
Jane tak tahu sudah berapa kali ia menghela napas dalam. Gaun. Make up. Tatanan rambut. Semuanya telah sempurna. Ia hanya perlu menunggu sampai acara pemberkatan dimulai sepuluh menit lagi.
“Ya Tuhan.” Jane berucap lirih sembari melipat kedua tangan. Memejamkan mata lalu berdoa agar segalanya berjalan lancar. Tanpa satu masalah pun.
“Jane, semuanya akan baik-baik saja.” Bianca yang baru saja masuk ke dalam ruang tunggu khusus mempelai wanita berucap menenangkan.
“Bianca!” Jane segera memeluk erat Bianca dengan mata terpejam. Berusaha sebaik mungkin untuk benar-benar menenangkan dirinya.
“James pasti akan semakin mencintaimu.” Fiona yang juga ikut bergabung bersama Bianca dan Jane berseru semangat. Tawa kecilnya terdengar ketika menatap wajah malu adik iparnya itu.
“Silakan goda aku. Lihat saja nanti, yang menikah memang aku dan James, tapi kalian berdua yang akan berbulan madu.” Tawa Jane pecah kala melihat Bianca dan Fiona terdiam. Kedua wanita itu pasti sedang memikirkan ucapannya barusan.
Jane diam-diam tersenyum senang. Suasana hatinya telah kembali tenang.
“Jane, pemberkatan akan segera dimulai.” Ucap Jimmy setelah berada di dalam ruangan tersebut. Kedua sudut bibirnya mencetak senyum penuh kebahagiaan saat menatap wajah serta penampilan adiknya.
Hal yang dulu menurutnya tak akan pernah terjadi, justru berbanding terbalik dengan keadaannya.
Jane telah menemukan kebahagiaannya sendiri. Dan jujur saja, Jimmy masih sedikit—hanya sedikit tak rela berpisah dengannya karena setelah menikah, Jane akan ikut tinggal di apartemen suaminya.
“Okay.” Jane segera memeluk lengan Jimmy erat sembari tersenyum lebar menatap pria itu. Sekalipun memakai riasan wajah waterproof, Jane tetap berusaha menahan laju air matanya.
***
Ruangan dalam Gereja yang menjadi pilihan James memang tak terlalu besar, tapi lebih dari cukup untuk menampung seluruh anggota keluarganya—walau ada beberapa yang tak bisa hadir karena sedang berada di luar kota.
James bisa merasakan secara jelas jantungnya yang berdetak kencang. Ia sudah tak sabar menanti kehadiran wanitanya. Yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Memikirkannya saja sudah membuat James luar biasa bahagia.
Pintu gereja yang dibuka secara lebar menjadi penanda jika Jane akan segera tiba. Tatapan James menatap fokus ke arah depan. Pada seorang wanita cantik bergaun putih yang juga balas menatapnya penuh cinta.
Jane ...
James menunduk sekilas guna menahan tangisnya. Ia tak kuasa membendung gejolak kebahagiaan yang dirasakannya saat menatap wanita itu berjalan anggun menghampirinya dengan didampingi Jimmy.
Ia masih tak percaya kalau Jane memilihnya. James yang merasa tak lagi memiliki kesempatan karena mereka dulu harus berpisah, justru sekarang berdiri berdampingan bersama wanita itu di altar. Di depan seorang pendeta yang telah siap menuntun mereka berdua.
“Kalian berdua siap?” Tanya Sang Pendeta dengan senyum hangat.
“Ya.”
Sang mempelai dan seluruh tamu undangan kompak terdiam. Mereka berusaha untuk tenang dan khidmat.
“James Richter, apa kau bersedia menerima Jane Davis menjadi istrimu? Saling mencintai dan menyayangi dalam keadaan suka maupun duka? Serta menerima seluruh kekurangan dan kelebihan masing-masing?”
“Saya bersedia.” James menjawab mantap penuh keyakinan. Tak ada sedikit pun keraguan dalam dirinya.
Tanpa ditanya sekalipun semua orang pasti tahu seperti apa jawabannya.
__ADS_1
“Jane Davis....”
Pendeta menanyakan hal yang sama pada Jane yang sudah terlihat ingin menangis sedari tadi.
“Ya. Saya bersedia.” Jane menjawab penuh percaya diri seraya tersenyum bahagia. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya lolos. Jatuh membasahi kedua pipinya.
Tak ada yang lebih indah dan membahagiakan dari hari ini. Orang-orang yang dicintainya ikut berkumpul juga tersenyum senang melihatnya dan James telah bersatu.
“I Love You.” James berbisik pelan di depan wajah Jane setelah saling memasangkan cincin pada jari manis kiri masing-masing.
James tanpa ragu mencium bibir wanita yang baru saja berstatus sebagai istrinya. Tak dipedulikannya sorakan ataupun siulan menggoda dari keluarga dan rekan kerjanya.
Ia hanya ingin menikmati hari ini tanpa memikirkan apa pun.
“I Love You too.” Balas Jane lalu memeluk suaminya.
Jimmy yang sedari tadi melihat kebahagiaan yang terpancar jelas dari wajah adiknya memilih untuk diam. Ia hanya tak ingin merusak momen indah yang baru saja tercipta dengan kesedihan bodohnya.
“Jimmy.”
Jimmy menyerah. Sekeras apa pun ia berusaha menahan dirinya, rasa sedih itu semakin menjadi. Ia memeluk Jane erat dengan kepala tertunduk.
“Maafkan aku yang tak bisa menjagamu dengan baik. Yang belum bisa membahagiakanmu hingga detik ini. Aku bersyukur kau akhirnya menemukan kebahagiaanmu. Hanya saja–hanya saja aku—” Jimmy tak lagi melanjutkan ucapannya. Pria itu menangis dalam diam di dekapan hangat saudaranya.
“Aku akan sering-sering berkunjung.” Jane berseru senang di tengah tangis bahagianya. Tawa kecilnya terdengar saat menatap mata Jimmy yang sedikit sembab.
“Tentu saja. Sampai kapan pun, rumah itu akan tetap menjadi rumahmu jadi—”
“Aunty go.” Bisik Alan yang membuat tangisan Alex bertambah keras. Menggoda jagoan kecilnya benar-benar menyenangkan.
“Alan!”
“Alex.” Panggilan lembut Jane sontak membuat Alex terdiam dengan sesekali terisak kecil. Matanya yang bulat berbinar lucu kala menatap wajah Jane yang berada tepat di depannya.
“Hari ini, Alex terlihat lebih tampan dari semuanya.” Jane tersenyum lembut lalu mendaratkan kecupan singkat pada pipi anak laki-laki itu. Tanpa disangka, Alex justru terdiam dengan wajah pucat. Tak berselang lama, kedua pipinya merona.
Alex yang bingung harus melakukan apa dengan cepat menggenggam tangan Alan lalu menatap pria itu memohon. Berharap agar segera diselamatkan guna menyembunyikan wajahnya yang tengah tersipu malu.
“Daddy....” Tawa Alan dan yang lainnya pecah saat melihat tingkah Alex.
Alan dengan senang hati mengambil alih Alex dari pangkuan Bianca setelah menyerahkan Beatrice pada Sofie yang berada di sebelahnya. Tawanya semakin menjadi ketika Alex memeluk erat lehernya dan tak mengajukan protes sedikit pun saat ia mengecup gemas pipi beberapa kali.
***
Alan dan Bianca memutuskan pulang ke rumah lebih dulu sebelum menghadiri pesta pernikahan Jane dan James yang akan digelar nanti malam.
Mereka berdua bisa saja menyewa satu kamar di hotel yang akan menjadi tempat berlangsungnya resepsi tersebut. Hanya saja, Alan lebih suka berada di rumah. Ia merasa segala sesuatunya lebih bersih dan terjamin.
“Sayang, kau ingin mandi lebih dulu atau—”
__ADS_1
“Aku menginginkanmu.” Seru Alan cepat setelah ******* sebentar bibir Bianca.
“Kau tak lelah?” Bianca berucap tak percaya seraya menatap suaminya. Jam memang baru menunjukkan pukul satu siang dan akan jauh lebih baik jika mereka berdua juga ikut tidur.
“Aku. Menginginkanmu. Sekarang.” Alan menatap Bianca dengan mata berkabut penuh gairah.
“Di sini?” Balas Bianca. Jemarinya bergerak menggoda pada kulit tubuh Alan yang tak lagi ditutupi oleh jas dan kemeja.
Pria itu hanya mengenakan trunk hitam.
“Kita ke kamar mandi.”
Alan segera menggenggam tangan Bianca dan mengajak wanita itu melangkah bersama ke kamar mandi. Menyudutkannya ke tembok lalu memenjara kedua bibirnya.
Jemari Alan dengan cepat berada pada pusat sensitif Bianca. Mengelusnya pelan beberapa kali lantas mulai memainkannya dengan lincah. Ia juga tak lupa untuk menyesap dan bermain pada puncak dadanya.
Bianca dengan sigap mengalungkan kedua tangannya pada leher Alan. Dan setelah pria itu mengangkat kakinya sedikit ke atas, Bianca langsung mengeratkan pelukannya.
“Alan.” ******* tertahan lolos dari bibir Bianca ketika Alan baru saja menyatukan tubuh mereka berdua.
Pria itu selalu mengisi penuh miliknya. Bahkan menyentuh titik paling sensitifnya di dalam sana. Terutama saat Alan bergerak pelan. Seakan menggodanya.
“Ahk, Bianca!.” Alan berteriak pelan ketika Bianca menyesap dan menggigit kuat kulit lehernya. Juga membungkus erat miliknya di bawah sana.
Sesering apa pun mereka bercinta, nyatanya, Alan selalu merasa jika mereka baru melakukannya untuk pertama kali. Bianca selalu sukses memuaskannya.
Perasaan hangat yang menyentuh kulitnya ketika baru saja berada di dalam tubuh wanita itu selalu menjadi hal yang ia dambakan.
“Alan! Kau terlalu—”
Ucapan Bianca tenggelam begitu saja seiring dengan ******* Alan pada bibir serta lidahnya. Tubuh bagian bawah mereka masih sibuk saling menyapa. Bertubrukan tanpa henti hingga menghasilkan suara yang begitu panas dan mengintimidasi.
“God!” Intensitas gerakan Alan semakin bertambah cepat dan kuat setelah merasakan pelepasannya akan segera tiba.
Miliknya di bawah sana terus berusaha agar berada di bagian terdalam pada tubuh istrinya untuk mempertemukan ****** ***** mereka berdua.
Bianca semakin mengeratkan pelukannya dengan mata terpejam. Ia tak bisa lagi berpikir jernih saat kenikmatan penuh candu menguasai tubuhnya. Ada perasaan yang tak bisa ia ungkapkan setiap kali milik mereka bertemu.
Erangan serta ******* terdengar secara bersamaan dari mulut Bianca dan Alan saat pelepasan keduanya terjadi. Dengan napas tersengal, Alan mengecup bibir istrinya lalu mengeluarkan secara perlahan miliknya dari tubuh Bianca.
“Round two.”
“Alan!” Teriakan tertahan Bianca menjadi ucapan terakhir yang Alan dengar sebelum digantikan oleh suara *******. Ia kembali memenuhi tubuh wanita itu.
Keduanya bahkan tak tahu kapan akan berhenti saat kenikmatan memabukkan tersebut terus saja memanggil.
Btw, yg minta visual ini aku kaseehhhh #tebarOppa XD
__ADS_1