
Setelah merasa sedikit lebih tenang, Bianca memutuskan untuk mandi. Setidaknya, berada di bawah guyuran air shower bisa membuat suasana hati dan pikirannya menjadi lebih baik. Ia juga berterima kasih pada Alan karena pria itu dengan setia memeluknya tanpa menanyakan apa pun.
“Minumlah.” Alan yang baru saja kembali dari lantai satu, menyodorkan segelas susu coklat hangat pada Bianca. Ia sendiri yang membuatnya karena Sofie sudah pulang sejak tadi sore.
“Terima kasih.” Ucap Bianca seraya tersenyum.
Alan hanya menatap Bianca dalam diam ketika wanita itu meneguk segelas susu yang ia buatkan dengan lahap. Jika dipikir-pikir lagi, Bianca adalah wanita pertama yang ia buatkan minuman tersebut.
“Sengaja ingin menggodaku, huh?” Tanya Alan seraya menyeka sisa susu pada sudut bibir Bianca menggunakan ibu jari. Matanya mengedip nakal seraya menjilati jarinya.
“Aku ingin istirahat.” Seru Bianca cepat. Ia tak ingin lagi berada di bawah kendali Alan dan membuat dirinya tak mendapatkan jatah tidur yang cukup. Bianca tak bisa mengimbangi tenaga yang Alan punya ketika mereka sedang bercinta.
Alan tertawa kecil. Tahu betul jika Bianca sedang menyindirnya secara halus. Tak lama, tatapannya berubah intens. Ia berharap Bianca segera bercerita padanya.
“Apa?” Tanya Bianca. Berpura-pura tak paham akan arti tatapan Alan. Ia ingin menggoda pria itu.
“Apa aku harus memaksamu?” ucap Alan seraya memegang dagu Bianca. Sudut bibirnya tertarik ke atas—membentuk seringaian nakal. Alan tahu jika Bianca sengaja ingin menggodanya. Dan membalas wanita itu adalah cara terbaik.
Bianca tersenyum kecil. Dengan cepat, ia memejamkan kedua matanya—seakan menantang Alan. Dan Alan pun tak tinggal diam. Ia segera mengecup bibir Bianca. Lalu melumatnya lembut. Saling melilitkan lidah beberapa kali dan berakhir dengan kecupan ringan pada hidung Bianca.
“Sebenarnya, kedua lututku terluka bukan karena benar-benar terjatuh. Waktu itu, ada sebuah mobil yang berniat untuk menabrak Lily.” Ucap Bianca. Matanya menatap Alan lekat.
“Aku yang melihatnya, segera menghampiri Lily dan menarik gadis itu ke tepi jalan, kami berdua terjatuh bersama. Dan beruntung, Lily tak terluka parah.” Wajah Bianca bersungut marah ketika kembali mengingat perbuatan Cathy waktu itu. Ia sungguh tak habis pikir. Bagaimana mungkin Cathy dengan begitu teganya ingin melukai orang yang tak bersalah sama sekali.
“Seharusnya sejak dulu aku menyi—”
“Itu lah sebabnya aku melarang Jimmy untuk memberitahumu.” Potong Bianca. Ia menatap Alan kesal. Sejak awal, Bianca sudah yakin, jika Alan tahu apa yang terjadi padanya, maka pria itu yang akan bertindak untuk mengambil alih semuanya.
__ADS_1
“Kenapa? Kau tak ingin aku menolongmu?” Tanya Alan tak terima. Ia menatap Bianca dengan mata memicing.
Bianca mendesah pelan.
“Bukan seperti itu. Aku belum tahu siapa yang melakukannya. Maka dari itu, aku meminta tolong pada Jimmy untuk mengawasi dari jauh dan mengikuti mobil tersebut ketika ingin melarikan diri.”
“Jika seperti itu, aku juga bisa melakukannya.” Alan berucap datar. Terlihat jelas jika pria itu tengah cemburu pada Jimmy.
Ya Tuhan.
“Melakukan apa? Aku yakin jika kau pasti akan langsung menyiksa Cathy.” Ucap Bianca tanpa sadar. Matanya mendelik jengkel.
Alan tak menjawab. Ia hanya menatap Bianca lekat sembari membenarkan ucapan wanita itu dalam hati. Bianca benar. Jika ia yang melakukanya, maka ia tak akan segan untuk langsung menyakiti Cathy. Tak peduli sekali pun jika wanita itu adalah sepupunya sendiri.
“Awalnya, aku pikir jika semuanya akan berjalan lancar. Sampai akhirnya, Lily secara tiba-tiba memposisikan dirinya menjadi sasaran empuk untuk ditabrak Cathy.
“Apa temanmu baik-baik saja?” Tanya Alan.
“Ya. Fisiknya memang baik-baik saja. Tapi aku yakin, jika Lily sedikit terguncang.” Bianca berucap sedih ketika kembali teringat pada sahabatnya. Selama dalam perjalan pulang menuju rumah Lily, gadis itu tak banyak bicara. Lily hanya menanggapi singkat setiap kali Bianca bertanya. Dan yang semakin membuat Bianca cemas adalah saat ia mendapati tubuh Lily begitu dingin.
“Alan, sejak dulu, aku selalu merasa jika aku ini bukanlah seseorang yang berharga. Ketika kedua orang tuaku mengabaikan dan memperlakukanku dengan buruk, aku tak bisa berbuat banyak selain menerimanya dengan lapang dada.” Bianca berujar dengan suara pelan. Ia menatap Alan lekat dengan tatapan sendu.
“Bianca.” Panggil Alan seraya menggenggam tangan istrinya.
“Ketika pertama kali tahu jika mereka menjualku padamu, aku tak bisa lagi menahan semuanya. Aku marah. Sedih. Terluka dan begitu hancur. Dan yang lebih menyakitkannya lagi, saat aku tahu mereka berdua melakukannya hanya karena uang.” Bianca kembali teringat pada sikap kedua orang tuanya yang begitu santai dan teganya berkata ingin menjualnya pada lelaki asing. Bahkan ketika ia menolak, ayah dan ibunya tak memberikan respon apa pun. Mereka justru berkata pada Bianca jika menjualnya adalah sebagai bentuk balas budi Bianca pada mereka.
“Sedari kecil, aku selalu meyakinkan diriku sendiri untuk tak pernah berharap dan bergantung pada orang lain. Tidak ada yang bisa membahagiakan dan melindungiku selain diriku sendiri. Namun, ketika Lily menjadi orang pertama yang mengulurkan tangannya untukku, semua pertahananku mulai goyah.” Seusai berucap, Bianca menyunggingkan satu senyuman simpul. Kembali teringat pada pertemuan pertamanya dengan Lily.
__ADS_1
“Bersama Lily, sedikit demi sedikit, aku jadi tahu arti dari memilki. Arti dari kebersamaan. Dan bagaimana bahagianya ketika mempunyai seseorang yang begitu peduli dan sayang padamu.”
Alan masih tak membuka suara. Ia sengaja membiarkan Bianca mengeluarkan semua yang dipendamnya. Ia juga ingin tahu seperti apa perasaan wanita itu. Sebab, ketika pertama kali bertemu dan menatap mata Bianca, Alan langsung tahu jika Bianca adalah sosok wanita yang kuat dan juga rapuh dalam waktu yang bersamaan.
“Tak masalah jika aku tak pernah dianggap berharga sama sekali. Kali ini, aku yang akan memilih untuk menjadikan orang terdekatku sebagai seseorang yang berharga. Yang harus dilindungi. Walau pun sampai harus terluka. Aku tak ingin apa yang kurasakan, juga dirasakan oleh orang-orang yang kusayangi.” Bianca berucap dengan suara parau. Tenggorokannya tercekat ketika rasa sakit kembali menyapa hatinya. Diabaikan, dibuang dan tak dianggap adalah hal yang sangat menyakitkan. Yang mungkin saja, membuat orang yang merasakannya memilih untuk mati.
Namun Bianca memilih untuk bertahan dengan cara menutup mata dan telinganya dari semua perkataan buruk orang lain. Ada Lily yang selalu berada di sisinya. Gadis itu selalu menggenggam tanganya lembut seraya tersenyum hangat. Bianca sudah membulatkan tekadnya, apa pun yang terjadi, ia akan selalu berada di sisi Lily. Bahkan jika suatu saat nanti Lily mungkin tak lagi menginginkannya, Bianca tetap akan bertahan.
“Maka dari itu, saat Jimmy memberitahuku jika Cathy lah dalang dibalik semuanya, aku tak lagi mampu menahan amarahku. Aku tak bisa lagi tinggal diam dan membiarkan wanita licik itu menyakiti orang yang kusayangi. Rasa marahku jauh lebih besar dibanding saat tahu aku dijual padamu oleh ayah dan ibuku.” Bianca tersenyum miris seraya menunduk. Ia menatap tangannya yang tertaut dengan pandangan kabur. Air matanya sudah mendesak untuk keluar sedari tadi.
“Maafkan aku yang belum bisa melindungimu sepenuhnya.” Alan berucap dengan nada lembut. Ia segera menarik Bianca ke dalam pelukannya.
Di dalam dekapan hangat Alan, Bianca memejamkan kedua matanya dan membiarkan setetes cairan bening jatuh membasahi pipinya. Ia juga tak henti-hentinya berterima kasih pada Tuhan karena masih mau menjaga Lily. Dan tak membiarkan sesuatu yang sangat buruk terjadi pada gadis itu.
“Ak—aku tak pernah berharap agar kau selalu melindungiku.” Bisik Bianca. Dengan cepat, Alan melepaskan pelukannya seraya memegang kedua pundak Bianca. Iris hitam legamnya menatap Bianca tak terima.
“Kau tak membutuhkanku?” Tanya Alan tak percaya. Hatinya mendadak sakit ketika mendengar ucapan Bianca.
“Alan, aku bukannya tak membutuhkanmu. Tapi aku tahu, jika ada saat dimana kau tak akan selalu bisa berada di sisiku. Begitu pun sebaliknya.” Bianca segera menjelaskan maksud ucapannya. Ia tak ingin membuat Alan salah paham dan secara tak langsung menyakiti pria itu.
“Saat ini, aku hanya ingin meminta satu hal padamu,” Bianca berujar serius seraya menatap Alan dalam.
“Kumohon, berjanjilah—berjanjilah padaku jika kau tak akan pernah menyakitiku.” Bianca menatap Alan dengan tatapan memohon. Berharap pria itu mau berjanji padanya.
“Aku berjanji.” Alan berucap mantap seraya mengecup kening Bianca dalam. Ia tak sanggup jika harus menatap wajah sedih Bianca lebih lama lagi. Wanita itu benar-benar mampu membuatnya bertekuk lutut.
Di dalam pelukan Alan, Bianca sadar jika apa yang baru saja ia katakan adalah bentuk dari keegoisannya. Terlihat jelas jika ia sedang memaksa Alan. Tapi Bianca tak punya pilihan lain. Hanya Alan satu-satunya yang ia harapkan agar tidak akan pernah menyakitinya.
__ADS_1
Jauh di dalam lubuk hatinya, Bianca berharap, jika pilihannya bukan lah sesuatu yang akan disesalinya nanti.