
Fiona yang baru saja kembali pulang ke rumahnya, sontak menghentikan pergerakan tangannya ketika ia ingin membuka pintu. Tubuhnya mendadak mematung dengan rasa sesak yang menyelimuti hatinya. Di dalam rumah kecil tersebut, terdapat banyak kenangannya bersama ibunya.
“Fiona.” Jimmy yang tak pernah beranjak sedikitpun dari sisi wanita itu, segera menggenggam tangan Fiona seraya tersenyum lembut.
“Aku takut.” Bisik Fiona. Kedua matanya terasa panas. Ia yakin, jika tak lama lagi, tangisnya akan kembali pecah.
Setelah menghela napas dalam seraya memejamkan kedua matanya, Fiona kembali memegang gagang pintu. Dan benar saja, air matanya langsung tumpah begitu saja. Ia masih belum bisa menerima kepergian ibunya. Semuanya terlalu terasa mendadak.
Dengan mata sembab, Fiona menatap seluruh isi rumahnya. Mengingat setiap kenangan yang berada di sana bersama ibunya ketika masih hidup. Dan Fiona baru tersadar jika selama ini, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah untuk bekerja. Mencari uang sebanyak mungkin untuk menyembuhkan ibunya. Namun nyatanya, wanita itu tetap saja pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
“Fiona.” Panggil Jimmy. Ia segera menyamakan posisinya dengan Fiona yang telah terduduk lemas di atas lantai rumahnya. Mata birunya menatap wanita itu lekat serta penuh kehangatan.
Fiona mendongak. Balas menatap Jimmy.
“Aku ingin kau tinggal denganku.” Fiona sontak menatap Jimmy kaget. Lidahnya kelu. Sehingga tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya.
“Aku hanya tak ingin meninggalkan dan membiarkanmu menangis seorang diri.” Ucap Jimmy. Ia masih senantiasa menatap Fiona lembut.
“Aku—”
“Setidaknya, dengan tinggal bersama, aku selalu bisa memastikan jika keadaanmu baik-baik saja. Aku yakin Jane pasti akan ikut senang.” Ucap Jimmy seraya tersenyum. Mereka berdua masih tetap saling berpandangan.
“Berikan aku waktu untuk berpikir.” Jawab Fiona. Jujur saja, ia merasa senang ketika mendengar ucapan pria itu. Namun di sisi lain, ia juga masih merasa berat untuk meninggalkan rumahnya. Fiona masih ingin mengenang dan mengingat semuanya. Masih ingin menangis serta terisak sepuasanya. Dan setelahnya, ia ingin menjalani kehidupannya dengan menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Sebab, sampai kapan pun, ibunya adalah sosok yang tak pernah mungkin ia lupakan begitu saja.
“Baiklah.” Jawab Jimmy. Satu kecupan singkat baru saja ia daratkan pada kening wanita itu.
“Jimmy, sepertinya, selama beberapa hari, aku tak bisa masuk bekerja.” Ucap Fiona pelan setelah bangkit dari duduknya. Untuk saat ini, ia ingin menghabiskan waktunya selama beberapa hari di rumah. Sembari memutuskan pilihannya akan tawaran Jimmy tadi.
“Ya.” Jimmy mengangguk mengerti seraya tersenyum simpul. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk mengelus pipi Fiona.
“Aku pulang dulu.” Pamit Jimmy seraya menatap Fiona lekat. Tak lama, ia melangkah pelan menuju mobil putih miliknya yang terparkir tak jauh dari rumah wanita itu.
Setelah Jimmy menghilang dari jarak pandangnya, Fiona dengan cepat masuk ke dalam rumahnya. Punggungnya ia sandarkan pada pintu yang telah tertutup. Tak lama, isakannya terdengar. Lebih keras dari sebelumnya.
“Mom.” Lirihnya. Tangan kanannya terangkat ke atas untuk meremas dadanya yang terasa sakit dan juga sesak. Cairan bening kembali membasahi kedua pipinya. Kehilangan seseorang yang begitu berharga rasanya benar-benar menyakitkan.
***
Bianca yang baru saja beranjak keluar dari dalam gedung sekolahnya, menatap tak percaya pada Jimmy yang sudah menunggunya di luar. Lengkap dengan mobil yang biasa pria itu gunakan untuk menjemputnya.
“Jimmy!” Bianca berseru senang seraya menghampiri Jimmy dengan berlari kecil. Ia menatap pria bermata biru itu sembari tersenyum simpul.
“Nona.” Sapa Jimmy. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk memberikan Bianca segelas minuman dingin rasa coklat yang baru saja dibelinya.
“Untukku?” Tanya Bianca tak percaya. Pria itu baru saja kembali bekerja dan langsung memberinya segelas minuman.
__ADS_1
“Ya. Sebagai permintaan maaf karena aku tak masuk bekerja.” Jawab Jimmy sembari tersenyum simpul. Dengan cepat, ia membukakan pintu mobil untuk Bianca agar wanita itu segera masuk. Matahari masih bersinar terik di atas sana dan ia tak ingin Bianca kepanasan karena kelalaiannya.
Di dalam mobil, Bianca masih terdiam seraya menatap Jimmy dari kaca spion. Setelah tak bertemu cukup lama, Bianca merasa jika pria itu juga berubah. Menurutnya, ekspresi wajah Jimmy terlihat lebih hangat dari biasanya—dingin dan juga datar.
“Bagaimana keadaan kekasihmu?” Jimmy yang mendengar pertanyaan mendadak Bianca, sontak menatap wanita itu kaget melalui pantulan kaca spion dalam mobil. Tak lama, ia kembali menatap fokus pada jalanan di depannya.
“Baik-baik saja.” Jawab Jimmy tak yakin. Ia memang kerap kali datang mengunjungi Fiona walau hanya sebentar. Memastikan jika wanita itu makan dan tidur dengan layak.
“Apa setelah ini kau akan kembali ke kantor?” Tanya Bianca lagi. Ia masih ingat betul bagaimana repotnya Alan mengurusi seluruh pekerjaannya dan beberapa kali pulang larut malam. Ketika ia telah lama terlelap.
“Ya. Tuan memberiku banyak pekerjaan.” Jawab Jimmy jujur. Sekalipun Alan tahu perihal alasan ketidakhadirannya, pria itu tetap memberikannya banyak tugas di kantor.
Tanpa sadar, Bianca menghela napas kasar. Ia memang merasa sangat senang karena Jimmy kembali lagi masuk bekerja. Tapi di sisi lain, Alan juga pasti akan pulang lebih cepat lagi. Dan itu berarti, Bianca harus mengorbankan jam tidurnya untuk mengikuti keinginan Alan yang tak pernah rela melepas dirinya.
“Nona, ada apa?” Tanya Jimmy cemas. Ia menatap sekilas pada Bianca.
“Tak ada-apa, Jimmy.” Jawab Bianca seraya tersenyum simpul. Ia kembali menikmati minuman rasa coklat yang Jimmy berikan untuknya.
***
Setelah mengecek e-mail masuk pada iPad miliknya, Alan sontak menyeringai puas. Pekerjaannya hari ini selesai dalam waktu cepat. Biasanya, ia akan pulang ketika jam telah menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi hari ini, menjelang pukul enam sore, ia berhasil menyelesaikan semuanya dengan bantuan Jimmy.
“Jimmy, kau bisa langsung pulang.” Ucap Alan seraya bangkit dari duduknya. Jimmy yang juga tengah duduk di sofa, mengikuti tindakan Alan.
“Bagaimana dengan—”
“Aku pulang dulu.” Ucap Alan seraya melangkah pelan meninggalkan ruangannya. Tak lama, seringaian nakal tercetak pada sudut bibirnya. Hari ini ia bisa pulang cepat. Dan itu berarti, ia bisa berduaan dengan Bianca dan bukan hanya menatap wajah terlelap wanita itu.
Alan akan memberikan kejutan pada Bianca.
“My dear, Bianca. Tunggu aku.” Gumam Alan. Satu senyuman penuh arti tercetak pada bibirnya.
***
Bianca yang baru saja melangkah keluar dari kamar mandi seraya tersenyum senang, tersentak kaget ketika mendapati Alan telah berdiri di dekat pintu seraya menyeringai kecil. Perlahan, pria itu melangkah untuk menghampirinya.
“Kau sudah pulang?” Tanya Bianca tak percaya. Awalnya, ia mengira jika Alan pasti akan pulang terlambat seperti biasanya. Jadi ia bisa beristirahat dengan cepat.
Alan mengangguk pelan ketika telah berada di depan Bianca. Iris hitamnya menatap lekat tubuh wanita itu yang telah tertutupi oleh baju tidur terusan berlengan pendek di atas lutut, bukaan kancing depan. Berwarna biru muda dengan motif polkadot putih. Rambut panjangnya diikat dengan model cepol berantakan.
“Tunggu aku.” Bisik Alan seraya mengecup tengkuk Bianca. Tak lama, ia melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Berniat membersihkan dirinya sebentar agar tak membuat Bianca menunggu terlalu lama.
***
Tak sampai dua puluh menit, Alan telah keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi berwarna abu-abu terang. Rambutnya masih sedikit basah. Ditambah tatapannya yang menatap lekat pada Bianca yang tengah duduk menyandar di atas tempat tidur seraya bermain ponsel.
__ADS_1
“Alan.” Panggil Bianca seraya menatap Alan bingung. Sebab, pria itu justru melangkah keluar meninggalkannya dan tak lama kemudian, kembali lagi seraya membawa satu cup ice cream berukuran sedang.
“Bianca.” Alan berucap pelan seraya menghampiri Bianca yang sedang menatapnya lekat. Ia tersenyum simpul lalu beralih mengecup bibir wanita itu lama.
“Apa itu?” Tanya Bianca seraya menatap Alan dengan mata memicing. Ia punya firasat buruk ketika melihat pria itu membawa masuk es krim ke dalam kamar.
“Kejutan.” Jawab Alan santai. Ia segera mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur—tepat di dekat Bianca.
“Aku sedang tak berulang tahun.” Ucap Bianca cepat. Jantungnya semakin berdegup kencang tatkala Alan telah membuka penutup es krim tersebut.
“Buka mulutmu.” Perintah Alan pelan seraya menatap Bianca intens. Sudut bibirnya kembali tertarik ke atas.
“Al—”
“Aku hanya ingin menikmatinya berdua denganmu.” Sela Alan cepat seraya kembali mengecup bibir Bianca.
Bianca menyerah. Ia tak pernah bisa menang melawan pria itu.
Alan sontak tersenyum puas ketika melihat Bianca membuka kecil mulutnya. Dengan cepat, ia segera mengambil satu sendok es krim dengan rasa coklat, vanila dan stroberi tersebut.
“Dan jangan memakannya lebih dulu.” Sambung Alan lagi. Perlahan, ia memasukkan sesendok kecil es krim ke dalam mulut Bianca. Disusul dengan sendok kedua. Sampai ketiga.
Setelah meletakkan cup es krim tersebut ke atas nakas samping tempat tidur, Alan segera mendekatkan wajahnya pada wajah Bianca. Kedua tangannya terangkat ke atas untuk menangkup pipi wanita itu.
Dengan gerakan menggoda, Alan meloloskan lidahnya masuk ke dalam mulut Bianca. Mengambil sedikit es krim yang berada di dalam sana. Tak lama, ia kembali mengulanginya lagi.
Merasa kesal terus digoda oleh Alan, Bianca segera menelan es krim yang telah mencair di dalam mulutnya dan beralih untuk ******* bibir atas pria itu.
Alan menyeringai senang. Ini yang ia inginkan. Tubuhnya selalu saja bereaksi hebat setiap kali Bianca yang mengambil inisiatif terlebih dahulu.
“My dear, Bianca.” Bisik Alan setelah tautan bibir mereka terlepas.
“Alan.” Panggil Bianca di antara deru napas memburunya.
“Alan, please.” Mohon Bianca. Ia sudah tak sanggup lagi menerima godaan Alan pada tubuhya.
Alan tak mengacuhkan ucapan memohon wanitanya.
“Sayang.” Panggil Alan. Ia menyapu bibir bawah Bianca menggunakan ibu jarinya. Lalu kembali menyatukan bibir mereka.
Bianca tak tahu sampai berapa lama lagi mereka akan terus menyatu tanpa merasa bosan. Bukan hanya Alan, tapi ia juga selalu menikmati setiap kali kulit mereka bersentuhan secara langsung.
“I Love you.” Bisik Bianca seraya menggigit bahu Alan dengan cukup kuat. Sehingga membuat pria itu meringis kecil. Tak lama, Bianca mengarahkan bibirnya pada leher Alan. Membuat beberapa jejak kemerahan di sana. Sebagai tanda kepemilikannya pada pria itu.
Alan menyeringai puas lalu balas melakukan hal yang sama.
__ADS_1
“Aku juga mencintaimu.” Balas Alan seraya mengecup kening Bianca lama.