
Bianca yang baru saja turun dari lantai dua, tak melirik sama sekali pada Alan yang sedang menikmati sarapannya. Dengan tak acuh, ia berjalan melewati pria itu menuju Jimmy yang berdiri di dekat pintu.
“Bianca.” Panggil Alan. Sudah sedari tadi ia mengajak Bianca berbicara, tapi wanita itu tak pernah membalas walau hanya sekali.
“Jimmy, ayo.” Seru Bianca. Ia berjalan cepat menuju mobil. Bianca juga meninggalkan begitu saja sarapan yang telah disiapkan oleh Sofie. Ia bisa membeli sebungkus roti di jalan nanti.
Ketika mengingat kembali kejadian semalam yang dialaminya, Bianca masih belum paham, apa yang sebenarnya terjadi. Sikap Alan tiba-tiba saja berubah menjadi aneh. Pria itu juga menatapnya dengan tatapan yang gelap dan juga kosong.
“Nona.” Panggil Jimmy. Sudah sedari tadi ia mendapati Bianca memasang wajah tak bersemangat.
“Ya.” Jawab Bianca singkat.
“Apa terjadi sesuatu?” Jimmy sadar jika pertanyaannya barusan bisa saja membuat Bianca menganggapnya lancang. Tapi ia tak bisa lagi menahan diri. Ia merasa jika hubungan Alan dan juga Bianca sedikit demi sedikit sudah mulai berubah. Setidaknya, di hadapan Jimmy, mereka berdua sudah terlihat seperti pasangan suami-istri.
“Tidak terjadi apa pun.” Jawab Bianca seraya tersenyum simpul. Ia tak ingin membuat Jimmy khawatir.
Setelah mengalihkan pandangannya keluar jendela, Bianca memejamkan matanya ketika rasa sesak kembali menyapanya. Perlakuan Alan semalam jauh dari kata normal. Bianca bahkan yakin, jika ia tak memberontak, ia mungkin saja sudah mati karena Alan yang terus menenggelamkan wajahya pada bantal dengan kuat.
Ia juga sengaja mengabaikan Alan saat pria itu terus berusaha mengajaknya berbicara seraya memohon maaf. Hatinya masih sakit. Dan Bianca tak tahu, sampai kapan ia akan terus menutup rapat mulutnya ketika bersama Alan.
***
Bianca melangkah tanpa semangat menuju kelas Bahasa Jerman seraya menikmati sebungkus roti keju yang tadi ia beli. Ia juga tak mengambil uang saku di atas nakas yang selalu Alan berikan untuknya. Bianca masih memiliki sedikit tabungan. Setidaknya, cukup untuk membeli sebungkus roti dan sebotol air mineral sebagai sarapan paginya.
“Bianca.” Lily melambai penuh semangat seraya mengisyaratkan Bianca untuk mendekat. Mata pelajaran Bahasa Jerman yang belangsung selama dua jam, Lily dan Bianca menempati kelas yang sama. Tapi setelahnya, mereka akan ditempatkan di kelas yang berbeda karena jadwal mata oelajaran mereka tidak selalu sama setiap harinya.
“Kau mau?” Tanya Bianca seraya menyodorkan roti kejunya yang baru saja ia gigit setengahnya.
“Kau tak sarapan di rumah?” Tanya Lily bingung seraya mengambil dengan senang hati roti tersebut. Sekalipun Bianca telah menggigitnya, tapi Lily tak merasa jijik sama sekali. Ia bahkan menikmatinya dengan lahap.
“Aku malas.” Jawab Bianca tak acuh. Untuk sementara, kalau bisa, ia tak ingin dulu mengingat Alan.
“Kalian sedang bertengkar?” Lily bertanya tanpa sadar seraya menatap Bianca lekat. Dan setelahnya, ia langsung memasang wajah bersalah ketika mendapati Bianca berekspresi jengkel.
Bianca tak menjawab. Ia tak ingin pelajarannya di sekolah menjadi berantakan karena urusan pribadi. Satu minggu lagi ujian kenaikan kelas akan dimulai. Semenatar Lily pun tak bertanya lebih jauh lagi. Tahu betul jika Bianca bukan lah tipe wanita yang bisa dipaksa. Akan ada saatnya, Bianca sendiri yang bercerita padanya.
__ADS_1
***
Dua puluh menit telah berlalu dan Alan masih setia menatap kosong pada layar laptopnya. Bahkan rapat penting yang seharusnya diadakan hari ini, ia tunda sampai waktu yang belum ditentukan. Tak ada satu pun yang berani protes. Apalagi saat tahu jika suasan hati Alan sedang buruk.
“Jimmy.” Alan sontak menatap Jimmy yang baru saja mengambil sebotol kecil air mineral dingin di kulkas. Iris hitamnya menatap pria bermata biri itu lekat.
“Ya, Tuan.” Jawab Jimmy seraya menghampiri Alan. Berdiri di hadapan pria itu.
“Apa Bianca mengatakan sesuatu padamu?” Alan menatap Jimmy penuh harap. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa ketika Bianca secara sengaja tak mengacuhkannya. Jika yang bersalah adalah Bianca, maka Alan tak akan segan melakukan apa pun untuk menghukumnya. Namun nyatanya, ia sadar betul jika dirinya lah yang salah.
“Tidak.”
“Sial!” Alan mengumpat jengkel seraya meremas rambutnya sekilas. Dengan susah payah, ia kembali berusaha untuk mengingat hal buruk apa yang telah dilakukannya pada Bianca semalam. Bukannya membela diri, tapi Alan bersungguh-sungguh jika ia melakukannya tanpa sadar. Ia hanya mengingat jika Bianca mengucapkan sesuatu padanya dan setelahnya, tubuhnya bergerak sendiri. Setelah kehilangan dan berjanji pada Bianca, Alan berusaha sebisa mungkin agar tak menyakiti wanita itu.
“Jimmy, belikan aku obat tidur. Dan jangan mengatakan apa pun pada Bianca.” Jimmy tak menjawab. Ia justru menatap Alan intens dengan ekpresi yang sulit untuk dijelaskan.
“Jimmy!”
“Baik.” Jimmy menjawab cepat seraya melangkah pergi. Ia merasa cemas dan juga takut dalam waktu yang bersamaan. Sejak satu tahun yang lalu, Alan sudah tak lagi mengkonsumsi obat tidur. Dan sekarang, ketika pria itu kembali menyuruhnya untuk membeli obat tersebut, Jimmy akhirnya sadar jika telah terjadi sesuatu pada tuannya. Mimpi buruk yang selama ini Alan kira telah pergi, akhirnya kembali lagi. Dan parahnya, itu teradi ketika Bianca berada di sisi pria itu.
***
Bianca yang baru saja menyelesaikan makan malamnya, segera beranjak menuju dapur untuk meletakkan piring kotornya. Tak lama, ia mendengar suara pintu yang baru saja dibuka. Yakin jika itu adalah Alan yang baru pulang. Bianca dengan sengaja tak membuat suara sedikit pun. Ia masih tak ingin berbicara dengan Alan.
“Hah.” Bianca menghela napas kasar setelah melihat punggung Alan baru saja memasuki kamar. Dengan pelan, ia melangkah menuju ruang tengah. Malam ini, ia mungkin akan tidur di sofa.
“Bianca.” Bianca tersentak kaget seraya menghentikan langkahnya. Alan baru saja berada di belakangnya.
“Kau mau ke mana?” Tanya Alan dengan suara pelan. Bianca tak menjawab. Ia justru bersikap tak acuh seraya mendudukkan dirinya di atas sofa.
“Kau harus tetap tidur di kamar.” Ucap Alan seraya menarik tangan Bianca. Ia tak akan mungkin membiarkan wanita itu tidur di sofa atau pun di kamar yang lainnya.
“Tidak.” Ketus Bianca. Dengan kasar, ia menyentakkan tangannya yang masih dipegang Alan agar terlepas.
Alan menghela napas dalam. Berusaha untuk menahan emosinya.
__ADS_1
“Bianca, aku tak ingin memaksamu.” Lirih Alan. Matanya menatap Bianca lekat.
Bianca tak berdaya. Sekalipun masih marah dan kesal pada Alan, tapi ia tak sanggup ketika pria itu menatapnya memohon dengan wajah sedih. Tanpa menunggu Alan, Bianca berlari kecil menaiki tangga dan masuk ke kamar. Segera naik ke atas tempat tidur lalu menarik selimut sampai sebatas dada.
Tak lama, Alan menyusul Bianca. Sebelum menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia menatap wanita itu sekilas lalu tersenyum kecil. Diabaikan rasanya benar-benar tak menyenangkan.
“Selamat malam.” Bisik Alan seraya mengecup kening Bianca sekilas lalu merebahkan tubuhnya. Keduanya terdiam. Bianca juga dengan sengaja membuat jarak di antara mereka berdua. Padahal biasanya, mereka saling berpelukan ketika ingin tidur.
Dalam diamnya, Alan mengerjap beberapa kali. Kedua matanya sudah mulai terasa berat akibat dari beberapa butir obat tidur yang ia minum tadi ketika baru saja tiba di rumah. Ia memang dengan sengaja meminumnya secara diam-diam agar Bianca tak tahu. Dan tak lama, Alan benar-benar tertidur lelap.
***
Setelah yakin jika Alan telah tertidur pulas, Bianca segera memiringkan tubuhnya untuk menatap wajah pria itu dari samping. Jujur, ia merindukan Alan. Merindukan sikap lembut pria itu. Dan Bianca tak mampu menahan senyum gelinya ketika mendengar suara dengkur halus Alan.
“Aku merindukanmu.” Bisik Bianca. Dengan hati-hati, ia membelai pipi kiri suaminya.
“Ugh….” Bianca segera menjauhkan tangannya ketika mendengar suara melenguh Alan. Ia segera mengubah posisinya menjadi duduk agar bisa lebih leluasa menatap pria itu. Kening Alan berkerut dalam serta dipenuhi keringat.
“Tidak!” Alan tanpa sadar mengangkat tangan kanannya dan membuat gerakan menepis.
Alan, kemarilah.
Keringat di dahi Alan semakin bertambah seiring dengan wajahnya yang memucat. Pria itu juga bergerak gelisah di dalam tidurnya. Bianca masih tak melakukan apa pun. Sebab, ini kali pertama ia melihat Alan seperti ini. Biasanya, mereka berdua akan tertidur lelap sampai pagi menyapa.
Kau harus selalu mengikuti apa yang kukatakan …
Alan yang tadinya bergerak gelisah, mendadak menjadi tenang. Tubuhnya menegang. Dengan cepat, Bianca bangkit untuk mengambil handuk kecil yang akan digunakan untuk menyeka keringat di dahi Alan.
Good boy ….
Bianca yang sedang menyeka keringat di wajah suaminya dengan lembut, tersentak kaget ketika Alan mencengkeram pergelangan tangannya. Secara hati-hati, Bianca berusaha untuk melepasakan cekalan Alan tanpa membuatnya terbangun. Namun genggaman tangan pria itu semakin bertambah kuat seiring dengan pergerakan Bianca.
Bianca meringis sakit. Telapak tangannya sudah memucat.
“Jangan menyentuhku!” Teriak Alan seraya melepas tangan Bianca secara kasar. Raut wajahnya berubah menjadi marah. Alan juga bergumam tak jelas. Dan tak lama, Bianca bisa mendengar jika deru napas Alan sudah mulai kembali normal. Wajah pria itu juga jauh terlihat lebih rileks dari sebelumnya.
__ADS_1
Bianca yakin jika Alan tengah bermimpi buruk. Namun anehnya, Bianca merasa jika Alan tak sepenuhnya sedang bermimpi buruk. Seakan, Alan benar-benar mengalaminya.