
Bianca kembali tersenyum simpul ketika seorang pria bertubuh jangkung menghampirinya. Matanya yang berwarna biru terang menatapnya dari atas sampai bawah.
“Cantik.” Ucap pria itu seraya tersenyum menggoda.
“Thanks.” Jawab Bianca singkat. Dalam hati ia tak henti-hentinya merutuk tak jelas ketika Lily tak kunjung kembali dari toilet.
“Mau berdansa denganku?” Pria itu sontak mengulurkan tangannya pada Bianca seraya membungkuk sedikit. Hal yang tentu saja menarik perhatian sekitar. Tak terkecuali Rico.
“Dia milikku!” Rico berteriak lantang seraya menatap pria itu tajam. Dengan langkah cepat, ia menghampiri Bianca dan menarik tangan gadis itu untuk berada di balik punggungnya.
“So what?!” Pria bermata biru terang itu berujar menantang. Sekaligus memancing amarah Rico.
“Bianca.” Bianca yang mendengar namanya dipanggil segera menatap asal suara dan menemukan Stacy yang tengah melambai ke arahnya. Memintanya untuk mendekat.
Dalam hati, Bianca bersyukur. Tanpa menunggu lama, ia segera melangkah menuju Stacy.
“Tidak usak memedulikan mereka. Minumlah.” Stacy menyodorkan segelas minuman berwarna hijau pada Bianca. Yang langsung disambutnya dengan senang hati.
“Thank you.” Ujar Bianca seraya membasahi tenggorokannya. Sesekali, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Lily. Tak jauh darinya, ia melihat Lily yang tengah sibuk di meja makan. Setelah menghabiskan minumannya, ia akan menghampiri sahabatnya itu.
Stacy kembali menatap tajam Bianca lalu beralih memandang Rico yang tengah bersitegang dengan salah satu tamu undangannya. Di dalam hati, Stacy tak henti-hentinya mengucapkan kalimat umpatan untuk Bianca yang secara tidak langsung telah merusak pestanya. Apalagi setelah melihat sikap Bianca yang acuh sama sekali.
“Stacy, aku pergi dulu.” Ucap Bianca seraya meletakkan kembali gelas yang dipegangnya.
“Ke mana?” Tanya Stacy. Pestanya belum usai dan ia tidak ingin ada satupun yang melangkah pulang.
“Aku ingin menemui Lily.” Jawab Bianca. Stacy mengangguk pelan.
Setelah kepergian Bianca, Stacy kembali menatap Rico dan menemukan pria itu tengah berbicara dengan salah seorang temannya. Pria bermata biru tadi telah menghilang entah ke mana. Rico yang merasa diperhatikan segera menatap sekitarnya dan menemuka Stacy yang sedang tersenyum simpul.
Rico balas terseyum seraya mengangkat gelas minuman yang dipegangnya. Sebagai pertanda jika ia menikmati pesta yang diadakan oleh Stacy.
***
Alan menatap tanpa minat sekelilingnya. Di sebelahnya duduk Jimmy yang sedang meneguk segelas whiskey. Sudah sedari tadi wanita-wanita berpakaian mini menatap mereka berdua dengan pandangan menggoda.
“Hello, Mr. Drax.” Seorang wanita berambut pendek dan berpakaian sangat seksi menyapa Alan seraya duduk tak jauh dari pria itu. Bibirnya yang dipoles lipstik berwarna merah terang tersenyum nakal. Alan tak membalas. Hanya kepalanya yang mengangguk sekilas.
“Mau kutemani?” Tanya wanita itu.
“Yeah.” Jawab Alan singkat. Jimmy yang berada di dekatnya tak bereaksi sedikitpun. Seakan sudah terbiasa.
Seolah mendapatkan lampu hijau, wanita itu semakin mendekatkan dirinya pada Alan. Secara sengaja menempelkan pahanya dengan paha Alan di bawah sana.
Alan menyeringai. Dengan gerakan pelan, ia mencondongkan tubuhnya ke arah wanita itu.
“Apa kau bisa setelah ini?” Bisik Alan.
Wanita itu mengangguk cepat. Kali ini ia meletakkan tangannya di atas paha Alan. Bibirnya semakin tersenyum lebar.
__ADS_1
“Tentu saja. Aku bisa menemanimu sampai pagi.” Jawab wanita itu. Tangannya semakin bergerak dengan liar.
“Tapi sayang, milikku tak bereaksi sama sekali.” Balas Alan seraya menatap wanita itu tajam. Sekaligus memberikannya isyarat agar segera menjauhkan tangannya.
“Jimmy, ayo.” Ucap Alan seraya bangkit dari duduknya. Dengan acuh, ia melangkah meninggalkan wanita itu seorang diri yang masih menatapnya tak percaya.
Seumur hidupnya, baru kali ini Alan menolak seorang wanita yang mengajaknya ke atas ranjang. Pikirannya hanya terpusat pada Bianca. Ia sudah tak sabar ingin menemui wanitanya itu.
***
Bianca yang hendak melangkah keluar dari toilet langsung memegang dinding di sekitarnya. Kepalanya tiba-tiba saja terasa pusing. Padahal ia tidak menyentuh minuman beralkohol sama sekali. Ia juga hanya memakan sepotong kue keju. Itu pun atas paksaan dari Lily.
“Ugh.” Bianca sontak memegangi kepalanya ketika rasa sakitnya semakin bertambah. Jangankan untuk menghubungi Lily atau Alan, untuk bergerak pun ia sudah tak bisa.
Samar-samar, ia mendengar suara seseorang.
“Kau baik-baik saja?” Tepukan pelan di pundaknya membuat Bianca segera mendongak. Namun, ia tak bisa melihat dengan jelas. Penglihatannya mendadak kabur.
Bianca kembali menunduk seraya memijat keningnya. Rasa pusing di kepalanya semakin menjadi. Dan hal yang terakhir kali didengarnya adalah teriakan panik orang itu sebelum pada akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.
***
Sudah sedari tadi Lily berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Sesekali, kedua tangannya tertaut di depan dada sembari berdoa. Lima belas menit yang lalu pesta ulang tahun Stacy telah usai. Tamu undangan pun sudah bayak yang pulang. Hanya beberapa yang tinggal karena sedang menunggu temannya. Sama seperti dirinya. Ia menunggu Bianca yang sedang pergi ke toilet namun tak kunjung kembali bahkan setelah tiga puluh menit berlalu.
“Bianca.” Ucap Lily lirih. Ia yakin jika Bianca tidak akan mungkin meninggalkannya. Karena sahabatnya itu sudah berjanji untuk mengantarnya pulang.
Jantung Lily di dalam sana semakin berdegup kencang ketika melihat Alan bersama Jimmy tengah melangkah mendekatinya.
“Ms. Chasel.” Sapa Alan. Matanya dengan cepat mencari keberadaan wanitanya.
“Di mana Bianca?” Tanya Alan seraya menatap Lily lekat.
Lily tak menjawab. Wajahnya tiba-tiba berubah pucat.
“Aku bertanya padamu.” Alan kembali membuka suara. Tatapannya berubah menjadi tajam.
“Aku–aku tak tahu.” Jawab Lily takut. Tak berani menatap Alan.
“Apa maksudmu?” Kali ini Jimmy yang membuka suara.
“Sudah sedari tadi aku menunggunya yang sedang pergi ke toilet. Tap–tapi sampai sekarang Bianca tak juga kembali.” Lily berucap dengan suara bergetar. Berusaha untuk menahan tangis.
“Jimmy!” Teriak Alan. Dengan sigap, Jimmy segera berlari menuju toilet.
Sepeninggal Jimmy, Alan mencoba untuk menghubungi Bianca. Berharap wanita itu mengangkat panggilannya.
Tersambung. Tapi baru saja deringan kedua terdengar, panggilannya tiba-tipa terputus. Dan ketika Alan mencoba kembali, nomornya sudah tidak aktif.
“Brengsek!” Alan sontak mengepalkan tangannya kuat. Bianca tak bisa dihubungi sama sekali.
__ADS_1
“Tuan.” Alan dan Lily menatap secara bersamaan pada Jimmy yang baru saja tiba. Napas pria itu tersengal.
“Bagaimana?” Tanya Alan tak sabaran.
Jimmy menggelang pelan sebagai jawaban. Yang justru semakin menambah kemarahan Alan.
“Bianca.” Lily tak kuasa lagi menahan tangisnya. Seandainya saja ia menemani Bianca, ini semua pasti tidak akan terjadi.
“Kita harus mengantarkan Ms. Chasel pulang lebih dulu.” Ucap Alan. Pria itu melangkah cepat seraya berusaha untuk berpikiran positif. Di belakangnya Lily mengikuti dengan perasaan kacau.
***
Bianca berusaha untuk membuka kedua matanya ketika rasa pusing yang tadi menghampirinya, berangsuR menghilang. Tak jauh darinya, ia bisa mendengar suara seorang pria dan wanita yang sedang berbicara walau tak jelas. Suara yang tak asing menurutnya.
“Akhirnya kau sadar juga.” Perlahan, Bianca mendongak dan mendapati kedua tangannya telah terikat kuat pada sebuah tiang besi yang cukup besar. Di hadapannya berdiri seorang pria yang memakai kemeja putih.
Rico!
Bianca sangat yakin jika yang berdiri di hadapannya saat ini adalah Rico.
“Sang tuan putri akhirnya sadar juga.” Kali ini Bianca mendengar suara seorang wanita. Kemudian sosok yang sangat dikenalinya juga muncul dari balik tembok.
Stacy
Bianca menatap Stacy yang sedang melangkah untuk menghampiri Rico. Tangannya segera ia sampirkan di atas bahu pria itu. Rico pun juga balas memeluk pinggang Stacy.
“Rico! Apa maksudnya ini?!” Bianca berteriak tak percaya seraya menatap Rico tajam. Rico tak menjawab dan lebih memilih untuk menatap Stacy seraya tersenyum puas.
“Aku tak salah memilihmu.” Ucap Rico seraya menyambar bibir Stacy. Menyesapnya kuat tepat di depan Bianca.
Mata Bianca membulat tak percaya. Mereka berdua bekerjasama untuk melakukan ini semua padanya.
“Lily.” Gumam Bianca. Seketika tersadar jika Lily pasti masih menunggunya dengan cemas.
Mendadak, Bianca teringat pada Alan. Pria itu pasti tengah sibuk mencari dirinya. Bagaimana jika Alan tidak menemukannya? Atau yang lebih parahnya, bagaimana jika Alan justru tidak mempedulikannya?
Bianca menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha untuk mengenyahkan seluruh pikiran buruknya.
Ia yakin jika Alan dan Jimmy pasti akan segera menemukannya.
“Rico, lepaskan aku.” Teriak Bianca seraya meronta. Saat ini ia terikat dalam posisi duduk di atas sebuah kursi plastik.
Setelah kepergian Stacy, Rico segera mendekati Bianca. Tangannya dengan kasar membuka ikatan rambut Bianca.
“Ini semua salahmu.” Ucap Rico seraya menatap Bianca penuh kebahagiaan. Berdua dengan wanita dambaannya benar-benar terasa menyenangkan.
Rico sontak memegang rambut Bianca yang jatuh terurai. Perlahan, ia menundukkan dirinya, lalu memberikan kecupan pada surai hitam Bianca. Dan yang terakhir, ia menjilatinya dengan ekspresi yang menakutkan.
Tubuh Bianca bergetar. Tak pernah sekalipun ia melihat Rico seperti ini.
__ADS_1
Di matanya, Rico justru lebih terlihat seperti seorang psikopat.