Married With The Devil

Married With The Devil
Hamil?


__ADS_3

Alan kembali menatap takjub pada Bianca yang tengah duduk di sofa dan baru saja menandaskan dua potong pizza berukuran besar. Ketika jam makan siang baru saja tiba, Bianca dengan cepat mengambil ponselnya yang berada di atas meja lalu segera menelfon salah satu restoran pizza langganannya. Tak tanggung-tanggung, wanita itu langsung memesan satu box pizza berukuran besar dengan toping jamur, sosis, ayam serta lelehan mozarella yang berlimpah. Juga dua pasta dan dua gelas besar minuman bersoda.


“Bianca.” Panggil Alan yang masih berada di meja kerjanya.


“Hm.” Jawab Bianca seraya menatap Alan. Ia kembali memasukkan sesendok penuh Mac N’ Cheese ke dalam mulutnya.


“Apa kau yakin tidak terjadi sesuatu padamu?” Tanya Alan seraya menatap istrinya khawatir. Akhir-akhir ini, ada beberapa perubahan pada wanita itu. Terkadang, Bianca menjadi lebih sensitif dari biasanya padahal ia hanya menggoda wanita itu. Tak jarang, ia mendapati Bianca tertidur ketika sedang bekerja. Dan yang terakhir, nafsu makan wanita itu meningkat drastis. Bianca yang biasanya makan dalam porsi normal, kini mampu menghabiskan satu porsi besar makanan untuk tiga orang, hanya seorang diri.


“Aku baik-baik saja.” Jawab Bianca santai. Satu gelas minuman bersoda miliknya telah habis.


Saat ini, Bianca hanya bersama Alan karena Jimmy memilih untuk pulang dan makan siang bersama Jane serta Fiona. Sementara Alan memutuskan untuk menunggu sampai Bianca menyisakan sedikit makanan untuknya.


“Tapi aku tetap saja khawatir.” Ucap Alan lembut setelah berada di dekat Bianca. Sebelah tangannya mengelus sudut bibir wanita itu.


Bianca hanya mengedikkan bahu tak acuh sebagai sebuah jawaban. Sejujurnya, ia juga merasa sedikit aneh akan perubahan nafsu makannya. Namun di sisi lain, Bianca bersyukur karena bentuk tubuhnya tetap saja sama. Tak peduli sebanyak atau sesering apa pun ia makan.


“Satu box pizza berukuran besar ini bisa dinikmati tiga sampai empat orang. Tapi kau mampu menghabiskannya seorang diri.


“Alan, aku baik-baik saja.” Ucap Bianca jengkel. Alan terus saja menanyakan hal yang sama. Padahal ia juga sedikit tersiksa ketika perutnya terus saja terasa lapar. Seakan, makanan yang baru dicernanya, hilang tak bersisa.


“Kau seperti memberi makan banyak orang di dalam perutmu.” Seru Alan santai seraya tersenyum geli. Pria itu kini beralih untuk menghabiskan suapan terakhir creamy salmon fettuccine milik Bianca.


Tanpa Alan sadari, ucapannya barusan sontak membuat Bianca terdiam seraya menatapnya lekat. Mendadak, degup jantung Bianca berubah menjadi tak normal. Sekarang ia baru tersadar, tamu bulanannya sudah cukup lama belum datang—seperti biasa diwaktu normalnya. Ditambah, perutnya beberapakali kram walaupun tak terlalu sakit. Hanya ada satu kata yang terlintas di benaknya: ia hamil.


“Sayang!” Alan berjengit kaget ketika Bianca secara tiba-tiba menjatuhkan gelas minuman yang dipegangnya. Beruntung tak membasahi pakaian Bianca pun miliknya.


Bianca masih setia mematung. Otaknya tengah sibuk mencerna kalimat yang barusan muncul di benaknya. Hamil? Benarkah ia hamil? Apakah ia harus langsung memberi tahu Alan? Tidak! Bianca tak ingin memberitahu Alan dan membuat pria itu berharap pada sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Ia ingin memastikannya terlebih dulu. Sebab, ia tahu betul seberapa besar keinginan Alan untuk memiliki keluarga yang penuh dengan kebahagiaan—bersama dirinya dan anak-anak mereka.


“Alan.” Panggil Bianca seraya menatap Alan intens. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk memegang pipi kiri pria itu.


“Kau tak apa-apa?” Tanya Alan. Setelah Bianca menyelesaikan makan siangnya, ia akan menyuruh Lucy untuk memanggil petugas kebersihan dan mengganti karpet di dalam ruangan kerjanya.


“Ya.” Jawab Bianca singkat seraya tersenyum lembut. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya pada Alan. Kedua matanya sontak terpejam ketika bibir mereka baru saja bertemu.

__ADS_1


Bianca mengecup bibir Alan dengan penuh kasih sayang. Tak lama, ia segera mengalungkan kedua tangannya pada leher Alan. Dan membuat pria itu dengan sigap memeluk pinggangnya.


Kali ini, ciuman keduanya terasa begitu berbeda. Alan dan Bianca hanya saling memberikan lumatan-lumatan kecil tanpa melakukan permainan lidah—seperti yang biasa mereka lakukan. Tak ada percikan gairah yang membuncah di dalamnya. Semuanya terjadi dengan penuh kelembutan.


“Bianca.” Bisik Alan. Ia beralih untuk menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher wanita itu. Mengecupnya lama sembari semakin merapatkan tubuh Bianca padanya. Menghirup aroma tubuh istrinya selalu membuat Alan merasa tenang.


“Aku mencintaimu.” Bisik Alan. Bianca benar-benar telah membuatnya bertekuk lutut. Alan bahkan tak tahu seperti apalagi ia harus mengungkapkan sebesar apa rasa cintanya pada Bianca.


“Je t’aime.” Balas Bianca seraya tersenyum simpul. Mereka kembali berciuman. Namun kali ini, Alan mulai menggerakkan lidahnya untuk menjamah seluruh bagian dalam mulut wanitanya. Memberikan sapuan serta pijitan-pijitan lembut di dalamnya. Atau tak jarang, ia memberikan gigitan kecil pada bibir bawah istrinya.


Bianca tak mau kalah, ia juga balas melakukan hal yang sama. Keduanya begitu larut. Bahkan sampai tak sadar jika Jimmy mungkin saja sudah kembali ke kantor. Dan ternyata, pria itu sudah hampir dua puluh menit berdiri tanpa suara di depan pintu ruangan Alan.


Jangankan untuk membuka pintu, mengetuk pun ia tak berani.


***


Jimmy dan Fiona kompak berdecak kagum ketika melihat Jane memakai gaun yang Bianca berikan. Mini dress berwarna light blue tersebut, cocok digunakan saat sedang berada di rumah atau pun jalan-jalan ke taman. Karena lebih tergolong ke dalam gaun kasual.


Sesering apa pun ia meminta pada Bianca untuk tak perlu merepotkan dirinya, wanita itu tak pernah sama sekali mendengarnya. Bukan karena Jimmy tak suka, tapi ia tahu betul jika Bianca pasti mengeluarkan uang yang tak sedikit untuk membelikan mereka bertiga hadiah.


“Apa kau ingin memakainya tidur?” Tanya Fiona seraya menatap Jane lekat. Jam memang telah menunjukkan pukul sembilan malam. Waktu di mana Jane biasanya sudah terlelap. Jane juga telah menghabiskan makan malam yang ia buatkan.


“Tunggu. Biarkan aku memotretmu dulu.” Ucap Jimmy cepat. Ia segera mengambil ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidur Jane. Keahliannya dalam mengambil gambar sudah mulai membaik. Selama ini, Jimmy tak pernah sama sekali menggunakan fitur-fitur canggih pada ponselnya. Hanya sekadar menelfon atau pun mengirim pesan singkat. Jika terpaksa, ia akan meminta bantuan Mark untuk mengajarinya.


“Untuk apa?” Tanya Fiona seraya beralih menatap Jimmy. Tak biasanya pria itu ingin memotret Jane.


“Aku ingin menunjukkannya pada nona Bianca.” Jawab Jimmy seraya tersenyum. Fiona mengangguk mengerti. Ia segera membantu Jane untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu menarik selimut sampai sebatas dada wanita itu.


“Selamat malam.” Ucap Jimmy dan Fiona secara bersamaan. Perlahan, Jimmy mendekat untuk mengecup kening Jane. Dan tak lama, wanita itu mulai menutup kedua matanya.


“Sekarang aku ingin melihatmu.” Ucap Jimmy pelan seraya menatap Fiona lekat. Ia tanpa ragu menggenggam tangan wanita itu dan mengajaknya untuk melangkah keluar.


“Melihat apa?” Tanya Fiona tak mengerti. Ia menutup pintu kamar Jane dengan sepelan mungkin agar tak mengganggu tidur lelap wanita itu.

__ADS_1


“Baju yang nona Bianca berikan untukmu.” Jawab Jimmy. Satu kecupan ia daratkan pada pucuk kepala wanita itu.


Fiona sontak terdiam dengan wajah merona merah. Tak menduga sama sekali jika Jimmy akan mengatakan hal seperti tadi dengan begitu santai.


“Tapi aku tak ingin ke mana-mana.” Seru Fiona cepat. Bianca memberikannya beberapa buah gaun dengan warna dan juga model yang berbeda. Dan semuanya terlihat begitu cantik dan elegan.


Jimmy terdiam. Ia lebih memilih untuk menatap Fiona intens.


“Tunggu aku di ruang tengah.” Ucap Fiona pada akhirnya. Ia menyerah. Melihat tatapan memohon Jimmy membuatnya tak berdaya. Dengan cepat, ia melangkah menuju kamarnya setelah lebih dulu mengecup bibir Jimmy sekilas.


Tak sampai lima belas menit, Fiona telah kembali. Ia berjalan pelan menghampiri Jimmy dan berdiri di depan pria itu.


“Fiona.” Jimmy tertegun ketika melihat Fiona.


Wanita itu mengenakan gaun pendek di atas lutut tanpa lengan berwarna putih, dengan bagian belakang yang sedikit panjang serta berpotongan dada rendah. Terlihat sederhana memang, tapi gaun putih tersebut membungkus serta mencetak tubuh Fiona dengan sangat pas dan juga jelas. Dan Jimmy, tak akan pernah membiarkan wanita itu mengenakannya di luar rumah.


“Jimmy.” Panggil Fiona. Pria itu masih setia terdiam.


Dengan cepat, Jimmy bangkit dari duduknya seraya mengalungkan sebelah tangannya pada pinggang wanita itu.


“Cantik.” Bisik Jimmy seraya mengecup hidung Fiona. Dan berhasil membuat wajah wanita itu merona merah.


“Jimmy—” Jimmy dengan cepat membungkam bibir Fiona. Mengecupnya dengan lembut diiringi dengan lumatan-lumatan kecil. Perlahan, Fiona mengalungkan kedua tangannya ke leher Jimmy sembari ikut memejamkan mata.


Jujur saja, ia selalu terbuai ketika Jimmy menyentuhnya. Tak pernah sekalipun Jimmy menyakitinya. Tak jarang, Jimmy selalu menanyakan apa yang ia inginkan. Atau seperti apa ia ingin disentuh oleh pria itu.


“Fiona.” Bisik Jimmy. Ia memeluk Fiona dengan sepenuh hati. Ia mencintai dan menyayangi Fiona dengan sangat. Dan bertemu dengan Fiona serta memiliki wanita itu di dalam kehidupannya adalah salah satu hadiah terindah yang pernah diterimanya. Dan Jimmy berharap, Jane juga merasakan hal yang sama.


Fiona sontak menenggelamkan wajahnya di dalam ceruk leher pria itu. Wajahnya merona malu. Apalagi jantungnya di dalam sana berdetak dengan degupan yang menyenangkan.


Tak lama, Fiona mengangguk pelan seraya mengecup leher Jimmy.


Malam ini, akan kembali menjadi malam yang mendebarkan untuk mereka berdua dengan kulit yang saling bersentuhan intens.

__ADS_1


__ADS_2