
Jimmy dan Fiona melangkah masuk ke dalam rumah dengan canggung. Mereka berdua masih teringat akan pertanyaan Alan tadi. Jujur saja, Fiona tak pernah sekalipun memikirkan sampai jauh ke sana. Ia memang menyukai Jimmy dan tetap membiarkan pria itu menciumnya karena Fiona juga menginginkanya. Tapi jika tidur yang pria itu maksud adalah bercumbu tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh mereka, Fiona akui belum pernah sama sekali. Mereka hanya sekadar berciuman. Tidak lebih. Dan ia tetap bahagia.
“Fiona.”
“Huh?” Fiona yang tengah tenggelam dengan pikirannya sendiri, tersentak kaget dan mendapati Jimmy tengah menatapnya intens. Sebelah tangan pria itu terangkat ke atas untuk mengelus bibir bawahnya.
“Tak usah memikirkan apa yang tuanku katakan tadi.” Ucap Jimmy dengan suara pelan. Jam telah menunjukkan pukul sembilan malam dan Jane pun sudah terlelap. Hanya tinggal mereka berdua di tengah kesunyian malam.
“Aku tak apa-apa.” Jawab Fiona cepat. Ia merasakan hawa panas perlahan menjalar ke wajahnya.
“Kau yakin?” Tanya Jimmy ragu. Ia bisa melihat dengan jelas wajah Fiona yang bersemu merah. Sama seperti wanita itu, pertanyaan Alan pun tak pernah hilang dari pikirannya. Ucapan Alan ibarat kaset rusak yang terus berputar tanpa henti.
“Ya.” Jawab Fiona singkat. Mereka berdua kembali terdiam. Namun Jimmy tak pernah sedikitpun mengalihkan pandangannya dari wajah Fiona.
“Aku–aku haus.” Ucap Fiona cepat seraya berniat untuk melangkah menuju dapur. Tapi pergerakan tangan Jimmy lebih cepat. Ia segera mencengkeram pergelangan tangan Fiona dengan lembut seraya Jimmy sembari kembali membuat wanita menghadap padanya.
“Jimmy.” Panggil Fiona. Di depannya, Jimmy kembali mengikis jarak di antara mereka. Satu kecupan berhasil pria itu daratkan pada sudut bibirnya. Tak lama, Jimmy langsung menempelkan bibir mereka secara sempurna. Diiringi dengan beberapa lumatan-lumatan kecil.
Kedua tangan Fiona sontak terangkat ke atas untuk memeluk Jimmy. Sembari membalas setiap pergerakan bibir pria itu padanya. Dan Fiona, tak mampu menahan kekagetannya ketika Jimmy menyapukan lidahnya, pada bibir bagian bawahnya.
“Aku sudah bahagia walau hanya seperti ini.” Ucap Jimmy seraya meletakkan dagunya di atas kepala Fiona. Sehingga membuat wanita itu bisa mendengar jelas detak jantungnya yang menggebu. Sama seperti miliknya.
Jimmy tak bia memungkiri, jika di dalam dirinya kerap kali ada keinginan untuk menyentuh Fiona dengan lebih. Tapi di sisi lain, ia tak ingin memaksa wanita itu. Jimmy rela menunggu selama apa pun sampai Fiona sendiri yang menyerahkan dirinya. Karena itu berarti, wanita itu sudah percaya sepenuhnya pada dia.
Secara tiba-tiba, Fiona melonggarkan sedikit pelukannya pada Jimmy seraya mendongak. Ia tersenyum senang lalu mendaratkan satu ciuman yang cukup lama pada bibir pria itu. Hal yang baru pertama kali dilakukannya.
Jimmy tertegun. Mendadak, sisi liar dalam dirinya bangkit. Mendapatkan perlakuan tak terduga dari Fiona benar-benar membuatnya merasa senang. Sembari terus berusaha menahan dirinya, Jimmy sontak mendekatkan wajahnya pada leher Fiona. Mengecupnya lama sembari memberikan gigitan kecil. Lalu dengan cepat menjauhkan wajahnya lagi.
“Istirahatlah.” Ucap Jimmy. Tanpa menunggu balasan dari Fiona, ia segera melangkah menuju kamarnya yang terletak sedikit jauh dari kamar Fiona dan juga Jane. Hati dan tubuhnya merasakan desiran yang kuat. Dan Jimmy tak yakin, jika tinggal lebih lama lagi bersama wanita itu, ia masih bisa mengendalikan dirinya atau tidak.
“Jimmy.” Gumam Fiona. Ia segera memegang lehernya, tempat di mana pria itu memberikan gigitan kecil. Dan ia masih bisa merasakan dengan jelas, jejak basah yang pria itu tinggalkan di sana.
***
Bianca tanpa sadar menjatuhkan tas belanja yang dipegangnya. Tempat di mana tas-tas bermerek yang baru saja Alan belikan berada. Tubuhnya masih mematung di dekat pintu. Dengan pandangan yang tak lepas dari Alan yang sedang sibuk mengganti baju yang tadi dipakainya dengan sebuah jubah tidur panjang berwarna putih.
“A–Apa?” Tanya Bianca. Seolah ingin memastikan jika ia tak salah dengar.
__ADS_1
“Aku ingin melihatmu memakai G-string yang baru saja kau beli.” Jawab Alan santai seraya duduk di tepi tempat tidur. Iris hitamnya menatap Bianca tajam—penuh hasrat.
“Sekarang?!” Bianca memekik tak percaya. Tubuhnya sudah sangat lelah dan pria itu justru mengatakan hal yang tak masuk akal.
“Kau pikir aku bisa menunggu sampai besok?” Alan berucap kesal seraya menatap Bianca tak percaya.
“Alan, aku lelah.” Ucap Bianca seraya melangkah menuju meka kecil yang berada di dalam kamar Alan dan terletak di dekat jendela. Lalu meletakkan tas belanjaannya di sana.
“Aku akan memberimu dua pilihan.” Alan menatap Bianca lekat dengan bibir yang menyeringai. Dan Bianca sadar jika pria itu pasti akan memberikannya dua pilihan yang tak menguntungkan sama sekali.
“Apa?” Tanya Bianca tanpa minat. Ia segera melangkah menuju lemari pakaiannya untuk mengambil baju ganti.
“Pakai atau kau harus telanjang bulat di depanku. Sekarang!” Alan berucap penuh penekanan dengan gaya angkuh. Bibirnya tersenyum puas ketika melihat raut terkejut istrinya.
“Kau—Aku hanya harus memakainya, bukan?” Bianca berucap putus asa dan segera mencari keberadaan g-string tersebut di dalam tas belanjaannya. Ia menatap Alan sekilas lalu melangkah cepat menuju kamar mandi.
Tak sampai lima belas menit, Bianca telah keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan satu stel piyama berlengan pendek berwarna pink muda. Ia melirik sekilas pada Alan yang terkejut melihat penampilannya.
“Bianca!” Alan menggeram jengkel seraya bangkit dari duduknya untuk menghampiri Bianca. Ia benar-benar tak percaya. Bianca tengah mempermainkannya.
“Apa? Bukankah kau menyuruhku untuk memakainya?” Tanya Bianca tak acuh. Ia merasa puas karena telah berhasil menggoda Alan.
“Aku hanya menuruti ucapanmu.” Seru Bianca santai. Perlahan, ia melangkah untuk menghampiri Alan seraya meletakkan sebelah lututnya di atas paha pria itu. Kedua tangannya juga ikut ia kalungkan pada leher Alan.
Mereka berdua saling beradu padangan dalam diam. Alan telah meletakkan tangannya pada pinggang wanitanya. Setelah tersenyum simpul, Bianca sontak mengecup bibir Alan seraya memejamkan mata. Dan membiarkan pria itu untuk mengambil alih terlebih dulu.
Alan tersenyum kecil disela-sela tautan bibir mereka. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk meremas buah dada Bianca yang tak terhalangi oleh bra, tanpa melepaskan piyama yang dikenakannya.
“Bianca.” Bisik Alan setelah membiarkan Bianca menyesap kuat lidahnya.
“Aku ingin melihatmu.” Ucap Alan lirih. Bianca mengangguk mengerti seraya kembali berdiri di hadapan Alan.
“Cantik.” Puji Alan dengan pandangan yang tak lepas dari Bianca.
“Alan.” Panggil Bianca.
“Kemarilah.” Ucap Alan seraya mengulurkan tangannya yang segera di sambut oleh Bianca. Mereka berdua sudah berada di atas tempat tidur.
__ADS_1
“Alan, aku—” Alan sontak membungkam bibir Bianca sembari memberikan gigitan-gigitan kecil. Ia sedang tak ingin mendengar kata penolakan. Yang Alan inginkan saat ini hanyalah Bianca menuruti setiap permintaannya.
Bianca sudah tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga tak tega jika harus menolak pria itu. Ia sudah menjadi milik Alan. Pun sebaliknya. Jadi tak akan ada masalah atas setiap hal yang mereka lakukan. Lagipula, ia juga menyukai dan menikmatinya.
Keduanya begitu larut dan menikmati penyatuan tubuh mereka. Bianca bahkan tak ragu untuk mengambil inisiatif sendiri. Alan telah melihat semuanya dan ia tak punya alasan untuk malu.
“Bianc—” Alan tak bisa melanjutkan ucapannya ketika Bianca lebih dulu membungkam bibirnya lalu membuat lidahnya bermain-main di dalam mulut Alan. Tak lama, Bianca segera mengarahkan bibirnya pada bahu Alan. Menggigitnya kuat dan meninggalkan beberapa bekas di sana.
“God!” Umpat Alan.
Malam ini, tubuh mereka berdua kembali bersentuhan secara intens dan juga penuh gairah. Pun ****** ***** mereka berdua yang terus menyatu. Dan Alan berharap, tak akan pernah ada kata bosan di antara keduanya.
***
Lily dengan tak sabaran menarik tangan Bianca menuju mading sekolah. Jam istirahat baru saja berbunyi dan ia lebih memilih untuk tak mengisi perutnya lebih dulu.
“Lily, kita bisa melihatnya nanti.” Protes Bianca. Perutnya sudah lapar sejak tadi. Tadi pagi, ia hanya sempat memakan sepotong kecil roti coklat karena bangun terlambat.
“Tidak. Aku ingin melihatnya sekarang.” Tolak Lily. Hari ini adalah pengumuman kenaikan kelas beserta nilainya.
“Tapi ak—”
“Bianca!” Lily berseru senang seraya memeluk Bianca di tengah kerumunan siswa lainnya. Mereka berdua berhasil naik kelas dengan nilai yang memuaskan.
“Congratulation, Lily.” Ucap Bianca seraya balas memeluk sahabatnya.
“Apa kau akan kembali mengambil kelas yang sama?” Tanya Lily seraya menatap Bianca sekilas. Mereka berdua sedang melangkah menuju kantin.
“Tidak. Sepertinya, aku akan mengambil mata pelajaran bisnis, biologi, aljabar, bahasa asing dan komputer.”
“Bisnis? Apa kau ingin bekerja pada Alan?” Goda Lily seraya terkekeh geli.
“Bagaimana denganmu?” Tanya Bianca seraya memutar bola mata malas. Tapi tetap membuatnya tersenyum senang.
“Kita hanya akan bertemu di kelas biologi, aljabar dan komputer. Selebihnya, aku ingin fokus di mata pelajaran jurnalis dan juga sastra.”
Bianca mengangguk mengerti setelah mendengar ucapan Lily. Ia memang tahu betul jika gadis itu ingin menjadi seorang penyiar radio profesional serta penulis novel. Sekalipun jarang bertemu di kelas, tapi ia dan Lily bisa bertemu ketika jam makan siang atau pun sepulang sekolah. Mereka bahkan bisa jalan bersama ketika hari libur. Itu pun jika Alan tak mengurungnya di dalam kamar selama satu hari penuh.
__ADS_1
“Ayo. Aku yang akan membayar semuanya.” Ucap Bianca ketika mereka baru saja tiba di kantin. Di sebelahnya, Lily berseru senang seraya mengambil beberapa camilan untuk ia bawa pulang dan juga satu set lunch box yang berisi potongan daging sapi saus barbeque dengan lelehan keju, mustard-crustard potato, dan beberapa potong buah naga dan juga kiwi.
Bianca berharap, setelah ini, mereka berdua tetap bisa menghabiskan banyak waktu bersama sekalipun memiliki jadwal kelas yang berbeda. Pun setelah lulus nanti, ia ingin tetap menjalin komunikasi yang tak pernah putus. Saling bercerita mengenai kisang masing-masing. Dan Bianca sungguh tak sabar ingin mendengar Lily bercerita tentang kekasihnya. Pria yang telah berhasil menaklukkan gadis itu.