Married With The Devil

Married With The Devil
Waktu Berdua


__ADS_3

Jimmy kembali mengeratkan pelukannya pada tubuh Jane. Tadi, setelah menghabiskan makan malamnya dan berganti pakaian, Jane meminta pada Jimmy agar pria itu menemaninya tidur. Jimmy tentu saja tak keberatan. Selagi Fiona sibuk membersihkan di dapur, ia akan menemani Jane sampai wanita itu terlelap.


“Jimmy.” Panggil Jane dengan suara pelan. Ia mendongak untuk menatap Jimmy dan mendapati pria itu tersenyum lembut padanya.


Keadaan Jane semakin membaik. Sekalipun wanita itu tak terlalu sering berbicara dan lebih banyak mengangguk.


Ingatan Jimmy kembali melayang pada saat ia masih kecil dulu. Ketika ia dan Jane masih tidur bersama, wanita itu selalu memeluknya sampai mereka berdua jatuh terlelap hingga pagi hari. Jimmy selalu merasa tenang saat merasakan kehangatan yang berasal dari tubuh Jane. Sebab, ia tak bisa berharap mendapatkan pelukan dari seorang ibu.


“Aku akan terus menemanimu.” Ucap Jimmy. Ia mengelus lembut rambut Jane.


Tak seperti dulu, kali ini ia yang memeluk tubuh saudaranya. Berharap Jane selalu merasa tenang serta nyaman. Sejak dulu, mereka hanya saling memiliki satu sama lain. Tak jarang, ia dan Jane harus berbagi makanan ketika keadaan ekonomi mereka menipis. Dan Jimmy tak pernah mengeluh karenanya. Asalkan selalu bersama, ia sudah merasa lebih dari cukup.


“Selamat malam.” Bisik Jimmy. Ia mengecup sekilas kening Jane ketika wanita itu telah tidur nyenyak. Lalu melangkah keluar untuk menghampiri Fiona.


***


Fiona yang baru saja berniat melangkah pergi meninggalkan dapur, tesentak kaget saat Jimmy secara tiba-tiba berdiri di hadapannya. Pria itu menatapnya lekat lalu memeluknya erat. Tak lupa kecupan pada pucuk kepalanya.


“Jimmy.” Ucap Fiona. Ia balas memeluk pria bermata biru itu.


“Aku merindukanmu.” Bisik Jimmy. Ia segera melepaskan pelukannya pada Fiona dan beralih untuk mengulum bibir wanita itu. Melumatnya pelan diiringi dengan beberapa kali gigitan kecil.


Fiona dengan cepat mengalungkan kedua tangannya pada leher Jimmy sembari ikut memejamkan mata. Kedua bibirnya mengikuti setiap pergerakan bibir Jimmy.


“Fiona.” Lirih Jimmy setelah melepaskan tautan bibir mereka. Ia menarik tangan wanita itu menuju kamar mandi yang berada di dalam kamarnya.


“Mandi?” Tanya Fiona tak mengerti. Jimmy mengangguk pelan sebagai sebuah jawaban dan mengajaknya untuk ikut masuk ke dalam bathtub berukuran besar milik pria itu. Semua kamar mandi di rumah Jimmy mempunyai bathtub. Hanya saja, yang berada di kamar Jimmy cukup untuk menampung dua orang.


“Ya.” Jawab Jimmy singkat. Ia kembali memeluk erat tubuh Fiona dari arah belakang ketika mereka berdua telah barada di dalam bathtub tersebut. Kedua matanya terpejam.

__ADS_1


Fiona yang merasa sedikit lelah, tanpa ragu menyandarkan tubuhnya pada Jimmy. Sebelah tangannya ikut memegang kedua tangan pria itu yang memeluknya posesif. Perlahan, Fiona berbalik untuk mengecup sekilas bibir Jimmy.


“Jimmy.” Fiona berucap lirih ketika Jimmy memberikan kecupan-kecupan kecil pada kedua bahunya. Lalu disusul dengan gigitan-gigitan kecil. Kedua mata Fiona terpejam untuk menikmati setiap sensasi menyenangkan yang Jimmy berikan padanya. Apalagi saat pria itu menggigit cukup kuat salah satu bahunya.


“Fiona….” Bisik Jimmy. Ia kembali memenjara kedua bibir Fiona ketika wanita itu sedikit berbalik padanya. Dengan tetap mengulum bibir Fiona, Jimmy secara perlahan meloloskan lidahnya memasuki mulut wanita itu. Bergerak pelan di dalam sana sembari menelusuri setiap sisinya.


Satu desahan kecil lolos dari bibir Fiona saat lidah Jimmy bermain-main pada langit-langit mulutnya. Dan puncaknya, ketika pria itu mengulum kuat lidahnya.


***


Bianca masih senantiasa menatap Alan dalam diam. Sesampainya di rumah sore tadi, Bianca meminta Alan untuk langsung menyerahkan barang belanjaannya pada Sofie. Tak lupa, ia juga memberikan Sofie dua buah gaun tidur panjang berlengan pendek berwarna pastel serta biru muda yang diterima wanita itu dengan perasaan bahagia.


Secara tiba-tiba, suasana hati Bianca berubah menjadi buruk. Padahal saat masih berada di café tadi, ia masih begitu bahagia.


“Sayang.” Panggil Alan lembut. Pria itu mengoleskan essential oil beraroma lavender pada kaki kiri Bianca lalu memijatnya pelan. Tahu betul jika wanitanya pasti sedang kelelahan.


Sebisa mungkin, Bianca menahan tawanya ketika melihat raut wajah takut pria itu. Alan pasti mengira jika perubahan suasana hatinya disebabkan oleh pertemuan mereka dengan Rebecca. Padahal Bianca tak memikirkan wanita yang mengaku sebagai “mantan” kekasih suaminya itu. Sama sekali.


“Kau tak ingin menyuapiku?” Bianca bertanya tak percaya seraya menatap Alan sedih. Pasalnya, Alan justru meletakkan piring buah tersebut di atas kedua pahanya. Dan kembali fokus memijat kaki kanannya.


“Kau ingin aku menyuapimu? Tunggu!” Alan dengan cepat berlari menuju kamar mandi untuk mencuci tangannya. Ia tak menyangka jika ternyata Bianca ingin disuapi olehnya. Alan benar-benar bahagia ketika Bianca bersikap manja padanya.


Tak lama setelah kepergian Alan, tawa Bianca pecah. Merasa puas karena telah berhasil mengerjai pria itu. Bianca tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Sebab, Alan lah yang selalu mengerjainya. Pun membuatnya menuruti setiap ucapan pria itu.


“Bianca.” Alan yang baru saja keluar dari kamar mandi, menatap heran istrinya yang sedang tertawa seorang diri. Setelah terdiam beberapa detik, Alan baru tersadar jika wanita itu mungkin saja sedang mengerjainya. Dengan langkah pelan, Alan berjalan menghampiri Bianca. Lalu memeluk erat wanita itu dari arah samping.


“Alan!”


“Kau mengerjaiku?” Tawa Bianca kembali pecah saat Alan menatapnya jengkel. Namun tak mengurungkan niatnya untuk mengecup lembut pipi kanan pria itu.

__ADS_1


Alan tersenyum senang mendengar tawa bahagia wanitanya. Tanpa mengalihkan perhatiannya pada Bianca yang tengah lahap memakan buah anggur miliknya, Alan meletakkan dagunya secara lembut pada bahu kanan wanita itu. Kedua tangannya masih melingkar pada perut Bianca.


“Kupikir kau marah padaku.” Ucap Alan pelan. Ia mengecup leher Bianca sekali setelah menyampirkan seluruh rambut wanita itu ke sisi kiri.


“Marah?” Tanya Bianca tak mengerti.


“Ya. Setelah sampai di rumah, suasan hatimu tiba-tiba saja berubah.” Bianca tersenyum simpul setelah mendengar ucapan pria itu. Ia sendiri bahkan tak tahu mengapa suasana hatinya sering berubah-ubah. Dan menurut informasi yang didapatkannya melalui internet, mood swing biasa terjadi pada wanita hamil.


“Kau pikir aku marah karena bertemu dengan “mantan” kekasihmu?” Bianca sontak memekik pelan ketika Alan mendaratkan satu gigitan cukup kuat pada lehernya. Sadar betul jika pria itu pasti merasa kesal akan ucapannya barusan.


“Aku tak ingin membahas wanita lain.” Bianca dengan cepat mengalihkan perhatiannya pada Alan. Ia menatap pria itu lekat. Jujur saja, Bianca tak pernah menyangka jika Alan akan mengucapkan kalimat tadi.


“Kenapa?” Tanya Bianca dengan suara pelan. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk mengelus pipi Alan.


“Karena bagiku, hanya kau satu-satunya wanita yang kucintai. Untuk selamanya.” Bisik Alan. Secara perlahan, Alan mengikis jarak di antara mereka berdua. Kedua matanya sontak terpejam ketika bibirnya baru saja bertemu dengan bibir Bianca.


Alan mencium Bianca dengan penuh kelembutan. Seakan ingin menyampaikan seberapa besar dan dalam perasaannya pada wanita itu. Bianca tersenyum kecil di sela-sela tautan bibir mereka. Lalu ikut membalas setiap pergerakan bibir Alan padanya.


Satu decakan lolos dari bibir Bianca ketika Alan mengulum kuat bibir bawahnya.


Bianca segera mengalungkan sebelah tangannya pada leher Alan. Sementara tangannya yang lain, ia gunakan untuk meremas pelan rambut bagian belakang pria itu.


“Sayang.” Lirih Alan. Ia menatap Bianca lekat dengan napas yang sedikit memburu. Dan ketika iris hitamnya kembali fokus pada kedua bibir wanita itu yang masih basah dan sedikit membengkak, Alan kembali melumatnya pelan. Sembari menggigitnya dengan sedikit kuat.


Bianca mengerang tertahan di tengah ciuman mereka berdua yang semakin intens. Ketika mulutnya terbuka sedikit, Alan langsung meloloskan lidahnya ke dalam. Meninggalkan jejak kepemilikan pada setiap sisinya. Tak lupa, Alan dan Bianca juga saling melilitkan lidah. Bergantian mengulum lidah serta bibir satu sama lain. Tak ada yang ingin mengalah. Seakan, keduanya ingin menjadi pihak yang mendominasi.


Napas keduanya memburu. Bianca bahkan tak sadar jika Alan telah meletakkan piring buah yang tadi berada di atas tempat tidur, kembali ke meja nakas. Ia terlalu fokus dan larut akan kegiatannya bersama pria itu.


“I want you.” Bisik Alan. Ia mendaratkan satu kecupan singkat pada daun telinga istrinya.

__ADS_1


Bianca mengangguk pelan. Sama seperti Alan, ia juga menginginkan pria itu. Berbeda dari biasanya, Bianca merasa jika kali ini keinginannya untuk menyentuh pria itu jauh lebih besar. Lebih mendominasi. Dan lebih membuncah.


Malam ini, mereka berdua kembali tenggelam akan kenikmatan tak berujung. Hasrat membuncah serta keinginan yang begitu besar untuk saling memiliki.


__ADS_2