
Alan yang sedang sibuk memeriksa pekerjaannya, kembali menatap sekilas pada Jimmy yang tengah bergerak gelisah di dekatnya. Sudah sedari tadi ia memerhatikan pria itu. Dan sudah sedari *** pula Jimmy mencuri pandang ke arahnya lalu segera menatap ke arah lain ketika Alan memergokinya. Alan menghela napas dalam. Dengan cepat, ia menutup laptopnya.
“Jimmy, ada apa denganmu?” Tanya Alan seraya menatap Jimmy lekat. Kedua tangannya ia letakkan di depan dada dengan punggung yang bersandar pada kursi. Dan jangan lupakan kakinya yang juga ia silangkan.
“Tak ada apa-apa.” Jawab Jimmy singkat.
“Jangan berbohong. Cepat katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi.” Jimmy sontak menatap Alan ragu. Sebenarnya, ia ingin meminta saran dari pria itu. Seandainya saja Jane tidak sakit, ia pasti akan lebih memilih untuk bercerita pada wanita itu seraya meminta saran agar bisa mendekati Fiona.
“Aku–aku ingin mendekati seorang wanita.” Lirih Jimmy seraya menunduk. Berharap wajahnya saat ini tak memerah. Sungguh, sudah lama sekali sejak terakhir kali ia “berurusan” dengan lawan jenis.
“Apa?! Wanita?” Alan berucap tak percaya seraya menatap Jimmy kaget. Akhirnya, pria itu menunjukkan ketertarikannya juga.
Setelah berdehem pelan, Alan segera menyuruh Jimmy untuk duduk di kursi yang berada di hadapannya. Dengan senang hati ia aka membantu pria itu. Alan hanya tak ingin Jimmy menghabiskan sisa hidupnya seorang diri.
“Apa kau yakin?” Tanya Alan sekali lagi.
“Ya.” Jawab Jimmy cepat penuh keseriusan.
Alan menyeringai sejenak dengan tak mengubah posisi duduknya. Perlahan, ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dengan meletakkan kedua tangannya yang tertaut di atas meja.
“Apa kau benar-benar menyukainya?”
“Ya, Tuan.” Jimmy yakin jika ia benar-benar menyukai Fiona. Tapi jika ditanya masalah mencintai atau tidak, Jimmy belum bisa memberi jawaban. Ia hanya ingin mengenal Fiona lebih dekat terlebih dahulu.
“Jimmy, seharusnya kau sudah tahu seperti apa diriku. Selama lima tahun bersama, kau tahu betul bagaimana hubunganku dengan wanita-wanita itu.” Ucap Alan tanpa melepaskan pandangannya dari Jimmy. Pria bermata biru itu mengangguk pelan sebagai sebuh jawaban.
“Tak masalah.” Jawab Jimmy pada akhirnya. Ia tetap ingin mendengar saran dari tuannya.
“Dekati. Ajak berbicara sebentar. Dan bawa mereka ke atas ranjang.” Alan berucap santai seraya menyeringai puas. Selama ini, memang hal tersebut yang sering ia lakukan. Walau pada kenyataannya, wanita-wanita itulah yang lebih dulu menyerahkan diri kepadanya. Alan hanya tinggal memberikan sentuhan terakhir berupa bisikan lembut ataupun tatapan mata menggoda.
Jimmy masih tak bersuara. Di dalam hati, ia tak bisa sama sekali mengikuti saran dari Alan. Bukannya mendekat, Fiona justru akan menjauh darinya. Karena menganggapnya sebagai pria brengsek yang hanya mengincar tubuhnya saja.
“Terima kasih, Tuan.” Ucap Jimmy tulus. Ia akan mendekati Fiona menggunakan caranya sendiri. Dengan tetap menjadi dirinya sendiri.
__ADS_1
***
Bianca yang baru saja menyelesaikan makan malamnya—sepiring penuh spageti bolognese ditambah dengan lelehan keju, kembali menatap jam. Sudah pukul delapan malam dan Alan belum juga pulang. Padahal pria itu menelfonnya tadi sore dan berkata akan pulang cepat.
“Nyonya.” Sofie yang belum pulang, menyapa Bianca seraya membawakan wanita itu segelas teh hangat. Saat ini, Bianca sedang berada di ruang tengah rumah Alan.
“Terima kasih, Sofie.” Balas Bianca seraya tersenyum senang.
Sofie tersenyum hangat. Ia menatap lekat Bianca. Wanita yang perlahan membawa angin sejuk serta kebahagiaan di dalam kehidupan tuannya. Dan Sofie yakin jika tak ada lagi wanita yang mampu melakukannya kecuali Bianca.
“Nyonya, terima kasih karena sudah mau berada di sisi tuan Alan.” Sofie berucap lembut. Ia sedang berdiri tak jauh dari Bianca. Padahal Bianca sudah menyuruhnya untuk duduk di sofa tapi Sofie tetap saja menolak.
“Tuan Alan, sedikit demi sedikit mulai berubah. Awalnya, rumah ini selalu terasa sepi dan juga gelap.” Sofie kembali teringat ketika ia pertama kali bekerja di rumah Alan. Pria itu menatapnya tajam tanpa ekspresi. Alan juga sering menyuruhnya datang walaupun pria itu jarang makan di rumah.
“Sof—”
“Bianca.” Bianca yang mendengar suara Alan, segera bangkit dari duduknya untuk menghampiri pria itu setelah lebih dulu berpamitan pada Sofie. Bagaimanapun juga, Sofie tetap seseorang yang lebih tua darinya.
“Bukankah kau pulang cepat?” Bianca yang baru saja menghampiri Alan, bertanya dengan nada menyindir. Pria itu tersenyum simpul lalu segera memeluk tubuh wanitanya. Menghirup aroma buah yang menguar dari tubuh Bianca membuatnya merasa tenang.
Sesampainya di kamar, Alan langsung membuka pakaian kerjanya. Ia merasa sesak dan tak bebas bergerak. Jika saja Bianca tak memarahinya, ia lebih memilih untuk tidur telanjang dengan hanya ditutupi selimut.
“Apa ini?” Bianca secara tak sengaja menatap sebuah amplop kecil berwarna biru tua yang jatuh dari salah satu kantong jas Alan. Dengan cepat, Bianca memungutnya seraya menatap Alan bingung.
“Undangan.” Jawab Alan singkat seraya menatap istrinya. Tadi, ketika hendak pulang, salah satu rekan bisnis Alan yang sudah cukup tua menelfonnya. Mengajaknya untuk bertemu sebentar karena ingin memberikan sesuatu.
“Makan malam?” Tanya Bianca ketika ia baru saja membuka amplop tersebut dan menemukan secarik kertas berwarna putih yang tertera ”You Are Cordially Invited To A Dinner Party!” yang ditulis menggunakan tinta emas.
“Besok malam. Dan kau harus ikut.” Ucap Alan santai seraya berjalan menuju kamar mandi. Sebelumnya, ia telah lebih dulu mengecup bibir Bianca. Hal yang tak boleh ia lewatkan.
Bianca masih terdiam seraya menatap kertas putih tersebut. Mendadak, perasaannya berubah menjadi tak enak. Ia yakin jika undangan tersebut bukan hanya sekadar ajakan makan malam biasa. Tapi untuk hal yang lain.
Menjadi istri Alan tak semudah yang ia bayangkan.
__ADS_1
***
Fiona benar-benar takjub akan kegigihan Jimmy. Setelah sebelumnya meminta bertemu, kali ini, pria itu mengajaknya untuk makan malam bersama. Tentu saja ia menolaknya. Selain karena jam kerja masih belum selesai, ia juga harus segera pulang untuk menemani ibunya.
“Aku tak punya banyak waktu sepertimu.” Desis Fiona. Ia menatap Jimmy tajam.
“Aku akan menunggu sampai kau punya waktu.” Seru Jimmy. Mata birunya menatap Fiona penuh kesungguhan.
Fiona menggeram. Ia terpaksa menggunakan cara lain.
“Jimmy, dengarkan aku baik-baik.” Ucap Fiona penuh penekanan. Mata hazelnya menatap Jimmy lekat. Mereka berdua sedang berada di dalam bar dan beruntung, pengunjung yang datang tidak terlalu banyak. Sebab, di luar sedang turun hujan.
“Aku tak punya banyak waktu untuk melakukan hal lain. Ibuku sedang sakit dan aku butuh banyak uang agar bisa mengobatinya.” Ujar Fiona seraya menahan amarahnya. Saat memikirkan ibunya, ia juga secara langsung mengingat ayahnya.
Jimmy masih menutup rapat mulutnya. Ia sengaja memberikan Fiona kesempatan untuk berbicara.
“Aku tak punya banyak uang sepertimu.” Raut wajah Jimmy mendadak berubah setelah mendengar ucapan Fiona. Banyak uang? Sungguh, jika bukan karena Alan, saat ini, ia dan Jane pasti sudah menjadi gelandangan. Ia hanyalah seorang mantan mahasiswa yang memutuskan untuk berhenti dan lebih memilih mencari pekerjaan demi menghidupi dirinya dan juga Jane.
Fiona yang tak menyadari perubahan raut wajah pria itu, kembali membuka suara,
“Keluargamu tak ada yang sakit. Jadi kau tak tahu bagaimana rasanya.” Kedua rahang Jimmy sontak mengeras dengan tangan yang terkepal kuat. Mata birunya berkilat marah setelah mendengar ucapan wanita itu. Tidak tahu rasanya? Jimmy bahkan yakin jika siapapun yang berada di posisinya, pasti akan lebih memilih meninggalkan Jane. Alih-alih merawat wanita itu.
“Yang kau butuhkan uang, bukan? Aku bisa memberimu lebih banyak dari gaji yang kau terima.” Fiona tersentak kaget ketika mendengar ucapan Jimmy. Nadanya berubah dingin dan tak bersahabat. Padahal sebelumnya, Jimmy selalu berucap dengan lembut padanya.
“Aku akan menjemputmu besok sekaligus menjadi hari pertamamu bekerja denganku.” Ucap Jimmy seraya menahan luapan emosinya. Ia sadar jika Fiona tak tahu apa pun perihal kehidupannya. Hanya saja, ketika mendengar ucapan wanita itu, Jimmy tak kuasa mengendalikan dirinya. Ia akan menunjukkan kepada Fiona seperti apa kehidupannya yang sebenarnya. Wanita itu harus tahu agar tak selalu menilai secara sepihak.
Dengan cepat, Jimmy melangkah pergi meninggalkan Fiona dan membuat wanita itu langsung merasa bersalah. Jimmy menatapnya dengan pandangan terluka. Dan Fiona sadar jika ia mungkin telah mengatakan sesuatu yang tak seharusnya pria itu dengar.
***
Jimmy tanpa sadar membanting pintu mobilnya ketika baru saja memasuki halaman rumahnya. Ia kembali teringat akan ucapan Fiona. Ia sungguh tak tahu mengapa bisa hilang kendali seperti ini. Padahal, ia sudah berusaha keras untuk selalu bersikap tenang dalam keadaan apa pun. Seakan, Fiona menghancurkan secara perlahan tembok besar dan juga dingin yang telah ia bangun.
“Jane.” Gumam Jimmy. Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju kamar Jane dan mendapati wanita itu telah terlelap.
__ADS_1
Jimmy perlahan mendekat. Ia duduk di pinggir tempat tidur seraya mengelus lembut rambut coklat keemasan Jane. Dadanya sesak. Jika saja semuanya bisa diulang kembali, Jimmy berjanji untuk menjaga baik-baik satu-satunya harta paling berharga yang ia miliki.
Jimmy menghela napas dalam. Perlahan ia bangkit, lalu menunduk sedikit untuk mengecup surai Jane dengan cairan bening yang menetes dari salah satu sudut matanya.