Married With The Devil

Married With The Devil
Kenangan Buruk


__ADS_3

Setelah mandi dan makan malam bersama, Alan segera mengajak Bianca untuk kembali lagi ke kamar. Awalnya, Alan menolak karena merasa masih belum lapar. Tapi Bianca terus saja memaksanya. Wanita itu khawatir pada keadaan suaminya dan tak ingin Alan jatuh sakit.


“Bianca.” Alan kembali memanggil nama Bianca. Seakan ingin meyakinkan dirinya lagi jika wanita itu benar-benar berada di sisinya. Saat ini, mereka berdua sedang duduk di atas tempat tidur seraya bersandar. Alan juga tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada Bianca.


“Mengantuk?” Bianca bertanya lembut seraya menatap Alan. Ia sudah memutuskan jika tak akan lagi meminta Alan untuk bercerita padanya. Yang Bianca inginkan sekarang hanyalah memastikan keadaan Alan baik-baik saja. Ia yakin jika pria itu tak tidur dengan cukup.


“Tidak. Aku ingin bercerita padamu.” Jawab Alan seraya mengecup bibir Bianca. Pria itu menghela napas dalam beberapa kali sebelum akhirnya kembali membuka suara.


“Bianca, apa kau pernah melihat foto kedua orang tuaku di rumah ini?” Tanya Alan memulai ceritanya.


“Tidak.” Jawab Bianca singkat seraya menggelengkan kepala. Sejak pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Alan, Bianca tak pernah menemukan satu pun bingkai foto. Baik milik kedua orang tua Alan atau pun milik pria itu.


“Itu karena aku tak mau menatap dan mengingat wajah mereka berdua.” Ucap Alan seraya menghela napas kasar. Rahangnya mengeras.


“Ayahku, Albert Drax adalah seseorang yang tegas dan juga dingin.” Alan kembali mengingat sosok ayahnya. Sekalipun hanya tinggal dan hidup bersama selama dua belas tahun, tapi Alan selalu mengingat jelas semua yang terjadi padanya.


Alan yang baru saja menginjak umur sepuluh tahun, kembali dituntut oleh Albert agar mempersiapkan dirinya menjadi pewaris tunggal seluruh kekayaan keluarga Drax. Sejak kecil, bahkan sebelum ia mengenal dunia dengan jelas, Albert sudah mendidiknya dengan keras. Setiap hari, ia dipaksa untuk terus belajar dan belajar tanpa boleh bermain. Satu-satunya hal yang membuat Alan merasa nyaman dan juga tenang hanyalah ketika ia menghabiskan waktu senggangnya bersama sang kakek—Arthur.


“Alan!” Alan berjengit kaget ketika ayahnya berteriak saat mendapati dirinya sedang memegang sebuah mobil mainan kecil. Hadiah dari kakeknya.


“Bukankah sudah berkali-kali kukatakan padamu untuk belajar? Kau terlahir menjadi bagian dari keluarga Drax. Dan tugasmu hanya satu, memastikan keluarga ini tetap berjaya dan berada di puncak.” Alan hanya bisa menunduk dengan tubuh bergetar ketakutan. Albert menatapnya tajam dan juga dingin. Pria itu tak pernah sekalipun memperlakukannya dengan baik.


“Tapi aku hanya ingin bermain sebentar.” Ucap Alan pelan. Ia masih belum berani menatap ayahnya.


“Tidak! Jangan membuang-buang waktumu untuk hal tak berguna seperti itu.” Albert berujar kesal seraya menutup berkas yang baru saja ditanda tanganinya.

__ADS_1


“Tegakkan kepalamu.” Desis Albert. Ia tak suka ketika melihat Alan menundukkan kepalanya seperti orang bodoh. Siapapun anggota keluarganya, tak pantas untuk menundukkan kepala. Bahkan di hadapan raja sekalipun.


“Ayah.” Panggil Alan. Ia sudah mulai merasa tak nyaman berada di ruang kerja ayahnya. Perasaannya selalu tak enak dan pada akhirnya, akan berakhir dengan dirinya yang jatuh sakit.


“Kemarilah.” Albert berucap datar seraya mengisyaratkan Alan untuk mendekat padanya. Tak jauh darinya, terdapat lagi sebuah meja dan kursi kecil.


“Cepat duduk dan periksa semua berkas ini. Temukan setiap kesalahan yang terdapat di dalamnya. Kau harus mengingat semuanya dan mengatakan secara langsung padaku.” Alan mengangguk patuh seraya mendudukkan dirinya pada tempat yang telah disediakan oleh ayahnya. Matanya menatap kosong pada setumpuk berkas di hadapannya.


Ditemani dengan suara pulpen ayahnya yang bergerak lincah di atas kertas, Alan membaca dengan teliti setiap kata pada berkas yang sedang di pegangnya. Otaknya bekerja keras untuk mengingat kalimat yang tertulis dan juga untuk mencari kesalahan yang ada. Walau pada kenyataannya, ia sudah tak sanggup lagi berada di dalam ruangan yang membuatnya merasa sesak sekaligus tersiksa.


Alan kembali menghela napas dalam seraya menatap Bianca sekilas. Bibirnya tersenyum lembut. Seakan ingin meyakinkan wanita itu jika ia baik-baik saja.


Bianca balas tersenyum lalu memeluk tubuh Alan. Ia sangat tahu jika pria itu jauh dari kata baik-baik saja. Terbukti dari telapak tangan Alan yang mengeluarkan keringat dingin.


“Dia benar-benar ayah yang buruk.” Lirih Alan.


“Bodoh!” Albert berteriak marah seraya menatap anaknya jengkel.


“Ayah, maafkan aku.” Alan berucap dengan suara tercekat seraya menahan tangis. Ia hanya membuat satu kesalahan kecil dan Albert langsung melemparinya dengan berkas yang sedang pria itu pegang.


“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membacanya baik-baik? Bagaimana mungkin kau bisa memimpin keluarga ini jika membaca berkas rendahan seperti itu saja tak becus!” Albert menatap anaknya dengan mata memerah penuh emosi. Tak habis pikir jika usaha kerasnya selama ini untuk menjadikan Alan sebagai pewaris tunggal masih belum membuahkan hasil.


“Maafkan aku.” Alan kembali memohan maaf dengan kepala tertunduk. Ia sudah tak tahan lagi.


“Cepat pergi! Aku sudah muak menatap wajahmu!” Ucap Albert tajam. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada kertas putih di hadapannya. Pekerjaannya jauh lebih penting dibanding dengan anak bodoh itu.

__ADS_1


“Baik.” Jawab Alan. Dengan cepat, ia berlari keluar. Saat ini, satu-satunya hal yang Alan inginkan adalah bertemu dengan kakeknya. Pria tua berumur delapan puluh tahun itu selalu menghabiskan waktunya di halaman belakang rumah. Sembari memberi makan ikan peliharaannya yang sudah dirawatnya selama satu tahun.


“Kakek.” Seru Alan ketika menatap punggung Arthur. Pria itu sedang duduk di sebuah kursi taman sembari membaca buku.


“Alan.” Arthur dengan cepat mendongak seraya membuka lebar kedua tangannya. Membiarkan Alan jatuh ke dalam pelukan hangatnya.


“Bagaimana pelajaranmu hari ini?” Arthur bertanya lembut seraya mengelus rambut cucunya. Satu kecupan ia daratkan pada pucuk kepala Alan.


Merasa tak ada jawaban, Arthur segara menarik tubuh Alan dari dalam dekapannya.


“Alan.” Arthur tersentak kaget ketika mendapati cucunya menangis tertahan tanpa mengeluarkan suara. Bahkan isakannya pun tak terdengar.


“Kakek.”


Alan menangis sejadi-jadinya di hadapan Arthur dengan suara isakan yang memilukan. Semua rasa takut dan sedihnya, ia keluarkan melalui air matanya. Tubuhnya kembali bergetar, tapi bukan karena ketakutan, melainkan karena tangisannya yang tak kunjung reda. Hanya di hadapan sang kakeklah Alan bisa menjadi dirinya sendiri. Tertawa, tersenyum bahkan menangis sekalipun. Harapan Alan kecil hanya satu, ia dan kedua orang tuanya beserta sang kakek, bisa berkumpul dengan penuh kehangatan seperti keluarga lain pada umumnya.


Arthur hanya bisa tersenyum sedih. Sudah berkali-kali ia menasehati Albert agar tak bersikap terlalu keras pada anaknya. Tapi pria itu tak pernah mau mendengarnya.


“Di mana ibumu?” Tanya Arthur seraya menghapus jejak air mata pada pipi cucunya. Alan memang sudah tak menangis lagi, tapi isakan kecil anak itu masih terdengar jelas.


“Aku tak tahu. Sudah sejak semalam Mom tak pulang.” Jawab Alan jujur. Ia memang masih belum melihat ibunya sampai saat ini.


Arthur mengangguk mengerti. Hal yang sudah biasa terjadi jadi ia tak merasa kaget lagi.


“Mau memberi makan ikan?” Arthur mengangkat sebuah kotak berukuran sedang berwarna emas yang berisikan makanan ikan. Kedua matanya yang mulai berwarna keabuan menatap Alan hangat.

__ADS_1


“Aku mau.” Alan kecil bersorak senang seraya mengangkat kedua tangannya ke atas. Bibirnya tersenyum lebar ketika menerima kotak yang kakeknya berikan. Dengan cepat, ia berlari ke tepi kolam ikan. Tangannya dengan cekatan memberi makan ikan-ikan tersebut. Matanya berbinar bahagia. Kesedihan dan ketakutannya tak terlihat lagi.


Saat ini, Alan terlihat seperti anak kecil pada umumnya. Yang ia inginkan hanyalah bermain seperti anak seusianya di luar sana.


__ADS_2