Married With The Devil

Married With The Devil
Kemarahan


__ADS_3

Cathy melajukan mobilnya dengan cepat seraya mengumpat jengkel. Ia tak berhasil mencelakai Bianca dan juga temannya. Padahal ia punya kesempatan besar. Sesekali, matanya menatap spion dan menemukan sebuah mobil putih tengah mengikuti dari arah belakang. Keningnya berkerut. Setelah dipikir-pikir lagi, ia tak melihat mobil yang biasa Jimmy gunakan untuk menjemput Bianca.


“Sial!” Umpat Cathy seraya semakin menambah kecepatan mobilnya. Mobil yang saat ini ia gunakan adalah mobil tua milik ayahnya.


Cathy merasa beruntung ketika jalanan yang dilaluinya sedang lengang. Jadi ia bisa mengemudi sesuka hatinya. Di belakangnya, Jimmy juga tak mau kalah. Ia semakin menambah kecepatan mobilnya agar bisa menyusul mobil Cathy.


“Bodoh. Kau pikir bisa mengejarku?” Cathy berujar penuh percaya diri seraya berbelok ke kiri. Melewati beberapa minimarket dan juga penjual buah pinggir jalan. Setelah yakin jika keadaan di sekitarnya sepi, Cathy memelankan laju mobilnya. Dan ketika tersadar jika mobil putih yang tadi mengejarnya masih berada di belakang, ia kembali menancap gas.


“Argh!” Cathy berteriak panik ketika merasakan hantaman yang kuat dari arah belakangnya. Dengan segera, ia menginjak rem dan berakhir dengan menabrak tong sampah.


Di sisi lain, Jimmy segera keluar dari dalam mobil putihnya. Ia memang dengan sengaja menabrak bagian belakang mobil Cathy. Wanita itu tak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti. Karena Jimmy tak ingin jika wanita itu membahayakan pengguna jalan atau pun pengendara yang lainnya, maka ia tak punya pilihan lain.


“Keluar!” Teriak Jimmy seraya mengetuk kaca jendela mobil Cathy. Mata birunya berkilat marah.


Cathy masih bergeming dengan cara berpura-pura tak mendengar Jimmy. Ia tak ingin jika pria itu sampai tahu bahwa dirinya lah yang berniat untuk mencelakai Bianca.


Merasa tak ada tanggapan, Jimmy kembali masuk ke dalam mobiln. Perlahan, ia memundurkan mobilnya lalu kembali menghantam bagian belakang mobil Cathy lebih keras dari sebelumnya.


“Brengsek!” Cathy berujar marah seraya keluar dari dalam mobil. Ia sudah tak peduli lagi.


“Jimmy! Berani-beraninya kau.” Teriak Cathy seraya berjalan menghampiri Jimmy. Kedua matanya menatap pria itu tajam.


“Ikut aku!” Perintah Jimmy. Ia sudah curiga jika wanita itu lah yang menjadi dalang di balik semuanya.


“Kau memerintahku?” Tanya Cathy tak percaya. Bahkan kedua orang tuanya tak berani menyuruh atau pun memerintahnya.


“Apa aku ada alasan untuk tak melakukannya?” Seru Jimmy datar. Ia segera membuka pintu mobilnya dan menarik tangan Cathy dengan kasar. Lalu mendorong wanita itu masuk ke dalam mobil.


“Apa kau tahu siapa aku? Aku ini masih sepupu Alan. Kau pikir Alan akan tingal diam saat tahu kau—”


“Tuan tak akan peduli. Kau tak berarti apa-apa untuknya.” Potong Jimmy tajam. Bianca juga sudah memberitahunya untuk membawa Cathy ke rumah Alan.


Cathy tak terima. Bibirnya kembali mengatakan sumpah serapah seraya menatap Jimmy penuh kebencian. Cathy juga tak lagi memedulikan mobil ayahnya yang sudah ringsek akibat perbuatannya.


“Kau mau membawaku ke mana?” Cathy bertanya tak sabaran ketika Jimmy langsung tancap gas. Pria itu tak memberikan jawaban. Sejujurnya, Cathy merasa takut saat ini. Ia cemas jika ternyata Jimmy akan menyakitinya. Namun ia terlalu gengsi untuk menunjukkannya. Lagi pula, semuanya sudah terlanjur terjadi. Dan Cathy, tak ingin mundur walau hanya satu langkah. Ia ingin menghadapi Bianca.


Wanita yang telah merebut semua miliknya.


“Ke rumah tuan.” Jawab Jimmy singkat.


“Alan? Apa dia yang menyuruhmu?” Cathy tak bisa menyembunyikan ekspresi senangnya. Ia yakin jika Alan pasti ingin meminta maaf atas perlakuan buruk yang pria itu lakukan padanya beberapa hari yang lalu.


Jimmy menyeringai. Wanita di sebelahnya ini benar-benar bodoh. Bahkan hanya dengan mendengar nama Alan, ia langsung melupakan semuanya.


***


Alan membaca sekali lagi pesan singkat yang baru saja Bianca kirimkan. Wanita itu memohon padanya agar membiarkannya bertemu dengan Cathy di rumahnya. Alan tentu saja tak setuju. Ia tak ingin jika ada “wanita lain” yang menginjakkan kaki di dalam kediamannya.

__ADS_1


Aku akan melakukan apa pun untukmu.


Satu pesan dari Bianca kembali masuk di ponselnya. Alan menyeringai kecil sembari memikirkan hal apa yang akan ia minta pada istrinya.


Ia juga penasaran akan hal apa yang sedang terjadi.


Alan memang tak tahu apa-apa karena baik Bianca mau pun Jimmy tidak mengatakan apa pun.


“Alan!” Alan tersentak kaget ketika mendengar suara yang tak asing. Dengan cepat, ia melirik ke arah pintu dan menemukan Cathy melangkah masuk dengan angkuh. Di belakangnya Jimmy mengikuti dalam diam.


Cathy tersenyum tatkala mata hijaunya menangkap sosok Alan. Secara tak sabaran, ia berjalan menghampiri pria itu.


“Jangan sentuh aku!” Ucap Alan tajam ketika Cathy ingin memeluknya. Ia tak ingin disentuh oleh wanita mana pun.


“Beruntung sekali Bianca tinggal di sini.” Cathy berujar dengan nada menyindir. Matanya menatap takjub seluruh sudut rumah Alan. Tak terima ketika justru Bianca yang tinggal bersama pria itu dan bukan dirinya.


“Seharusnya aku yang tinggal di sini.” Seru Cathy percaya diri.


“Jimmy, di mana Bianca?” Alan mengabaikan ucapan Cathy dan lebih memilih untuk menatap Jimmy lekat. Pria bermata biru itu segera menghampiri Alan dan membisikan sesuatu.


Alan mengangguk kecil sebagai jawaban. Walau sebenarnya ia sama sekali tak paham.


***


Setelah mengantar Lily pulang dan memastikan gadis itu baik-baik saja, Bianca memutuskan untuk pulang dengan menggunakan taksi dan tak menelfon Jimmy. Bukan hanya kesal, tapi ia juga benar-benar marah pada siapa pun yang berniat jahat pada sahabatnya.


“Brengsek!” Umpat Bianca. Setelah turun dari taksi dan memasuki kawasan elit tempat Alan tinggal, ia berlari kecil memasuki halaman rumah Alan yang terletak tak jauh dari pintu gerbang.


“Nona.” Jimmy dengan cepat menghampiri Bianca untuk melaporkan apa yang terjadi.


“CATHY!” Teriak Bianca seraya menatap Cathy penuh kebencian. Dadanya sudah bergemuruh penuh kemarahan.


“Apa?” Tanya Cathy santai. Ia sedang berusaha untuk memegang lengan Alan yang langsung ditepis oleh pria itu.


“Bianca, apa kau baik—”


Alan tak melanjutkan ucapannya ketika mendapati Bianca secara tiba-tiba mendaratkan satu tamparan kuat pada pipi kanan Cathy. Matanya membulat tak percaya.


“Kau pikir apa yang kau lakukan?!” Ucap Cathy tak terima sembari memegangi pipinya yang berdenyut sakit.


Bianca tak menjawab. Ia kembali mendaratkan satu tamparan kuat pada pipi kiri Cathy. Tak dipedulikannya telapak tangannya yang berdenyut sakit.


“Sial! Kau—” Cathy yang baru saja mengangkat sebelah tangannya dan berniat untuk membalas Bianca, tersentak kaget ketika Alan mencengkeram tangannya dengan kekuatan penuh. Pria itu bahkan menatapnya dengan pandangan membunuh.


“Bagaimana rasanya? Sakit?” Tanya Bianca dengan nada dingin. Matanya berkilat marah.


“Tentu saja. Apa kau bodoh?” Jawab Cathy tak terima.

__ADS_1


“Apa kau pikir rasa sakitnya sebanding dengan apa yang kau lakukan padaku dan juga sahabatku?” Cathy tak menjawab. Matanya melirik Alan sekilas.


“Jawab aku!” Teriak Bianca. Dadanya naik turun. Menandakan betapa marahnya ia saat ini.


“Ini semua terjadi karena kesalahanmu sendiri. Jika saja kau tak ada, Alan pasti sudah bersama denganku.”


“Karena kesalahanku? Memangnya apa yang kulakukan padamu? Sejak pertama bertemu, kau yang lebih dulu menatapku dengan pandangan meremehkan. Menghina dan merendahkanku sesuka hatimu. Merasa jika dirimu jauh lebih baik dariku. Dan sekarang, kau bilang aku yang menjadi penghalangmu untuk bersatu dengan Alan. Apa kau yakin jika tidak sedang bermimpi?” Bianca berujar dengan nada menyindir. Bibirnya tersenyum meremehkan. Ia bahkan menatap Cathy dengan pandangan jijik.


“Tutup mulutmu! Sekarang aku telah kehilangan semuanya. Sementara kau hidup layaknya seorang putri dengan semua limpahan harta yang Alan miliki.” Cathy berucap histeris dengan mata memerah. Ia tak lagi peduli jika Alan mendengar ucapannya.


Alan dan Jimmy masih terdiam. Sengaja tak membuka suara. Alan hanya ingin tahu hal apa yang akan istrinya lakukan. Ini kali pertama ia melihat Bianca bersikap menakutkan.


“Kau menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi padamu? Cathy, sadar lah. Aku memang yang lebih pantas untuk memiliki semuanya.” Bianca berucap tanpa perasaan. Cathy harus merasakan apa yang ia rasakan. Bahkan lebih.


“Brengsek! Seharusnya tadi aku menabrakmu sampai mati.”


“Selama ini, aku berusaha untuk tak ambil pusing akan semua yang kau lakukan padaku. Kau bebas untuk menghina atau pun merendahkanku sesuka hatimu. Tapi aku tak akan pernah terima jika kau melukai orang-orang yang kusayangi.”


“Aku sengaja melakukannya. Aku ingin membuatmu tersiksa. Membuatmu menderita.” Ucap Cathy seraya tertawa. Saat ini, ia benar-benar terlihat seperti orang tak waras.


“Kau ingin membunuhku?” Bianca bertanya dengan nada menantang. Ia segera melangkah pergi menuju dapur dan tak lama kemudian, kembali lagi dengan membawa sebuah pisau.


“Silahkan.” Ucap Bianca seraya menyodorkan pisau yang ia pegang pada Cathy dengan santai.


“Bianca!”


“Nona!”


Alan dan Jimmy berteriak panik secara bersamaan. Dengan cepat, Alan menghampiri Bianca dan merebut pisau yang wanita itu pegang. Lalu membuangnya ke sembarang arah.


“Kenapa? Kau tak berani untuk melakukannya? Atau kau justru ingin jika aku yang membunuhmu?”


Cathy hanya bisa menatap Bianca dengan wajah memucat. Wanita itu jauh lebih berani dari dugaannya.


“Sekali lagi kau berani menyakiti orang terdekatku, maka aku sendiri yang akan datang mencarimu lalu membunuhmu dengan kedua tanganku.” Desis Bianca. Matanya menatap Cathy penuh kesungguhan. Ia memang tak sedang main-main. Bianca sudah lelah akan semua rasa sakit yang diterimanya. Dimulai dari kedua orang tuanya, Rico, Stacy dan sekarang Cathy.


Ia hanya berharap jika Alan tidak akan pernah menyakitinya.


“Jimmy, bawa dia pergi. Dan pastikan jika dia tidak akan pernah lagi muncul di hadapanku atau Bianca.” Ucap Alan penuh penekanan.


“Baik, Tuan.” Jawab Jimmy seraya menarik tangan Cathy. Memaksa wanita itu untuk ikut bersamanya.


“Alan, tidak. Kau tidak boleh melakukan ini padaku.” Teriak Cathy dengan nada memohon. Tapi Alan tak peduli.


Setelah Jimmy pergi membawa Cathy, Alan segera merengkuh tubuh Bianca tanpa mengatakan apa pun. Kali ini, ia memilih untuk menahan egonya dan menunggu sampai Bianca sendiri yang bercerita.


Bianca sontak memeluk erat tubuh Alan tanpa suara. Tubuhnya bergetar. Selama hidupnya, ini adalah kali pertama Bianca memukul orang lain. Tapi ia tak merasa menyesal. Cathy pantas mendapatkannya.

__ADS_1


“Bianca.” Gumam Alan seraya mengecup kening wanitanya. Perlahan, ia membuat tubuh Bianca berada di dalam gendongannya lalu melangkah menuju kamarnya dengan penuh kehati-hatian. Ia membiarkan Bianca menenangkan dirinya lebih dulu.


Bianca semakin menguatkan pelukannya seraya menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher pria itu. Menghirup aroma tubuh Alan ternyata membuatnya sedikit lebih tenang.


__ADS_2