Married With The Devil

Married With The Devil
Alan dan Jimmy


__ADS_3

Bianca kembali berdecak jengkel ketika Alan menolak untuk melepaskannya. Mereka berdua baru saja tiba di rumah. Dan ketika Bianca berniat melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, Alan segera menahannya. Memeluknya dari belakang seraya duduk di atas tempat tidur. Sehingga membuat dirinya berada di atas pangkuan pria itu.


“Alan.” Panggil Bianca malas seraya mencoba untuk bangkit dari pangkuan Alan. Namun pria itu semakin mengeratkan pelukannya.


“Kau tak merindukanku?” Tanya Alan seraya menatap Bianca dari samping. Ia masih belum melepaskan pakaian kerjanya.


Bianca tahu, jika saat ini, Alan hanya ingin bermesraan dengannya. Setelah mendengar semua cerita pria itu, Bianca tak heran jika Alan begitu ingin diperhatikan. Sejak kecil, pria itu tak pernah mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Setidaknya, Bianca pernah merasakannya. Walau hanya sebentar.


“Mandi bersama?” Tanya Bianca seraya memegang tangan Alan. Alan tersenyum kecil. Dengan tak sabaran, ia menyuruh Bianca untuk segera berdiri, disusul dengannya.


“Ayo.” Seru Alan.


“Kau mau apa?” Ucap Bianca seraya menatap Alan kaget. Pasalnya, pria itu telah memegang ujung pakaiannya.


“Bukankah kau mengajakku mandi bersama?”


“Aku bisa membukanya sendiri.” Ketus Bianca seraya berjalan cepat menuju kamar mandi. Di belakangnya, Alan menyusul seraya menyeringai kecil. Ia tak akan melepaskan wanita itu.


Bianca yang baru berniat melepaskan seluruh pakaiannya, tersentak kaget ketika Alan secara tiba-tiba menariknya menunju shower. Padahal ia ingin berendam di dalam bathtub lebih dulu.


“Alan—” Alan segera membungkam bibir Bianca seraya memutar sedikit kran shower. Tak lama, tubuh mereka berdua diguyur oleh air hangat yang keluar dari lubang-lubang kecil pada shower tersebut. Tak terlalu deras, tapi berhasil membuat tubuh mereka basah.


Bianca hanya bisa menatap Alan dengan mata membulat dengan bibir yang saling menempel. Seingatnya, ia hanya mengajak Alan mandi bersama. Tidak lebih.


“Bianca.”


“Seingatku, aku hanya mengajakmu mandi bersama.” Ucap Bianca seraya menatap Alan. Dan membuat pria itu menyeringai nakal.


***


Bianca menatap tak percaya pada jam dinding di kamar. Satu jam lebih mereka berada di dalam kamar mandi. Padahal, biasanya, ia hanya akan menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit lebih untuk mandi.


“Bianca.” Panggil Alan. Pria itu telah mengenakan pakaian tidur. Sama seperti Bianca.


Bianca melangkah pelan menghampiri Alan yang telah berbaring di atas tempat tidur.


“Apa?” Tanya Bianca seraya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai sebatas dada. Ia benar-benar merasa lelah. Dan penyebabnya sudah pasti, pria yang saat ini berada di dekatnya.

__ADS_1


“Kurasa, Jimmy sedang menyukai seseorang.” Mendengar ucapan Alan, Bianca segera terduduk seraya menatap Alan tak percaya.


“Padahal aku berniat menjodohkannya dengan Lily.” Ucap Bianca. Dalam hati, ia bersyukur karena Lily menolak tawarannya. Jika tidak, ia pasti sudah menjadi penyebab sakit hati pertama gadis itu.


“Aku juga berniat melakukan hal yang sama.” Seru Alan seraya menatap Bianca.


Mendadak, Bianca menatap Alan lekat. Ia penasaran, bagaimana Jimmy dan Alan bisa bertemu.


“Alan, sejujurnya, aku penasaran. Apa kau dan juga Jimmy adalah seorang teman? Atau kalian justru bertemu secara tak sengaja?” Alan menatap kaget pada Bianca. Ia sudah menduga, jika cepat atau lambat, Bianca pasti akan bertanya perihal hubungannya dengan Jimmy.


Alan bimbang. Merasa bingung harus mengatakannya pada Bianca atau tidak. Sebab, ini bukan hanya menyangkut dirinya, tapi juga Jimmy.


“Aku dan Jimmy, bertemu secara tak sengaja. Lebih tepatnya, aku yang menemukan pria itu.” Ucap Alan dengan pandangan menerawang. Ia sudah memutuskan untuk bercerita pada Bianca.


Suara derap kaki yang tengah berlari kencang, mendominasi jalanan sempit, gelap dan basah tersebut. Napasnya memburu seiring dengan tubuhnya yang terus bergerak cepat untuk mengejar seseorang.


“Brengsek!” Satu umpatan lolos dari mulutnya ketika berhasil menarik kerah baju orang yang dikejarnya. Kedua matanya berkilat marah.


“Argh!” Sang pria yang yang menjadi target kejarannya, meringis sakit ketika baru saja terhempas di atas jalan. Kepalanya membentur aspal yang dingin dengan kuat.


Pukulan bertubi-tubi kembali dia layangkan diiringi dengan bibirnya yang terus mengucapkan kalimat-kalimat kebencian. Sang pria yang menjadi target pukulannya, telah jatuh tak sadarkan diri dengan hidung yang mengeluarkan darah. Wajahnya dipenuli luka. Bahkan hampir rusak setengahnya.


“Aku tak akan mengampunimu!” Sang pria berdesis penuh kemarahan dan juga kebencian. Kembali, tangannya menghadiahi satu pukulan kuat. Matanya yang biru, bersinar terang di tengah kegelapan. Namun sayang, yang terpancar adalah rasa sakit dan juga amarah yang begitu besar.


Di lain sisi, Alan yang baru saja keluar dari salah satu bar murahan yang dikunjunginya, sontak menghentikan langkahnya di depan salah satu gang gelap yang ingin di lewatinya. Kedua matanya memicing ketika menangkap siluet seseorang. Dengan langkah pelan dan juga tenang, ia memasuki gang tersebut untuk menghampiri orang itu.


“Kau bisa membunuhnya.” Alan berucap santai seraya menatap lekat sosok di hadapannya. Dan tepat ketika ia menundukkan kepala, sepasang mata biru menatapnya tajam.


“Jangan ikut campur.” Ucap pria bermata biru itu dingin. Ia kembali menghantam wajah pria yang telah tak sadarkan diri itu.


“Jangan mengotori tanganmu hanya karena manusia rendahan sepertinya.”


“Kau tak tahu apa-apa. Jadi tutup mulutmu!” Pria bermata biru berucap marah seraya menatap Alan tak suka. Tangannya yang telah terluka dan terkelupas karena memukul terlalu kuat, kembali terangkat ke udara. Berniat untuk membali menghujam wajah pria yang telah tak sadarkan diri itu.


“Ikut denganku.” Bisik Alan seraya menahan kepalan tangan pria bermata biru itu.


“Aku tak butuh belas kasihmu.” Alan tersenyum sinis ketika mendengar ucapan anak laki-laki itu. Yang ia duga masih berumur sekitar delapan belas tahun. Walaupun tinggi tubuhnya, Alan perkirakan hampir menyamai tingginya.

__ADS_1


“Jika kau bersedia, maka kau bisa balas dendam sesuka hatimu. Aku bisa memberikanmu uang dan segala sesuatu yang kau butuhkan.”


Sang pria yang memiliki mata biru seperti lautan itu, menatap Alan lekat dengan rahang yang terkatup rapat. Ia bimbang. Namun ucapan pria yang berada di hadapannya saat ini terdengar begitu meyakinkan. Ia tak punya pilihan lain. Selain karena hasratnya untuk balas dendam, ia juga butuh uang untuk menghidupi keluarganya.


“Jimmy. Jimmy Davis.” Ujar pria itu memperkenalkan diri.


“Jimmy, mulai sekarang, kau ikut denganku.” Ucap Alan seraya melangkah pergi. Di belakangnya, Jimmy mengikuti dalam diam setelah lebih dulu menghadiahi satu tendangan kuat pada tubuh pria yang dipukulnya.


Bianca hanya mampu terdiam setelah mendengar cerita Alan. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Bianca justru tak pernah menyangka sama sekali, jika Alan dan Jimmy bertemu di tempat yang tak biasa dan dengan cara yang jauh dari kata normal.


“Bianca.” Panggil Alan seraya memeluk tubuh Bianca.


“Apa Jimmy punya saudara?” Tanya Bianca penasaran. Ia lebih memilih untuk bertanya pada Alan karena takut membuat Jimmy merasa tak nyaman jika bertanya langsung pada pria itu.


“Ya. Seorang kakak perempuan. Dan jangan katakan apa pun pada Jimmy.” ucap Alan. Bianca mengangguk pelan seraya memejamkan matanya. Tubuhnya memang lelah, tapi pikirannya tak bisa lepas dari sosok Jimmy. ia ingin mengenal pria itu lebih jauh karena telah menganggapnya seperti keluarga sendiri.


***


Jimmy melajukan mobilnya memasuki salah satu kawasan perumahan sederhana yang terletak di antara gedung-gedung pencakar langit. Lampu-lampu pinggir jalan menjadi penerangnya sebelum ia memasuki halaman rumahnya. Setelah keluar dari mobil, Jimmy menatap lekat bangunan sederhana berlantai satu miliknya. Yang didominasi oleh warna hijau muda.


Ketika membuka pintu, Jimmy langsung disambut oleh kegelapan dan juga kesunyian. Perlahan, Jimmy melangkah menghampiri salah satu ruangan dengan pintu berwarna putih setelah lebih dulu menyalakan lampu.


Matanya menatap lekat satu sosok yang berada di dalam kamar tersebut. Seorang wanita berambut panjang berwarna kuning keemasan tengah memungginya karena sedang menatap ke arah langit.


Dengan pelan, Jimmy melangkah mendekat.


“Jane.” Panggil Jimmy. Sang wanita berbalik secara perlahan. Kedua matanya menatap Jimmy kosong.


“Aku pulang.” Sambung Jimmy seraya mengecup kening Jane.


Jane tak bereaksi. Ia masih setia menatap Jimmy kosong.


Jimmy menutup matanya sejenak seraya menghela napas dalam. Lalu, ia berbalik untuk melangkah pergi.


Kembali meninggalkan Jane seorang diri dengan sebelah kaki terantai.


Keluarga satu-satunya yang ia miliki. Kakak perempuannya.

__ADS_1


__ADS_2