
ORIGINAL STORY by REYYA JUNG
Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur KESENGAJAAN di dalamnya. Cerita fiksi ini murni hasil karya saya!
Jimmy yang berniat memberitahu Jane serta Fiona perihal kehamilan Bianca sembari menikmati makan siang mereka, dihentikan oleh suara bel rumahnya yang baru saja berbunyi. Dengan sedikit jengkel, ia melangkah menuju pintu dan berharap jika yang datang bukanlah seorang sales yang selama beberapa hari ini sering datang untuk menawarinya membeli sebuah rumah.
“Sia—Tuan!” Raut wajah Jimmy yang tadinya memberengut, berubah menjadi kaget ketika mendapati Alan dan Bianca berdiri tak jauh darinya. Seingatnya, mereka berdua tak memberitahunya jika akan datang hari ini.
“Apa aku mengganggumu?” Tanya Alan dengan nada datar. Ia menatap Jimmy lekat saat mendapati wajah pria itu terlihat sedikit kesal. Merasa jika ia dan Bianca mungkin sedang mengusik waktu pria itu bersama kekasihnya.
“Apa? Tidak. Tidak, Tuan.” Jawab Jimmy cepat. Ia segera menyingkir dari depan pintu dan mempersilahkan Alan serta Bianca untuk masuk ke dalam.
“Hai, Jimmy.” Sapa Bianca seraya tersenyum. Awalnya, ia berniat untuk menghubungi Jimmy terlebih dahulu karena takut mengganggu pria itu. Tapi Alan melarangnya dan mengatakan padanya jika Jimmy pasti tak akan keberatan.
“Bianca.” Fiona yang melihat Bianca, sontak bangkit dari duduknya untuk menghampiri wanita itu seraya memeluknya sekilas. Tak jauh darinya, Jane sedang duduk di meja makan sembari menikmati potato wedges yang Fiona suapkan padanya.
“Jane, i miss you.” Ucap Bianca senang seraya memeluk Jane erat. Tak lupa, ia mengangkat tangan kirinya ke atas yang sedang memegang sebuah paper bag putih dengan merk terkenal.
“Nona.” Seru Jimmy ketika melihat Bianca kembali membawa sesuatu untuk Jane. Apalagi saat melihat merk yang tertera pada bagian luar tas karton tersebut.
“Hanya satu.” Jawab Bianca seraya tersenyum lebar. Kali ini, ia memberikan Jane sebuah sling bag berwarna maroon. Bianca tahu jika penghasilan Jimmy sebagai asisten pribadi Alan lebih dari cukup untuk membelikan Jane satu bahkan dua tas branded sekaligus. Hanya saja, Bianca merasa bahagia setiap kali orang yang ia berikan sesuatu, tersenyum senang karenanya.
“Untukku?” Tanya Fiona dengan nada bercanda. Ia sudah merasa lebih dekat dengan Bianca dan wanita itu pun pasti tahu jika ucapannya tadi tak sungguh-sungguh.
“Untukmu, aku sudah menyediakan sesuatu yang spesial.” Jawab Bianca seraya menatap Alan. Tak lama, pria itu menatap Jimmy serta Fiona secara bergantian seraya menyeringai kecil.
Fiona yang baru tersadar jika masih ada satu lagi makanan yang belum ia sajikan, dengan cepat melangkah menuju dapur. Berhubung Bianca telah mengambil alih tugasnya untuk menyuapi Jane. Sementara Jimmy dan Alan sedang sibuk membahas sesuatu, jadi ia bisa melangkah pergi sebentar.
“Jane.” Panggil Bianca. Ia menatap Jane dengan mata berbinar.
Mendengar namanya dipanggil, Jane segera mengalihkan perhatiannya pada Bianca dan balas menatap wanita itu.
__ADS_1
“Aku punya kabar bahagia untukmu.” Ucap Bianca seraya tersenyum senang. Ia menatap Fiona sekilas yang baru saja kembali dari dapur dengan membawa satu piring lasagna berukuran besar.
“Fiona, aku ma—Hmph!” Bianca yang baru saja ingin mengambil sesendok kecil lasagna tersebut, sontak menutup mulutnya lalu berjalan cepat menuju kamar mandi. Ia tiba-tiba saja merasa mual. Padahal sebelumnya, ia tak ada masalah sama sekali saat ingin makan.
“Sayang.” Seru Alan khawatir. Ia dengan cepat melangkah menyusul Bianca. Takut terjadi sesuatu pada istrinya.
“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Alan setelah memposisikan dirinya di sebelah wanita itu. Ia menatap Bianca cemas sembari mengusap peluh pada kening istrinya. Ini kali pertama Alan melihat Bianca muntah semenjak wanita itu hamil.
“Ya.” Jawab Bianca singkat. Ia meneguk segelas air mineral yang baru saja Fiona bawakan untuknya.
Alan dengan sigap menggenggam erat tangan istrinya lalu melangkah bersama menuju ruang tengah. Bianca mendadak merasa mual saat menghirup aroma keju yang menguar dari lasagna yang Fiona buat. Padahal keju salah satu makanan favoritnya.
“Fiona, maafkan aku.” Ucap Bianca seraya menatap Fiona tak enak. Yang anehnya, wanita itu justru membalas ucapannya dengan senyuman lebar. Ia yakin jika Jimmy pasti telah memberitahu perihal kehamilannya.
“Bianca, selamat!” Ucap Fiona senang. Ia kembali memeluk Bianca sekilas. Fiona ikut merasa bahagia. Bianca sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Jane yang baru saja menyelesaikan makanannya, ikut bergabung bersama mereka dengan ditemani Jimmy. Wanita itu tampil cantik dalam balutan baju kaos putih berlengan pendek yang dipadukan dengan rok lipit hitam dengan panjang di atas lutut.
“Jimmy, di sini.” Bianca menatap Jimmy seraya menepuk-nepuk pelan sofa kosong di sebelahnya. Meminta pria itu untuk mendudukkan Jane di dekatnya.
“Jane, aku hamil.” Seru Bianca seraya menatap Jane lekat. Ia mengelus rambut coklat keemasan Jane yang sedang terurai. Perasaannya menjadi sedikit lebih baik setelah menatap wanita bermata biru itu.
“Jane!” Pekik Bianca tak percaya. Ia kembali menatap Jane dan mendapati wanita itu telah lebih dulu melihatnya sembari tersenyum senang.
Bianca tak sadar jika air matanya telah menetes. Ia dengan cepat memeluk Jane erat sembari membisikkan kalimat penuh kebahagiaan . Ia tak pernah menyangka sama sekali jika Jane akan merespon ucapannya.
Selama ini, Jane bisa mendengar dengan baik juga secara jelas setiap ucapan orang-orang di sekitarnya. Hanya saja, anggota tubuhnya yang lain—terutama mulutnya, menolak untuk merespon. Bersyukur ia bisa mengedipkan matanya. Dan sejauh ini, telah ada beberapa perubahan pada dirinya. Jane sudah mulai bisa menggerakkan anggota tubuhnya sekalipun lidahnya masih begitu kelu untuk berbicara.
Namun, saat Bianca dan Alan datang ke rumahnya dan melihat Jimmy serta Fiona tersenyum juga tertawa senang bersama mereka, Jane berusaha keras dan memaksa dirinya agar bisa menjadi lebih baik lagi. Dan hasilnya, ia mampu berbicara untuk pertama kalinya. Sekalipun hanya dalam bentuk sebuah gumaman.
“Jimmy.” Alan menatap lekat pada Jimmy dan Fiona yang sedang duduk tak jauh darinya. Tangisan Bianca sudah mereda.
“Ya, Tuan.” Jawab Jimmy. Jantungnya mendadak berdetak tak normal saat menatap iris hitam Alan.
“Aku yang akan menanggung seluruh biaya pernikahanmu.” Ucap Alan tanpa mengalihkan sedikitpun perhatiannya dari Jimmy. Dan ia bisa melihat dengan jelas ekspresi terkejut pria itu.
__ADS_1
“A–Apa? Tuan, tidak. Aku tidak—”
“Kau tidak bisa menerimanya? Kenapa?” Tanya Alan seraya menatap Jimmy tajam. Ia sudah menduga jika pria bermata biru itu pasti akan menolaknya. Tapi seperti biasa, Alan tak pernah menerima kalimat penolakan. Dalam bentuk apa pun. Kecuali jika Bianca yang meminta.
“Aku sudah menerima terlalu banyak darimu.” Jawab Jimmy. Sejak awal, Alan yang selalu lebih dulu menolongnya. Membantu serta memberikan apa pun yang ia butuhkan. Sementara dirinya, tak pernah sekalipun memberikan sesuatu pada Alan.
“Setidaknya, terima hadiah dariku ini bukan sebagai seorang atasan, tapi sebagai seorang keluarga.”
Jimmy sontak tertegun setelah mendengar ucapan Alan. Lidahnya kelu. Ia sungguh tak menyangka jika Alan akan mengucapkan kalimat seperti tadi. Perlahan, Jimmy menunduk, tak lama, ia kembali mendongak lalu balas menatap Alan dengan tatapan penuh keyakinan.
“Terima kasih.” Ucap Jimmy tulus. Ia tersenyum bahagia seraya menatap Alan. Sementara pria beriris hitam itu justru menyeringai puas. Di sebelah Alan, Bianca ikut tersenyum bahagia. Sedangkan Fiona sudah terisak di dalam pelukan Jimmy. Tak menyangka sama sekali jika pernikahannya dan Jimmy akan kembali mendapatkan hadiah istimewa dari pasangan suami istri itu—Alan dan Bianca.
Setelah Jimmy memberitahu Alan tentang pernikahannya yang akan digelar dua minggu lagi, Alan langsung memberitahu Bianca perihal keinginannya untuk memberi Jimmy hadiah dengan menanggung semua biaya pernikahan pria itu. Awalnya, Bianca ragu karena takut Jimmy merasa tersinggung. Tapi Alan kembali meyakinkannya jika Jimmy pasti akan jauh lebih merasa tak enak padanya daripada merasa tersinggung.
Jimmy tak lagi punya alasan untuk menolak ucapan Alan. Bukan karena ia merasa senang sebab tak harus mengeluarkan uang, tapi ia tak bisa menolak pemberian tulus dari seorang keluarga.
***
Bianca tak kuasa menahan tawanya saat Alan terus saja mengikutinya ke manapun ia pergi. Bahkan untuk menyikat gigi sekalipun, pria itu tak pernah mau berpisah darinya. Di matanya, Alan justru terlihat seperti seekor anak ayam yang mengikuti induknya—begitu lucu dan juga menggemaskan.
“My dear, Alan.” Ucap Bianca lembut yang sontak membuat Alan menatapnya tak percaya. Bianca sadar jika ia tak pernah sekalipun memanggil pria itu dengan sebutan sayang. Bukan karena tak mau, ia hanya tak terbiasa dan juga sedikit—malu.
“A–Apa?” Tanya Alan dengan masih menatap Bianca lekat. Wanita itu baru saja selesai menyikat giginya.
“My dear, Alan. Atau My sweetheart?” Ulang Bianca. Ia mendaratkan satu kecupan singkat pada bibir Alan. Lalu beralih pada kening pria itu.
Alan masih senantiasa terdiam dengan jantung yang berdegup kencang. Raut wajahnya tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang dirasakannya. Dengan lembut, ia meletakkan kedua tangannya pada pinggang Bianca.
“My beloved, Bianca.” Bisik Alan seraya menggigit gemas ujung hidung Bianca, sehingga membuat wanita itu tertawa kecil karenanya.
Mereka berdua berciuman dengan penuh kelembutan. Tak peduli sekalipun jika masih berada di dalam kamar mandi. Dengan gerakan pelan, Alan mengangkat tubuh Bianca untuk berada di dalam pelukannya lalu melangkah keluar menuju tempat tidur tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Bianca dengan cepat menangkup kedua pipi Alan saat pria itu ingin melepas ******* bibirnya. Alan menyeringai kecil. Dengan satu kali gerakan, ia berhasil membuat Bianca berada di atas pangkuannya. Dengan dirinya yang bersandar pada kepala tempat tidur.
“Alan.” Ucap Bianca di sela--sela lumatan bibir Alan. Ia tersenyum senang ketika pria itu mengelus lembut pipinya.
__ADS_1
Kali ini, Alan akan menahan dirinya untuk tak menyentuh wanitanya terlalu jauh. Sadar akan kondisi Bianca yang tengah hamil muda. Ia sudah merasa senang—walau tak sepenuhnya, hanya dengan saling mengulum bibir seperti sekarang ini.
Bianca kembali membisikkan kalimat penuh cinta di telinga Alan. Sesekali, ia tertawa geli ketika Alan menggigit pelan dagunya. Atau mengusap-usap perutnya penuh sayang. Bianca berharap, setelah anak mereka lahir nanti, keluarga mereka semakin dilimpahi dengan kebahagiaan. Pun orang-orang baik di sekitar mereka.