya, Alan tetap tak diperbolehkan untuk berada di sisi kakeknya. Bianca tak berani membayangkan, makhluk mengerikan seperti apa Albert—pria yang menurutnya, tak memiliki hati sama sekali.


Mendadak, Alan mendongak. Iris hitamnya menatap Bianca sendu. Bianca tersenyum. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya pada Alan tanpa mengalihkan tatapan sedikitpun.

__ADS_1


Bianca mencium bibir Alan cukup lama. Tanpa pergerakan sedikitpun. Hanya sekadar menempel. Namun Bianca berharap, Alan bisa merasa sedikit lebih tenang.


__ADS_2