Married With The Devil

Married With The Devil
Honeymoon 2


__ADS_3

Setelah merasa bosan berenang, Alan dan Bianca memilih untuk menikmati waktu mereka bersama Jane dengan menonton film di ruang tengah. Dua puluh menit yang lalu, dua orang chef pria bersama seorang staf pulau tersebut datang dan langsung menuju dapur untuk menyiapkan makan siang. Jam memang masih menunjukkan pukul sebelas siang, hanya saja, Alan dengan sengaja meminta agar disiapkan makan siang lebih cepat. Mengingat kondisi Bianca yang sering lapar di waktu tak terduga.


“Hah.” Alan kembali menghela napas dalam seraya menatap Bianca lekat yang tengah duduk di atas karpet bulu berwarna biru di depannya bersama Jane. Sementara dirinya duduk di atas sofa seorang diri. Sudah sedari tadi Bianca menolak duduk di dekatnya dan lebih memilih untuk terus menempel pada Jane. Seperti sekarang ini, wanita yang tengah mengandung buah hatinya itu sedang sibuk menata rambut panjang Jane dengan sesekali tersenyum simpul.


“Sayang.” Panggil Alan dan membuat Bianca menoleh sebentar seraya menatapnya penuh tanya.


“Ada apa?” Tanya Bianca. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada rambut Jane yang telah berhasil dikepangnya. Menyerupai kepangan rambut Elsa. Yang juga merupakan salah satu karakter favoritnya.


“Jane! Kau benar-benar cantik.” Seru Bianca dengan binar bahagia. Jane yang mendengar ucapan wanita itu juga ikut tersenyum lebar. Ia merasa senang karena sedari tadi Bianca terus berada di dekatnya sembari mengajaknya berbicara. Sekalipun masih belum melihat sosok Jimmy dan Fiona sama sekali, Jane tetap merasa senang dan juga tak kesepian. Karena Alan dan Bianca memperlakukannya dengan sangat baik.


“Tuan.” Sapa salah satu chef yang baru saja melangkah menghampiri Alan dari arah dapur.


“Letakkan saja di atas meja makan.” Ucap Alan. Dengan patuh, chef itu mengangguk mengerti lalu kembali menuju dapur untuk membawa satu per satu masakan yang dibuatnya untuk di letakkan di atas meja. Lengkap dari makanan pembuka sampai makanan penutup. Juga beberapa camilan yang memang dengan sengaja staf pulau tersebut siapkan. Bahkan sebelum mereka bertiga sampai.


“Mr. Drax, tolong hubungi aku lagi jika Anda membutuhkan sesuatu.” Ucap staf pria tersebut yang sedari tadi menemani dua orang chef yang memasak di dapur.


“Ya.” Jawab Alan singkat. Ia melirik sekilias kepergian tiga orang pria itu. Lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada Bianca.


“Bianca.”


“Hm.”


“Kau tak ingin duduk di dekatku?” Tanya Alan penuh harap.


Dengan cepat, Bianca berbalik untuk menatap Alan sembari tersenyum geli. Sadar jika pria itu merasa cemburu pada Jane.


“Sebentar lagi.” Jawab Bianca. Ia masih sibuk merapikan rambut Jane.


Alan memilih untuk mengalah. Jane boleh saja menguasai istrinya saat ini. Tapi sebentar malam, keadaannya akan berbalik. Alan tak akan memberikan sedikitpun celah bagi Bianca untuk meloloskan diri darinya.


Satu seringaian penuh arti tercetak pada sudut bibirnya.


“Aku merindukanmu.” Bisik Alan setelah Bianca duduk di sebelahnya. Pria itu dengan cepat menggenggam erat tangan Bianca seraya mengecup punggung tangannya penuh sayang.


Bianca tersenyum. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk mengelus lembut pipi Alan.


“Alan.” Lirih Bianca. Di depannya, ia bisa melihat secara jelas Alan yang mengikis jarak di antara mereka berdua. Namun belum sempat Alan menyentuh bibir Bianca, wanita itu telah lebih dulu bangkit dari sisinya.


“Jane! Ayo, Jimmy dan Fiona sudah datang.” Seru Bianca senang. Ia bisa mendengar dengan jelas suara bising yang dihasilkan oleh baling-baling helikopter. Dengan pelan, Bianca memegang dan menarik tangan Jane untuk ikut bersamanya melangkah keluar. Dan benar saja, helikopter yang telah membawanya ke pulau tersebut baru saja mendarat di atas helipad.


“Ya Tuhan!” Rutuk Alan jengkel. Tapi tetap membuatnya bangkit dari atas sofa untuk ikut beranjak keluar.


“Jimmy! Fiona!” Panggil Bianca sembari melambai penuh semangat pada pasangan pengantin baru itu. Di sebelahnya, Jane juga ikut melakukan hal yang sama.

__ADS_1


“Jane!” Fiona yang baru saja ikut bergabung bersama mereka di beranda depan rumah, segera memeluk erat tubuh wanita itu. Ia merindukannya Jane.


Jane tersenyum simpul seraya balas memeluk Fiona.


Setelah Fiona melepas pelukannya pada Jane, Jimmy dengan cepat merengkuh tubuh saudaranya seraya mengecup keningnya sekilas. Jimmy merasa senang melihat keadaan Jane yang baik-baik saja. Pun raut bahagia yang terpancar dari wajah wanita itu.


“Tuan.” Sapa Jimmy tepat ketika ia menatap Alan. Tak jauh darinya, Alan tengah berdiri dalam diam di sebelah Bianca sembari menyeringai kecil.


“Bagaimana?” Pertanyaan penuh makna dari Alan berhasil membuat wajah Jimmy serta Fiona bersemu merah.


Dan seringaian Alan semakin menjadi tatkala melihat Fiona memakai kemeja pantai Jimmy.


“Mrs. Davis, apa kau tak merasa kepanasan?” Alan menatap Fiona lekat yang sukses membuat wanita itu menunduk malu.


Alan tahu betul alasan dibalik Fiona mengenakan kemeja suaminya. Jimmy pasti tak menahan diri ketika berada di hotel. Pria itu sudah pasti memenjara Fiona untuk terus berada di atas tempat tidur.


“Fiona, kau bisa membuka kem—” Bianca tak lagi melanjutkan ucapannya saat melihat Fiona menatapnya dengan mata membulat serta wajah yang sudah semerah tomat. Bianca baru tersadar jika mungkin saja, salah satu tubuh bagian atas Fiona yang tertutupi oleh kemeja sudah dipenuhi dengan tanda kepemilikan Jimmy.


“Nona.” Ucap Jimmy seraya menatap Bianca memohon ketika mendapati wanita itu terkekeh geli.


“Aku tak mengatakan apa pun Jimmy.” Kilah Bianca seraya tersenyum geli. Ia menatap Alan sekilas dan mendapati pria itu sudah lebih dulu menahan tawanya saat melihat ekpresi malu di wajah Jimmy.


“Ayo. Aku sudah menyuruh chef untuk menyiapkan makanan.” Alan segera mengajak mereka semua untuk kembali masuk ke dalam. Sekalipun jam makan siang belum tiba, tapi Alan sangat yakin jika Jimmy dan Fiona pasti sudah merasa lapar. Terlebih Bianca yang sedari tadi terus mencuri pandang ke arah meja makan.


“Mr. Drax!” Potong Fiona cepat. Ia sudah tak sanggup lagi menerima godaan dari Bianca dan juga Alan secara bergantian.


Sekalipun mempunyai tiga kamar tidur, tapi pulau tersebut hanya memiliki dua kamar mandi. Dan salah satunya terletak di dalam kamar yang di tempati oleh Alan bersama Bianca. Untuk itulah, ukuran kamar mereka berdua sedikit jauh lebih besar.


“Lakukan apa pun yang ingin kalian berdua lakukan. Liburan ini juga salah satu hadiah untuk pernikahan kalian.” Ucap Alan disela-sela kunyahannya. Ia menatap Jimmy dan Fiona secara bergantian.


Alan memang sudah memikirkan hal-hal apa saja yang akan ia lakukan bersama Bianca selama mereka berlibur. Pun memberikan kebebasan pada Jimmy dan Fiona untuk memilih.


“Baik, Tuan.” Jawab Jimmy. Sejujurnya, Jimmy masih belum tahu hal-hal apa saja yang akan dilakukannya. Ia hanya merasa berkumpul bersama seperti sekarang ini sudah lebih dari cukup baginya.


“Bagaimana dengan diving?” Tanya Bianca. Ia menatap Alan antusias.


“Wanita hamil tak boleh menyelam.” Jawab Alan penuh penekanan. Ia menatap Bianca lekat seakan memberitahu wanita itu jika ucapannya barusan tak menerima kalimat bantahan.


“Tapi kita bisa melakuka hal yang jauh lebih menyenangkan lagi daripada menyelam.” Lanjut Alan seraya berbisik pada Bianca.


Dengan cepat, Bianca menatap Alan dan mendapati pria itu menyeringai mesum padanya. Bianca bahkan merasa, jika mereka berdua jauh lebih terlihat seperti pasangan pengantin baru dibanding Jimmy dan Fiona.


Alasannya? Sudah jelas karena Alan tak pernah bosan melakukan “itu” bersamanya.

__ADS_1


***


Sehabis menikmati makan siang mereka bersama, Jane meminta Jimmy untuk menemaninya ke kamar. Bukan karena ia tak merasa senang berkumpul bersama, hanya saja, Jane tiba-tiba merasa ada sesuatu yang hilang.


“Ada apa?” Tanya Jimmy ketika ia menatap raut wajah sedih Jane. Seraya  mengelus lembut rambut Jane yang masih dikepang.


“Jimmy.” Ucap Jane pelan. Ia menatap Jimmy intens lalu kembali menatap ke arah luar pintu kaca kamarnya yang langsung menyajikan pendangan indah di sekitar pulau tersebut.


“Kau lelah?” Jimmy kembali bertanya dengan lembut.


Jane menggeleng pelan. Sejujurnya, ia tak tahu harus menjawab seperti apa. Semenjak kedatangan Jimmy bersama Fiona, kedua matanya terus saja mencari satu sosok yang diharapkannya juga ikut datang bersama mereka berdua. Namun sayang, Jane tak melihatnya sama sekali.


“Istirahatlah.” Jimmy kembali mengecup sekilas kening Jane. Sekalipun jam masih menunjukkan pukul dua siang hari, tapi Jimmy tetap menyuruh Jane untuk beristirahat. Setidaknya, tertidur sebentar juga tak jadi masalah. Sebab, sore nanti, ia juga akan mengajak Jane untuk ikut bersenang-senang.


***


Di sisi lain, Bianca dan Alan tengah sibuk berpagutan bibir. Setibanya di kamar, Alan segera mengajak Bianca untuk naik ke atas tempat tidur dan langsung ******* bibir wanita itu. Tak lupa dengan menarik gorden untuk menutup pintu kaca atau jendela yang berada di dalam kamar mereka.


“Alan.” Ucap Bianca disela-sela tautan bibir mereka berdua.


Alan tengah sibuk mengulum bibirnya secara bergantian seraya mengelus lembut pipinya.


“Ugh … perutku.” Bianca sontak mengeluh sakit ketika Alan tanpa sadar sedikit menekan perutnya. Pasalnya, saat ini, mereka sama-sama berbaring dengan posisi miring di atas tidur.


“Sayang!” Seru Alan khawatir. Ia dengan cepat bangkit dari tidurnya sembari menatap lekat perut Bianca.


Bukan hanya perut wanita itu yang mulai semakin membesar. Tapi Alan juga mendapati tubuh Bianca yang mulai semakin berisi. Hanya saja, Alan tak berani mengatakannya secara langsung pada Bianca. Apalagi jika sampai harus berakhir tidur seorang diri.


“Aku baik-baik saja.” Ucap Bianca menenangkan. Kali ini, ia yang mengambil inisiatif terlebih dulu untuk mengecup bibir Alan. Dengan posisi duduk di atas tempat tidur.


“Bianca.” Alan beralih untuk mengecup leher dan bahu Bianca setelah merasa puas membuat kedua bibir wanita itu membengkak. Juga mengulum lidahnya tanpa pernah merasa bosan.


Kedua mata Bianca perlahan terpejam saat merasakan lidah Alan bergerak lincah pada lehernya. Dengan sengaja meninggalkan jejak basah di sana.


“My dear, Alan.” Lirih Bianca seraya menggigit gemas daun telinga Alan.


Alan mengerang tertahan. Dirinya sudah tak bisa menunggu lama lagi.


“Please.” Bisik Alan.


Pria itu menatap Bianca lekat tanpa kedip. Dan tepat setelah Bianca menganggukkan kepala, Alan segera menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut.


Yang sudah bisa dipastikan akan berakhir seperti apa.

__ADS_1


__ADS_2