Married With The Devil

Married With The Devil
Kejutan di Acara Makan Malam


__ADS_3

Selama jam pelajaran berlangsung, Bianca tak bisa fokus sama sekali. Ia terus saja mengingat undangan makan malam yang Alan terima. Bukannya tak suka, hanya saja, Bianca merasa jika undangan tersebut bukan sekadar makan malam biasa. Dan lagi, ia yakin jika di sana pasti dipenuhi oleh wanita-wanita dewasa bertubuh seksi yang akan dengan senang hati menggoda Alan. Tsk!


“Ada apa?” Tanya Lily seraya menatap Bianca. Wanita itu sudah sedari tadi mengaduk-aduk telur setengah matang—yang menjadi pilihan makan siangnya bersama dua sosis, tanpa minat.


“Lily.” Panggil Bianca. Ia kembali menghela napas kasar.


“Hm.”


“Apa menurutmu Alan adalah pria yang tampan?” Lily tanpa sadar menyemburkan susu stroberi yang baru saja diminumnya. Kedua matanya menatap Bianca tak percaya. Tanpa menjawab pun, Bianca seharusnya sudah tahu.


“Ya. Sangat tampan.” Jawab Lily mantap. Ia segera membersihkan noda susu yang menempel pada rok sekolahnya.


“Alan mendapatkan undangan makan malam. Apa menurutmu aku harus ikut?” Bianca sadar jika ia menanyakan hal yang bodoh. Hanya saja, hatinya diliputi keraguan. Ia tak ingin jika keputusannya untuk ikut mendampingi Alan, justru membuatnya sakit hati.


“Bukankah kau kekasihnya? Jadi sudah sewajarnya kau ikut,” ucap Lily seraya menatap Bianca lekat. Hari ini, sahabatnya itu mendadak menjadi orang bodoh.


“Tapi, sekalipun kau tak ikut, akan ada banyak wanita yang bersedia untuk menemani Alan.” Sambungnya lagi seraya tersenyum penuh arti.


Tubuh Bianca sontak menengang. Tidak. Ia tak ingin ada wanita lain yang menyentuh pria itu. Alan sudah mengumumkan dan mengakuinya sebagai seorang kekasih di depan orang banyak. Dan Bianca tak ingin memberikan kesempatan pada wanita lain untuk mengambil posisinya.


“Aku akan ikut.” Putus Bianca pada akhirnya. Dalam keadaan apa pun, ia harus selalu berada di sisi Alan.


***


Bianca melambai sekilas pada Jimmy yang memutuskan untuk langsung pulang. Pria itu sudah memberitahunya jika Alan telah berada di rumah sejak siang tadi. Pekerjaannya di kantor tidak terlalu banyak jadi bisa selesai dalam waktu singkat. Selain itu, Alan memang sudah berniat untuk pulang cepat.


“Alan.” Panggil Bianca setelah melangkah masuk ke dalam rumah. Samar-samar, ia mendengar suara seseorang yang berasal dari ruang tengah.


Tak jauh darinya, Bianca menemukan Alan yang sedang berbicara pada seseorang melalui ponselnya. Pria itu melambaikan tangannya ketika menatap Bianca, menyuruh wanita itu untuk mendekat. Dengan gerakan pelan, Alan melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Bianca. Lalu mengecup mesra pipi kiri wanita itu.


“Di mana Jimmy?” Tanya Alan setelah sambungan telfonnya terputus. Sebelah tangannya yang bebas, ikut memeluk pinggang Bianca.


“Pulang.” Jawab Bianca singkat.


Alan mengangguk mengerti seraya menarik Bianca menuju sofa dan membuat wanita itu berada di atas pangkuannya.


“Kau mau apa?” Tanya Bianca curiga. Matahari masih bersinar terik dan ia tak ingin berakhir dengan olahraga yang menguras banyak tenaga bersama Alan.


“Aku hanya ingin memelukmu.” Jawab Alan seraya menatap Bianca singkat. Bianca memutar bola mata—malas. Ucapan pria itu tak sejalan dengan perbuatannya. Nyatanya, tangan Alan sudah mengelus lembut pahanya.


Bianca tersenyum dan mendaratkan satu ciuman singkat pada sudut bibir pria itu. Kedua lengannya ia kalungkan pada leher Alan.


“Di mana Sofie?” Tanya Bianca sembari menatap sekitarnya. Ia tak ingin Sofie memergokinya tengah bermesraan dengan Alan.


“Aku sudah menyuruhnya pulang. Bukankah kita ada undangan makan malam?” Alan berucap dengan suara pelan. Saat ini, ia sedang sibuk menenggelamkan wajahnya pada leher Bianca. Menghirup aroma tubuh wanita itu seraya memberikan kecupan-kecupan kecil. Jika bisa, Alan tak ingin berpisah dengan wanita itu walau hanya sebentar.


“Alan, aku harus memilih gaun yang—”


“Aku sudah membelikan yang baru untukmu. Lengkap dengan semua aksesorisnya.” Bianca sontak menatap Alan tak percaya. Ia masih punya beberapa gaun yang belum dipakai sama sekali dan pria itu justru membelikannya yang baru. Bianca yakin, kali ini, Alan kembali mengeluarkan uang yang tak sedikit.


“Tapi aku masih punya beberap—” Alan segera membungkam bibir Bianca ketika wanita itu ingin mengajukan protes. Ia tak peduli seberapa banyak pun uang yang harus ia keluarkan demi Bianca.


Bianca tak bisa lagi berkutik. Pria itu sudah memutuskan semuanya dan jika ia menolak, sudah dapat dipastikan akan berakhir seperti apa. Yang bisa Bianca lakukan saat ini hanyalah mengikuti setiap permainan bibir pria itu pada bibirnya. Apa pun akan ia lakukan untuk membuat Alan bahagia.

__ADS_1


***


Jimmy kembali menatap tajam Fiona yang tengah sibuk melayani beberapa pengunjung pria di tempat kerjanya. Wanita itu juga dengan sengaja mengabaikannya. Namun Jimmy sudah membuat keputusan. Seperti ia yang ingin mengenal wanita itu lebih jauh, Jimmy juga ingin Fiona mengetahui semua tentang dirinya.


“Aku tetap menolak.” Fiona berujar ketus setelah menghampiri Jimmy yang sedang duduk seorang diri di sudut ruangan. Pria itu tak memesan minuman seperti biasa.


“Kau akan tetap bekerja denganku.” Tegas Jimmy seraya memasang wajah datar.


“Aku tak butuh pekerj—”


“Tapi kau membutuhkan uang.” Potong Jimmy dengan nada dingin. Fiona terdiam. Ucapan pria itu memang benar. Ia sangat membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama ibunya.


Fiona menggigit bibir bawahnya seraya menatap Jimmy sekilas. Ia bimbang. Pekerjaannya di bar memang tak menghasilkan upah yang banyak, tapi cukup untuk biaya makan selama hampir sebulan. Namun ia tetap butuh tambahan.


“Satu jam lagi.” Ucap Fiona pelan seraya melangkah pergi. Salah satu bagian terdalam di hatinya, berteriak dan menyuruhnya untuk mengikuti pria itu. Dan lagi, sikap dingin Jimmy benar-benar membuatnya merasa sedikit terluka.


Jimmy masih terdiam dengan tatapan yang tak pernah lepas dari Fiona. Sembari menunggu, ia juga mengawasi wanita itu. Khawatir jika pria-pria mabuk berlaku kurang ajar padanya.


***


“Alan.” Bianca tersentak kaget seraya menatap tak percaya pada seorang wanita paruh baya yang memanggil prianya dan langsung mencium kedua pipi Alan mesra. Saat ini, mereka telah berada di rumah salah satu rekan bisnis Alan sekaligus yang memberikan undangan makan malam tersebut.


Bianca dan Alan kompak untuk memakai setelah hitam. Pria itu membelikannya sebuah gaun panjang berwarna hitam yang terbuat dari kain tile—kain tipis, halus dan berbentuk seperti jaring di bagian luarnya. Sementara lapisan dalamnya, terbuat dari sifon berwarna senada. Berlengan pendek dengan berbagai ukiran warna putih serta emas. Rambutnya disanggul kebawah dengan menyisakan beberapa helai di kedua sisi wajahnya. Dan yang terakhir, sebagai pelengkap, Bianca memakai high heels setinggi 12cm dan minaudiere bag yang juga berwarna hitam. Anting dan cincin berlian serta gelang mutiara.


Sedangkan Alan, terlihat begitu tampan dalam balutan setelan jas hitam serta kemeja putih dengan bagian kerah yang sedikit terbuka. Pria itu sengaja tak memakai dasi. Dan Loafer berwarna coklat tua sebagai pelengkapnya.


Awalnya, Bianca ingin memakai mini dress berlengan panjang dengan bagian punggung yang terbuka sampai pinggang karena mereka akan menghadiri acara semi-formal. Namun Alan menolaknya dengan tegas. Pria itu tak ingin ada orang lain yang melihat keindahan tubuhnya.


“Bianca.” Panggil Alan seraya melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Bianca. Wanita tua yang tadi mencium merta pipi suaminya, kini beralih menatapnya penasaran.


“Perkenalkan, dia kekasihku, Mrs. Carter.” Jawab Alan seraya memperkenalkan Bianca pada wanita paruh bayah itu.


Bianca tersenyum ramah seraya mengulurkan tangannya yang disambut baik oleh wanita yang dipanggil Mrs. Carter oleh Alan itu. Bianca hanya sedang bersikap sopan pada teman Alan.


“Silahkan nikmati pestanya. Aku ingin menemui suamiku dulu.” Wanita itu melangkah pergi dengan gerakan anggun. Bibirnya yang dipoles lipstik berwarna hot pink tersenyum misterius. Ia menatap Bianca dan Alan secara bergantian.


“Siapa dia?” Tanya Bianca setelah mereka hanya berdua. Di sekitarnya, semakin banyak tamu undangan yang datang secara berpasangan. Tak lupa beberapa pasang mata dari wanita-wanita haus yang menatap Alan tanda kedip.


“Rowena Carter. Istri dari Robin Carter. Mereka berdua yang mengundangku sekaligus menjadi tuan rumah dari acara makan malam ini.” Jawab Alan seraya menatap Bianca. Sebelah tangannya telah memegang segelas red wine yang tersisa setengah.


Bianca mengangguk seraya tersenyum setelah mendengar ucapan pria itu. Pasangan suami-istri yang mengundang Alan memang memiliki rumah mewah bak istana. Bahkan lebih besar dari rumah Alan.


“Apa mereka hanya tinggal berdua di rumah sebesar ini?” Tanya Bianca penuh rasa ingin tahu. Dunia berubah setelah ia bersama Alan. Hal-hal yang dulu mustahil, kini menjadi kenyataan. Hanya dengan satu kedipan mata, pria itu akan memberikan apa pun yang ia inginkan.


“Tidak. Mereka mempunyai seorang anak perempuan.” Jawab Alan santai seraya kembali meneguk minumannya.


“Kalau kau mau, aku bisa membangunkan rumah yang jauh lebih besar dari ini.” Bisik Alan seraya menyeringai nakal.


“Aku menyukai rumahmu yang sekar—”


“Mr. Drax!” Ucapan Bianca langsung terpotong ketika mendapati seorang wanita yang ia perkirakan lebih tua darinya, memeluk tubuh Alan secara tiba-tiba seraya mengecup pipi pria itu lama. Bahkan lipstiknya yang berwarna merah, meninggalkan bekas.


“Kate.” Seru Alan kaget. Ia segera mendorong secara halus tubuh wanita itu agar menjauh darinya seraya menatap Bianca sekilas.

__ADS_1


“Aku sudah lama ingin bertemu denganmu.” Seru wanita bernama Kate itu senang. Tanpa merasa malu, ia memeluk mesra lengan Alan.


“Kapan kau kembali?” Tanya Alan seraya menatap Kate. Ia merasa tak enak jika harus menarik paksa tangannya.


“Dua hari yang lalu.” Jawab Kate. Ia memang tengah menempuh pendidikan di Cambridge University dan berstatus sebagai salah satu mahasiswi hukum di sana.


Bianca masih setiap menutup rapat mulutnya. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ia hanyalah orang asing yang tak mengenal siapa pun. Dibanding dirinya, wanita bernama Kate itu pasti lebih memiliki kedudukan yang tinggi.


“Bianca.”


Alan yang baru saja memanggil Bianca, sontak dihentikan dengan suara gelas minuman yang dipukul pelan menggunakan garpu dan menarik perhatian seluruh tamu undangan. Mereka langsung menatap sang pemilik acara yang berada di depan layaknya raja dan ratu.


“Selamat malam semua.” Sapa Robin hangat kepada seluruh tamunya. Di sebelahnya, Rowena  tengah tersenyum lebar.


“Malam ini, aku sengaja mengundang kalian karena ingin memberitahukan hal penting.” Ucap Robin. Seluruh tamu undangan tampak sabar menanti ucapannya.


“Pertama, aku ingin memperkenalkan anakku satu-satunya yang masih menempuh pendidikannya di Chambridge University.” Robin berucap bangga seraya menunjuk Kate. Wanita berambut sebahu itu tersenyum manis seraya menunduk sekilas.


“Yang kedua, aku berencana untuk menjodohkannya dengan Mr. Drax.” Seluruh tamu undangan kompak memberikan tepuk tangan seraya menatap Kate dan Alan secara bergantian. Mereka semua tahu jika Alan adalah pewaris tunggal dari keluarga Drax sekaligus salah satu pria tersukses diusianya yang masih muda.


Sebelumnya, Robin telah diberitahu oleh istrinya jika Alan telah memiliki kekasih dan datang bersamanya. Tapi Robin tak peduli, ia akan tetap berusaha menjodohkan anaknya dengan pria itu. Baginya, hanya Alan yang pantas untuk bersanding bersama Kate. Lagipula, mereka berdua sudah cukup lama saling mengenal walaupun jarang bertemu.


Bianca yang sedari tadi memilih untuk berdiri sedikit jauh di belakang Alan, hanya bisa terdiam mematung dengan kedua tangan yang mengepal kuat. Ketakutan serta kekhawatirannya terbukti. Perasaannya yang mendadak berubah menjadi tak enak sejak pertama kali melihat undangan makan malam yang Alan terima, membuahkan hasil yang sangat menyakitkan.


Bianca segera menunduk demi menahan laju air matanya. Dadanya benar-benar terasa sesak. Apalagi Alan justru mengabaikannya dan lebih memilih untuk berada di sisi wanita bernama Kate itu.


Dibanding dengan wanita miskin sepertinya, mereka berdua lebih terlihat sebagai pasangan serasi.


“Bianca.” Mendengar namanya dipanggil, Bianca tetap bergeming dengan kepala tertunduk. Ia masih berusaha kuat untuk menenangkan dirinya.


“Dear.” Panggil Alan dengan suara lembut seraya memegang tangan Bianca yang terkepal. Ia baru tersadar jika telah mengabaikan wanita itu. Alan bahkan menarik paksa tangannya yang masih dipeluk oleh Kate.


Perlahan, Bianca mendongak seraya menatap Alan datar. Namun tatapannya tetap tak bisa menyembunyikan rasa sakit dan juga luka yang baru saja diterimanya. Dengan cepat, ia melangkah pergi. Tak peduli sama sekali akan penilaian tamu undangan yang lain padanya. Ia hanya ingin segera menghilang dari tempat berada sekarang.


“Maafkan aku, Mr. Carter, tapi aku tak bisa menerimanya.” Seru Alan seraya berlari kecil untuk menyusul Bianca. Ia telah membuat kesalahan besar dan kembali menyakiti wanita itu.


***


Fiona melangkah dalam diam mengikuti Jimmy memasuki sebuah rumah yang gelap dan juga sunyi. Setelah menyalakan lampu, pria itu kembali berjalan menuju sebuah ruangan berpintu putih. Langkah Jimmy sontak terhenti. Ia berbalik untuk menatap Fiona lekat.


“Tugasmu hanya satu.” Ucap Jimmy singkat dengan wajah datar. Perlahan, ia membuka pintu kamar Jane dan tersenyum lembut ketika wanita itu telah terlelap dengan damai.


Mata Fiona membulat tak percaya. Ia menatap kaget pada sosok wanita yang sedang terbaring di atas tempat tidur dengan sebelah kaki terantai.


“Kau—apa yang kau lakukan padanya?!” Pekik Fiona seraya menatap tajam Jimmy. Rasa takut sontak menyelimuti tubuhnya.


Jimmy terdiam. Ia lebih memilih untuk berdiri di dekat Jane seraya mengelus lembut rambutnya.


“Kau hanya perlu menjaganya.” Lirih Jimmy. Ia masih enggan untuk menatap Fiona.


“Tidak! Aku tak mau mengikutimu melakukan hal bur—”


“Dia Jane—kakakku. Keluarga satu-satunya yang kumiliki. Dan dia, mengalami depresi berat.” Ucap Jimmy seraya menatap Fiona sedih. Baru kali ini Fiona melihat wajah tersiksa pria itu. Hatinya mendadak sesak dan juga ikut merasakan sakit.

__ADS_1


Pria itu, tak malu untuk menunjukkan kelemahannya di depan Fiona. Tanpa sadar, Fiona melangkah pelan menghampiri Jimmy. Sebelah tangannya menggenggam tangan pria itu seraya meremasnya pelan–seolah ingin memberikan Jimmy kekuatan.


__ADS_2