Married With The Devil

Married With The Devil
Permintaan Seorang Istri


__ADS_3

Wilson yang baru selesai menerima telfon, secara tiba-tiba melempar ponselnya secara kasar di atas lantai. Ia baru saja mendapatkan kabar jika salah satu anak perusahaan Alan, memproduksi alat-alat medis yang sama sepertinya tapi dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Dan yang lebih parahnya lagi, ia mengalami kerugian yang begitu besar karena hasil dari produksi perusahaan Alan jauh lebih diminati.


“Sial!” Umpat Wilson sekali lagi. Kedua tangannya mengepal. Dengan cepat, ia melangkah menuju meja kerjanya dan mengambil satu lagi ponselnya yang berada di dalam laci.


Ia berniat untuk menelfon Alan.


“Paman.” Seru Alan senang di seberang sana.


“Brengsek! Kau pikir apa yang kau lakukan?!” Wilson berteriak dengan napas memburu.


“Bagaimana? Apa Paman menyukai kejutan dariku?” Alan berucap santai seraya tertawa kecil. Beruntung Bianca sedang tak berada di sebelahnya. Bianca juga tak tahu sama sekali perihal keterlibatan Wilson pada kebakaran yang terjadi di salah satu anak perusahaannya waktu itu.


“Anak sial!” Teriak Wilson sekali lagi. Ia kembali melempar berkas yang berada di atas meja kerjanya.


“Wilson Benjamin.” Desis Alan tajam. Ucapan Wilson barusan tak bisa ia terima.


“Apa? Kau tak terima?” Tantang Wilson seraya mendecih jengkel.


“Seharusnya kau bersyukur karena aku tak langsung menghancurkanmu dan membuatmu menjadi gelandangan.” Alan berucap santai namun sarat akan ancaman. Ia sedang tak main-main. Kalau mau, detik ini juga, ia bisa langsung membuat Wilson kehilangan semuanya. Tapi berhubung suasana hatinya sedang bahagia, ia jadi sedikit mengasihani pria tua itu.


“Bukankah kau sudah memiliki semaunya? Atau sebaliknya, kau masih belum merasa cukup sampai ingin merebut milikku?”


“Milikmu? Memangnya apa yang kau punya? Jujur saja, aku tak tertarik sama sekali pada perusahaan kecil dan tak punya masa depan seperti milikmu itu.”


Kedua rahang Wilson sontak terkatup rapat. Napasnya memburu. Ia tak terima akan kalimat penghinaan yang Alan katakan padanya. Pria itu sudah benar-benar melewati batas.


“Kau—”


“Ini peringatan terakhirku. Sekali lagi kau berusaha untuk mengusikku, maka aku tak akan lagi berbaik hati.” Alan dengan cepat memutuskan sambungan telfon Wilson. Berlama-lama mendengar suara pria busuk itu bisa merusak indra pendengarannya.


“Sial! Sial! Sial!” Teriak Wilson tak terima. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa untuk menjatuhkan Alan. Pria itu terlalu sulit untuk diraih. Bahkan untuk menyentuhnya pun terasa begitu mustahil.


***


Bianca yang baru saja selesai mandi, menatap heran pada Alan yang tengah menyeringai seorang diri di atas tempat tidur. Awalnya, mereka berniat mandi bersama, tapi karena ponsel Alan lebih dulu berbunyi, jadi pria itu menyuruhnya untuk mandi seorang diri dan Alan akan menyusul nanti.


“Siapa?” Tanya Bianca seraya menatap Alan sekilas.


“Apa?”


“Yang menelfonmu.” Jawab Bianca. Ia tengah sibuk mengolesi wajahnya dengan krim pelembab wajah.


“Bukan siapa-siapa.” Ucap Alan santai. Ia segera meletakkan ponselnya di atas nakas lalu menatap Bianca lekat. Selama beberapa hari ini, Bianca terbilang rutin merawat wajahnya. Padahal biasanya, wanita itu hanya mencuci muka dan dilanjutkan dengan memakai face tonic. Bianca hanya akan memakai pelembab wajah saat ingin keluar rumah.


Bianca yang merasa diperhatikan, dengan segera menyelesaikan kegiatannya untuk melangkah menghampiri Alan. Berdiri di depan pria itu seraya tersenyum manis.


“Sayang.” Ucap Alan lembut. Ia menatap lekat perut Bianca seraya mengangkat sedikit ke atas gaun tidur yang wanita itu kenakan. Tak peduli jika Bianca menertawainya. Alan benar-benar bahagia saat tahu jika hasil cinta mereka berada di dalam perut wanita itu.


Bianca sontak memejamkan kedua matanya ketika Alan mengecup lembut kulit perutnya. Bukan hanya sekali. Tapi berkali-kali. Sebelah tangannya terangkat untuk mengelus rambut Alan. Prianya berubah menjadi lebih manis dari sebelumnya.


“Alan.”


“Hm.”


“Apa aku boleh meminta sesuatu?”

__ADS_1


“Apa pun itu!” Ucap Alan mantap. Ia segera mendongak untuk menatap istrinya. Perlahan, satu senyuman penuh arti tercetak pada kedua bibir Bianca.


“Aku … ingin mendengarmu menyanyi.” Jawaban Bianca barusan bagai bom nuklir yang langsung menghantam tubuh Alan. Ia akan memberikan apa pun yang Bianca minta. Asalkan tak memintanya untuk bernyanyi.


“Aku—”


“Kau tak mau?” Alan tersentak kaget ketika melihat Bianca memasang wajah sedih. Hatinya juga ikut berdenyut sakit. Setelah menghela napas dalam, Alan segera menggenggam erat tangan wanita itu dan mengajaknya untuk berbaring di atas tempat tidur.


“Asal kau berja—”


“Aku berjanji!” Sela Bianca cepat seraya mengecup bibir Alan. Selama tinggal dan hidup bersama Alan, tak pernah sekalipun ia mendengar pria itu bernyanyi.


Setelah beberapakali menghela napas dalam, Alan akhirnya membuka mulut, berniat bernyanyi untuk istrinya.


Nothing's gonna change my love for you


You oughta know by now how much I love you


One thing you can be sure of


I'll never ask for more than your love


Bianca tanpa sadar meneteskan air mata di dalam dekapan hangat pria itu. Alan bernyanyi dengan sangat merdu. Dan yang lebih mengejutkannya lagi, pria itu begitu menghayati setiap kata yang diucapkannya. Alan benar-benar mencintainya.


Sejujurnya, Alan tak merasa jika suaranya jelek. Hanya saja, sewaktu kecil dulu, ayahnya—Albert, pernah melarangnya bernanyi dan selanjutnya, ia tak pernah lagi berani untuk melakukannya. Dan sekarang adalah kali pertama ia bernyanyi lagi setelah bertahun-tahun lamanya. Alan hanya takut jika suaranya terdengar menyedihkan di telinga istrinya.


“Bianca.” Ucap Alan seraya mengecup lama kening istrinya. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Apa pun akan ia lakukan dan berikan untuk wanita itu. Sama seperti potongan lagu yang dinyanyikannya tadi, Alan tidak akan pernah meminta apa-apa lagi. Keberadaan Bianca di sisinya serta rasa cinta wanita itu padanya sudah lebih dari kata cukup.


***


“Fiona.” Panggil Jimmy sekali lagi. Ia kembali mengulum penuh kelembutan kedua bibir Fiona secara bergantian. Sebelah tangannya menarik pinggang Fiona agar semakin rapat pada tubuhnya.


“Jimmy.” Ucap Fiona dengan napas memburu. Tadi, setelah ia membantu Jane berganti pakaian dan menemani wanita itu sampai tertidur lelap, Jimmy secara tiba-tiba menyudutkan ke tembok ketika ia baru saja keluar dari dalam kamar Jane. Lalu ******* bibirnya secara tak sabaran.


“Aku punya berita bagus untukmu,” ucap Jimmy pelan. Ia tersenyum simpul ketika Fiona menatapnya penasaran.


“Tapi aku akan memberitahumu besok. Bersama Jane.” Sambung Jimmy. Perlahan, ia kembali mengikis jaraknya dengan Fiona. Tapi kali ini, Jimmy lebih memilih untuk menjelajahi leher wanita itu. Mengecupnya lembut seraya memberikan gigitan-gigitan kecil.


“Jimmy.” Fiona berucap lirih menyebut nama Jimmy ketika pria itu menyesap dengan cukup kuat kulit lehernya. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk meremas pelan rambut Jimmy.


Suara decakan bibir mereka berdua kembali terdengar di tengah kesunyian malam. Ditemani dengan temaramnya cahaya lampu kamar, Fiona dan Jimmy kembali saling melilitkan lidah. Beradu siapa yang paling hebat. Dan ketika Jimmy berhasil memonopoli lidahnya, Fiona tak bisa lagi melarikan diri. Pria itu telah berhasil memenjaranya.


***


“Bianca!” Lily yang sudah hampir lima belas menit lebih menunggu kedatangan Bianca, dengan cepat melambaikan tangan ketika melihat wanita itu baru saja memasuki café tempat mereka membuat janji. Semalam, Bianca mengiriminya pesan singkat dan mengajak bertemu hari ini. Tanpa menerima kata penolakan.


“Lily!” Seru Bianca senang seraya memeluk Lily erat. Tak lupa satu kecupan singkat ia hadiahkan pada pipi sahabatnya itu.


“Mr. Drax bisa cemburu padaku.” Goda Lily seraya terkekeh geli. Ia segera memanggil pelayan agar Bianca bisa memesan minuman atau pun makanan.


“Bagaimana hubunganmu dengan Danny?” Tanya Bianca setelah ia selesai mengucapkan pesanannya pada pelayan. Ia beralih untuk menatap lekat pada Lily yang sedang memasang wajah tak bersemangat.


“Dia sedang marah padaku.” Jawab Lily sedih. Sudah hampir satu minggu Danny—kekasihnya, tak menghubunginya sama sekali. Dan yang lebih parahnya lagi, pria itu selalu menolak panggilan telfonnya.


“Alasannya?” Bianca sadar, jika pertanyaannya tadi adalah pertanyaan bodoh. Sebab, tanpa diberitahu pun, ia sudah tahu penyebabnya apa.

__ADS_1


“Aku membatalkan jadwal kencan kita secara tiba-tiba.” Lily tak mampu menyembunyikan perasaan sedihnya. Ia sepenuhnya sadar jika semuanya terjadi akibat dari kelalaiannya sendiri. Ia sudah terlanjur berjanji dan menerima ajakan kencan Danny dan melupakan jika pada hari yang sama, kantornya juga sedang mengadakan pesta.


“Aku punya cara agar Danny tak marah lagi padamu?” Bianca berucap dengan raut wajah serius.


“Apa?” Tanya Lily dengan tak kalah seriusnya. Ia merindukan kekasihnya. Dan menerima kenyataan jika pria itu mengabaikannya, membuatnya tak bisa tenang.


“Ajak dia ke hotel.” Bianca sontak tertawa setelah melihat perubahan raut wajah Lily. Wanita itu mendelik jengkel padanya seraya mencibir.


“Kurasa Alan sudah mengganti seluruh isi otakmu dengan hal-hal mesum.” Sindir Lily. Ia menyeruput moccacino dingin miliknya dengan kasar.


“Apa kau membawa mobil sendiri?” Tanya Bianca seraya meminum green tea dingin miliknya yang baru saja tiba. Ditemani dengan sepiring kecil croissant coklat.


“Yeah. Bagaimana denganmu?”


“Jimmy yang mengantarku.”


“Kau tak membawa mobil sendiri?” Lily menatap Bianca heran. Ia sangat yakin jika wanita itu punya mobil sendiri jadi Jimmy tak harus lagi mengantarnya.


“Alan melarangku membawa mobil sendiri.” Jawab Bianca seraya tersipu malu.


“Wow. Romantis sekali.” Sindir Lily. Berbeda dengan dirinya, Bianca terlihat semakin mesra bersama Alan. Sementara ia harus menghabiskan waktunya tanpa mendengar suara Danny.


“Alan melarangku karena ini—” Bianca sontak meletakkan di atas meja sebuah foto hitam putih—hasil USGnya di depan Lily. Ia dan Alan sama-sama menyimpan satu.


“Apa ini—BIANCA!” Lily berteriak tak percaya seraya bangkit dari duduknya. Tak dipedulikannya tatapan aneh dari pengunjung café di sekitarnya.


“Kau–Kau—”


“Ya, aku hamil.” Ucap Bianca seraya tersenyum manis. Dengan cepat, Lily menghampirinya lalu memeluknya erat. Lily tak henti-hentinya mengucapkan selamat kepada Bianca dan juga menghadiahinya satu kecupan di pipi.


“Aku tak menyangka jika Alan akhirnya berhasil.” Lily sontak tertawa geli ketika Bianca mencubit kecil tangannya.


“Lima minggu.” Ucap Bianca seraya menghabiskan gigitan terakhir croissant coklat miliknya.


“Yang ini untukku. Aku ingin menunjukkannya pada Mom dan Dad. Juga pada Brian.


Lily sontak tersenyum penuh arti ketika teringat pada adik laki-lakinya—Brian. Adiknya itu menaruh hati pada Bianca dan saat ia memberitahunya perihal status Bianca yang telah bersuami, Brian langsung memusuhinya. Bahkan tak mengajaknya berbicara selama hampir dua minggu. Lily bahkan tak tahu, jika Brian menolak semua gadis yang menyatakan cinta padanya karena merasa jika ia dan Bianca mungkin bisa bersama setelah cukup dewasa.


“Jangan sampai Brian memusuhimu lagi.” Ucap Bianca mengingatkan. Lily sudah memberitahu semuanya. Dan Bianca hanya bisa tersenyum geli saat membayangkan ekspresi wajah adik laki-laki Lily itu.


“Aku tahu. Aku tahu.” Dengan cepat, Lily meletakkan foto tersebut di dalam sebuah buku yang cukup tebal. Ia tak ingin meletakkannya secara sembarangan karena takut rusak.


“Setelah ini, kau harus menemui Danny.” Bianca tak tega melihat sahabatnya terus memasang wajah sedih. Ia tahu betul jika Danny dan Lily sama-sama saling mencintai. Dan ini adalah pertama kalinya mereka berdua bertengkar dalam waktu yang  cukup lama.


“Aku tahu.” Jawab Lily. Ia tak punya pilihan lain. Setelah ini, ia akan kembali mencoba menghubungi kekasihnya. Dan jika Danny masih belum mau menerima panggilan telfon darinya, ia akan secara langsung mendatangi tempat kerja pria itu.


Lily sadar jika dalam menjalin suatu hubungan, ada dua belah pihak yang terlibat. Dan ia tak ingin menjadi pihak wanita yang selalu “benar” di atas segalanya. Ia tahu jika Danny marah padanya bukan tanpa sebab. Jadi tak ada salahnya jika ia yang meminta maaf terlebih dulu. Lily hanya tak ingin, hubungannya yang sudah lama terjalin, hancur berantakan dalam waktu sekejap hanya karena keegoisan semata. Ia bukan lagi anak kecil yang keinginannya harus selalu dipenuhi. Pun Danny yang terus mengalah padanya. Lily ingin jika mereka berdua bisa sama-sama saling memahami.


“Aku pergi dulu.” Ucap Bianca setelah bangkit dari duduknya. Ia merasa tak enak karena Jimmy masih menunggunya.


“Sampaikan salamku pada Alan dan juga Jimmy.” Ujar Lily setelah memeluk Bianca sekilas. Ia masih setia menatap punggung Bianca yang berjalan menjauhinya lalu menghilang setelah pintu café tertutup.


“Danny.” Gumam Lily. Dengan cepat, ia mengambil ponselnya untuk kembali menghubungi Danny. Dan berharap, kali ini, pria itu mau mengangkatnya.


 

__ADS_1


*George Benson - Nothing's Gonna Change My Love


__ADS_2