
Setelah memarkirkan mobil putihnya di depan sebuah gedung rumah sakit elit, Jimmy segera menggendong tubuh Christine dan membawanya masuk ke dalam. Di belakangnya, Fiona ikut berlari dengan wajah yang masih memucat. Pikiran wanita itu kacau. Ditambah dengan semua keburukan yang bisa saja membuat ibunya semakin menderita.
Dua orang perawat wanita dengan sigap menghampiri Jimmy seraya menyuruh pria itu untuk meletakkan tubuh ibu Fiona di atas kereta dorong pasien. Ia meminta sang perawat untuk langsung membawa Christine ke dalam IGD. Jimmy tak peduli jika ia harus membayar mahal. Saat ini, keselamatan ibu Fiona adalah segalanya.
“Mom.” Fiona berucap lirih dengan tubuh bergetar. Sedari tadi, ia tak mengatakan apa pun. Bahkan selama dalam perjalanan menuju rumah sakit, Fiona lebih memilih untuk terus menatap wajah serta tubuh kurus ibunya.
“Tenanglah.” Bisik Jimmy. Ia segera menarik Fiona ke dalam pelukannya seraya mengecup pucuk kepala wanita itu lembut. Ia tahu apa yang wanita itu rasakan. Melihat satu-satunya keluarga serta orang paling berharga yang kita miliki menderita, rasanya benar-benar menyakitkan.
“Ak–aku seharusnya menemani dia.” Fiona berucap dengan suara tercekat. Dadanya semakin dipenuhi oleh rasa sesak. Sungguh, ia belum sanggup jika harus kehilangan ibunya.
Setelah menunggu selama hampir satu jam, seorang dokter pria yang sudah cukup tua keluar dari ruangan tersebut.
“Dokter, bagaimana keadaan ibuku?” Fiona bertanya tak sabaran seraya menatap dokter itu takut. Beruntung Jimmy masih menggenggam erat tangannya.
“Kita harus segera memindahkannya ke ruang ICU.” Jawab sang dokter. Fiona mematung. Jika harus dipindahkan ke ruang ICU, keadaan ibunya pasti jauh dari kata baik-baik saja.
“Tolong segera pindahkan dia.” Jimmy berucap tegas seraya menatap dokter itu lekat. Selama masih bisa, ia akan terus berusaha untuk menyelamatkan Christine.
“Baiklah.” Sang dokter mengangguk mengerti seraya kembali melangkah masuk ke dalam ruang IGD tempat Christine berada. Dan memberitahu perawat yang menemani ibu Fiona agar segera memindahkannya ke ruangan ICU.
“Tolong ikut dengan saya.” Ucap sang dokter setelah kembali dari ruang tersebut. Di belakangnya, Jimmy dan Fiona mengikuti dalam diam. Jimmy hanya bisa berharap, jika kehadirannya bisa membuat Fiona merasa sedikit lebih tenang.
***
Bagai disambar petir, Fiona merasa jika tubuhnya saat ini tak lagi mampu untuk merasakan apa pun. Adam—dokter yang memeriksa Christine, mengatakan padanya jika ibunya bukan hanya sekadar batuk biasa tapi juga mengidap Pneumonia atau paru-paru basah. Dan yang lebih parahnya lagi, diusia ibunya yang sudah tua serta kondisi tubuh yang lemah, bakteri penyebab penyakit tersebut sudah tersebar luas dan sulit untuk disembuhkan.
Sekarang Fiona baru ingat jika ia pernah mendapati bercak darah pada baju yang ibunya kenakan. Dan saat ia bertanya, Christine hanya menjawab jika itu hanyalah noda saus tomat..
“Bagaimana ini?” Fiona berucap dengan bibir bergetar. Ia tak ingin kehilangan ibunya. Satu-satunya keluarga yang ia miliki.
“Tenanglah.” Ucap Jimmy lembut. Hatinya juga terasa sakit ketika melihat keadaan wanita yang disukainya. Ia bahkan tak bisa membayangkan akan bagaimana kehidupannya ketika ia kehilangan Jane.
Di dalam pelukan Jimmy, Fiona terisak kecil seraya menatap wajah ibunya dari luar kamar tempatnya dirawat. Kedua mata wanita itu masih terlelap. Dan tak menunjukkan tanda-tanda akan segera terbuka.
***
Bianca yang baru saja pulang, dikejutkan dengan beberapa pria yang diyakininya hampir seumuran dengan Alan, tengah duduk santai di sofa ruang tamu. Kedua matanya segera menatap sekitar untuk mencari keberadaan Alan. Hari ini, ia pulang dengan menaiki bus karena Jimmy sedang meminta izin dan ia juga sudah melarang Alan untuk menjemputnya.
“Bianca.” Alan yang baru saja berada di ruang tamu setelah mengganti pakaian kerjanya, segera mengulurkan tangannya seraya meminta Bianca untuk melangkah menghampirinya.
“Perkenalkan, mereka semua temanku,” ucap Alan seraya menatap keempat orang pria di hadapannya.
Keempat pria itu tersenyum ramah seraya memperkenalkan dirinya pada Bianca—Franz, Ben, Matthew dan Eric. Yang dijawab Bianca dengan senyuman simpul karena sedang tak paham apa yang sebenarnya sedang terjadi.
“Mereka semua adalah arsitek.” Sambung Alan seraya mengajak Bianca duduk di sofa.
“Arsitek? Untuk apa?” Bisik Bianca seraya menatap Alan bingung. Tak lama, ia segera mengalihkan perhatiannya untuk menatap keempat pria berwajah tampan di hadapannya.
__ADS_1
“Bukankah kau menyukai rumah Robin? Aku berniat untuk membangunkan yang jauh lebih besar lagi untukmu.” Jawab Alan santai.
“Ap–Apa?” Bianca memekik kaget seraya menatap Alan tak percaya. Membangunkan rumah yang jauh lebih besar untuknya? Pria itu pasti sudah gila. Rumah yang saat ini Alan tinggali saja sudah lebih dari sekadar besar. Apalagi jika ingin membangunkannya yang lebih besar dari rumah Robin.
“Franz, cepat tunjukkan padanya.” Perintah Alan seraya menatap pria bertubuh jangkung dan berkulit sedikit hitam. Matanya berwarna baby blue.
“Pilihlah yang kau suka.” Franz segera menunjukkan layar laptopnya pada Bianca yang menampilkan beberapa desain rumah untuk wanita itu pilih. Kedua mata Bianca sontak membulat tak percaya. Alan bukannya ingin membangun sebuah rumah tapi lebih tepatnya, sebuah wahana bermain.
“Franz yang bertugas untuk merancang desain rumah dan mengawasi semuanya. Sementara yang lainnya, akan fokus pada tugas mereka masing-masing.
“Aku yang akan mengurus bagian halamannya.” Seru seorang pria bertubuh tegap senang. Yang memperkenalkan dirinya sebagai Ben.
“Dan aku yang akan merancang ketiga kolam renangnya.” Tubuh Bianca kembali diam tak berkutik ketika mendengar ucapan Eric—pria putih berwajah oriental. Tiga? Setahunya, orang lain hanya memiliki satu kolam renang.
“Dan sisanya, aku yang akan mengurusnya. Dari pemilihan bahan bangunan sampai isi-isi rumah kalian.” Matthew—pria yang memiliki panjang rambut sebahu dan sedikit ikal berucap mantap. Yakin betul akan kemampuannya.
Bianca hanya bisa menutup rapat-rapat mulutnya. Ia tak bisa mengatakan apa pun lagi. Sedangkan Alan tampak santai menikmati segelas Americano hangat miliknya.
“Kau yakin?” Tanya Bianca seraya menatap Alan takut. Ia masih tak percaya akan hal yang baru saja didengarnya
“Bukankah sudah kukatakan akan melakukan apa pun untukmu? Juga memberikan semua yang kau inginkan?” Bianca sontak menunduk dengan pipi bersemu merah. Apalagi ketika keempat orang pria di hadapannya sedang berusaha menahan tawa saat mendengar ucapan Alan.
Alan bersikap tak acuh. Teman-temannya memang tahu betul jika ia bukanlah pria bermulut manis. Tak heran mereka berempat berusaha keras menahan tawa saat mendengar ucapannya.
“Bukankah rumahmu yang sekarang sudah lebih dari cukup?” Tanya Bianca seraya menatap Alan lekat. Rumah pria itu lebih dari cukup untuk mereka tinggali berdua.
“Untuk apa?” Bianca kembali bertanya tak mengerti. Keempat pria yang tengah bersama mereka juga menanti jawaban Alan dengan penuh rasa ingin tahu.
“Untuk anak-anak kita nanti.” Jawab Alan santai seraya menatap Bianca intens. Ucapannya penuh kesungguhan. Sekali lagi, Bianca merasa jika wajahnya kembali memerah. Namun hatinya bergejolak penuh kebahagiaan di dalam sana. Sedangkan Franz, Eric, Matthew dan Ben tercengang di tempat mereka masing-masing ketika mendengar ucapan Alan.
Mereka memang saling mengenal karena sering menghabiskan waktu senggang di tempat yang sama—bar langganan Alan. Dan juga, Franz lah yang merancang rumah yang saat ini ia tinggali bersama Bianca. Hanya dalam kurun waktu lima bulan, semuanya sudah selesai.
“Wow.” Ucap keempatnya secara bersamaan. Dengan cepat, Alan menatap mereka tajam sembari memberikan isyarat untuk segera pulang agar ia dan Bianca bisa berduaan.
“Kami pulang dulu.” Ucap Ben. Mereka segera bangkit dari duduk masing-masing dan berjalan menuju pintu dengan di temani Alan.
Setelah ditinggal seorang diri, Bianca segera memegang jantungnya yang tengah berdegup kencang. Ia kembali teringat pada ucapan Alan tadi.
Anak-anak kita?
Ya Tuhan.
Bianca tak pernah sebahagian ini.
***
Bianca yang baru saja keluar dari kamar mandi dan hanya mengenakan bathrobe berwarna pink sebatas lutut, menatap Alan dengan sebelah kening terangkat saat mendapati pria itu tengah duduk bersandar di atas tempat tidur. Tak lama, seringain nakal terukir di sudut bibirnya.
__ADS_1
“Alan, aku lelah.” Ucap Bianca seraya melangkah menghampiri Alan. Ia menatap pria itu lekat dengan ekspresi penuh kesungguhan.
“Aku bahkan belum melakukan apa-apa.” Seru Alan. Secara tiba-tiba, ia menarik sebelah tangan Bianca dan membuat wanita itu terjatuh di atas pahanya, dengan posisi telungkup.
Bianca mendongak, berniat untuk melayangkan protes namun bibir Alan sudah lebih dulu membungkam bibirnya. Mengecupnya lembut.
“Aku merindukanmu.” Bisik Alan seraya menangkup kedua pipi Bianca. Iris hitamnya menatap wanita itu penuh cinta dan juga kasih sayang. Dan Alan tak pernah menyesal saat Bianca lah yang membuatnya bertekuk lutut. Karena memang hanya wanita itulah yang pantas untuk mendapatkannya.
“Aku juga merindukanmu.” Balas Bianca tanpa menatap Alan.
Perlahan, Alan mengubah posisi Bianca menjadi terlentang setelah lebih dulu melepas jubah mandi yang wanita itu kenakan. Matanya menatap lekat setiap inci dari tubuh Bianca yang telah menjadi miliknya. Satu kecupan Alan daratkan pada kening Bianca.
“Apa kau yakin?” Tanya Bianca saat Alan ingin mengecup bahunya.
“Apa?” Ucap Alan tak mengerti.
“Itu—tentang anak.”
“Tentu saja. Pria mana yang tak ingin memiliki anak bersama wanita yang dicintainya?” Alan berucap penuh kesungguhan tanpa melepaskan pandangannya dari Bianca. Saat ini, Alan hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersama Bianca. Dan ketika wanita itu telah cukup dewasa, ia tak akan lagi melepaskan Bianca dan membuat wanita itu terus mengandung anaknya.
“Aku ingin punya banyak anak.” Bisik Alan seraya mengecup bahu Bianca. Ia ingin rumah baru mereka nanti penuh dengan canda tawa dari anak-anak mereka. Cinta, kasih sayang serta kebahagiaan yang tak ia dan Bianca dapatkan dari kedua orang tua mereka, tak boleh lagi terulang pada anak-anaknya nanti.
“Tapi sekarang, aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu.” Alan berucap lembut seraya kembali memenjara bibir Bianca. Melumatnya pelan lalu menyesapnya dengan sedikit kuat.
Bianca tersenyum senang. Ia kembali merasakan sentuhan lembut dari pria itu. Dan Bianca merasa, jika kali ini, Alan menyentuh tubuhnya layaknya barang yang begitu berharga—penuh kehati-hatian.
“Alan.” Panggil Bianca. Kedua tangannya terulur ke depan—ia ingin memeluk Alan. Alan tersenyum, dengan cepat, ia menyambut uluran tangan Bianca.
Mereka berpelukan dengan cukup lama. Tapi, ketika miliknya secara tak sengaja bersentuhan dengan bagian sensitif Bianca di bawah sana, Alan segera menjauhkan tubuhnya lalu beralih menatap Bianca dengan tatapan memohon.
“Apa ini artinya kita sudah berbaikan?” Goda Bianca seraya tertawa kecil. Bercinta setelah bertengkar? Benar-benar menakjubkan.
Alan mengangguk pelan seraya menyeringai nakal. Dengan gerakan menggoda, Alan menggerakkan jarinya di atas perut Bianca.
“Sayang.” Bisik Alan. Secara perlahan, ia menautkan tubuh mereka berdua. Lalu kembali berciuman panas.
Setelah tautan bibir mereka terlepas, Bianca segera memeluk leher Alan dan mendekatkan bibirnya yang sedikit membengkak ke dekat telinga pria itu. Mengecup lalu menggigitnya sebentar.
“I Love You.” Bisik Bianca seraya tersenyum simpul.
“Apa? Katakan sekali lagi.” Ucap Alan cepat. Ia ingin meyakinkan dirinya kembali jika indra pendengarannya masih berfungsi dengan normal.
“Aku mencintaimu.” Ulang Bianca seraya mengecup singkat bibir Alan. Pria itu masih terdiam seraya menatap Bianca tak percaya. Untuk yang pertama kalinya, ia mendengar kalimat cinta dari bibir wanita itu.
Kedua sudut bibir Alan tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman penuh kebahagiaan. Perasaan hangat sontak mengaliri seluruh tubuhnya. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk memegang salah satu pipi Bianca.
Kali ini, Alan benar-benar tak akan membiarkan Bianca lepas. Ia mencintai wanita itu. Pun sebaliknya. Dan tak ada yang lebih membahagiakan lagi ketika menghabiskan waktu bersama orang yang dicintainya.
__ADS_1
Alan ingin terus bersama Bianca. Merasakan kehangatan tubuh wanita itu. Mendengarkan detak jantungnya ketika kulit mereka bersentuhan. Serta memberikan tanda kepemilikan pada setiap bagian tubuh wanita itu.