
Jimmy kembali menghela napas dalam setelah baru saja mengirimkan pesan singkat pada Alan. Ia meminta izin pada pria itu untuk tak masuk selama beberapa hari. Tadi, ketika ia berniat untuk menjemput Bianca lalu mengantarnya ke sekolah, Jane tiba-tiba berteriak histeris. Dan saat Jimmy menghampirinya, wanita itu secara tak sengaja mencakar pipi kirinya.
“Jane!” Panggil Jimmy seraya memegangi kedua pundak saudaranya. Wanita itu menatap Jimmy tajam. Lengkap dengan ekspresi penuh kebencian.
Dengan cepat, Jimmy mengambil beberapa butir obat milik Jane dan memaksa wanita itu untuk meminumnya. Jimmy pikir, selama satu minggu ini, wanita itu mulai membaik karena Jane tak pernah lagi berteriak secara tiba-tiba atau pun mengamuk tanpa alasan. Namun ternyata, Jane masih sangat jauh dari kata sembuh. Jimmy tak punya pilihan lain. Ia harus tetap berada di sisi wanita itu. Menemaninya dan memastikan jika Jane tak menyakiti dirinya sendiri.
***
Sudah sedari tadi Bianca menunggu kedatangan Jimmy. Biasanya, pria itu selalu datang cepat bahkan sebelum ia memulai sarapan. Namun hari ini, Jimmy tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Bianca khawatir, takut jika terjadi sesuatu pada pria itu saat berada di jalan.
“Bianca.” Panggil Alan. Ia baru saja selesai bersiap-siap.
“Jimmy masih belum datang.” Ucap Bianca seraya menatap Alan yang bersiap untuk menikmati sarapannya.
“Jimmy meminta izin untuk tak masuk selama beberapa hari. Jadi aku yang akan mengantar dan menjemputmu.” Jawab Alan. Ia menatap Bianca sekilas.
Ketika baru ingin beranjak ke kamar mandi, Alan menatap ponselnya yang bergetar pelan dan melihat satu pesan baru masuk dari Jimmy. Dengan cepat ia membukanya. Jimmy tak akan mengiriminya pesan jika bukan karena sesuatu yang penting. Dan ia tahu betul akan hal tersebut.
Tuan, aku tak bisa datang selama beberapa hari.
Alan masih setia menatap layar ponselnya saat baru saja membaca pesan dari Jimmy. Alan tahu jika alasan Jimmy meminta izin karena harus menemani Jane. Ia yakin jika wanita itu pasti tengah mengamuk secara tiba-tiba.
“Apa dia sakit?” Tanya Bianca seraya menatap Alan lekat. Selama ini, tak pernah sekalipun Jimmy membolos untuk mengantar-jemputnya.
“Tidak. Jimmy harus menemani kakaknya yang sedang sakit.” Jawab Alan yang membuat Bianca mengangguk paham. Ia tak sepenuhnya berbohong. Jane memang sakit. Tapi berbeda dengan sakit yang dipikirkan oleh Bianca.
“Apa kau lebih suka jika Jimmy yang mengantarmu?” Tanya Alan seraya menatap Bianca curiga. Sejak awal, ia merasa aneh melihat keakraban mereka berdua. Sebab, Alan tahu betul jika Jimmy adalah pria yang tak mudah tertarik pada lawan jenis.
“Aku bisa terlambat.” Seru Bianca seraya menatap Alan malas. Sejak awal bertemu Jimmy, ia tak pernah punya ketertarikan yang “spesial” pada pria itu. Jimmy memang tampan namun tidak sampai membuat Bianca bertekuk lutut.
Alan tersenyum simpul. Setelah menyelesaikan sarapannya, ia segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri Bianca yang sedang berdiri tak jauh darinya. Mengecup bibirnya sekilas lalu menggenggam tangan wanita itu untuk melangkah bersama menuju mobil.
***
Menjelang pukul sepuluh malam, Jane baru bisa terlelap. Wanita itu menolak untuk makan dan lebih memilih mengisi perutnya dengan sepotong kecil buah apel.
Jimmy yang sedari tadi berada di dekat Jane seraya menggenggam tangannya erat, menatap lekat wajah terlelap wanita itu. Deru napasnya normal dan Jimmy bersyukur, karena hari ini, Jane tidak terlalu mengamuk seperti dulu. Terkadang, wanita itu akan menyakiti dirinya sendiri. Dan Jimmy tak bisa menerimanya. Ia lebih senang jika Jane menyakitinya. Jimmy rela sebanyak apa pun Jane memukul, menampar, mencakar bahkan menggigitnya. Karena rasa sakit yang ia terima, tak sebanding dengan rasa sakit yang wanita itu rasakan. Jimmy bahkan berharap agar ia hilang ingatan untuk melupakan semua kenangan buruk yang dialaminya.
__ADS_1
Perlahan, Jimmy melepaskan genggaman tangannya pada Jane lalu bangkit setelah mengecup kening wanita itu sekilas. Ia ingin mengunjungi bar langganannya. Walau pada kenyataannya, alasan utamanya mendatangi bar tersebut untuk bertemu Fiona. Malam ini, ia akan mencoba berbicara dengan wanita itu.
***
Fiona yang baru saja keluar dari pintu belakang dapur tempatnya bekerja untuk membuang sampah, tersentak kaget saat melihat Jimmy yang tengah bersandar pada tembok seraya menatapnya datar. Dengan cepat, ia meletakkan plastik sampah yang dibawanya lalu berbalik untuk kembali masuk ke dalam bar.
“Fiona.” Panggil Jimmy dengan suara pelan. Fiona sontak terhenti. Mendengar pria itu menyebut namanya, membuat tubuhnya merasakan sesuatu yang aneh. Padahal sejak awal mereka bertemu, ia sudah memperingatkan dirinya untuk menjauhi pria itu.
“Aku sedang sibuk.” Ucap Fiona ketus. Tak peduli sekalipun jika Jimmy adalah pelanggan tetap di tempatnya bekerja. Baginya, semua pria yang ditemuinya sama saja.
Jimmy yang mendengar ucapan Fiona, segera beranjak dari tempatnya berdiri untuk mendekati wanita itu. Matanya menatap lekat rambut Fiona yang terurai. Ingin rasanya Jimmy mengelus lembut surai wanita itu tapi ia tidak bisa. Jimmy tak ingin membuat kesan buruk di mata wanita itu. Bahkan sebelum mereka berdua memulai.
“Aku akan menunggumu.” Bisik Jimmy. Fiona yang mendengar suara pria itu dari dekat, sontak memejamkan kedua matanya dengan tangan yang terkepal. Tidak. Ia tidak boleh membiarkan dirinya jatuh ke dalam jeratan pria bermata biru itu.
“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tak menggangguku?!” Ucap Fiona seraya berbalik secara mendadak. Hingga hampir membuat hidung mereka berdua bersentuhan.
Jimmy tertegun. Melihat Fiona dari jarak dekat membuatnya bisa menatap setiap inci wajah wanita itu secara jelas. Dan ketika ia bertemu dengan mata hazel Fiona, Jimmy tak bisa berpaling. Ia akui, jika sudah bertemu dengan banyak wanita cantik di luar sana yang juga memiliki mata indah. Namun baginya, mata hazel wanita itu tetap yang menjadi favoritnya. Sebab, Fiona memiliki mata yang berwarna cokelat muda serta hijau keemasan.
“Aku tak bermaksud untuk mengganggumu.” Kilah Jimmy. Wajahnya tetap datar.
“Lalu apa? Apa kau merasa hebat hanya karena telah menolongku sekali?” Fiona berucap jengkel seraya menatap Jimmy tajam. Ia tak bermaksud sama sekali untuk bersikap kasar pada pria itu. Fiona terpaksa melakukannya agar Jimmy menjauhinya. Jauh lebih baik jika pria itu mencari wanita lain.
Tak banyak kendaraan yang lalu lalang karena memang posisi kedai tersebut terletak sedikit jauh dari jalanan utama. Setelah meyakinkan dirinya, Fiona memutuskan untuk melangkah. Rumahnya bisa ia tempuh dengan berjalan kaki selama dua puluh menit.
“Hai.” Fiona yang baru saja melewati satu taman kecil tersentak kaget ketika dua orang pria mabuk bertubuh besar menghadang jalannya.
Tubuh Fiona bergetar ketakutan. Hal yang ia takutkan akhirnya terjadi. Namun baru saja ia berniat lari, salah seorang pria yang memiliki tato pada lengan kirinya, mencengkeram tangannya. Menahannya untuk pergi.
“Lepaskan aku!” Desis Fiona seraya menatap tajam dua pria itu yang justru dibalas dengan tawa geli. Fiona kembali memberontak, namun tenaganya tak sebanding.
“Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang.” Ucap salah seorang dari pria itu seraya menjilati bibirnya. Yang justru membuat Fiona menatapnya jijik.
Dengan seluruh tenaga yang ia punya, Fiona menarik paksa tangannya. Dan berhasil! Degan cepat, ia berlari pergi. Namun baru saja ia melangkah, pria tadi kembali mencegatnya dengan cara menarik ujung rambutnya hingga membuatnya jatuh di atas aspal dengan posisi duduk.
Di sisi lain, Jimmy yang baru saja pulang dari tugas yang diberikan oleh Alan, menatap tajam keadaan di sekitarnya. Ia memutuskan untuk melewati jalan lain agar bisa cepat sampai di rumahnya. Jalanan yang biasa dilaluinya sedang ditutup karena baru saja terjadi kecelakaan.
“Argh!” Jimmy segera menginjak rem mobilnya ketika mendengar suara teriakan seseorang. Ia memang dengan sengaja membuka kaca jendela mobilnya.
__ADS_1
“Tidak! Tidak!” Teriak Fiona memohon. Dua pria bertubuh besar itu memaksanya untuk ikut ke taman. Ia tahu betul apa yang akan terjadi padanya jika menuruti permintaan pria-pria itu.
Melalui cahaya dari lampu mobilnya, Jimmy memicingkan matanya seraya menatap ke arah depan. Samar-samar, ia melihat seorang wanita yang tengah ditarik paksa oleh dua orang pria.
“Lepaskan dia!” Teriak Jimmy setelah turun dari mobilnya. Dengan langkah santai, ia menghampiri mereka bertiga dengan wajah datar.
“Apa? Kau juga ingin ikut bersenang-senang? Haha.” Ucap pria yang memegang tangan Fiona. Ia tertawa keras seraya menatap Jimmy dengan wajah penuh nafsu.
Kedua tangan Jimmy terkepal. Dengan cepat, ia menghampiri pria itu lalu memukul wajahnya dengan kuat.
“Brengsek!” Desis Jimmy tajam. Mata birunya berkilat marah. Setelah membuat salah satu dari dua pria itu jatuh tak berdaya di atas aspal, kini Jimmy beralih menatap pria dengan tato pada lengannya.
Tanpa aba-aba, Jimmy melayangkan satu pukulan pada rahang kirinya. Disusul dengan pukulan kuat pada sisi yang satunya lagi. Jimmy betul-betul hilang kendali. Ia tanpa henti menyiksa tubuh pria itu yang telah jatuh pingsan.
“Hentikan!” Pekik Fiona seraya menahan tangan Jimmy. Mata hazelnya menatap pria itu takut sehingga membuat Jimmy tersentak kaget.
Dengan cepat, Jimmy menjauhkan tubuhnya dari dua pria itu. Ia segera menarik tangan Fiona untuk ikut melangkah menuju mobilnya. Lalu memaksa wanita itu masuk. Bahkan tanpa menunggu persetujuan dari wanita itu. Setelah Jimmy melajukan mobilnya, Fiona kembali menatap takut tubuh dua orang pria itu. Fiona hanya berharap jika setelah ini, tidak ada masalah besar yang menimpanya.
“Aku akan tetap menunggumu.” Tegas Jimmy.
“Terserah kau saja.” Seru Fiona seraya berjalan masuk ke dalam bar. Ia memang bersyukur karena pria itu telah menolongnya bahkan sampai mengantarnya pulang. Padahal ia mengira jika pria itu akan meminta sesuatu sebagai balasannya namun ternyata tidak.
***
“Sekarang kau bisa pulang.” Ucap Fiona seraya menatap Jimmy. Pria itu tetap bersikeras untuk menunggu dan mengantarnya pulang. Fiona tak punya pilihan lain. Ia tak ingin membuat keributan dan menarik perhatian banyak orang.
Jimmy mengangguk pelan. Perlahan, ia berbalik untuk melangkah menghampiri mobilnya yang masih terletak di dekat bar. Sejak pertama kali bertemu Fiona, Jimmy tak tahu mengapa ia begitu penasaran untuk mengetahui semua hal tentang wanita itu. Tak jarang, Jimmy datang mengunjungi kedai tempat wanita itu bekerja. Dan saat tahu wanita itu memutuskan untuk berhenti bekerja, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Fiona. Tepat ketika ia sampai di sana, Fiona juga sedang bersiap-siap untuk pindah rumah. Secara diam-diam, Jimmy mengikuti wanita itu hingga akhirnya tahu tempat kerja serta tempa tinggal barunya.
“Hah.” Fiona menghela napas kasar setelah tubuh Jimmy menghilang dari jarak pandangnya. Dengan tak bersemangat, ia membuka pintu rumahnya. Dan hal yang pertama kali menyambutnya adalah suara batuk ibunya. Ya. Mereka hanya tinggal berdua. Di sebuah apartemen kumuh.
“Mom.” Panggil Fiona seraya melangkah menuju kamar ibunya—yang juga menjadi kamarnya. Tempat tinggal mereka hanya mempunyai satu buah kamar tidur dan juga kamar mandi. Dapur serta ruang tengah yang juga merangkap sebagai ruang keluarga.
“Kau sudah pulang?” Tanya ibu Fiona dengan suara lemah. Batuknya tak berhenti sejak tadi. Dengan cepat, Fiona mengambilkan obat dan juga segelas air putih untuk ibunya.
“Kau bisa meminumnya tanpa harus menungguku pulang.” Ucap Fiona lembut. Ia menatap wajah ibunya yang sudah semakin tua. Selama ini, ia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan juga ibunya. Ayahnya, pria yang ia pikir adalah seorang kepala keluarga yang bertanggung jawab, lebih memilih untuk pergi bersama wanita lain dengan membawa semua perhiasan dan uang tabungan ibunya. Sebelum sakit-sakitan, Christine—ibunya, adalah seorang karyawan disebuah perusahaan jasa pengiriman barang dengan gaji yang lebih dari cukup untuk menghidupi mereka bertiga.
Fiona pernah membawa ibunya ke rumah sakit kecil dan dokter mengatakan jika ibunya hanya batuk ringan yang bisa disembuhkan dengan obat. Fiona percaya karena ia memang tak tahu apa-apa. Jadi, setiap sebulan sekali, ia harus membelikan ibunya sebotol kecil obat dengan harga yang lumayan mahal. Namun hingga saat ini, batuk ibunya tak kunjung reda.
__ADS_1
“Pria brengsek itu!” Gumam Fiona dengan wajah marah. Ia bahkan berharap, jika ayahnya telah mati membusuk disuatu tempat.
Ia tak punya waktu untuk memikirkan hal lain. Kehidupannya sudah susah, jadi ia tak ingin menambahnya lagi. Setidaknya, saat ini, uang menjadi prioritas utamanya. Demi mengobati penyakit ibunya.