
Stacy menatap sekelilingnya dengan mata memerah penuh amarah. Ia melempar apa pun yang masih bisa dijangkau dengan tangannya. Kaca di meja riasnya sudah hancur berkeping-keping akibat dilempar menggunakan ponsel. Baru limat menit yang lalu ayahnya menelpon dan menanyakan hal apa yang ia lakukan. Bukan hanya dirinya, tapi juga kedua orang Stacy terancam hancur. Ayahnya bahkan memintanya untuk langsung terbang ke Ohio.
“Brengsek!” Stacy kembali berteriak marah seraya mengacak rambutnya frustasi. Tidak menyangka jika ia bisa begitu bodoh akan semua bujuk rayu Rico.
“Sialan! Ini semua karena Rico.” Stacy mengumpat jengkel seraya mengutuk Rico. Kenikmatan sementara yang dirasakannya justru berbuah petaka. Seandainya saja ia tidak bekerjasama dengan pria brengsek itu, ini semua pasti tidak akan pernah terjadi.
“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” Teriak Stacy. Bukan hanya dikeluarkan dari sekolah secara tak layak, ayahnya juga mengatakan jika ia harus tinggal di asrama super ketat. Ditambah dengan uang jajannya yang dipotong. Stacy tidak lagi bisa belanja sesuka hatinya. Pun menikmati kehidupan mewahnya seperti yang selama ini dirasakannya.
***
Di sisi lain, Rico hanya bisa tertunduk tak berdaya ketika ayahnya memarahinya tanpa ampun. Sumpah serapah serta kalimat makian sudah memenuhi indra pendengarannya sedari tadi. Tangannya mengepal kuat.
“Kau pikir apa yang kau lakukan?!” Ayah Rico—Daffin, berteriak marah seraya menatap anaknya tajamnya. Dadanya naik turun.
“Aku hanya mengikuti apa yang selama ini kau lakukan.” Seru Rico seraya balas menatap tajam ayahnya. Demi Tuhan, ia sangat membenci pria itu.
“Kau!” Daffin sontak menarik kerah baju Rico. Tangannya yang terkepal sudah terangkat ke udara. Bersiap untuk meninju wajah anaknya.
“Apa? Bukankah kau juga sering melakukannya pada Mor ?”
Daffin mendelik jengkel seraya melepaskan cengkeraman tangannya pada kerah baju Rico. Tangannya masih terkepal kuat.
“Kau dan wanita sialan itu sama saja. Selalu membuatku susah.” Ucap Daffin tajam.
Rico tak terima. Dengan segera, ia bangkit dari duduknya seraya menatap ayahnya penuh kebencian.
“Aku lebih memilih untuk hidup susah asalkan bersama dengan Mor. Daripada harus tinggal dengan iblis sepertimu!” Ucap Rico tanpa rasa takut.
“Brengsek!” Daffin sontak melayangkan tamparan yang cukup keras pada pipi kiri Rico. Bibirnya berdecih jengkel.
“Aku tidak akan sudi tinggal denganmu!” Ujar Rico seraya melangkah pergi. Tak dipedulikannya lagi teriakan Daffin yang memintanya untuk kembali.
Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, Rico harus tinggal dengan ayahnya karena ibunya lebih memilih untuk pulang ke kampung halamannya di Denmark. Kedua orang tuanya bercerai. Dan Daffin memaksanya untuk tinggal bersama karena Rico lah yang akan mewarisi perusahaannya.
Rico sadar jika kedua orang tuanya bercerai bukan tanpa alasan. Ayahnya sering marah tanpa sebab dan berakhir dengan memukul ibunya. Tontonan yang sering dilihatnya bahkan sejak ia masih kecil. Jangankan untuk bertemu, berkomunikasi dengan ibunya saja Daffin melarang. Rico tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi ketika Daffin mengancam akan menghancurkan usaha toko kue milik ibunya di Denmark yang sudah susah payah dibangunnya.
__ADS_1
Tumbuh tanpa limpahan kasih sayang membuat Rico menjadi pribadi yang tak bisa dikontrol. Bukan hanya kali ini saja dia membuat masalah. Ketika masih berumur empat belas tahun, Rico harus berurusan dengan polisi karena terbukti mengkonsumsi narkoba.
***
Bianca kembali memasang wajah memberengut. Ia sudah membujuk Alan sedari tadi agar mau mengizinkannya pergi ke sekolah besok. Tapi Alan menolak dengan dalih jika istrinya masih butuh istirahat yang banyak.
“Alan, aku sudah bosan.” Ucap Bianca pelan. Matanya menatap Alan dengan pandangan memelas.
“Apa kau juga bosan saat bersamaku?” Tanya Alan ketus.
“Aku merindukan Lily—Ya Tuhan, ponselku!” Bianca memekik kaget ketika baru teringat pada ponselnya. Yakin jika Rico pasti telah mengambil dan membuangnya.
“Aku akan membelikanmu yang baru. Kau tinggal pilih mau yang mana.” Seru Alan santai. Kini ia tengah sibuk membaca buku.
“Bagaimana jika aku dikeluarkan?” Bianca masih belum menyerah. Ia akan terus berusaha membujuk Alan.
“Kepala sekolahmu tidak akan mungkin berani.” Jawab Alan acuh. Tangannya kembali membuka lembaran buku yang saat ini tengah ia baca.
“Dikeluarkan pun juga tak akan masalah. Aku bisa memasukkanmu ke sekolah yang jauh lebih bagus dan mahal.” Alan berujar bangga seraya menyeringai puas. Bianca mencibir seraya menatap Alan jengkel.
“Terima kasih.” Ucap Alan seraya menatap Bianca lekat.
“Untuk apa?” Tanya Bianca bingung.
“Tidak ada. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih saja. Kemarilah.” Jawab Alan seraya mengulurkan tangannya. Meminta Bianca untuk mendekat.
Bianca mengangguk kecil lalu segera mendekati Alan. Pria itu langsung merengkuhnya erat seraya meletakkan dagunya di atas kepala Bianca. Kedua tangannya memeluk Bianca posesif. Dan Bianca juga melakukan hal yang sama.
Mereka berdua berpelukan dalam diam. Saling merasakan kehangatan tubuh masing-masing.
Dalam diamnya, Alan kembali bersyukur karena telah dipertemukan dengan Bianca walaupun dengan cara yang tidak biasa. Baru kali ini ia dibuat tak berdaya oleh seorang wanita. Ia bahkan rela memberikan apa pun untuk Bianca, selama wanita itu tetap berada di sisinya. Dan Alan yakin, ini bukan hanya bentuk kepedulian semata. Tapi sedikit demi sedikit, cinta mungkin sudah masuk ke dalam hati dan kehidupannya.
***
Cathy melangkah memasuki apartemen Wilson dengan gugup. Keringat dingin sudah mulai membasahi tubuhnya. Tidak. Ia tidak boleh gugup. Wilson tidak boleh tahu jika Alan ternyata mengetahui hubungan mereka.
__ADS_1
“Wilson.” Panggil Cathy seraya menghampiri Wilson yang tengah berdiri di dekat jendela.
Wilson berbalik, kedua tangannya terulur untuk memeluk Cathy.
“Aku merindukanmu.” Bisik Wilson seraya mengecup leher Cathy sebentar.
“Aku juga.” Balas Cathy sembari mengecup bibir Wilson. Kedua tangannya segera ia kalungkan pada leher pria itu. Tatapannya menggoda. Sengaja agar Wilson tak curiga padanya.
“Kita ke kamar.” Ucap Wilson seraya menarik tangan Cathy menuju kamar.
“Babe.” Bisik Cathy. Tangannya bermain pada tubuh Wilson.
“Sexy. Seperti biasa.” Wilson berujar menggoda seraya mengedipkan sebelah. Sehingga membuat wwanita itu tertawa kecil.
Setiap kali mereka bertemu, Cathy dan Wilson pasti akan selalu berakhir di atas ranjang. Seakan, mereka berdua saling memanfaatkan untuk melampiaskan hasrat masing-masing.
Kedua mata Cathy sontak terpejam ketika klimaksnya baru saja usai. Namun, ketika ia membuka mata untuk menatap Wilson, Cathy kembali teringat pada perkataan Alan waktu itu. Wajahnya mendadak pucat. Ia tak lagi memedulikan Wilson yang tengah memanggil-manggil namanya.
“Cathy!” Teriak Wilson. Wajahnya bersungut jengkel.
“A—apa?” Tanya Cathy gugup. Sadar jika Wilson sudah melepaskan tautan tubuh mereka.
“Apa yang kau pikirkan?” Ucap Wilson seraya menatap Cathy dengan mata memicing.
“A—aku tidak memikirkan apa pun.” Jawab Cathy.
“Jangan berbohong padaku!” Wilson berteriak marah seraya menatap Cathy. Wilson yakin jika telah terjadi sesuatu pada wanita itu ketika mendapati Cathy menatapnya kosong.
“Sungguh. Aku tidak berbohong.” Wilson mengacuhkan ucapan Cathy dan justru menggigit lengan wanita itu kuat. Cathy meringis sakit seraya menatap Wilson takut.
“Katakan padaku apa yang telah terjadi atau aku—”
“Asal kau berjanji tidak akan menyakitiku.” Potong Cathy. Mata hijau terangnya menatap Wilson lekat.
“Aku berjanji.” Bisik Wilson seraya mencium bibir Cathy. Satu-satunya cara untuk membuat Cathy berkata jujur adalah dengan mengikuti semua permintaannya. Ditambah dengan sikap lembut serta perlakuan spesial pada tubuh wanita itu.
__ADS_1