
Jimmy melajukan mobilnya sesuai dengan petunjuk dari Stacy. Selama di dalam perjalanan menuju tempat Bianca, Stacy tak lagi banyak berbicara. Gadis itu terus menundukkan kepalanya dengan sesekali menatap takut pada Jimmy.
“Di mana?” Jimmy bertanya dengan nada dingin seraya menatap Stacy tajam. Saat ini mereka sedang berada disebuah kawasan pabrik.
“Terus lalu belok ke kiri. Ada sebuah pabrik lilin kecil di sana.” Stacy berucap takut.
Jimmy segera melajukan mobilnya memasuki gang yang cukup besar tersebut. Setelah melewati sekitar tiga pabrik kecil, ia langsung membelokkan mobilnya ke arah kiri. Sesuai dengan perkataan Stacy, terdapat sebuah pabrik kecil tua.
“Jangan berbohong padaku!” Bentak Jimmy yang sukses membuat Stacy berjengit kaget. Pasalnya, ia tak melihat satu orang pun yang lewat.
“Ak–aku tak berbohong.” Ucap Stacy takut. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.
“Pakai ini dan cepat keluar. Aku akan menunggumu di mobil.” Ujar Jimmy seraya memberikan sebuat jepit rambut berbentuk pita pada Stacy.
“Apa ini?” Tanya Stacy tak mengerti.
“Jepit rambut. Di dalamnya sudah terpasang kamera berukuran sangat kecil. Yang harus kau lakukan adalah memakainya dan memposisikannya sebaik mungkin untuk mengambil gambar Bianca.”
Stacy mengangguk cepat seraya memakai jepit rambut tersebut. Ia menuruti semua perkataan Jimmy dengan patuh.
“Dan ingat, jangan pernah berpikir untuk kabur ataupun membongkar semuanya. Nasib keluargamu tergantung di tanganmu sendiri.” Jimmy berucap dengan nada mengancam. Tak lama setelah kepergian Stacy, ia segera menatap layar ponselnya yang memang sudah tersambung pada kamera di jepit rambut tersebut. Hari ini, Jimmy hanya akan mengawasi dan memastikan jika gadis itu tak berbohong. Setelahnya, ia akan melapor pada Alan dan mengikuti perintah dari pria itu.
***
Setelah menormalkan detak jantungnya dan menghela napas beberapa kali, Stacy melangkah pelan menuju pabrik tua tersebut. Lalu berbelok ke bagian belakang pabrik yang ternyata adalah sebuah gudang tak terpakai. Wajar saja jika tak ada yang bisa menemukan mereka. Rico sudah merencanakan semuanya dengan matang. Dari depan, pabrik tersebut hanya terlihat seperti pabrik tua pada umumnya. Namun ternyata, ada satu bagian lagi di belakang pabrik tersebut yang hanya terlihat seperti sebuah dinding.
“Rico.” Rico yang sedang tertunduk tersentak kaget saat mendengar suara seseorang dan langsung tersenyum ketika tahu jika itu adalah Stacy.
“Kau datang?” Tanya Rico.
“Aku merindukanmu.” Stacy berucap manja seraya menghampiri Rico. Tanpa ragu melayangkan kecupan di pipi pria itu.
“Apa terjadi sesuatu hari ini?” Tanya Rico seraya menatap Stacy lekat.
Stacy tak langsung menjawab. Detak jantungnya kembali tak normal. Takut jika Rico sampai curiga padanya.
“Tidak–tidak terjadi apapun. Bagaimana keadaan Bianca?” Stacy dengan cepat mengalihkan pertanyaan yang Rico berikan. Tanpa Rico sadari, Stacy kembali memperbaiki letak jepit rambut yang Jimmy berikan padanya. Ia memakainya dengan posisi sedikit ke bawah.
__ADS_1
“Baik-baik saja.” Jawab Rico santai seraya menunjuk ke satu arah menggunakan dagunya. Dengan cepat, Stacy mengikuti arah pandang pria itu dan sontak membulatkan kedua matanya ketika menatap Bianca.
Kondisi Bianca jauh dari kata baik. Bibir serta wajahnya pucat akibat tidak makan dengan layak. Rambutnya terikat dengan model acak-acakan. Serta dilengannya terdapat beberapa tanda memar.
“Rico, apa–apa yang kau lakukan padanya?” Stacy bertanya dengan wajah pucat seraya menatap Rico.
“Hanya sedikit bersenang-senang.” Jawab Rico santai.
“Apa?!” Stacy tanpa sadar berteriak tak percaya. Sehingga membuat Bianca yang baru saja tertidur langsung membuka kedua matanya. Terkejut ketika mendengar suara selain Rico.
“Stacy!” Bianca sontak berteriak saat menatap wajah Stacy dengan jelas. Apalagi ketika melihat kondisi Stacy yang baik-baik saja. Berbeda jauh dengannya.
“Lepaskan aku!”
“Tidak akan!” Teriak Rico. Wajahnya terlihat kesal. Jengkel karena Bianca terus memintanya untuk melepaskan dirinya.
“Kau pikir aku akan tinggal diam? Aku bersumpah akan membalas kalian berdua!” Bianca berucap dengan nada tak bersahabat. Kedua matanya memancarkan aura kebencian yang begitu besar.
“Tutup mulutmu! Kau pikir ini semua terjadi karena siapa? Jika saja kau tak ada, aku tidak akan mungkin melangkah sejauh ini.” Stacy berteriak marah seraya menatap Bianca dengan wajah memerah. Kekesalannya sudah sampai di ubun-ubun.
“Kau menginginkan Rico? Silahkan! Kau bisa memilikinya sepuas hatimu. Aku sama sekali tidak tertarik dengannya.” Bianca tersenyum meremehkan seraya menatap Rico dan Stacy. Kalimat umpatan sudah sedari tadi terlontar dari bibirnya.
“Kau tahu? Tadi sahabatmu yang bodoh itu bertanya padaku. Kedua matanya sembab akibat terlalu banyak menangis.”
Bianca langsung teringat pada Lily. Memikirkan keadaan gadis itu juga semakin menambah rasa sakit di hatinya. Setidaknya, ada orang yang benar-benar peduli padanya.
Bianca kembali menatap Rico dan Stacy lekat. Kali ini, tatapannya memancarkan rasa sakit hati dan dendam yang begitu besar.
“Kalian berdua akan hancur.” Desis Bianca. Tak ada nada bercanda dalam ucapannya.
“Kau—” Stacy sontak menghentikan ucapannya ketika teringat pada Jimmy. Pria itu pasti sudah melihat kondisi Bianca saat ini. Wajah Stacy mendadak pucat. Hidupnya akan hancur. Kondisi Bianca sangat jauh dari kata baik-baik saja dan ia lah yang akan mendapatkan akibatnya.
Di sisi lain, Jimmy hanya mampu mengepalkan tangannya kuat. Melihat kondisi Bianca secara tak langsung membuat dirinya merasakan sesuatu yang asing. Perasaan yang sudah lama tidak dirasakannya. Insting membunuhnya mendadak aktif. Dan ia, tak akan ragu.
Setelah menyimpan rekaman Bianca, Jimmy dengan cekatan menyentuh beberapa kata pada layar ponselnya. Ia sedang memutuskan sambungan kamera pada jepit rambut yang Stacy pakai pada telfon genggamnya.
Dengan cepat, Jimmy membelokkan mobilnya untuk pergi ke rumah Alan. Ia harus segera menunjukkan rekaman Bianca pada pria itu. Jimmy tahu betul, setelah Alan melihatnya, pria itu tidak akan tinggal diam.
__ADS_1
***
“Tuan.” Jimmy melangkah memasuki rumah Alan secara tak sabaran. Dan menemukan pria itu sedang berada di ruang tengah bersama Sofie.
“Bagaimana?” Tanya Alan tak sabaran. Di sebelahnya berdiri Sofie yang juga tengah menatap Jimmy penuh harap. Alan memang telah menceritakan semuanya pada Sofie. Wanita itu bertanya padanya karena merasa heran ketika tak melihat Bianca selama beberapa hari.
“Aku menemukannya.” Jimmy berucap mantap seraya menatap Alan lekat.
“Kita harus segera menjemputnya.”
“Tapi … Anda harus melihat ini dulu.” Alan yang baru berniat bangkit dari duduknya sontak terhenti ketika mendengar ucapan Jimmy. Dengan terpaksa, ia kembali duduk saat Jimmy menyerahkan ponsel padanya.
“Apa?” Tanya Alan tak mengerti.
“Rekaman nona Bianca.” Jimmy dengan cepat menekan tombol play pada ponselnya. Di dalamnya, terlihat secara jelas sosok Bianca. Alan tak bisa berkata-kata. Sungguh, ia sangat merindukan wanita itu. Saat ini, yang menjadi keinginan terbesarnya adalah bertemu dan memeluk Bianca seerat mungkin. Memastikan jika ia tidak akan kehilangan wanita itu lagi.
“APA INI?!” Alan berteriak marah ketika iris hitam legamnya secara tak sengaja menangkap bekas memar pada lengan Bianca. Istrinya masih memakai gaun yang sama seperti yang dikenakannya beberapa hari lalu. Setelah memperhatikan lebih jelas, Alan menyadari jika memar di lengan Bianca terlihat seperti bekas gigitan.
“Brengsek!” Alan sontak melempar ponsel Jimmy yang ia pegang ke atas lantai. Layarnya retak. Dan tak lama, warnanya berubah menjadi hitam.
Jimmy bergeming. Tak peduli sama sekali pada keadaan ponselnya.
“Siapa yang melakukan ini?” Alan bertanya dengan mata berkilat marah. Emosinya tak lagi terkontrol. Ia ingin cepat-cepat menemui Bianca dan menyingkirkan siapapun yang dengan berani menyakiti wanita itu.
“Mereka berdua teman sekolah nona Bianca. Rico Daffin dan Stacy Thompson.” Jawab Jimmy.
“Hancurkan mereka semua!” Ucap Alan dingin.
“Tap—”
“Jimmy!” Teriak Alan seraya bangkit dari duduknya. Tanpa menatap Jimmy, ia segera melangkah melewati pria itu.
Ketika hampir mencapai daun pintu, Alan segera berhenti tanpa berbalik lalu kembali berucap,
“Siapapun yang dengan berani menyentuh dan melukai milikku, maka harus mendapatkan balasan yang jauh lebih buruk. Pilihanmu hanya satu, hancurkan mereka berdua.” Desis Alan. Tubuhnya memancarkan aura yang sangat menakutkan. Bahkan mampu membuat Jimmy diam tak berkutik.
__ADS_1
Kalo ada yang mikir kenapa Jimmy gak sharelok aja ke Alan?
Jawabannya cuma satu: Jimmy gaptek!