Married With The Devil

Married With The Devil
Spesial 10 - end


__ADS_3

Seolah tak mau rugi, Alan menggunakan dengan sebaik mungkin setiap detik waktunya untuk melampiaskan semua rasa rindunya pada Bianca. Tubuh wanita itu telah berada di dalam perangkapnya dan Alan sangat tahu jika Bianca tak punya celah untuk melepaskan diri darinya. Wanita itu mau tak mau harus mengikuti setiap pergerakannya. Kedua bibir yang tengah sibuk saling beradu satu sama lain. Kedua tangan yang juga menjamah tanpa henti. Menyentuh apa pun yang bisa dijangkaunya.


Menjelang pukul dua belas malam, Alan memilih beranjak keluar dari dalam hotel bintang lima tempatnya mengadakan pertemuan kerja. Pulang ke rumah jauh lebih baik menurutnya daripada harus tinggal dan melihat setiap godaan menjijikkan yang Lizabeth tujukan padanya.


“Alan.” Bianca berucap lirih dengan kedua kaki yang sudah tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Permainan Alan telah berhasil menaklukkannya.


Alan tidak tinggal diam. Ia terus saja memberondong Bianca dengan ciuman panas tanpa henti. Mengecap setiap sudut indra perasa wanitanya yang sedari tadi telah berada di dalam mulutnya.


“Uuhh.”


Permainan keduanya semakin bertambah panas dan penuh gairah. Entah sejak kapan, Bianca baru saja tersadar jika pakaian tidurnya sudah lepas seutuhnya dan mendapati Alan tengah menyeringai penuh arti di atas tubuhnya.


“Kau siap?” Tanya Alan sembari tersenyum geli. Merasa lucu melihat wajah kaget istrinya.


“Siap apanya? Bukankah pakaianku sudah hilang entah ke mana?” Kesal Bianca. Sebelah tangannya terangkat ke atas guna mengelus pelan dada telanjang suaminya.


Alan menyeringai kecil. Di matanya, Bianca selalu terlihat cantik dalam keadaan apa pun, terlebih saat marah. Hanya saja, tidak ada yang mampu mengalahkan wajah cantik penuh gairah wanita itu ketika mereka berdua tengah bergelut di atas tempat tidur. Beruntung sikembar berada di kamar sebelah. Jadi aman kalau sewaktu-waktu Bianca ingin mendesah keras.


“My dear, Bianca, I love you.”


Bukan hanya menautkan bibir kembali, tapi Alan juga mempertemukan pusat kenikmatan mereka berdua di bawah sana dengan mata terpejam. Berada di dalam tubuh wanita yang paling dicintainya membuatnya tak bisa berpikir jernih. Pinggulnya terus saja bergerak. Mendorong masuk miliknya hingga berada di titik paling dalam milik Bianca.


Keduanya menghela napas penuh gairah. Malam masih panjang dan Bianca sadar jika Alan—suami tercintanya tidak akan berhenti hanya dengan satu kali pelepasan.


***


“Sayang, hati-hati.” Ucap Jimmy panik. Apalagi saat mendengar istrinya meringis sakit.


Fiona mengangguk lemah sembari berjalan pelan menuju tempat tidur. Kedua kakinya telah membengkak. Sekalipun Jimmy sudah menawarkan diri untuk menggendongnya, ia tetap menolak. Demi dirinya, pria itu sampai izin pulang cepat pada Alan dan melewatkan jam makan siangnya.


Suaminya pasti sangat kelelahan dan lapar.


“Apa kau lapar? Ingin aku membuatkanmu makan siang?” Fiona menatap wajah Jimmy lembut. Pria bermata birunya itu masih saja terlihat tampan walaupun rambutnya sedikit acak-acakan.


“Aku bisa membuatnya sendiri. Untuk sekarang, biarkan aku menemanimu dulu.”


Fiona tersenyum bahagia mendengar penuturan suaminya. Kalau boleh jujur, ia memang kesulitan untuk bergerak. Rasa sakit pada perutnya yang selalu muncul secara tiba-tiba membuatnya sedikit kewalahan. Beruntung Jimmy selalu sigap untuk menemaninya.


Dua hari yang lalu, setelah memeriksakan kondisi kandungannya pada dokter langganannya, mereka berdua menerima kabar jika dalam waktu dua bahkan seminggu atau lebih singkat dari itu, Fiona akan melakukan proses persalinan. Entah secara normal atau sesar keduanya belum tahu. Yang pasti, dokter mengatakan semuanya tergantung dari kondisi janin di rahim istrinya.


“Jimmy, kau ingin aku melahirkan secara normal atau sesar?” Tanya Fiona. Harap-harap cemas menanti jawaban dari suaminya.

__ADS_1


Jimmy tersenyum simpul mendengar pertanyaan dari wanitanya. Sepasang mata birunya telah fokus pada wajah Fiona.


“Tidak ada bedanya. Karena yang terpenting bagiku kalian berdua sehat dan selamat.” Jawab Jimmy tak mau ambil pusing. Normal atau operasi baginya sama saja. Selama istri dan anaknya baik-baik saja dan selalu berada di sisinya, maka ia tak membutuhkan hal apa pun lagi.


Keluarga yang sejak dulu tak pernah dimilikinya bahkan di dalam mimpi sekalipun, harus ia jaga dan lindungi sebaik mungkin.


Jane, Alan, Bianca, si kembar dan James adalah harta berharga yang tidak akan pernah ditemukannya ke mana pun ia pergi mencari.


***


Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari terbit, Alan dan Bianca dikejutkan dengan panggilan masuk Jimmy yang mengatakan jika tiga puluh menit lagi Fiona akan melakukan operasi caesar. Kondisi fisik serta posisi janin di dalam rahimnya tidak memungkinkan wanita itu untuk melahirkan secara normal.


Mereka berdua bahkan sudah sejak kemarin berada di rumah sakit karena air ketuban Fiona yang tiba-tiba saja pecah.


Panik?


Tentu saja. Jimmy seperti orang linglung yang tak tahu harus melakukan apa. Pria itu bingung sejadi-jadinya. Ditambah Fiona yang sedari tadi meringis kesakitan membuatnya semakin tak bisa berpikir jernih.


Sekalipun memilih jalan operasi, Fiona bersikukuh untuk melalui semuanya seperti wanita yang akan melahirkan secara normal tanpa menentukan tanggal ataupun waktu. Jika saja kondisi janin di rahimnya tak bermasalah, ia mungkin akan memilih persalinan normal.


“Jimmy!”


“Apa kata dokter?” Tanya Bianca tak sabaran. Kembali teringat akan rasa sakit ketika melahirkan Alex dan Beatrice dulu.


“Masih harus menunggu. Entah berapa lama. Aku tak terlalu menyimak tadi.” Ucapan polos Jimmy sukses membuat Alan dan Bianca tertawa kecil. Bahkan Fiona pun yang sejak tadi memejamkan mata karena menahan sakit ikut tersenyum geli.


Suasana yang tadinya tegang perlahan berubah tenang. Fiona tidak lagi merasakan sakit hebat seperti tadi. Kehadiran Alan dan Bianca sedikit banyak membuatnya merasa rileks. Ditambah Bianca yang tak pernah lelah untuk menenangkannya.


“Jimmy, apa kau tahu jika setelah melahirkan nanti, kalian berdua tak boleh saling bersentuhan selama setengah tahun?”


Perkataan santai Alan sontak membuat Jimmy menatapnya kaget. Belum usai kekhawatirannya yang satu, pria yang menjabat sebagai bosnya itu telah menambahnya menjadi dua.


“A–apa?” Jimmy tertegun.


Tidak. Ia tidak memikirkan masalah ranjangnya. Yang Jimmy pikirkan justru keadaan istrinya. Apakah sesakit itu rasanya? Sampai-sampai ia harus menunggu selama enam bulan.


“Alan.” Tegur Bianca. Sadar kalau suaminya sedang menggoda pria bermata biru itu.


“Apa? Aku hanya berbagi pengalaman.” Kilah Alan.


“Pengalaman apanya? Kau hanya perlu menunggu selama—”

__ADS_1


“Uughh….” Erangan kesakitan yang berasal dari bibir Fiona sukses membuat ketiganya tersentak kaget. Dengan sigap, Jimmy memencet tombol yang berada di dekat tempat tidur. Tak lama berselang, seorang dokter dan dua orang perawat wanita masuk ke ruangan tersebut dan segera membawa Fiona ke ruang operasi.


Perjuangan istrinya baru saja akan dimulai dan Jimmy sudah merasakan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.


***


“Sayang, apa kau baik-baik saja?” Jimmy berucap lirih sambil menggenggam erat tangan Fiona. Pria itu memilih ikut masuk ke dalam daripada harus meninggalkan istrinya seorang diri.


“Ya.” Jawab Fiona lemah. Sesekali, matanya terpejam saat merasakan sakit.


Di luar sana, Bianca dan Alan masih menunggu penuh cemas. Jane baru saja menghubunginya dan mengatakan jika ia dan James baru bisa pulang siang nanti. Jane sedang menemani suaminya di Paris guna menghadiri seminar yang diadakan pada salah satu universitas terkenal di negara yang mendapat julukan sebagai The City of Love tersebut.


Tak lama berselang. Alan dan Bianca mendengar tangisan seorang bayi perempuan. Nyaring dan penuh semangat.


“Alan.” Pekik Bianca senang.


Alan yang melihat Bianca meneteskan air mata segera menariknya ke dalam pelukannya. Istrinya pasti kembali mengingat saat melahirkan Alex dan Beatrice dulu.


Tak berbeda jauh, di dalam kamar operasi, Jimmy tak henti-hentinya meneteskan air mata. Ia berterima kasih pada Fiona yang telah berjuang demi buah hati mereka. Rasa sakit dan lelah wanita itu terbayarkan dengan kehidupan baru di dalam keluarga kecil mereka.


Bayi perempuan yang memiliki mata indah seperti ibunya.


“I love you.” Bisik Jimmy. Kecupan hangat penuh cinta mendarat sempurna di kening Fiona.


Perlahan, kedua mata berwarna hazel itu terpejam. Fiona jatuh terlelap setelah perjuangan panjang penuh lelahnya. Saat membuka mata nanti, senyuman serta kebahagiaan penuh cinta sudah siap menyambutnya.


End


Haiiii… lama tak jumpaaaaa XD Hampir tiga abad kyknya aku hiatus^^


Aku gak begitu tahu ttg persalinan normal ataupun sesar karena Alhamdulillah belum pernah😊 Jadi maaf kalo ada yg salah. Atau kalo ada yg mau koreksi silahkan.


Btw ini part end yah. Pssttt… jangan lupa baca author note karena ada hint di sana, buat Sequelnya… mungkin XD





__ADS_1


__ADS_2