
Setelah mendengar dari Bianca perihal pergelangan tangannya yang memerah, Alan memutuskan jika hari ini, ia yang akan mengantar dan menjemput istrinya. Ia juga sudah memberi tahu Jimmy dan menyuruh pria itu agar langsung berangkat ke kantor. Menggantikannya untuk sementara waktu.
“Kau yakin?” Bianca kembali bertanya ketika menatap Alan yang telah selesai berpakaian. Pria itu memutuskan untuk langsung berangkat bekerja setelah mengantarnya ke sekolah.
“Tentu saja.” Alan mengangguk. Lalu mengecup pipi istrinya gemas. Ini sudah yang kelima kalinya Bianca menanyakan hal yang sama.
“Ayo.” Ucap Alan.
Bianca segera mengikuti Alan yang melangkah menuju garasi mobil.
Sebenarnya ia tak masalah jika Alan memang ingin mengantarnya. Namun yang ia takutkan adalah ketika Alan dan Rico bertemu. Rico jelas-jelas bukan lawan yang sepadan untuk suaminya itu.
“Pulang nanti, tunggu aku. Jangan ke mana-mana. Kalau pria bernama Rico itu kembali mengganggumu, segera hubungi aku.” Alan berucap tegas seraya menatap Bianca lekat. Raut wajahnya mendadak berubah menjadi kesal. Memikirkan perbuatan yang dilakukan pria kurang ajar itu pada Bianca membuatnya ingin melayangkan satu pukulan.
“Baik, Tuan.” Seru Bianca seraya terkekeh geli.
***
Mobil mewah Alan yang baru saja terparkir dengan angkuh di depan gedung sekolah Bianca sontak menjadi pusat perhatian. Ada beberapa siswa yang langsung mengambil gambar. Atau tak jarang, ada juga yang menyentuhnya. Seakan tahu jika mereka tak akan punya kesempatan kedua setelahnya.
Alan menyeringai. Pemandangan yang sudah biasa menurutnya.
“Alan.” Panggil Bianca dengan suara pelan.
Alan sontak berbailk menatap Bianca dan melihat wanita itu bergerak gelisah di tempatnya.
“Ada apa?”
“Apa aku harus keluar sekarang?” Bianca bertanya dengan wajah polos. Jika saja Jimmy yang mengantarnya, ia mungkin tak akan secemas ini. Tapi Bianca yakin, setelah ia keluar dari dalam mobil Alan, dirinya akan langsung menjadi bahan gosip.
“Tak usah pedulikan mereka.” Alan berujar santai seraya keluar dari dalam mobil. Hari ini ia mengenakan setelan jas berjenis double breasted dengan motif garis-garis berwarna navy yang dipadukan dengan kemeja putih. Ia sengaja tak memakai dasi. Karyawannya pun juga tak akan berani menegur jika ia tampil santai saat ke kantor.
Setelah menghela napas, Bianca segera menyusul Alan untuk keluar dari dalam mobil. Dan benar saja, setelah melihat dirinya, semua mata menatapnya tak percaya.
“Bianca.” Panggil Alan ketika ia telah berada di hadapan istrinya. Tanpa ragu, ia segera menggenggam tangan Bianca. Tak peduli sekalipun jika Bianca menatapnya dengan mata membulat. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, Alan mendaratkan satu kecupan mesra di kening Bianca. Seolah ingin menunjukkan jika wanita itu adalah miliknya.
Bianca mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, berusaha untuk menyadarkan dirinya saat ini. Sebelum pada akhirnya membuka suara.
“Kau—”
Bianca tak melanjutkan ucapanya ketika melihat Alan tersenyum simpul seraya mengelus pipinya lembut. Pria itu benar-benar membuat jantungnya bekerja ekstra di dalam sana bahkan dihari yang masih pagi.
“Aku harus segera pergi.” Tukas Alan. Dengan langkah pelan, ia kembali memasuki mobilnya lalu menurunkan kaca jendela. Setelah menatap Bianca sejenak, ia kemudian melajukan mobilnya menuju kantor. Tumpukan pekerjaan sudah menantinya sedari tadi. Setiap harinya.
Selepas kepergian Alan, Bianca segera melangkah cepat menuju kelasnya.
***
__ADS_1
Bianca yang baru saja melangkahkan kakinya di kantin hanya bisa bersikap tak acuh ketika merasa seluruh penghuni kantin tersebut menatapnya seraya berbisik. Yakin jika kejadian tadi pagi sudah menjadi trending topic di seluruh penjuru sekolahnya. Tapi setelah mengingat ucapan Alan tadi pagi padanya, ia berusaha untuk tak ambil using.
“Biar aku saja.” Ucap Lily seraya menahan Bianca yang berniat untuk mengambil makanan. Dan justru menyuruh sahabatnya itu mencari tempat duduk yang kosong untuk mereka berdua.
Bianca mengangguk mengerti. Dengan cepat, ia berjalan menuju bagian sudut kanan—sengaja mencari tempat terpencil.
“Jadi?” Lily yang baru saja tiba segera menatap Bianca dengan sebelah kening terangkat seraya memberikan sebuah piring yang berisi kentang goreng, dua potong roti gandum dan sepotong steak saus lada hitam pada sahabatnya itu. Sedangkan ia hanya mengambil semangkuk kecil salad.
“Apa?” Tanya Bianca tak mengerti. Tangannya dengan cepat memasukkan beberapa potong kentang goreng ke dalam mulutnya.
“Yang mengantarmu tadi pagi.” Lily yang selama ini memilih untuk diam akhirnya tidak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
Tadi pagi, ketika ia baru saja turun dari bus dan berjalan sedikit menuju sekolahnya, ia secara tak sengaja melihat Bianca yang keluar dari sebuah mobil mewah. Dan yang lebih parahnya lagi, pria yang bersama dengan sahabatnya itu justru mencium kening Bianca di tengah keramaian.
“Kekasihku.” Jawab Bianca singkat. Sementara Lily justru membulatkan kedua matanya.
Bianca memilih untuk berkata jujur pada Lily—walau tak sepenuhnya. Ia hanya merasa tak enak jika harus selalu berbohong pada gadis itu.
Dengan cepat, Lily menganggukkan kepalanya. Sekalipun pada awalnya ia kaget, namun menyadari jika Bianca memiliki wajah yang cantik, wajar jika sahabatnya itu punya kekasih.
“Dan, yeah, kita tinggal bersama.” Ucapan Bianca barusan sukses membuat sendok yang Lily pegang jatuh di atas lantai. Dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Kau—Apa?!” Teriak Lily seraya menatap Bianca tak percaya. Berharap jika saat ini kedua telinganya sedang sedikit bermasalah. Namun senyuman di wajah Bianca menjadi bukti jika apa yang didengarnya memang benar.
“Kedua orang tuaku lebih memilih untuk meninggalkanku.” Ucap Bianca seraya tersenyum sedih.
“Dia tidak akan menyakitiku.” Bianca berucap dengan nada meyakinkan ketika Lily masih menatapnya cemas. Setidaknya, bersama dengan Alan, ia bisa hidup tenang tanpa harus takut jika sewaktu-waktu rentenir kembali mendatanginya.
Lily tak bisa berbuat apa-apa selain percaya pada sahabatnya itu. Sekalipun Bianca tidak bercerita banyak padanya, tapi ia yakin, jika apa yang dilakukan Bianca sudah dipikirkan baik-baik olehnya. Bianca berhak untuk mendapatkan kehidupan yang jauh lebih lebih baik. Dan bersama dengan Alan, Lily berharap Bianca bisa mendapatkannya.
“Tunggu–jika kalian tinggal bersama, itu artinya kalian—” Lily tak melanjutkan ucapannya ketika kedua pipinya tiba-tiba saja bersemu merah. Mengetahui jika Bianca tinggal bersama dengan kekasihnya, membuat pikirannya melangkah terlalu jauh.
“Lily.” Bianca berucap gemas seraya tertawa kecil. Tak menyangka jika sahabatnya itu membayangkan hal yang tak seharusnya.
***
Bianca yang baru saja melangkah keluar dari toilet tersentak kaget ketika seseorang menariknya dengan cukup kuat. Membawanya ke salah satu sudut ruangan—tak jauh dari toilet sembari menyudutkannya ke tembok.
“Hei!” Bianca berucap kesal seraya menatap sang pelaku. Dan justru menemukan wajah tak bersahabat Rico.
“Bianca.” Panggil Rico dengan suara parau. Kedua tangannya ia letakkan di tembok.
“Rico, apa yang kau lakukan?!” Bianca berucap tak suka seraya menatap Rico tajam.
Rico bergeming. Ia semakin menyempitkan jarak di antara mereka berdua. Dan Bianca hanya bisa berusaha untuk melepaskan diri dari pria itu.
“Katakan siapa pria yang mengantarmu tadi?” Rico bertanya dengan nada dingin.
__ADS_1
“Bukan urusanmu!” Ketus Bianca.
Rico yang tak terima segera mencengkeram pipi Bianca seraya menatap gadis yang disukainya itu dengan mata berkilat marah. Ia tak bisa lagi tinggal diam ketika disuguhkan pemandangan menyakitkan seperti tadi pagi yang dilihatnya.
Ia memang dengan sengaja menunggu kedatangan Bianca. Namun yang didapatkannya justru kebersamaan gadis itu dengan pria lain. Pria berbeda yang selama ini sering dilihatnya. Apalagi ketika melihat pria itu mengecup kening Bianca mesra.
Rico tak terima.
Hanya dia yang boleh menyentuh Bianca!
Bianca segera menepis kasar tangan Rico. Saat ini pria itu terlihat benar-benar berbeda. Berbanding terbalik dengan Rico yang selama ini sering bersikap baik padanya.
“Aku menyukaimu dan kau tahu betul akan hal itu. Tapi kenapa kau justru bersama pria lain?!” Rico berucap marah tanpa mengalihkan sedikitpun perhatiannya dari Bianca. Suasana yang sepi serta berada jauh dari kelas, membuatnya bisa bergerak leluasa. Bahkan jika bisa, ia ingin mengunci Bianca saat ini bersama dengan dirinya dan melakukan hal apapun yang ia inginkan pada gadis itu.
“Tapi aku tidak menyukaimu sama sekali.” Bianca berujar santai seraya balas menatap Rico. Ia tak bisa lagi menahan dirinya untuk berpura-pura bersikap baik pada pria itu.
Rico yang tak terima akan ucapan Bianca sontak mengepalkan tangan. Perlahan, ia semakin menipiskan jarak di antara wajah mereka. Dengan cepat, Bianca segera membuang muka. Merasa muak jika harus berlama-lama menatap wajah Rico.
“Haha.” Rico tertawa sumbang seraya menyentuh surai hitam Bianca. Sungguh tak terima akan perlakuan buruk yang gadis itu berikan padanya.
Dengan masih menatap Bianca intens, Rico sontak menggenggam rambut gadis itu seraya kembali membuka suara.
“Aku akan menjadikanmu milikku.” Bisik Rico seraya mengecup surai hitam Bianca lalu melangkah pergi.
“Pria gila!” Batin Bianca seraya kembali menuju toilet untuk membasuh rambutnya dengan air.
***
Suara musik yang memekakkan telinga, sorakan serta asap rokok yang mengepul menjadi pemandangan biasa yang terjadi saat ini di salah satu rumah bergaya klasik, tak jauh dari pusat kota. Botol minuman juga wanita-wanita berpakaian seksi menjadi pelengkapnya.
“Rico!” Rico yang baru saja tiba segera menatap asal suara dan mendapati temannya yang setengah mabuk melambai penuh semangat padanya.
“Man.” Rico tertawa kecil seraya melakukan high five pada temannya itu. Dijarinya terselip sebatang rokok yang tinggal setengah.
Setelah berbincang sebentar, Rico segera melangkah menuju ke sebuah meja kecil dan mengambil sekaleng bir. Lalu menghampiri seorang wanita yang sedari tadi melihatnya dengan tatapan menggoda.
“Hai.” Rico menyapa dengan lembut. Lalu mendudukkan dirinya di sebelah wanita berpakaian mini tersebut.
Tanpa rasa malu, wanita itu meletakkan tangannya di atas paha Rico lalu menipiskan jarak di antara mereka. Satu ciuman bibir berhasil ia dapatkan.
“Man, go get a room.” Salah seorang teman Rico bersorak dengan nada menggoda. Dengan cepat, Rico menarik tangan wanita itu untuk mengikutinya dan memasuki salah satu kamar yang sedang kosong.
Setiap harinya, ketika malam menyapa, Rico selalu menghabiskan waktunya di luar rumah dan akan kembali ketika subuh menyambut. Ia dan juga teman-temannya, yang dikenalnya melalui sepupunya, sering membuat pesta dan diadakan disalah satu rumah temannya yang tinggal seorang diri. Baginya, rokok, alkohol dan juga wanita bukan lagi hal yang baru.
Berbeda jauh dari imagenya selama ini ketika berada di sekolah.
Dibenaknya, Rico selalu membayangkan jika setiap wanita yang ditidurinya adalah Bianca. Dan sungguh, ia sudah tak sabar untuk memilikinya.
__ADS_1
Menyentuh Bianca adalah hasratnya yang belum terwujud.