
Sudah satu jam setengah Alan pergi namun belum juga kembali. Terkadang, Bianca menatap pintu kamar, berharap menemukan sosok pria itu. Alan memang telah memberitahunya jika ia tak seorang diri karena Sofie berada di bawah. Berjaga-jaga jika ia membutuhkan sesuatu. Namun yang jadi masalahnya adalah Bianca yang enggan untuk beranjak sedikit pun.
“Bianca.” Panggil Alan yang baru saja sampai di lantai dua rumahnya.
Bianca yang tengah tertunduk sontak mendongakkan kepalanya dan memenukan pria itu tengah berjalan menghampirinya seraya tersenyum.
“Alan.” Gumam Bianca. Wajahnya mendadak ceria.
“Maaf membuatmu menunggu.” Ucap Alan seraya mengecup kening Bianca lembut. Bianca bisa langsung merasakan perasaan hangat mengaliri seluruh tubuhnya.
Tanpa Alan duga, Bianca secara tiba-tiba memeluknya yang masih dalam posisi berdiri. Ia bahkan belum sempat mengganti bajunya. Setelah kejadian yang dialami oleh Bianca, istrinya itu mendadak berubah manja. Dan Alan, tentu saja sangat menyukainya.
“Ada yang ingin bertemu denganmu.” Ucap Alan yang membuat Bianca mendongak. Mata coklat wanitanya itu menatap penasaran. Alan bahkan tak sanggup menahan dirinya untuk tidak mengecup bibir Bianca gemas.
“Siapa?” Tanya Bianca setelah Alan menjauhkan bibirnya.
Alan tidak menjawab. Perlahan, ia menggeser sedikit tubuhnya yang menghalangi pintu.
“Jimmy.” Bianca berucap senang ketika tubuh Jimmy muncul dari balik pintu. Ia bahkan dengan segera bangkit dari atas tempat tidur untuk menghampiri Jimmy. Lalu memeluknya sekilas.
Alan dan Jimmy sama-sama menatap Bianca dengan mata membulat. Kaget dengan tindakan wanita itu.
“N–Nona.” Jimmy berucap gugup seraya menatap Bianca yang tengah tersenyum lebar padanya. Seakan baru teringat dengan apa yang dibawanya, Jimmy segera mengangkat tangan kanannya yang tengah memegang segelas milkshake cokelat.
“Terima kasih.” Bianca berucap penuh ketulusan seraya mengambil milkshake tersebut. Meminumnya dengan tak sabaran. Sungguh, ia sangat merindukan minuman coklat tersebut.
Jimmy tanpa sadar mengangkat sebelah tangannya untuk mengelus pucuk kepala Bianca yang tengah sibuk menyeruput milkshake coklat yang ia berikan. Bahkan tak sadar jika Alan tengah menatapnya tajam.
“Jimmy.” Panggil Alan. Nada suaranya memang terdengar tenang tapi Jimmy tahu betul jika pria itu tengah memperingatkannya.
Jimmy dengan cepat menjauhkan tangannya seraya menatap Alan dengan kepala menunduk. Meminta maaf secara tak langsung. Alan tersenyum simpul.
“Apa Nona baik-baik saja?” Jimmy bertanya dengan suara pelan. Takut jika pertanyaannya membuat Bianca kembali mengingat kejadian menyakitkan yang dia alami.
Bianca tidak langsung menjawabnya. Ia hanya menatap lekat pada Alan dan juga Jimmy secara bergantian.
“Aku baik-baik saja. Terima kasih untuk kalian berdua.” Ucap Bianca lembut. Jika boleh jujur, Bianca terkadang masih sering merasa takut apalagi ketika Alan meninggalkannya seorang diri saat tengah malam karena pergi ke toilet. Ia juga masih bisa mengingat dengan jelas rasa sakit akibat gigitan yang Rico berikan. Tapi Bianca tidak ingin menunjukkan semuanya. Ia tidak ingin membuat Alan serta Jimmy khawatir terlalu lama. Selain Lily, Bianca bersyukur karena Alan dan Jimmy lah yang berada di sisinya.
__ADS_1
“Maafkan aku.” Bianca tersentak kaget ketika mendengar pemintaan maaf mendadak dari Jimmy.
“Untuk apa?” Tanya Bianca seraya melangkah menghampiri tempat tidur. Memilih kembali duduk karena merasa lelah jika harus berdiri terlalu lama.
“Seandainya saja aku bergerak sedikit lebih cepat, nona pasti tidak ak–tidak akan mengalami ini semuanya.” Jimmy berucap lirih seraya tertunduk dalam. Tangannya mengepal kuat. Merasa bersalah karena ia tidak berada di sisi Bianca waktu itu.
“Jimmy, aku baik-baik saja, jika bukan karena kalian berdua, aku–aku tidak tahu nasibku akan seperti apa saat ini.” Bianca berucap dengan suara parau. Dadanya kembali terasa sesak. Memikirkan seperti apa nasibnya jika saja Alan dan Jimmy tidak datang untuk menyelematkannya.
“Terima kasih karena kalian berdua mau berkorban untukku.” Bianca berucap lembut seraya tersenyum tulus. Sungguh, ia merasa bahagian karena akhirnya bisa segera terlepas dari jerat mimpi buruk yang Rico lakukan.
“Nona.”
“Stop!” Alan sontak menghentikan pergerakan Jimmy yang ingin kembali mengelus rambut istrinya. Mataya mendelik tak suka sehingga membuat Jimmy melangkah mundur dengan enggan.
Bianca kembali tersenyum. Lalu berubah menjadi tawa ketika melihat Alan dan juga Jimmy. Padahal ia tak masalah sama sekali jika Jimmy hanya ingin mengelus rambutnya atau pun memeluknya sekilas.
Mendengar tawa Bianca, Alan segera mengalihkan perhatiannya pada wanita itu. Matanya menatap Bianca lekat. Dan ini adalah kali pertama sebuah tawa menghiasi rumahnya.
“Aku akan meminta Sofie untuk membawakan makanan.” Ucap Jimmy seraya melangkah keluar.
Setelah Sofie membawakan beberapa jenis makanan ke kamar, Bianca, Alan dan Jimmy akhirnya memutuskan untuk makan bersama. Awalnya, Jimmy menolak. Namun karena Bianca mengancamnya jika tidak akan mau berteman lagi dengannya, Jimmy akhirnya memilih untuk mengalah. Padahal selama mengenal Jimmy, Alan tahu betul jika pria itu tidak suka berdekatan dengan lawan jenis.
“Alan, aku bisa sendiri.” Bianca kembali memberontak di dalam pelukan Alan ketika pria itu menggendongnya ala bridal style dari dalam kamar mandi. Setelah Jimmy pulang karena hari telah beranjak gelap, Bianca memutuskan untuk mandi. Namun karena Alan khawatir terjadi sesuatu padanya, Bianca akhirnya membiarkan Alan mandi bersamanya.
“Aku tak ingin terjadi sesuatu padamu.” Ucap Alan tegas. Ia meletakkan tubuh Bianca di atas tempat tidur dengan sangat hati-hati.
“Aku tidak selemah itu.” Seru Bianca tak terima. Wajahnya memberengut jengkel.
Alan tertawa kecil seraya berjalan menghampiri lemari. Berniat mengambil pakaian tidur untuknya dan juga Bianca.
“Kau mau apa?” Tanya Bianca bingung ketika Alan kembali duduk di dekatnya seraya masih memegang baju tidurnya.
“Memakaikan baju untukmu.” Jawab Alan santai. Tangannya sudah bergerak untuk membuka jubah mandi yang Bianca kenakan.
“Aku bisa sendiri.” Tolak Bianca seraya menahan tangan Alan. Merasa malu karena ia bukan lagi anak kecil.
“Bianca.” Alan berucap lirih seraya menatap Bianca intens. Bianca menyerah. Ia tahu jika Alan hanya membuat alasan karena ingin kembali melihat kondisi tubuhnya.
__ADS_1
Dengan pelan, Alan membuka jubah mandi yang Bianca kenakan. Matanya dengan sigap menatap tanda kebiruan di bahu kiri istrinya yang telah samar. Hatinya kembali berdenyut sakit.
“Alan.” Panggil Bianca seraya tersenyum.
Alan takmenjawab. Ia hanya memeluk tubuh Bianca erat.
“Mau menolongku?” Tanya Bianca seraya mengelus rambut Alan.
“Katakan apa pun yang kau inginkan.” Jawab Alan cepat.
“Aku ingin kau menghapus semua kenangan menyakitkan yang dia berikan padaku.” Bisik Bianca seraya menatap lekat iris hitam suaminya.
“Kau … yakin?” Alan bertanya ragu. Takut jika apa yang ia lakukan nanti justru akan membuat Bianca semakin tersakiti.
Bianca mengangguk dan membiarkan Alan mengecup bibirnya.
Alan dengan lembut memberikan lumatan-lumatan kecil pada bibir Bianca. Kedua tangannya ia tangkupkan pada pipi Bianca sementara wanita itu mengalungkan tangannya pada leher Alan. Sesekali, suara kecupan mereka berdua terdengar.
Setelah menjauhkan bibirnya dari bibir Bianca, kini Alan beralih untuk mengecup bahu istrinya. Lalu meletakkan giginya pada bekas gigitan di tubuh Bianca yang telah memudar. Bianca sontak memejamkan kedua matanya. Rasanya benar-benar berbeda ketika Alan yang melakukannya. Tubuhnya seperti dialiri sengatan aneh yang memabukkan.
“Bianca.” Panggil Alan.
“Alan.” Bianca memanggil lirih nama Alan seiring dengan detak jantungnya yang menggebu. Alan menjangkau paha dan betisnya. Dan melakukan hal yang sama. Alan meninggalkan bekas gigitan pada tempat-tempat yang telah disentuh oleh Rico.
Bianca mengulurkan sebelah tangannya pada Alan—meminta pria itu untuk mendekat. Setelah Alan mendekat, Bianca segera memeluk leher Alan. Bianca tak bisa berbohong, ia juga merindukan sentuhan Alan pada tubuhnya.
Alan tersenyum di tengah tautan bibir mereka.
“May i?” Tanya Alan lembut seraya menatap Bianca intens. Perlahan, Bianca mengangguk.
Alan kembali menenggelamkan wajahnya di dalam ceruk leher Bianca. Mengingat jika sudah cukup lama ia tak menyentuh wanitanya. Alan hanya tak ingin bertindak gegabah yang justru akan melukai Bianca.
“Alan.” Panggil Bianca. Ia ingin kembali meyakinkan dirinya lagi jika yang saat ini sedang menyentuhnya benar-benar Alan. Prianya. Bukan orang lain.
“Ya.” Jawab Alan seraya menatap Bianca lembut.
Perlahan, tangannya kembali menyentuh setiap bagian pada tubuh istrinya. Malam ini akan kembali menjadi malam yang panjang juga penuh cinta untuk mereka berdua.
__ADS_1