
Bianca kembali berdecak jengkel ketika Lily masih tak juga mengangkat telfon darinya. Sudah lebih dari lima kali ia menghubungi wanita itu. Bianca dengan sengaja menghubungi Lily di malam hari karena yakin jika sahabatnya itu pasti telah pulang ke rumah dan tak lagi bekerja. Namun nyatanya, Lily masih saja sibuk.
“Lily!” Bianca dengan sengaja berteriak cukup keras saat mengangkat telfon dari Lily. Belum genap lima menit ia meletakkan ponselnya di atas tempat tidur, nama Lily sudah tertera pada layarnya.
“Bianca, kau bisa merusak gendang telingaku.” Seru Lily santai di seberang sana. Setelah melihat panggilan tak terjawab dari Bianca, ia dengan segera menghubungi kembali wanita itu. Khawatir jika Bianca ingin memberitahu sesuatu yang penting padanya.
“Aku sudah menghubungimu sedari tadi. Jangan bilang padaku kalau kau masih berada di kantor.” Sindir Bianca. Ia melirik sekilas jam dinding di kamar Alan yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Aku sedang berkencan.” Ucap Lily senang. Saat ini, ia sedang berada di apartemen kekasihnya—Danny dan sedang menonton film bersama.
“Aku benar-benar tak menyangka. Ternyata kau sudah tak sepolos dulu lagi.” Ucapan Bianca barusan sontak membuat Lily berteriak protes di seberang sana. Ia mencibir Bianca dengan nada jengkel.
Bianca tertawa geli. Jarang-jarang ia bisa menggoda Lily.
“Kami hanya makan malam bersama.”
“Hanya itu? Aku yakin Danny pasti tak akan kebaratan sekalipun kau ingin mengi—”
“Bianca!” Teriak Lily dengan sepelan mungkin. Beruntung Danny tak berada di sisinya karena sedang pergi ke kamar mandi. Jadi ia menggunakan kesempatan yang ada untuk menelfon Bianca.
“Ah, aku punya berita bagus untukmu.” Seru Bianca cepat saat teringat tujuannya menelfon Lily.
“Apa?” Ucap Lily. Jujur saja, ia penasaran.
“Jimmy akan segera menikah.” Jawab Bianca. Ia tersenyum simpul ketika kembali teringat akan keinginannya dan Alan untuk menjodohkan pria bermata biru itu bersama sahabatnya.
“Wow. Berarti aku sudah tak punya kesempatan lagi.” Gurau Lily. Tak lama kemudian, ia tertawa lepas saat mendengar Bianca mencibirnya.
“Lily, aku—”
“Bianca, Danny sudah kembali.” Lily yang mendengar suara langkah kaki, segera berbalik dan menemukan Danny berjalan ke arahnya seraya membawa sepiring kentang goreng. Ia yakin jika pria itu bukan hanya ke kamar mandi, tapi juga ke dapur.
Bianca sontak memutar bola mata malas karena merasa telah menjadi seorang pengganggu. Dengan wajah memberengut, ia menghela napas dalam dan kembali membuka mulutnya sembari berkata,
“Selamat bersenang-senang. Jangan lupa katakan pada Danny untuk memakai peng—”
“Dia tak semesum suamimu!” Teriakan Lily di seberang sana sukses membuat Bianca tertawa puas.
Bianca sangat yakin jika wajah Lily saat ini sudah semerah tomat.
“Siapa?” Tanya Alan ketika ia baru saja kembali ke dalam kamar. Ia sempat mendengar wanita itu sedang berbicara dengan seseorang.
“Lily.” Jawab Bianca. Ia menerima dengan senang hati segelas susu coklat hangat yang Alan berikan padanya.
Alan mengangguk mengerti. Pria itu mengecup sekilas bibir Bianca lalu ikut duduk di atas tempat tidur dan memeluk wanita itu dari arah belakang.
***
Danny yang baru saja kembali mendudukkan dirinya di dekat Lily, sontak mengerutkan kening saat mendapati wajah kekasihnya bersemu merah.
__ADS_1
“Lily.” Danny memanggil lembut nama kekasihnya. Ia segera meletakkan telapak tangannya pada kening Lily. Berniat untuk mengecek suhu badan wanita itu.
“Aku baik-baik saja.” Ucap Lily seraya menarik tangan Danny.
Danny tersenyum lembut. Ia menggenggam erat tangan Lily lalu kembali fokus pada layar televisi datar di hadapannya. Di sebelahnya, Lily tengah menunduk karena terus saja teringat pada ucapan Bianca.
Bianca! Aku akan membalasmu nanti.
Rutuk Lily. Bianca sudah sukses mencuci otaknya dengan hal buruk.
“... by.”
“Babe.” Lily tersentak kaget ketika mendengar Danny memanggilnya dengan sedikit keras. Dengan segera, ia beralih menatap pria itu dan mendapati Danny menatapnya cemas.
“Apa kau yakin baik-baik saja?” Tanya Danny sekali lagi.
“Yeah.” Jawab Lily seraya tersenyum simpul. Sebagai buktinya, ia menghadiahi satu kecupan singkat pada pipi kekasihnya. Lily tak ingin membuat Danny khawatir dan merusak kencan mereka. Walau hanya di apartemen pria itu.
Danny mengangguk paham. Ia meletakkan sebelah tangannya untuk memeluk pinggang Lily dan tangannya yang lain, ia gunakan untuk mengelus lembut rambut wanita itu.
Inilah salah satu hal yang membuat Lily semakin mencintai Danny. Pria itu selalu memperlakukannya dengan sebaik dan selembut mungkin. Tak jarang, Danny kerap kali meminta persetujuan darinya saat pria itu ingin mencium bibirnya.
“Lily.” Panggil Danny dengan suara pelan—nyaris berbisik. Lily tersenyium simpul. Jika Danny sudah memanggil namanya dengan nada yang sangat pelan, itu berarti kekasihnya sedang menginginkan sesuatu.
“Kau tahu, kau tak harus selalu meminta persetujuan dariku.” Ucap Lily sembari memeluk Danny erat. Ia mendongak untuk menatap pria yang lebih tinggi darinya itu.
Ia mengecup bibir Lily dengan lembut. Tanpa tergesa-gesa.
Danny yang awalnya hanya mengecup, beralih untuk ******* kedua bibir Lily secara bergantian.
“Danny.” Lirih Lily. Kedua matanya masih terpejam.
Selama mereka berpacaran, yang Lily dan Danny lakukan hanyalah berciuman. Sekalipun lebih, hanya sebatas kecupan pada leher dan dadanya. Tak jarang, Lily ingin melangkah lebih jauh lagi. Hanya saja, ia masih merasa takut dan juga belum berani.
“Babe.” Bisik Danny. Pria itu memberikan kecupan-kecupan kecil pada leher Lily.
Sebagai seorang pria, Danny tak bisa membohongi dirinya sendiri jika ia juga menginginkan sesuatu yang lebih dari sekadar ciuman. Hanya saja, ia tak ingin memaksa Lily dengan tetap menghargai pilihan wanita itu.
Ia mencintai Lily. Dan Danny tak ingin semuanya menjadi hancur berantakan hanya karena ia tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
***
Jimmy yang sedang berdiri di sisi kanan Alan dan tengah fokus mendengarkan ucapan pria itu, kembali mencuri pandang pada Bianca ketika merasa wanita itu terus memperhatikannya. Namun saat ia mendongak, Bianca dengan cepat mengalihkan perhatian pada layar ponselnya.
“Ada apa?” Alan yang sedari tadi sibuk menerangkan sesuatu pada Jimmy, sontak mendongak seraya menatap Bianca lekat. Sudah sedari tadi ia tahu jika istrinya terus saja memperhatikan Jimmy.
“Apa?!” Ucap Bianca tak mengerti sembari balas menatap Alan.
Alan menghela napas pelan. Sejak Bianca hamil, wanita itu terkadang melakukan sesuatu yang membuatnya tak mengerti. Tak jarang, ia mendapati istrinya tertawa seorang diri atau secara tiba-tiba menangis.
__ADS_1
“Aku tahu jika sedari tadi kau terus saja memperhatikan Jimmy. Kau menyukainya?” Alan berucap dengan nada sedikit kesal. Padahal ia tahu betul jika Bianca dan Jimmy sudah seperti keluarga.
“Ya.” Jawab Bianca tanpa keraguan. Jimmy yang mendengarnya hanya bisa menatap Bianca dengan mata membulat tak percaya.
“Aku juga menyukai Jane dan Fiona.” Sambung Bianca.
Alan tak menjawab. Ia lebih memilih menatap Bianca dalam diam. Bukan tanpa alasan suasana hatinya berubah menjadi sangat buruk. Bahkan sejak pagi hari. Dan yang menjadi penyebabnya adalah Bianca.
Tadi pagi, ketika mereka baru saja ingin ke kantor, Alan yang berniat mengecup bibir Bianca, langsung mendapakan penolakan dari wanita itu. Yang lebih membuatnya kesal, Bianca menolak dengan alasan tak ingin disentuh oleh pria itu.
Ya Tuhan!
“Jimmy.” Panggil Bianca. Ia segera mengalihkan perhatiannya pada pria bermata biru itu.
“Ya, Nona Bianca.” Jawab Jimmy ramah. Di dekatnya, Alan masih tetap diam dengan wajah memberengut.
“Apa–Apa aku boleh mengajak Lily untuk datang ke acara pernikahanmu dan Fiona?” Bianca tahu betul jika Jimmy pasti tak akan keberatan sekalipun ia tak meminta persetujuan dari pria itu. Hanya saja, Bianca masih tetap menghargai Jimmy karena pria itulah yang akan menjadi raja pada pernikahannya.
“Tentu saja. Aku akan memberikan undangan untuknya.” Jimmy tersenyum simpul seraya menatap Bianca hangat. Ia tak akan mungkin tega menolak permintaan Bianca. Lagipula, Lily bukanlah orang lain tapi sahabat wanita itu.
“Thanks, Jimmy.” Seru Bianca senang. Ia kembali menatap Alan seraya tersenyum lebar.
“Jimmy, tinggalkan kami berdua.” Ucap Alan pelan. Jimmy dengan cepat mengangguk mengerti lalu berjalan keluar. Jam makan siang juga telah tiba. Jadi Jimmy memutuskan untuk pulang ke rumah.
“Bianca, kemarilah.” Alan menatap Bianca lekat seraya mengulurkan tangannya ke depan. Sebagai bentuk isyarat agar Bianca segera bangkit dari duduknya di atas sofa dan menghampirinya.
“Alan.” Setelah Bianca berada di sisinya, Alan dengan cepat memutar kursi kerjanya agar berhadapan dengan wanita itu. Kedua tangannya ia letakkan pada pinggang Bianca.
Alan mendongak. Iris hitamnya menatap intens wajah Bianca.
“Apa kau marah padaku?” Tanya Alan lembut. Bianca yang mendengar ucapan pria itu, hanya mampu mengerutkan kening.
“Marah?” Ulang Bianca. Wanita itu menggeleng pelan sembari meletakkan sebelah tangannya pada pundak Alan.
Alang menghela napas pelan. Merasa jika penolakan Bianca tadi pagi padanya adalah salah satu efek samping dari kehamilan wanita itu. Hanya saja, Alan merasa jika ia tak akan pernah sanggup setiap kali Bianca menolak sentuhan darinya.
“Lalu kenapa kau menolak saat aku ingin menciummu tadi pagi?” Alan menatap Bianca dengan wajah kesal. Bianca tersenyum. Prianya sedang merajuk.
“Karena aku memang tak ingin.” Bianca menjawab santai sehingga membuat wajah Alan semakin tertekuk. Ia memang tak berbohong. Tadi pagi, Bianca hanya merasa jika ia tak ingin sama sekali disentuh oleh Alan. Bahkan bergandengan tangan pun ia juga enggan.
“Sayang.”
“Maafkan aku.” Bianca secara perlahan mendudukkan dirinya di ats pangkuan Alan dengan posisi menyamping. Kedua tangannya ia kalungkan pada leher pria itu.
Bianca mengecup bibir Alan dengan lembut. Seakan ingin memberitahu pria itu jika tindakannya tadi pagi bukanlah sesuatu yang ia lakukan secara segaja.
Alan menyeringai. Secara tiba-tiba, ia mengambil alih kedua bibir Bianca. Dengan tak sabaran, Alan mendominasi lidah Bianca juga bagian dalam mulut wanita itu.
Ia ingin membalas dendam atas penolakan wanita itu padanya tadi.
__ADS_1