
Bianca yang awalnya datang ke kantor Alan tanpa memberitahu pria itu karena berniat memberikannya sebuah kejutan, justru dibuat tak berkutik ketika melihat seorang wanita bertubuh tinggi semampai dan berkulit putih pucat memasuki ruangan suaminya.
Ia tak pernah melihat wanita itu sebelumnya.
“Mrs. Drax.” Seorang karyawan pria yang berjalan ke arah Bianca, dengan cepat menyapa hormat wanita itu.
“Apa kau tahu siapa wanita yang tadi masuk ke ruang kerja suamiku?” Tanya Bianca penasaran. Kedua matanya menatap pria itu lekat hingga membuat pipinya bersemu merah.
“Ah, maksudmu Miss Lizabeth? Dia adalah rekan bisnis baru Mr. Drax.” Jawab pegawai pria itu.
Bianca mengangguk pelan sebagai jawaban. Setelah mengucapkan kalimat terima kasih, ia menyuruh pegawai itu kembali melanjutkan kerjanya.
“Daddy.” Alex yang berada di dalam gendongan Bianca berucap lucu. Ia menunjuk-nunjuk secara tak sabaran pintu ruang kerja ayahnya yang tertutup rapat. Saat ini, Bianca hanya mengajak Alex karena Beatrice telah lebih dulu tertidur lelap.
“Alex sayang, kau merindukan Daddy, hm?” Bianca mendaratkan satu kecupan gemas pada pipi Alex hingga membuatnya tertawa geli.
“Kita menemuinya sekarang dan makan siang bersama.” Bianca tersenyum simpul sembari menatap sekilas tas kain yang dibawanya. Di dalamnya terdapat tiga kotak berukuran sedang yang masing-masing diisi makanan berbeda olehnya.
***
Alan yang sedang fokus membaca isi kontrak kerja samanya bersama Lizabeth sontak mengerutkan kening saat merasa wanita itu semakin merapatkan tubuh padanya. Ia telah menjaga jarak sejauh mungkin.
Kalau saja dirinya masih sama seperti dulu, mereka berdua mungkin sudah bercinta penuh gairah di atas ranjang.
“Bisakah kau menjauh dariku?” Alan berucap dingin tanpa menatap Lizabeth. Sesekali, jari tangannya membalik lembaran kertas yang dipegangnya.
“Oh, Mr. Drax. Aku hanya ingin membacanya bersamamu.” Lizabeth menjawab dengan nada manja.
“Tsk!” Alan yang mendengarnya langsung berdecih jengkel. Terlihat jelas jika wanita itu sedang berusaha untuk menggodanya.
Lizabeth yang mendengar ucapan dingin Alan dengan segera menjauhkan tubuhnya. Ia juga merasa malu karena pria itu menolaknya secara terang-terangan di hadapan asisten pribadinya.
“Jimmy.” Panggil Alan. Lembaran kertas yang dipegangnya telah berpindah ke atas meja.
“Ya, Tuan.” Jawab Jimmy cepat. Ia yang sedari tadi berdiri di dekat pintu bergegas menghampiri Alan.
“Salin kontrak tersebut dan simpan yang asli untukku.” Alan berujar datar. Jam makan siang telah tiba dan wanita yang sekarang ini duduk tak jauh darinya tak berniat sedikit pun beranjak pergi.
“Baik.”
“Mr. Drax, apa setelah ini kau ada acara? Kalau bisa, aku ingin kita—” Lizabeth yang belum sempat menyelesaikan ucapannya mau tak mau harus diganggu oleh suara ketukan pelan pada pintu ruangan kerja Alan. Decakan pelan terdengar dari mulutnya.
Jimmy yang baru saja ingin menyalin isi di dalam kontrak yang Alan perintahkan padanya dengan cepat melangkah menuju pintu. Membukanya pelan dan terkejut saat melihat dua sosok yang berdiri di hadapannya sembari tersenyum simpul.
“Nona.” Ucap Jimmy senang. Sepasang mata birunya bersinar indah ketika melihat Alex menatapnya dengan ekspresi lucu.
__ADS_1
“Apa aku mengganggu?” Bisik Bianca. Ia sengaja meminta Jimmy untuk tak memberitahu Alan perihal kedatangannya.
“Tidak. Tuan baru saja selesai membahas perihal kontrak kerja samanya.” Jimmy menjawab ramah. Bibirnya tersenyum lebar ketika melihat Alex melambai-lambaikan tangan, meminta digendong olehnya.
“Jimmy, siapa yang datang?” Tanya Alan. Merasa aneh melihat Jimmy berdiri cukup lama di depan pintu tanpa membukanya lebar-lebar.
“Alan.” Ucap Bianca seraya menengokkan sedikit kepalanya ke dalam.
“Sayang!” Alan berseru senang melihat wanita yang dicintainya datang. Ia segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat menghampiri Bianca.
“Aku membawakan makan siang untukmu.” Bianca menyerahkan tas yang berisikan beberapa kotak makanan pada Jimmy dan menyuruh pria itu untuk menatanya di atas meja agar mereka bertiga bisa makan bersama.
“I love you.” Alan berujar senang. Ia mendaratkan kecupan singkat di bibir Bianca dan segera mengambil alih Alex ke dalam gendongannya.
“Daddy....” Alex memanggil ayahnya dengan suara lucu. Yang langsung membuat Alan mengecup gemas kedua pipinya.
“Di mana Beatrice?” Tanya Alan saat tak melihat kehadiran putri kecilnya.
“Tertidur.” Jawab Bianca singkat. Ia melirik sekilas wanita yang tadi dilihatnya masuk ke ruangan tersebut.
“Mr. Drax.” Alan yang mendengar panggilan Lizabeth baru tersadar kalau wanita itu masih bersama mereka.
“Perkenalkan, dia istriku, Bianca.” Ucap Alan memperkenalkan Bianca.
“Lizabeth.” Balas wanita itu.
“Sayang, apa aku mengganggumu? Aku dan Alex tak masalah kalau harus pulang sekarang.” Bianca berujar pelan sembari menatap Alan sedih.
“Apa? Tidak. Tidak sama sekali. Urusan kami berdua telah selesai sedari tadi.” Alan menjawab cepat dan kembali mengecup kening Bianca. Hingga tanpa sadar membuat Lizabeth yang melihatnya mengepalkan tangan.
“Mr. Drax, aku harus pergi sekarang.”
“Aku akan menyuruh Jimmy mengantarkan salinan kontrak kerja sama kita ke kantormu.” Alan berujar tak acuh. Ia tengah sibuk bermain bersama Alex.
Lizabeth berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut dengan hati dongkol. Sekalipun tahu Alan telah menikah, ia tetap berniat mendekati pria itu.
Namun nyatanya, Alan sangat mencintai istrinya. Jauh lebih besar dari dugaannya.
***
“Fiona.” Jane yang hari ini kembali datang mengunjungi Fiona berteriak lembut memanggil nama wanita itu setelah berada di dalam rumah. Pintu tidak dikunci. Hal yang sangat jarang terjadi bahkan ketika mereka masih tinggal bersama.
“Jane!” Fiona berseru senang saat melihat Jane berada di ruang tengah. Ia berjalan pelan menghampirinya lalu memeluknya singkat.
“Aku langsung masuk begitu saja karena pintu tidak dikunci.”
__ADS_1
“Alice.” Fiona berteriak pelan memanggil Alice. Yakin jika wanita itu masuk begitu saja ke dalam rumah tanpa menguncinya.
“Kau membutuhkan sesuatu?” Alice berujar malas. Ia tersenyum simpul saat melihat Jane—yang menurutnya merupakan versi wanita dari Jimmy.
“Apa kau lupa mengunci pintu? Bagaimana kalau ada pencuri yang masuk?” Kesal Fiona. Semakin hari, sikap asisten rumah tangga itu menjadi sangat kurang ajar.
“Aku lupa.” Jawab Alice tak peduli. Ia bergegas kembali ke dapur bahkan sebelum Fiona mengizinkannya.
“Wanita itu.” Rutuk Fiona seraya berusaha menahan marah.
“Bukankah kau sudah menemukan asisten rumah tangga yang baru?”
“Suaminya sedang sakit dan baru bisa mulai bekerja seminggu kemudian.” Sejujurnya, Fiona sudah sangat tak sabar ingin mengganti Alice. Jimmy telah menyetujuinya dan pria itu juga tidak akan pernah berani menolak permintaannya.
Jane yang melihat wajah memberengut Fiona hanya bisa tersenyum. Hal yang sangat jarang dilihatnya.
“Aku berharap kalian berdua selalu sehat.” Ucap Jane tulus sambil mengelus lembut perut Fiona.
***
“Apa kau masih akan terus bertemu dengannya?” Tanya Bianca pada Alan. Mereka berdua sedang menikmati segarnya rendaman air hangat di dalam jacuzzi.
“Siapa?” Alan bertanya dengan nada tak mengerti.
“Wanita itu.” Bianca menjawab malas.
Alan yang mendengarnya sontak tersenyum simpul.
“Kau cemburu?” Goda Alan. Ia mendaratkan kecupan lama di punggung Bianca yang terekspos. Lalu menyesapnya kuat hingga meninggalkan jejak kemerahan.
“Tidak.” Ketus Bianca. Ekspresi wajahnya menunjukkan hal yang berbanding terbalik dengan ucapannya tadi.
“Sayang, kau tahu betul kalau aku sangat-sangat mencintaimu. Sampai melirik wanita lain pun enggan.”
Kali ini, Alan menggigit kecil bahu Bianca sembari mengeratkan pelukannya dari arah belakang.
“Benarkah?” Bianca segera berbalik seraya menempelkan sebelah tangannya pada pipi Alan. Lantas mendekatkan wajahnya untuk menjangkau bibir pria itu.
Alan mengangguk mantap disela-sela tautan bibir mereka berdua. Kedua tangannya bergerak cepat menuju dada Bianca. Menangkupnya lembut lalu meremasnya pelan.
“Alan.” Gumam Bianca. Tubuhnya tak lagi berdaya di dalam kungkungan suaminya.
Tanpa menghentikan permainannya pada dada Bianca, Alan menggerakkan sebelah tangannya menuju bagian bawah tubuh wanita itu.
“Sayang.” Bisik Alan. Ia mencium sekilas daun telinga Bianca sembari memainkan kedua tangannya pada tubuh bagian atas dan bawah istrinya secara bersamaan.
__ADS_1
Malam ini, akan kembali menjadi malam yang panjang dan indah bagi keduanya. Juga melelahkan bagi Bianca.