Married With The Devil

Married With The Devil
Hari Bahagia


__ADS_3

Jimmy kembali mengukir senyuman simpul ketika menatap sekali lagi pantulan dirinya di depan cermin. Tuxedo berwarna khaki yang dipesannya secara khusus, menempel secara sempurna pada tubuhnya serta memberikan hasil yang sangat memuaskan. Jimmy memang dengan sengaja meminta untuk dibuatkan jas dan bukannya menyewa. Pun halnya dengan gaun yang akan Fiona kenakan saat berdiri di altar bersamanya nanti. Sebab baginya, pernikahan adalah sesuatu yang hanya akan ia lakukan sekali seumur hidupnya. Jadi Jimmy ingin punya kenangan istimewa dihari pernikahannya.


Saat ini, Jimmy sedang berada pada salah satu butik ternama di pusat kota Michigan. Ia memang memesan jas serta gaun pengantin untuk Fiona juga gaun untuk Jane ketika berada di Washington. Namun, tempatnya berada saat ini merupakan salah satu cabang dari butik tersebut. Sehingga Jimmy tak perlu repot-repot untuk membawa sendiri setelan pernikahannya karena butik tersebutlah yang akan mengurus semuanya. Ia hanya perlu membayar dan semuanya akan tersedia secara sempurna.


“Jane.” Jane yang sedang bersama Jimmy dan berada pada salah satu ruangan di dalam butik tersebut, sontak menoleh pada pria itu dan tersenyum lebar saat melihat penampilan Jimmy. Setelah selesai berpakaian, Jimmy meminta salah satu pegawai butik tersebut untuk memanggil Jane sekaligus mengantar wanita itu padanya.


Jane tersenyum. Sekalipun tak mengucapkan satu kata pun, tapi binar mata serta ekspresi wajahnya tak bisa sama sekali menyembunyikan kebahagiaan yang juga ia rasakan hari ini.


“Fiona.” Ucap Jane. Perlahan, Jimmy melangkah menghampiri wanita itu yang sedang duduk di dekat jendela sembari menatap rimbunnya pohon di luar sana—yang berada di halaman butik tersebut.


“Kita akan bertemu dengannya sebentar lagi.” Jawab Jimmy. Fiona sedang berada di ruangan yang lainnya. Tadi, ketika ia ingin bertemu dengan wanita itu, Bianca dengan tegas melarangnya. Ia hanya diperbolehkan bertemu dengan Fiona saat berada di altar nanti.


Sehari sebelum hari pernikahannya, Jimmy dan Fiona juga Jane telah terbang lebih dulu ke Michigan di waktu pagi dengan memakan waktu lebih dari tiga jam. Pria itu menjatuhkan pilihannya pada salah satu tempat bernuansa alam untuk dijadikan sebagai lokasi pernikahannya sekaligus pemberkatan nikah. Jimmy juga memilih untuk langsung mengadakan resepsi pernikahan setelah pemberkatan nikah selesai karena ia khawatir Jane akan kelelahan. Dan semuanya telah disetujui oleh Fiona.


“Kau sudah siap?” Jimmy segera mengalihkan perhatiaannya pada pintu dan menemukan Alan telah rapi dalam balutan jas berwarna biru navy. Pria itu menatapnya lekat sembari menanti jawaban darinya.


“Ya, Tuan.” Jawab Jimmy.


“Jimmy, apa kau—Wow!” James yang baru saja tiba setelah menerima pesan singkat dari Jimmy, menatap tak percaya pada Jane yang juga telah menatapnya lebih dulu. Wanita itu tampil cantik dalam balutan gaun selutut, bermodel off shuolder berwarna navy. Rambut coklat keemasannya dibiarkan terurai setelah dibuat bergelombang dengan mengambil sedikit helai dari kedua sisinya untuk di kepang lalu kemudian disatukan ke bagian belakang. Terlihat sederhana tapi mampu membuat James tak berkedip.


“Kita sudah tak punya banyak waktu lagi.” Ucapan tajam Alan sukses membuat James tersadar lalu beralih menatap Jimmy kikuk.


Awalnya, James hanya bisa berteriak tak percaya ketika Jimmy menghubunginya dan mengajaknya untuk hadir pada pesta pernikahannya. Bukan hanya sebagai tamu, tapi pria itu juga memintanya untuk menjadi dokter pribadi Jane. Yang mana, ia bertugas untuk selalu berada di sisi Jane. Memastikan jika tak ada satupun pria brengsek yang mendekati saudaranya.


“Ayo.” Seru James sembari tersenyum senang. Setelah menatap Jane sekali lagi yang telah bergandengan tangan dengan Jimmy, ia dengan cepat melangkah keluar menuju mobil hitam yang dipinjamnya dari salah satu kerabatnya yang juga tinggal  di Michigan.


“Aku dan Bianca akan segera menyusul.” Ucap Alan. setelah Jimmy menghilang dari jarak pandangnya, ia segera menghampiri ruangan tempat Fiona dan istrinya berada. Sudah lebih dari dua jam ia menunggu.


“Sebentar lagi.” Teriak Bianca dari dalam sana saat Alan baru saja selesai mengetuk pintu.


Jawaban dari Bianca hanya mampu membuat Alan menghela napas dalam. Ia tak berani menjawab karena takut membuat suasana hati istrinya menjadi buruk. Mereka berdua bahkan baru bisa berangkat ke Michigan saat malam hari karena Bianca mendadak mual juga muntah beberapa kali.


“Alan.”


Alan yang melihat pintu putih tersebut terbuka, mendadak menyunggingkan senyum lebar. Merasa bersyukur karena ia tak harus menunggu lebih lama lagi. Di depannya, Bianca dan Fiona berdiri secara berdampingan. Ia bertuga untuk mendampingi Fiona atas permintaan dari Jimmy. Sementara James dan Mark akan mendampingi Jimmy nanti.


“Bagaimana menurutmu?” Tanya Bianca seraya menatap Alan tak sabaran. Ia ingin tahu pendapat pria itu tentang penampilan Fiona.


“Cantik.” Jawab Alan santai.


“Alan!”


“Ayo! Kita bisa terlambat.” Ucap Alan. Ia dengan cepat memberi isyarat pada Fiona untuk segera memeluk lengannya. Sebelum Bianca kembali mengajukan protes. Jika saja Fiona tak bersama mereka, sudah sedari tadi Alan memenjara bibir Bianca yang tengah mengerucut lucu.


***


Misty Farm, Ann Arbor, Michigan adalah tempat yang menjadi pilihan Jimmy dan Fiona untuk mengadakan pesta pernikahan. Sekalipun harus ditempuh menggunakan pesawat dengan waktu tiga jam lebih atau pun menggunakan mobil dengan waktu lebih dari delapan jam, Jimmy tetap pada keputusannya. Dan lagi, seluruh tamu undangannya tak ada yang keberatan. Bahkan merasa senang karena mereka semua bisa terbebas sebentar dari rutinitas kerja dengan disuguhkan oleh pemandangan alam hijau. Jauh dari gedung-degung bertingkat serta padatnya kendaraan.


Jimmy yang telah lebih dulu berada di altar—dengan mengusung tema outdoor, menanti tak sabaran kehadiran Fiona. Di sebelahnya, Mark dan James tak henti-hentinya tersenyum geli. Apalagi saat menatap wajah pucat Jimmy. Terlihat jelas jika pria itu tengah gugup.


“Fiona.” Fiona yang baru saja tiba dengan menggandeng tangan Alan serta Bianca dan Jane yang berjalan di belakangnya, sukses menyita seluruh perhatian tamu undangan. Memang belum banyak yang datang karena Jimmy hanya mengundang seratus orang untuk menjadi saksi nikahnya. Selebihnya, akan datang ketika resepsi pernikahannya dimulai.


Fiona terlihat begitu cantik dalam balutan gaun pengantin putih berlengan pendek miliknya, dengan bagian bawah yang menjuntai. Rambutnya ditata dengan model sanggul bawah serta ditambahkan tiara sebagai pelengkapnya.


Di mata Jimmy, hanya Fiona lah satu-satunya wanita yang paling cantik. Belum lagi jantungnya yang berdetak tak normal di dalam sana. Jika bisa, ia ingin segera menarik Fiona ke dalam pelukannya seraya terus mengucapkan kalimat pujian akan kecantikan wanita itu.

__ADS_1


Para tamu undangan kaget saat melihat sososk Alan yang menjadi pendamping sang mempelai wanita. Padahal mereka mengira jika Alan akan mendampingi Jimmy. Belum lagi penampilan Jane yang begitu cantik. Juga Bianca yang mengenakan long dress tanpa lengan, berpotongan dada rendah serta bagian punggung yang cukup terekspos. Berwana senada dengan gaun Jane. Bianca memang telah meminta persetujuan dari Jimmy dan Fiona untuk menggunakan biru navy sebagai warna yang akan digunakan oleh Alan, Jane serta dirinya.


“Jimmy, kau bisa mengurungnya setelah ini.” Bisikan Alan langsung membuat Jimmy tersentak kaget dengan wajah merona malu. Apalagi Fiona yang juga ikut menunduk malu. Sementara Mark berusaha sekuat mungkin untuk menahan tawanya. Beruntung tamu yang ada tak mendengar ucapan nakal Alan padanya tadi.


“Terima kasih, Tuan.” Ucap Jimmy. Setelah ia mengambil alih genggaman tangan Fiona, Jimmy secara perlahan menghadap sang pendeta bersama Fiona yang telah menatapnya dengan senyuman ramah.


“Mr. Jimmy dan Ms. Fiona, apa kalian berdua sudah siap?” Tanya sang pendeta. Berusaha untuk menghilangkan kegugupan sang mempelai.


“Ya.” Jawab Jimmy dan Fiona kompak.


Tak lama, pendeta mengangkat sebelah tangannya untuk meminta seluruh tamu undangan agar tenang. Pengucapan janji suci akan segera dimulai dan ia ingin semuanya berjalan dan khidmat. Tanpa ada satu pun suara kecuali suara darinya.


“Jimmy Davis….”


Jimmy mendengarkan setiap pertanyaan yang diberikan oleh sang pendeta dengan penuh kesungguhan. Juga menjawabnya tanpa keraguan sedikitpun. Sekalipun merasa gugup, tapi ia telah siap untuk menjadi seorang suami.


“Ya, saya bersedia.” Jawab Jimmy. Sang pendeta yang mendengarnya sontak tersenyum. Lalu beralih menatap Fiona lekat.


“Fiona….”


Fiona semakin menguatkan genggamannya pada buket bunga yang ia pegang. Mendadak, kedua matanya terasa hangat. Ia bahagia. Sangat bahagia. Tapi di sisi lain, hatinya juga berdenyut sakit karena ibunya tak berada disisinya. Mendampinginya tepat dihari bahagianya.


Jimmy yang melirik sekilas pada Fiona, dengan segera menggenggam tangan kanan wanita itu yang sedang bebas. Meremasnya kuat seakan ingin menguatkan wanita itu. Jimmy tahu apa yang Fiona sedang rasakan. Namun ia tetap tak ingin ada sedikitpun kesedihan dihari bahagianya.


“Ya, saya bersedia.” Fiona menjawab dengan senyuman bahagia. Setelah merasakan remasan lembut Jimmy pada tangannya, kesedihannya perlahan berkurang.


Hari ini adalah hari bahagianya. Jadi tak boleh ada sedikitpun kesedihan di dalam dirinya. Ia tak ingin membuat Jimmy cemas atau pun merusak acara mereka berdua.


“Fiona.” Lirih Jimmy. Setelah saling menyematkan cincin pada jari manis masing-masing. Jimmy dengan lembut meletakkan tangannya pada pipi Fiona. Kedua mata birunya menatap wanita yang baru saja resmi menjadi isrinya itu penuh cinta.


Perlahan, jarak di antara mereka berdua menipis. Dan tepat ketika Fiona merasakan bibir Jimmy menyentuh bibirnya dengan lembut, air matanya menetes. Bukan air mata kesedihan, tapi air mata penuh kebahagiaan. Tak lama, ia memeluk Jimmy erat sembari tersenyum malu. Apalagi saat mendengar riuh tepuk tangan atau pun siulan di sekitarnya.


“Di mana nona Bianca?” Tanya Jimmy. Ia hanya mendapati Jane yang sedang duduk bersama James tak jauh darinya.


“Di sana. Aku menyuruhnya duduk karena ia mengeluh kakinya sakit.” Alan menunjuk satu meja kayu dengan dua kursi yang berada di bawah tenda putih yang terletak sedikit jauh dari kerumunan. Terlihat Bianca tengah duduk memunggunginya seraya bersandar pada kursi. Tak heran memang, karena perut wanita itu sudah mulai membesar.


“Kalian bisa pul—”


“Dan membiarkannya marah padaku? Tidak!” Sela Alan cepat. Ia bisa saja langsung mengajak Bianca pulang ke hotel tempatnya menginap. Hotel yang juga ditempati oleh Jimmy. Tapi Bianca sudah pasti akan langsung mendiaminya.


“Aku ingin menemaninya dulu.” Ucap Alan. Setelah menepuk pelan pundak Jimmy, Alan dengan segera menghampiri wanitanya. Berlama-lama meninggalkan Bianca bisa membuat pria hidung belang mencari kesempatan untuk mendekati istrinya.


“Sayang.” Kedua mata Bianca yang sedang terpejam, perlahan terbuka dan menadapati Alan tengah berdiri di hadapannya, pria itu menyodorkan sebotol air mineral yang baru saja dibukanya.


“Bagaimana Jimmy dan Fiona?”


“Baik-baik saja.” Jawab Alan singkat.


Alan yang berniat menghapus peluh pada kening istrinya, tersentak kaget ketika Bianca secara tiba-tiba memeluknya erat.


“Aku merindukanmu.” Ucap Bianca yang sukses membuat Alan tersenyum simpul. Bianca semakin sering bersikap manja padanya.


Bianca yang merasakan elusan lembut Alan pada lengannya sontak mendongak. Dan mendapati sepasang iris hitam pria itu menatapnya intens.


Alan secara perlahan menundukkan kepalanya dengan kedua tangan memegang pipi Bianca. Ia mengecup bibir wanita itu lembut. Tanpa peduli jika ada yang melihatnya atau tidak. Tak lama, kecupan singkatnya berubah menjadi ******* kecil sebelum satu suara mengganggunya.

__ADS_1


“Alan! Oh my god!” Ucap orang itu. Dengan kesal, Alan menatap asal suara dan mendapati Aideen tengah menatapnya geli.


“Kau menghampiri orang yang salah!” Sungut Alan. Ia segera mendudukkan dirinya di sebelah Bianca dengan tangan yang saling menggenggam.


“Aku tahu. Aku hanya ingin mengganggumu saja.” Ucap Aideen santai. Lalu beralih untuk menyapa Bianca ramah.


“Aideen!” Belum sempat Alan membalas pria itu, Aideen sudah lebih dulu berjalan menjauhinya untuk menghampiri Jimmy.


“Alan.” Panggil Bianca.


“Kau lelah? Apa kau ingin kita kembali ke hotel?” Tanya Alan seraya mengelus lembut pipi istrinya.


“Aku lapar.” Jawab Bianca pelan. Tadi pagi, ia hanya sempat memakan sepotong roti daging karena takut akan muntah. Dan sekarang, buah cintanya bersama Alan di dalam sana sedang mengajukan protes karena masih belum diberi makan.


“Tunggu sebentar.” Ucap Alan. Setelah mengecup kening Bianca, ia segera melangkah menuju salah meja panjang yang berisikan berbagai macam makanan. Dan mengisi penuh piring yang dipegangnya. Ia yakin jika Bianca sanggup untuk menghabiskan semuanya selama tak ada satu pun makanan berbahan keju. Istrinya masih merasa mual setiap kali mencium aroma keju.


Alan yang baru saja berbalik untuk kembali menghampiri Bianca, sontak memicingkan mata saat melihat satu sosok asing di dekat istrinya. Sebisa mungkin, ia mempercepat langkahnya.


“Singkirkan tanganmu dari istriku!” Ucap Alan tajam. Tepat setelah berada di dekat Bianca, Alan melihat pria yang berusaha mendekati Bianca sedang mencoba untuk menyentuh tangan wanitanya. Jika saja bukan karena Jimmy, bisa dipastikan makanan yang barada di atas piring yang dipegangnya, berakhir di atas kepala pria itu. Tapi Alan berusaha keras untuk menahan dirinya agar tak merusak hari bahagia Jimmy.


“Siapa?” Tanya pria itu. Alan kembali memicingkan mata. Ia sama sekali tak mengenal pria yang berdiri tak jauh darinya itu. Dan yakin jika pria itu adalah salah satu teman Jimmy. Dan bukan termasuk rekan kerja atau karyawannya.


“Dia istriku.” Desis Alan.


“Nona, apa dia suami—” Pria tadi sontak terdiam ketika mendapati Bianca menatapnya tajam dengan wajah tak suka. Dengan cepat, ia melangkah pergi untuk menemui Jimmy. Tak ingin terlibat masalah karena mengganggu istri orang lain.


***


“Jimmy!”


“Leo!” Jimmy dengan senang hati membalas pelukan pria yang dipanggilnya Leo itu. Di sebelahnya, Fiona ikut tersenyum.


“Congratulation, Mr. Davis.” Ucap Leo pada Fiona yang sukses membuat wajah wanita itu bersemu merah.


“Jimmy, apa kau mengenal pasangan yang berada di sana?” Leo yang baru teringat akan kejadian yang dialaminya tadi, langsung bertanya pada Jimmy seraya menunjuk arah rempat duduk Alan dan juga Bianca.


Mendadak, wajah Jimmy berubah menjadi datar dan tanpa ekspresi.


“Apa kau mengganggunya?” Tanya Jimmy. Mata birunya menatap Leo tajam.


Leo tersentak kaget. Dengan cepat ia mengibaskan tangannya seraya tertawa kecil.


“Bagaimana mungkin? Aku tak mengenal mereka sama sekali.” Jawab Leo santai. Berharap Jimmy percaya pada ucapannya.


Leo merupakan salah satu teman Jimmy ketika masih duduk di bangku sekolah. Sekalipun jarang bertemu, tapi mereka masih menjalin hubungan baik. Dan Jimmy juga tahu betul jika Leo adalah tipe pria yang gemar mendekati wanita. Tak peduli sekalipun mereka masih lajang atau pun telah berstatus sebagai istri orang lain.


“Aku tak akan memaafkanmu jika kau sampai mengganggu istri tuanku.” Ucap Jimmy yang sontak membuat Leo menatapnya dengan kening berkerut.


“Tuan?” Tanya Leo tak mengerti.


“Ya. Kau pasti mengenal “Drax Corporation.” Wajah Leo mendadak pucat. Jika “Drax Corporation” yang Jimmy maksud adalah perusahan raksasa yang menguasai banyak bidang usaha, maka ia telah menggali kuburannya sendiri. Pasalnya, saat ini, ia bekerja sebagai bartender pada salah satu bar yang juga dimilik oleh pemilik perusahaan itu. Leo memang belum bertemu secara langsung karena ia baru saja diterima bekerja selama satu minggu. Dan ternyata, karena kebodohannya, ia justru mengganggu bahkan berusaha untuk mendekati istri dari bosnya sendiri.


“Apa kau benar-benar tak melakukan sesuatu?” Jimmy kemblai menatap Leo curiga. Khawatir jika pria itu ternyata telah melakukan hal bodoh pada orang yang salah.


“Kau bisa percaya padaku.” Seru Leo mantap. Setelah memberikan ucapan pada Jimmy, ia segera melangkah menghampiri meja yang menyusun berbagai macam minuman mahal dan berkelas.

__ADS_1


Mati aku!


Batin Leo seraya meneguk minumannya dengan wajah sedih.


__ADS_2