
Jimmy menatap cemas wajah pucat serta mata terpejam istrinya. Tadi, saat baru saja masuk ke dalam rumah karena ingin makan siang bersama, ia justru mendapati tubuh tak berdaya Fiona di dekat dapur. Beruntung tak terjadi sesuatu pada istri serta anaknya.
“Jimmy.”
“Sayang!” Jimmy segera menggenggam tangan Fiona dan mengelus lembut pipi wanita itu. Sepasang mata birunya masih menatap cemas bercampur takut.
“Aku baik-baik saja.” Fiona berucap menenangkan sembari tersenyum lemah. Ia berusaha tak membuat suaminya khawatir berlebihan.
“Aku tak ingin lagi terjadi sesuatu yang buruk pada kalian.” Jimmy menangkupkan kedua tangannya pada tangan Fiona lalu menempelkannya ke kening. Kedua matanya terpejam, dan tak lama berselang, tetesan bening jatuh membasahi pipinya.
Jimmy menangis dalam diam. Memikirkan semua kemungkinan terburuk yang bisa saja menimpa istri dan anaknya membuatnya benar-benar takut.
“Keputusanku sudah bulat, aku akan mencari asisten rumah tangga.”
“Tapi—”
“Fiona, kumohon mengertilah. Melihatmu kembali terpuruk adalah hal yang tak pernah kuinginkan terjadi lagi. Untuk kali ini saja, biarkan aku bersikap egois.” Jimmy berucap dengan suara lirih. Hatinya berdenyut sakit saat mengingat kembali kondisi Fiona setelah keguguran.
“Maafkan aku.” Fiona menempelkan sebelah tangannya pada pipi Jimmy. Ia juga meneteskan air mata. Melihat pria yang dicintainya memasang wajah terluka membuatnya jauh lebih sakit lagi.
“I love you.” Ucap Jimmy. Pria itu mendaratkan kecupan di bibir istrinya. Kemudian tersenyum simpul setelahnya.
“Jimmy, bagaimana dengan makan siangmu?”
“Aku yang akan memasak. Tapi aku harus menelepon Tuan lebih dulu.” Jimmy segera mengambil ponselnya yang berada di atas meja nakas samping tempat tidur tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Fiona.
“Ya, Jimmy.” Jawab Alan di seberang sana.
“Tuan, apa aku bisa izin selama tiga hari?”
“Apa kau sakit?” Nada suara Alan terdengar cemas. Seingatnya, Jimmy baik-baik saja saat pria itu hendak pulang untuk makan siang.
“Bukan aku tapi Fiona. Aku menemukannya pingsan saat pulang ke rumah.” Jawab Jimmy jujur. Sekalipun tahu jika Fiona pasti melarangnya memberitahu Alan, ia tetap tak bisa berbohong.
“Satu minggu.” Seru Alan tanpa ragu.
“Y–Ya?”
“Aku memberimu izin libur selama satu minggu, Jimmy. Keluargamu jauh lebih penting dari pekerjaan dan oh, satu lagi, aku dan Bianca akan datang ke sana sore nanti.”
Sebelum Alan memutuskan sambungan telepon mereka, Jimmy masih sempat mendengar suara bernada khawatir Bianca yang menanyakan keadaan Fiona. Bibirnya tersenyum simpul, pasangan suami istri itu selalu memperlakukan mereka dengan hangat.
“Jimmy.”
“Sayang, Tuan dan Nona Bianca akan datang sore nanti.” Ucap Jimmy seraya tersenyum lebar. Yang juga membuat istrinya ikut tersenyum. Mereka berdua sudah tak sabar menanti kehadiran keluarga Alan. Rumahnya pasti akan langsung ramai.
__ADS_1
Apalagi si kembar yang begitu menyukai Jimmy dan Jane.
***
“Bagaimana keadaan Fiona?” Tanya Bianca seraya menatap Alan lekat.
“Jimmy menemukannya pingsan.”
“Ya Tuhan.” Bianca mendesah pelan. Ia berharap tak terjadi sesuatu yang buruk pada Fiona juga bayi yang dikandungnya.
“Kita akan menjenguknya sore nanti.” Alan mendaratkan kecupan di kening Bianca. Sama seperti Jimmy, ia juga memilih pulang makan siang ke rumah. Menikmati waktunya bersama keluarga kecilnya walau hanya sebentar. Tapi hari ini, Alan memutuskan untuk tak kembali lagi ke kantor. Ia hanya perlu memberitahu Lucy dan wanita itu yang akan mengambil alih.
“Alan, apa kau kembali ke kantor lagi?” Tanya Bianca setelah menyeka sudut bibir Alex dan Beatrice. Kedua malaikat kecilnya sedang menikmati sepiring buah-buahan bersama.
“Tidak. Aku ingin bersama kedua buah hatiku.” Alan berseru senang dan segera menghadiahi kecupan sayang pada kedua pipi anaknya.
“Beatrice, Daddy merindukanmu.” Alan membawa Beatrice ke dalam pelukannya. Mengecup setiap sisi wajahnya yang justru membuat putri kecilnya tertawa geli. Tanpa Alan duga, Beatrice membalas kecupannya di pipi lalu memeluk erat lehernya.
Merek berdua bahkan tertawa bersama yang justru dibalas Alex dengan sikap tak acuh. Buah di hadapannya jauh lebih menarik.
“Alex.” Setelah mendudukkan Beatrice kembali ke kursi kecilnya, Alan beralih menatap Alex sembari membuka lebar kedua tangannya.
“Go.” Alex menunjuk sekilas ke arah luar lalu kembali melanjutkan kunyahannya. Tanpa menghiraukan wajah sedih ayahnya.
“Padahal aku ingin mengajakmu menemui Aunty Jane.”
“Daddy....” Alex segera mengangkat kedua tangannya ke atas, berharap Alan segera menggendongnya. Dengan kedua mata berbinar lucu.
“No. Daddy hanya akan mengajak Beatrice.” Goda Alan lalu mengalihkan perhatiannya pada Beatrice. Mengelus lembut rambut putri kecilnya dengan sesekali melirik Alex.
“Daddy love.” Alex semakin menatap Alan dalam dengan ekspresi lucu. Yang tak akan mampu ditolak oleh siapa pun.
Alan menyerah. Ia tak sanggup menolak tingkah serta wajah menggemaskan anaknya.
“Alex, Daddy love you too.” Alan mengecup gemas kedua pipi Alex seraya tertawa kecil bersama. Bahagia akan kebersamaan mereka.
Bianca yang sedari tadi diam melihat tingkah suami dan kedua anaknya hanya bisa menggeleng pelan. Tahu betul jika Alex sedang membujuk ayahnya agar diajak bertemu Jane.
“Bagaimana denganku? Apa tak ada satu pun yang mencintai Mommy?”
Alan sontak menatap istrinya seraya tersenyum geli. Wanita itu sedang cemburu rupanya.
“Alex, Beatrice, Mommy love?” Tanya Alan seraya menatap kedua anaknya secara bergantian.
Alex mengangguk mantap dan segera mengulurkan tangannya pada Bianca, diikuti dengan Beatrice. Kedua malaikat kecil itu menatap ibunya penuh cinta. Seolah ingin memberitahu siapa pun yang melihatnya jika tak akan pernah ada yang bisa menggantikan wanita itu. Pun ayahnya.
__ADS_1
***
“Alex! Beatrice!” Fiona dan Jane berseru bersamaan seraya mengambil alih kedua anak kecil itu dari gendongan ayah dan ibunya. Kecupan kecil tak henti mereka berikan.
“Fiona, apa kau baik-baik saja?” Tanya Bianca saat melihat Fiona justru menggendong Beatrice. Sementara Alex telah duduk tenang di atas pangkuan Jane.
“Ya. Aku hanya butuh istirahat sebentar.” Fiona tersenyum simpul menatap Bianca. Ia tak ingin membuat wanita itu khawatir padanya.
“Beatrice, apa kau tak merindukanku?” Fiona mencubit sayang pipi kanan Beatrice. Anehnya, anak itu justru terdiam seraya mencuri padang pada Jimmy.
Tak lama, Bianca dan Fiona tergelak secara bersamaan. Tahu betul keinginan Beatrice.
“Jimmy.”
Jimmy yang baru saja kembali dari dapur dengan membawa empat gelas Espresso hangat segera menatap istrinya. Mengerutkan kening tak mengerti saat Fiona justru memberikan isyarat mata.
“Sayang, ada ap—” Jimmy langsung tersadar saat tatapannya bertemu dengan Beatrice. Putri kecil Alan dan Bianca itu menatapnya lekat tanpa kedip. Dan langsung menunduk ketika melihatnya tersenyum lebar.
“Kalian berdua tak bisa merebutnya dariku.” Ucap Alan seraya menatap saudara bermata biru itu bergantian.
Semua yang berada di dalam ruangan itu tertawa geli. Bianca memang takjub melihat kedua bayi kembarnya yang mendadak diam jika telah bertemu Jimmy dan Jane. Bahkan sampai mengabaikan kehadirannya.
“Jane, bagaimana dengan persiapan pernikahanmu?” Bianca menatap Jane antusias. Tak sampai dua minggu pernikahan Jane dan James akan digelar di sebuah hotel mewah. Dan satu minggu setelahnya, ulang tahun Alex dan Beatrice juga akan dirayakan.
“Aku baru saja pulang dari fitting gaun pengantin bersama James. Selebihnya, pria itu menyuruhku untuk tetap di rumah.”
Selain gaun, James memang tak mengizinkan Jane untuk ikut serta. Alasannya? Pria itu ingin memberikan kejutan pada wanita yang sangat dicintainya. James ingin mengerjakannya sendiri. Memberikan yang terbaik untuk hal yang hanya akan terjadi sekali seumur hidupnya. Bukan karena ia tak membutuhkan pendapat Jane, tapi ia hanya ingin memperlakukan wanita itu layaknya ratu.
“Kau hanya perlu percaya padanya.”
Jane mengangguk paham. Tersenyum pada Bianca lalu kembali menatap Alex dari samping.
“Alex, kau tak ingin bersama Mommymu?” Tanya Jane sembari tersenyum lembut. Yang justru membuat Alex menggeleng cepat.
“Beatrice—” Beatrice juga menggelengkan kepalanya cepat. Bahkan sebelum Jimmy sempat menyelesaikan ucapannya.
“Baiklah. Mommy and Daddy go.” Bianca dan Alan segera bangkit dari duduknya. Mereka berdua menatap Alex dan Beatrice lekat. Dengan sengaja memasang wajah sedih untuk melihat reaksi kedua malaikat kecilnya.
“Noooooo!” Alex dan Beatrice berteriak secara bersamaan. Kedua mata mereka berkaca-kaca dengan tangan terulur ke depan. Meminta Alan dan Bianca agar segera menggendongnya.
Tepat setelah Alex berada di dalam dekapan Bianca dan Beatrice bersama Alan, tangis mereka pecah. Seolah tak ingin berpisah atau kehilangan dua sosok yang sangat dicintainya.
“Mommy.” Alex memanggil di tengah isakan kecilnya. Ia meminta Bianca untuk sedikit menunduk agar bisa mengecup sekilas pipi wanita itu.
“Daddy.” Beatrice juga melakukan hal yang sama. Ia memegang kedua pipi Alan dan mengecupnya lama. Lalu memeluknya erat. Menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher pria itu dengan sesekali terisak kecil.
__ADS_1
Tak lama berselang, deru napas lembut Alex dan Beatrice terdengar. Mereka berdua tertidur secara bersamaan setelah menangis sebentar.
Fiona, Jimmy dan Jane yang melihat kebahagiaan keluarga kecil itu ikut tersenyum bahagia. Dan berharap jika bisa merasakan hal yang sama. Berkumpul bersama pasangan terkasih serta buah dari cinta mereka.