
Selama dua hari tiga malam berada di rumah sakit bersalin tersebut, Alan tak pernah lelah menggendong serta mengajak berbicara kedua anaknya. Bahkan sampai membuat dokter dan perawat yang melihatnya tersenyum geli. Berbeda dengan Bianca yang tak pernah lupa untuk memotret atau pun merekam sikap lucu suaminya.
“Sayang.” Alan segera menatap Bianca dengan wajah sedih. Pasalnya, setiap kali ia menggendong Alex, bayi laki-laki itu pasti akan selalu menangis. Dan akan kembali terdiam saat berada di sisi Bianca. Beda halnya dengan Beatrice yang selalu terlihat begitu nyaman setiap kali berada di dalam dekapan hangatnya.
“Mungkin Alex menganggapmu sebagai saingannya juga.” Gurau Bianca. Tawanya pecah saat menatap ekspresi terkejut yang suaminya buat.
“Aku masih memiliki Beatrice.” Seru Alan tak mau kalah. Ia mengecup gemas pipi putri kecilnya yang sedang tertidur lelap.
“Lalu bagaimana denganku?”
Pertanyaan Bianca sontak membuat Alan menatapnya lekat seraya menyeringai kecil. Dengan langkah pelan, Alan yang sedang berdiri di dekat jendela segera menghampiri wanitanya.
“Cemburu?” Goda Alan.
Bianca dengan cepat mengangguk sembari memasang wajah memberengut lucu.
“I Love You.” Alan dengan lembut menjangkau bibir Bianca yang tengah duduk bersandar di atas tempat tidur. ********** pelan tanpa hasrat yang menggebu.
Hanya dengan mendengar kalimat cinta penuh ketulusan yang terlontar dari bibir Alan, Bianca sudah bisa langsung tahu seberapa besar rasa cinta pria itu padanya. Pun seberapa penting arti dirinya di dalam kehidupan Alan.
“Aku tahu.” Ucap Bianca setelah tautan bibir mereka berdua terlepas.
Tak lama, suara tangisan kecil Alex kembali terdengar. Seakan dengan sengaja ingin mengganggu kebersamaan mereka berdua.
“Ya Tuhan, Alex.” Lirih Alan. Namun tetap membuatnya tersenyum senang. Bahagia akan kebersamaan mereka berempat.
***
Jimmy yang telah menerima kabar dari Alan perihal kelahiran anak kembarnya, tak mampu menahan rasa bahagianya. Ia juga dengan tak sabaran mengajak Fiona dan Jane untuk pergi mengunjungi Bianca serta melihat dua bayi kembar mereka.
“Jimmy, ayo.” Ajak Fiona dan Jane secara bersamaan. Dua wanita itu lebih terlihat antusias daripada dirinya.
“Tapi kita harus menuju satu tempat dulu.” Ucap Jimmy. Ia segera mengambil kunci mobil berwarna abu-abu metalik yang berada di atas meja kecil dekat sofa.
Jimmy memang telah menjual mobil putihnya dan kembali membeli mobil baru. Sebab, ia merasa jika mobil yang telah cukup lama menemaninya tersebut tak lagi senyaman dulu saat baru pertama kali memakainya.
“Ke mana?” Tanya Fiona tak sabaran.
“Kita harus ke rumah Tuan terlebih dulu.” Mendengar jawaban Jimmy, Fiona dan Jane kompak mengangguk secara bersamaan.
***
Bianca yang baru saja selesai menikmati makan siangnya, segera mengalihkan perhatiannya pada Alan yang baru saja kembali masuk ke dalam kamar tempatnya dirawat.
“Siapa?” Tanya Bianca seraya menatap Alan. Sebab, pria itu meminta izin padanya untuk keluar sebentar guna menerima telepon.
“Client.” Jawab Alan singkat. Ia mengecup sekilas kening Bianca lalu beralih untuk menatap kedua malaikat kecilnya yang berada di dalam box bayi tak jauh dari tempat tidur wanita itu.
Kedua mata Bianca sontak memicing tak percaya. Merasa aneh karena biasanya, Alan akan selalu menerima panggilan telepon sekalipun sedang berada di dekatnya.
“Sayang, aku tak berbo—”
Suara ketukan pada pintu ruangan tersebut sukses menyela ucapan Alan. Dan membuat mereka berdua segera menatap asal suara.
“Masuk.”
__ADS_1
Tepat setelah pintu terbuka, raut wajah Bianca berubah ceria. Tak jauh darinya, ia mendapati Sofie melangkah cepat menuju arahnya dengan senyuman hangat. Khas seorang ibu. Hal yang sudah sangat lama dirindukannya.
“Sofie!”
“Nyonya.” Sofie memeluk tubuh Bianca dengan perasaan bahagia. Merasa bersyukur karena wanita itu baik-baik saja pasca melahirkan.
“Nona.”
“Bianca!”
Bianca dengan cepat mengalihkan perhatiannya dan mendapati Jimmy, Fiona dan Jane menatapnya dengan senyuman lebar.
“Apa kau—Ya Tuhan!” Fiona secara tiba-tiba memekik tak percaya saat baru saja menatap satu box bayi berukuran besar. Tempat Alex dan Beatrice berada.
Sehingga membuat Sofie, Jimmy dan juga Jane mengikuti arah pandangnya.
Mereka sama-sama terkejut mendapati dua malaikat kecil sedang tertidur lelap. Bedanya, wajah mereka berdua tak begitu mirip.
“Mereka ... kembar?” Tanya Jimmy tak percaya.
“Ya.” Jawab Alan antusias.
“Tapi wajah mere—”
“Bukan kembar identik. Hanya saja, mereka berdua sama-sama mewarisi iris hitam Alan.” Ucap Bianca.
Alex dan Beatrice memang bukanlah kembar identik. Hanya saja, mereka berdua sama-sama mewarisi iris hitam Alan. Juga tatapan tajam pria itu.
“Bianca, apa kau sudah memberinya nama?” Jane menatap Bianca dengan mata berbinar.
“Ya. King and Queen.” Ucap Alan menjawab pertanyaan Jane.
“Tuan.” Sofie yang sedari tadi diam, sontak menatap Alan lekat. Memandang pria itu dengan penuh kasih sayang.
“Sofie, ada apa?” Tanya Alan.
Sofie tak menjawab. Dengan berani, ia menggenggam sebelah tangan Alan seraya tersenyum lembut.
“Terima kasih karena tetap bertahan sampai detik ini.”
Alan yang awalnya kaget mendengar ucapan Sofie, segera balas menggenggam tangan wanita paruh baya itu. Yang juga telah lama berada di sisinya.
“Aku yang seharusnya mengucapkan banyak terima kasih karena kau tak pernah merasa bosan dan lelah untuk mengurusku.” Alan bersyukur karena Sofie tak pernah sekalipun meminta padanya untuk berhenti bekerja. Walaupun kerap kali menerima sikap atau ucapan dingin darinya, Sofie selalu saja menyapa dan menyambut kepulangannya di rumah dengan hangat.
“Sofie, apa kau ingin menggendong Alex dan Beatrice?” Bianca menatap Sofie seraya tersenyum simpul.
“Apa aku boleh menggendong Tuan dan Nona muda?” Tanya Sofie tak yakin. Sadar akan dirinya yang hanya seorang pengurus rumah.
“Tentu saja. Kau juga masih bagian dari keluarga kami.”
Sofie tanpa sadar meneteskan air mata. Ia yang selama ini tak memiliki seorang anak, justru dipertemukan dengan orang-orang yang begitu baik. Bahkan sudi menganggapnya sebagai keluarga.
“Terima kasih.” Ucap Sofie tulus.
“Nona, aku juga ingin menggendong mereka.” Ucap Jimmy.
__ADS_1
“Bianca, aku juga!” Seru Fiona tak mau kalah.
“Aku juga ingin menggendongnya.” Kali ini Jane yang bersuara.
Mereka bertiga tengah sibuk berebut untuk menjadi yang pertama kali menggendong Alex dan Beatrice sampai tak menyadari jika tindakan mereka berhasil mengganggu tidur nyenyak kedua bayi mungil itu.
Tak lama berselang, suara tangisan kencang Beatrice memenuhi seluruh isi ruangan tersebut. Diikuti oleh Alex setelahnya.
“Kalian mengganggu tidur anak-anakku.” Ucapan bernada kesal Alan sukses membuat Jimmy tertawa. Disusul Fiona, Jane dan Sofie.
Dalam diamnya, Jimmy menatap Alan lekat sembari tersenyum penuh kebahagiaan. Tuannya telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Pun dirinya.
Ia hanya bisa berdoa dan berharap jika kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini akan tetap utuh untuk selamanya.
***
Setelah kepulangannya dari mengunjungi Bianca, Fiona tak henti-hentinya tersenyum simpul saat kembali mengingat wajah menggemaskan kedua bayi kembar wanita itu. Dalam benaknya, Fiona juga sudah tak sabar ingin menggendong bayinya bersama Jimmy.
“Ada apa?” Jimmy yang baru saja bergabung bersama Fiona di atas tempat tidur, segera memeluk tubuh Fiona dari arah belakang. Tak lupa dengan mendaratkan satu kecupan singkat pada tengkuk wanita itu.
“Aku hanya teringat pada wajah Alex dan Beatrice.” Jawab Fiona seraya menyentuh lengan Jimmy yang melingkar lembut pada perutnya.
Jimmy tersenyum. Ikut membayangkan wajah kedua malaikat kecil itu.
“Menurutmu, mereka berdua lebih mirip siapa? Tuan atau Nona Bianca?” Pertanyaan Jimmy sontak membuat Fiona menoleh sebentar padanya.
“Iris hitam dan tatapan tajam mereka sudah jelas mewarisi milik Alan. Hanya saja, aku merasa jika mereka berdua akan memiliki rambut hitam seperti Bianca. Khas orang Asia.” Jawab Fiona.
Jimmy yang mendengar jawaban istrinya hanya mengangguk pelan. Lalu kembali melayangkan kecupan lama pada bahu wanita itu.
“Jimmy, apa anak kita nanti juga akan memiliki mata biru sepertimu?”
Jimmy tak menjawab. Ia lebih memilih untuk mengeratkan pelukannya pada tubuh Fiona sembari menghirup aroma tubuhnya.
“Jimmy.”
“Tak masalah jika anak-anak kita mewarisi mata biruku atau mata hazelmu. Asalkan kau yang menjadi ibunya.”
Fiona tak kuasa menahan senyuman lebarnya. Dengan gerakan cepat, ia berbalik untuk menatap Jimmy seraya sempurna.
“Jimmy, kau tahu, aku benar-benar mencintaimu.”
Dengan gerakan pelan, Jimmy menjangkau bibir Fiona. Mengecupnya lembut diiringi dengan *******-******* kecil. Tak lama, pergerakan bibir mereka berdua berubah menjadi semakin intens.
“Fiona.” Lirih Jimmy dengan mata terpejam.
Pergerakan bibir Jimmy beralih pada leher Fiona. Pria itu memberikan kecupan-kecupan ringan serta gigitan kuat pada leher Fiona.
“Jimmy—”
Jimmy kembali membungkam bibir Fiona. Menciumnya dengan gerakan menggebu.
“Aku menginginkan Jimmy Junior.” Bisik Jimmy seraya menatap Fiona lekat.
Fiona tertawa. Balas menatap Jimmy sembari mengelus lembut pipi suaminya.
__ADS_1
“Aku juga.”
Setelahnya, hanya terdengar suara decakan dari bibir mereka masing-masing. Seolah tak ingin kalah dari Alan, Jimmy juga ingin segera melihat versi Junior dari dirinya dan Fiona.