Married With The Devil

Married With The Devil
Honeymoon 3


__ADS_3

Alan kembali tersenyum simpul ketika melihat tatapan memohon Bianca. Tepat pukul tiga sore, di mana matahari masih bersinar dengan cukup terik, Alan memutuskan untuk snorkeling, bersama dengan Jimmy dan juga Fiona. Hanya Bianca saja yang tak ia perbolehkan. Yang bisa Bianca lakukan hanyalah duduk di atas kursi santai panjang berwarna hitam yang terletak di dekat kolam renang.


“Alan.” Bianca dengan sengaja memanggil nama Alan semanis mungkin. Berharap pria itu memperbolehkannya untuk ikut.


“Tidak.” Jawab Alan tegas.


Dua instruktur yang bertugas untuk menemani dan mengawasi mereka sudah sedari tadi ikut bergabung. Bahkan telah berada di dalam air laut  bersama Jimmy dan Fiona. Sedangkan Jane duduk dalam diam tak jauh dari Bianca.


“Tapi—”


“Sayang, aku tak ingin terjadi sesuatu pada kalian berdua. Walau hanya berenang sekalipun, aku tetap tak akan mengizinkanmu.” Ucap Alan menenangkan. Ia mengecup lembut kening Bianca dengan penuh sayang.


Bianca yang merasa jika seluruh usahanya akan berakhir sia-sia, memilih mengangguk pelan. Ia tak ingin bersikap egois yang pada akhirnya, bisa membahayakan dirinya ataupun anak yang sedang dikandungnya. Lagipula, ia sudah merasa luar biasa bahagia bisa melihat serta menikmati semua keindahan pulau tersebut.


“Masih ada Jane yang menemanimu.”


Jimmy memang dengan sengaja mengajak Fiona terlebih dahulu karena ini memang pertama kali untuknya. Tak seperti Fiona yang pandai berenang, Jimmy harus selalu mengawasi Jane dan tak melepaskan genggaman tangannya pada wanita itu. Bukannya ia tak peduli pada keselamatan istrinya sendiri, hanya saja, Jane membutuhkan pengawasan lebih.


“Aku tahu.” Seru Bianca dengan sedikit nada jengkel. Bagaimanapun juga, suasana hatinya tak bisa langsung membaik dengan cepat.


“I love you.” Bisik Alan. Ia mengecup lama bibir Bianca. Dengan harapan, wanita itu tak lagi marah padanya.


Di sisi lain, Jimmy dan Fiona hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah Bianca bersama Alan. Pun membuat dua orang instruktur pria yang menemani mereka ikut tersenyum kecil.


“Bianca!” Panggil Fiona seraya melambai penuh semangat. Di sebelahnya, Jimmy tak pernah sedetik pun melepaskan genggaman tangan mereka.


“Tuan.” Sapa Jimmy setelah Alan ikut bergabung bersama mereka. Peralatan dasar untuk snorkeling sudah mereka berdua pakai: masker, snorkel dan juga kaki katak. Berhubung mereka tak kan menyelam terlalu dalam. Apalagi sampai ke dasar laut.


“Ayo.” Ucap Alan seraya memasang masker menyelam miliknya. Berbeda dengan Jimmy yang memakai celana pendek sebatas lutut, Alan memilih untuk mengenakan celana menyelam panjang berwarna hitam.


“Bianca, aku menyelam dulu.” Teriak Fiona senang. Sengaja ingin memanas-manasi Bianca.


“Aku tak peduli!” Teriak Bianca tak kalah kerasnya. Ia menatap Fiona dengan tatapan jengkel. Dan kekesalannya semakin bertambah saat Fiona justru tertawa puas mendengar ucapannya. Belum lagi Jane yang juga ikut tersenyum.


“Jane!” Seru Bianca seraya memeluk Jane.


Jimmy dan Fiona yang baru saja berniat menyusul Alan yang telah lebih dulu menyelam, dikejutkan dengan kehadiran dua makluk lucu yang sedang melompat keluar dari dalam air laut. Tak jauh dari mereka.

__ADS_1


“Jimmy! Jimmy!” Panggil Fiona. Karena memang dialah yang melihat lebih dulu.


“Ada apa?” Tanya Jimmy heran. Ia sudah tak sabar ingin ikut menyusul Alan.


“Lihat! Di depan sana ada dua ekor ikan lumba-lumba.” Jimmy yang baru saja mengikuti arah pandang Fiona, sontak membulatkan mata tak percaya.


Fiona benar. Ada dua ekor lumba-lumba yang sedang berenang menghampiri mereka. Dengan tak sabaran, Jimmy segera menyelam ke dalam laut bersama Fiona. Ditemani oleh seorang pengawas berpengalaman tersebut. Karena instruktur yang satu sudah lebih dulu pergi bersama Alan.


Birunya air laut yang kadang berpadu dengan hijau turquoise, pasir putih, semilir angin serta keindahan bawah laut benar-benar membuat Jimmy dan Fiona berdecak kagum. Bukan hanya terumbu karang yang berbentuk unik, beraneka rupa juga memiliki warna yang berbeda-beda. Tapi juga beraneka satwa liar: burung beo atau nuri, angelfish, bintang laut dan masih banyak lagi yang berada di pulau tersebut. Dan kali ini, mereka cukup beruntung karena bisa bertemu secara langsung dengan lumba-lumba.


Fiona yang melihat dua ekor lumba-lumba itu bergerak pelan untuk meghampirinya bersama Jimmy setelah berada di bawah laut, tak mampu menutupi rasa bahagianya. Bukan hanya disuguhkan oleh beraneka ragam jenis ikan yang juga memiliki warna yang berbeda-beda, tapi Fiona juga bisa melihat secara langsung terumbu karang yang saat ini berada tepat di hadapannya.


Sebelah tangan Jimmy dan Fiona terangkat ke atas untuk mengelus kepala ikan lumba-lumba yang berada di dekat mereka. Pun mendengar suara lucu ikan tersebut.


Dan rasa bahagia mereka semakin bertambah saat dua ekor lumba-lumba itu melompat ke atas lalu kembali berada di dalam air laut.


Seakan baru tersadar, Jimmy segera mencari sosok Alan dan melihat pria itu telah menyelam lebih dalam. Dengan hanya mengenakan masker dan juga kaki katak. Tanpa bantuan alat pernapasan sama sekali. Seperti seorang ahli.


Dengan harapan sang ikan lumba-lumba mengerti maksudnya, Jimmy menempuk-nepuk pelan sisi kiri salah satu ekor ikan tersebut lalu menunjuk ke arah Alan. Tanpa ia duga, ikan tersebut melesat cepat menghampiri Alan. Diikuti dengan yang satunya lagi. Jimmy bahkan beranggapan jika dua ekor ikan lumba-lumba tersebut adalah sepasang suami-istri. Sama seperti dirinya dan Fiona.


***


Dua instruktur yang menemani mereka, sudah pergi sejak sepuluh menit yang lalu ketika Alan memberitahunya jika mereka ingin menikmati matahari terbenam.


“Sayang.”


“Alan! Aku melihat dua ekor lumba-lumba.” Ucap Bianca antusias setelah Alan berdiri di hadapannya. Pria itu memeluk Bianca dengan penuh kehati-hatian setelah menggosok sebentar rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil yang diberikan oleh istrinya.


“Aku tahu. Aku juga bertemu dengannya tadi.” Alan secara sengaja menatap Bianca menggoda. Dan benar saja, raut wajah wanita itu langsung berubah kesal.


Dengan lembut, Alan meletakkan kedua tangannya pada pipi Bianca. Ia menatap iris coklat wanita itu lekat.


“Aku akan mengajakmu ke sini lagi. Hanya berdua.” Bisik Alan. Ia menempelkan keningnya pada kening Bianca seraya memejamkan mata.


“Hanya berdua?” Tanya Bianca meyakinkan.


Alan membuka kedua matanya sembari tersenyum kecil. Satu kecupan ia daratkan pada kening wanita itu.

__ADS_1


“Bertiga.” Ulang Alan.


Secara perlahan, Alan mengikis jaraknya dengan wajah Bianca. Kedua matanya sontak terpejam ketika bibirnya baru saja bertemu dengan bibir lembut Bianca. Mereka berdua berciuman diiringi dengan terbenamnya matahari.


Di sisi lain, Jimmy dan Fiona sudah lebih dulu menautkan bibir. Saling ******* satu sama lain. Diselingi dengan beberapakali permainan lidah.


Berbeda dengan dua pasangan yang tengah dimabuk asmara tersebut, Jane memandang matahari terbenam dengan tatapan menerawang. Ada satu sosok yang selalu saja muncul secara tiba-tiba di dalam benaknya. Yang setiap kali ia berusaha untuk mengingatnya, sosok itu pasti akan langsung menghilang begitu saja.


Namun kali ini berbeda. Sosok itu muncul secara jelas di dalam hati dan pikirannya. Senyumannya. Tatapan matanya. Suara lembutnya setiap kali dia berbicara apalagi ketika menyebut namanya.


Jane menunduk. Ia menatap kedua kakinya yang menggantung di atas air. Seiring dengan usahanya untuk mengingat nama sosok itu. Tapi ketika ia kembali mendongak untuk menatap langit, bibirnya tanpa sadar mengucapkan satu nama secara jelas,


“James.” Lirih Jane. Dengan bibir yang tersenyum lembut. Juga rona merah yang menghiasi kedua pipinya.


***


“Jimmy!” Fiona memekik kaget saat baru saja melangkah masuk ke dalam kamar mandi, Jimmy secara tiba-tiba memeluknya dari arah belakang. Beruntung ia tak langsung berteriak dengan suara keras.


“Babe.” Bisik Jimmy seraya mencium tengkuk Fiona. Lalu beralih untuk mengecup serta menggigit kecil bahu wanita itu yang masih tertutupi baju renang.


“Jimmy, biarkan aku mandi lebih dulu.” Ucap Fiona. Bukannya melepaskan, Fiona merasa jika pelukan Jimmy padanya semakin bertambah erat.


“Kiss me.” Bisik Jimmy. Ia menarik pelan tubuh Fiona untuk berbalik menghadap padanya. Kedua mata birunya menatap wanita itu intens. Ditemani dengan degup jantung yang menggebu.


Setelah tersenyum, Fiona secara perlahan menyatukan bibir mereka berdua. Ia juga tak merasa canggung sama sekali untuk ******* bibir Jimmy secara bergantian. Di tengah lumatannya pada bibir pria itu, Jimmy secara tiba-tiba melesakkan lidahnya ke dalam mulut Fiona. Menyapa lembut lidah wanita itu lalu berbalik untuk mengulumnya dengan cukup kuat.


“Jimmy!” Fiona sontak memejamkan kedua matanya saat merasakan ******* kuat Jimmy pada lidahnya. Tak lama, ia merasakan bibir basah pria itu bermain-main pada lehernya.


Satu desahan kecil berhasil lolos dari bibir Fiona saat Jimmy menyesap kuat salah satu sisi lehernya. Lalu beralih pada sisi yang lainnya.


“Fiona.” Lirih Jimmy. Ia menarik tubuh Fiona untuk semakin menempel pada tubuhnya seraya menatapnya lekat. Seakan meminta sesuatu.


Kedua mata Fiona kembali terpejam ketika merasakan sentuhan lembut Jimmy pada kulit wajahnya. Di tengah pergolakan batinnya, Fiona akhirnya memilih untuk mengalah. Tak peduli sekalipun jika setelah ini Alan dan Bianca akan kembali menggoda mereka berdua.


“Aku mencintaimu.” Bisik Fiona. Ia mengecup sekilas bibir Jimmy sekaligus menjadi jawaban atas permintaan pria itu.


Malam ini, mereka berdua kembali tenggelam dalam sentuhan intens memabukkan. Yang sayangnya, baik Jimmy maupun Fiona tak tahu kapan akan segera berakhir.

__ADS_1


__ADS_2