Married With The Devil

Married With The Devil
Merasa Lebih Baik


__ADS_3

Alan yang berniat untuk memeluk Biancanya, tersentak kaget dalam tidurnya ketika tak merasakan keberadaan wanita itu di sebelahnya. Dengan cepat, ia membuka mata dan melihat jam dinding di kamarnya. Pukul tujuh pagi lewat lima belas menit


Semalam, Alan tak tahu ia dan Bianca tidur pukul berapa. Yang ia ingat hanyalah, ketika ia memeluk tubuh Bianca yang tengah terisak kecil. Lalu setelahnya, Alan tak bisa lagi mengingat apa pun karena jatuh terlelap bersama Bianca. Dan ini adalah pertama kalinya Alan bisa tertidur lelap setelah beberapa terus dihantui oleh mimpu buruk.


“Bianca.” Gumam Alan. Ia segera bangkit dari atas tempat tidur dan berlari keluar untuk mencari istrinya. Berharap wanita itu tak meninggalkannya setelah mendengarkan ceritanya semalam.


“Bianc—” Alan yang baru berniat berlari turun menuju lantai satu, menatap tak percaya ketika mendapati Bianca tengah berada di ruang makan bersama Sofie.


“Selamat Pagi.” Sapa Bianca ketika secara tak sengaja menatap siluet tubuh suaminya. Ia mendongak seraya tersenyum simpul.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Alan saat berada di anak tangga paling bawah. Bianca sudah rapi dengan seragam sekolahnya.


“Menyiapkan sarapan untukmu.” Jawab Bianca. Sofie yang baru saja muncul dan membawa segelas espresso dengan asap yang masih mengepul untuk Alan, tersenyum kecil.


“Nyonya memaksa untuk ikut membuatkan sarapan.” Seru Sofie.


“Aku tak memaksa. Aku hanya bilang ingin membantumu.”Kilah Bianca. Sofie tertawa kecil mendengarnya. Ia bersyukur karena suasana di dalam rumah Alan, sedikit demi sedikit sudah mulai terasa hangat dan juga berwarna.


Alan tak mengucapkan apa pun, dengan segera, ia melangkah menghampiri Bianca lalu memeluknya erat. Merasa bahagia karena ternyata wanita itu tak meninggalkannya.


“Kupikir kau meninggalkanku.” Bisik Alan. Kedua matanya terpejam. Tanpa menunggu lama, Sofie kembali menuju dapur. Tak ingin mengganggu kebersamaan tuannya.


“Aku tak punya alasan untuk pergi meninggalkanmu.” Jawab Bianca. Ia juga balas memeluk Alan erat.


“Tunggu aku. Aku yang akan mengantarmu ke sekolah.” Ucap Alan setelah melepaskan pelukannya.


“Tapi Jimmy—”


“Tak usah pedulikan Jimmy.” Potong Alan. Ia mengecup singkat bibir Bianca. Hari ini, ia yang akan mengantar dan menjemput Bianca. Sementara Jimmy akan ia suruh pergi ke kantor lebih dulu.


“Tapi aku sud—” Alan kembali membungkam bibir Bianca. Ia tak suka ketika wanita itu terus saja membantah ucapannya. Alan merasa, jika Bianca lebih senang saat diantar oleh Jimmy dibanding dirinya.


“Nona Bianca.” Alan dan Bianca tersentak keget ketika mendengar suara yang tak asing. Setelah menyesap bibir bawah Bianca, Alan segera menjauhkan tubuhnya. Ia menoleh untuk menatap asal suara dan mendapati Jimmy sedang berdiri menatap mereka dengan wajah datar.


“Apa yang kau lakukan?” Tanya Alan ketus. Merasa jengkel karena Jimmy mengganggu kegiatannya bersama Bianca.


“Menjemput nona Bianca.” Jawab Jimmy tak acuh.


“Bukankah aku belum memberitahumu?” Alan menatap Jimmy lekat. Ia ingat betul belum menghubungi Jimmy dan memberitahu pria itu jika ia dan juga Bianca telah berbaikan.


“Aku yang menghubunginya tadi.” Seru Bianca. Ia menatap Alan seraya tersenyum lebar. Ia bukannya bersikap lancang, Bianca hanya merasa tak enak jika ia harus membangunkan Alan. Pria itu tertidur lelap dengan nyaman.


“Hari ini aku tak akan membawa mobil. Jadi, aku juga akan ikut bersama kalian.” Ucap Alan. Ia segera melesat menuju lantai dua untuk mandi dan bersiap-siap ke kantor. Alan tersenyum simpul. Pagi ini, hatinya benar-benar terasa ringan. Seolah tak ada lagi beban menumpuk di dalamnya.


Sepeninggal Alan, Bianca langsung mengajak Jimmy untuk sarapan bersama. Seperti biasa, pia bermata biru itu menolak. Namun karena Bianca juga tak mengenal kata menyerah, ia terus memaksa Jimmy sampai akhirnya pria itu mengalah.


“Jimmy, apa aku harus selalu memaksamu?” Tanya Bianca. Ia tengah sibuk mengoles roti ditangannya dengan selai kacang.


“Maafkan aku.” Ucap Jimmy seraya menunduk sekilas. Merasa tak enak ketika mendengar ucapan Bianca.


Bianca tersenyum. Sudah terbiasa akan sikap Jimmy.

__ADS_1


“Untukmu.” Bianca meletakkan roti yang baru saja diolesinya dengan selai kacang di atas piring yang berada di hadapan Jimmy. Ia tersenyum simpul ketika Jimmy menatapnya kaget.


“Tapi tuan—”


“Aku bisa membuatkan lagi untuknya.” Potong Bianca. Jujur saja, ia merasa sedikit aneh ketika Jimmy lebih mendahulukan Alan di atas segalanya. Bahkan dalam urusan sarapan sekaligus. Bianca tahu betul jika posisi Alan tetaplah sebagai seorang pemimpin, hanya saja, ia merasa jika Jimmy juga perlu mengutamakan dirinya, walau hanya sesekali.


Jimmy mengangguk mengerti lalu menikmati roti yang Bianca berikan untuknya. Tanpa mau repot-repot menunggu kedatangan Alan. Bianca tersadar, dimatanya, Jimmy dan Alan memang terlihat seperti seorang atasan dan bawahan. Namun pda kenyataannya, mereka mungkin saja memiliki ikatan yang lebih kuat dari itu.


***


“Bianca.” Panggil Lily seraya berlari kecil untuk menghampiri Bianca ketika melihat wanita itu baru saja turun dari mobil.


“Lily.” Sapa Bianca. Ia segera menggenggam dan menarik tangan Lily untuk berdiri di sebelahnya. Dan menyadari jika Alan juga tengah berada di dalam mobil tersebut karena kaca jendelanya yang terbuka.


“Ms. Chasel, terima kasih.” Ucap Alan penuh ketulusan. Ia menatap Lily sembari tersenyum lembut.


Lily tak menjawab. Ia justru mengerjapkan matanya beberapakali untuk meyakinkan dirinya sendiri jika ia tak sedang bermimpi. Pria di hadapannya saat ini—yang selalu memasang wajah tanpa ekspresi, tersenyum manis padanya.


“Nona.” Jimmy yang sedari tadi menutup mulut di depan kemudi mobil, menengokkan kepalanya untuk menatap Bianca dan juga Lily. Berniat untuk berpamitan karena harus segera ke kantor.


Kali ini, Lily justru menatap Jimmy tanpa kedip. Apalagi saat matanya bertubrukan dengan mata biru pria itu. Sungguh, Lily bisa melihat langsung keindahan bawah laut yang begitu mempesona.


Ya Tuhan


“Ayo.” Setelah melambai sebentar pada Alan dan juga Jimmy, Bianca segera menarik paksa tangan Lily untuk melangkah masuk menuju kelas masing-masing. Hari ini, mereka memiliki jadwal mata pelajaran yang berbeda. Bianca hanya bisa terkekeh geli ketika melihat respon Lily. Sama seperti gadis itu, Bianca juga tak bisa memalingkan wajahnya ketika menatap mata biru Jimmy untuk pertama kalinya. Hanya saja, dimatanya, tetap tatapan Alan yang mampu memenjaranya dengan begitu kuat.


***


“Lily.” Panggil Bianca. Ia menatap lekat gadis itu seraya mengunyah sepotong nuget ayam yang baru saja dicelupnya di dalam saus tomat.


“Hm.” Jawab Lily singkat. Ia tengah sibuk membaca novel dengan tangan yang terus menyuapi mulutnya dengan kentang goreng. Saat ini, suasana kantin tidak terlalu ramai.


“Aku ingin menjodohkanmu dengan Jimmy.”


“A–apa?!” Lily sotak menatap Bianca dengan mata membulat tak percaya. Kentang goreng yang baru saja ia ambil, meluncur bebas dari tangannya dan jatuh di atas lantai.


“Kau dan Jimmy.” Ulang Bianca sekali lagi.


“Kau … sakit?” Tanya Lily seraya menatap Bianca aneh. Sahabatnya itu tengah meracau tak jelas disaat matahari masih terik-teriknya.


“Bukankah kau menyukainya?”


“Aku? Menyukai Jimmy?” Lily menunjuk dirinya sendiri seraya mengulang pertanyaan Bianca. Tak lama, bibirnya menyunggingkan senyuman geli.


“Apa?” Tanya Bianca tak mengerti.


“Sejujurnya, secara fisik, yeah, aku menyukai Jimmy. Apalagi ketika menatap mata birunya. Hanya sekadar itu, tidak lebih.” Ucap Lily penuh keseriusan. Ia akui jika Jimmy memang tergolong pria tampan yang menjadi dambaan wanita. Hanya saja, ia tak memiliki perasaan apa pun pada pria itu. Lily hanya sekadar mengangumi mata biru pria itu.


“Kau yakin?” Tanya Bianca memastikan. Ia tak keberatan jika Lily mau menerimat tawarannya. Bianca justru merasa senang jika berhasil membuat mereka berdua bersama.


“Bianca, bukankah kau sudah lama mengenalku? Aku bukan tipe gadis yang gampang jatuh cinta ataupun menyukai orang lain. Jimmy memang tampan dan aku menyukainya, tapi rasa suka kepada seorang teman.”

__ADS_1


Bianca mengangguk pelan ketika mendengar penjelasan Lily. Menurutnya, Lily memiliki wajah yang cukup cantik dan juga bentuk tubuh yang bagus. Bianca juga ingat, saat mereka masih duduk dikelas satu, ada dua orang senior yang menyatakan cinta pada Lily dan berakhir dengan sebuah penolakan. Alasanya? Sangat sederhana. Lily ingin fokus belajar. Ia tak ingin menghabiskan waktunya untuk hal yang tak berguna. Apalagi untuk membujuk pacarnya yang sedang marah.


“Jadi kau tak punya keinginan untuk memiliki kekasih?” Tanya Bianca. Ia menatap Lily dengan padangan iba.


Lily menghela napas kasar. Ia memutar kedua bola matanya—malas.


“Aku tak ingin berakhir menjadi seorang perawan tua. Akan ada waktunya. Setelah lulus mungkin.” Jawab Lily asal. Ia kembali menyuapi mulutnya dengan sesendok salad buah.


“Bagaimana denganmu? Apa kalian sudah benar-benar berbaikan?” Kali ini Lily yang bertanya seraya menatap Bianca lekat.


“Ya. Alan dan aku sudah kembali bersama lagi.” Seru Bianca seraya tersenyum menggoda. Sengaja ingin membuat Lily kesal. Namun ternyata, Lily justru tersenyum hangat padanya. Wajahnya terlihat bahagia. Ikut senang karena Bianca dan juga Alan telah berbaikan.


***


Alan dan juga Jimmy baru saja kembali ke kantor setelah menghadiri rapat penting yang diadakan di salah satu restoran mewah disebuah hotel. Alan segera melangkah menuju sofa panjang di ruangannya untuk merebahkan tubuhnya. Ia ingin beristirahat sejenak. Sedangkan Jimmy, pria itu tengah duduk tak jauh dari Alan seraya menatap ponselnya gelisah.


“Kau menunggu telfon dari kekasihmu?” Celetuk Alan santai seraya menatap Jimmy lekat.


“Apa?!” Jimmy berujar kaget. Dengan cepat, ia memasukkan kembali ponsel yang dipegangnya ke dalam saku celananya.


“Jimmy.” Panggil Alan. Ia segera mengubah posisinya menjadi duduk.


“Ya, Tuan.”


“Apa kau punya kekasih?” Tanya Alan. Selama ini, ia tak pernah peduli perihal kehidupan pribadi Jimmy. Selama pria itu berada di sisinya dan mengerjakan semua tugasnya dengan baik, Alan merasa itu sudah lebih dari cukup.


“Tidak.” Jawab Jimmy tegas. Ia menatap Alan penuh kesungguhan. Tapi Alan tersenyum. Ia tahu betul jika saat ini Jimmy sedang gugup.


“Kau yakin? Aku berniat untuk menjodohkanmu dengan sahabat Bianca—Lily.”


Jimmy sontak menatap Alan kaget. Ia menatap pria itu tak percaya. Kedua mata birunya membulat lucu.


“Tu–Tuan.”


“Apa? Bukankah kau tak punya kekasih? Sudah waktunya kau juga menikah. Sama sepertiku.” Ucap Alan bangga. Wajahnya berubah ceria ketika mengingat Bianca. Ia merindukan wanita itu. Jika saja pekerjaannya sedang tak menumpuk, ia ingin segera pulang dan mengurung wanita itu di kamar bersama dengannya.


Jimmy terdiam. Ia tak memberikan jawaban apa pun pada Alan. Tapi sebelah tangannya terkepal kuat.


“Jimmy, aku tak pernah melarangmu untuk memiliki kekasih apalagi menikah. Aku hanya memintamu untuk tetap berada di sisiku.” Ucap Alan seraya menatap Jimmy. Bibirnya tersenyum simpul. Alan sudah menganggap Jimmy seperti keluarganya sendiri. Pria itulah yang selalu berada di sisinya. Sejak pertama kali mereka bertemu dan bersama, tak pernah sekalipun Jimmy tak mengutamakan dirinya. Jimmy bahkan rela terluka untuk dirinya.


“Tapi aku—”


“Kau juga punya hak untuk bahagia.”


Alan dan Jimmy saling bertatapan intens. Dan Alan, bisa melihat jelas di ke dalaman mata Jimmy, tersimpan kesedihan dan rasa sakit yang begitu besar. Ia juga tahu, jika saat ini, telah ada seseorang yang berhasil mencuri perhatian Jimmy. Untuk pertama kalinya.


Dan Alan berharap, jika sosok itu juga mampu menarik Jimmy keluar dari kegelapan yang selama ini  menyelimutinya.


“Terima kasih.” Ucap Jimmy tulus. Ia menunduk sekilas. Lalu menatap Alan penuh kehangatan seraya tersenyum.


Ia bersyukur karena Tuhan mempertemukannya dengan Alan.

__ADS_1


__ADS_2