Married With The Devil

Married With The Devil
Suami Siaga


__ADS_3

Memasuki usia kehamilan delapan bulan, Bianca merasa tubuhnya semakin lebih sering merasa lelah. Terutama pada bagian punggung, lutut dan lehernya. Ditambah dengan kedua kakinya yang membengkak. Bahkan saat ingin duduk pun, ia harus ekstra hati-hati. Bianca tak tahu, apakah hanya dirinya saja ataukah wanita hamil di luar sana juga merasakan hal yang sama sepertinya.


“Alan.” Panggil Bianca seraya menatap Alan yang tengah sibuk memasukkan beberapa keperluan yang dibutuhkannya saat hendak atau seusai bersalin nanti. Juga barang-barang keperluan anak mereka.


“Hm….” Jawab Alan sembari menatap Bianca sekilas. Wajah pria itu terlihat sangat bahagia ketika menatap sepasang kaos kaki kecil bergambar lucu di tangannya.


“Apa kau yakin tak ingin mengetahui jenis kelamin anak kita?” Sejujurnya, Bianca masih merasa heran saat Alan menolak mengetahui jenis kelamin anak yang tengah dikandungnya. Padahal tak ada masalah sama sekali jika mereka mengetahuinya lebih dulu.


“Tidak. Aku ingin semuanya menjadi kejutan dihari kelahirannya nanti.” Jawab Alan seraya tersenyum senang. Pria itu dengan segera menghampiri Bianca yang duduk bersandar di atas tempat tidur setelah selesai mengemas tiga tas berukuran besar.


“Bagaimana jika yang lahir nanti anak perempun?” Bianca tersenyum senang ketika Alan mendaratkan satu kecupan singkat pada keningnya. Pria itu selalu berusaha untuk tetap berada di sisinya. Memastikan jika semua yang ia inginkan terpenuhi secara sempurna.


“Tak malasah.” Alan berucap santai seraya ikut duduk di sebelah Bianca. Sebelah tangannya mengelus lembut perut wanita itu.


Sama seperti Bianca, Alan juga sudah begitu tak sabar menanti kelahiran anaknya. Ia ingin menggendong, mencium juga memanjakan buah hati mereka. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri jika anak-anaknya kelak, harus mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik darinya dan juga Bianca. Harus mendapatkan cinta serta kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya. Tanpa satupun kenangan menyakitkan.


“Bukankah biasanya seorang suami lebih menginginkan anak laki-laki?” Ucap Bianca seraya meminta Alan untuk memijit kakinya yang langsung dipenuhi oleh pria itu. Salah satu hal yang membuatnya semakin mencintai pria itu.


“Sayang, laki-laki atau perempuan tak masalah sama sekali. Asalkan kalian berdua tetap sehat dan baik-baik saja, itu sudah lebih dari cukup untukku.” Alan kembali mengecup kening Bianca. Lalu beralih pada kedua pipi, ujung hidung, dagu dan yang terakhir, pria itu menyatukan bibir mereka berdua dengan lembut.


“Alan” Lirih Bianca di antara tautan bibir mereka. Namun baru saja ia hendak membalas pergerak lidah pria itu pada permukaan bibirnya, Bianca kembali merasa pusing.


“Kita ke dokter.”


“Tidak. Aku–aku hanya butuh istirahat sebentar.” Ucap Bianca lemah seraya mencoba untuk berbaring dengan di bantu oleh Alan. Bianca bersyukur karena tak lagi merasa mual. Hanya saja, ia lebih sering merasa pusing.


“Apa kau ingin aku memanggil dokter datang ke sini?” Alan masih setia menatap cemas pada istrinya. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Bianca atau pun anak mereka.


“Aku hanya merasa lelah.” Ucap Bianca meyakinkan. Sebenarnya, selama tiga hari terakhir, ia merasa jika sedang membawa beban yang sangat berat. Berdiri sebentar pun ia sudah merasa sangat lelah. Tapi Bianca tak pernah memberitahu Alan. Ia tak ingin membuat pria itu panik serta khawatir. Dokter yang memeriksa kandungannya mengatakan pada mereka jika janinnya baik-baik saja dan Bianca percaya akan hal itu. Apalagi dengan Alan yang terus memastikan jika vitamin yang dikonsumsinya cukup untuknya.


“Bianca, aku ingin, setelah bersalin nanti, kau tetap berada di rumah. Menjaga, merawat dan mengurus anak-anak kita.”


Bianca hanya bisa menatap Alan kaget. Tak lama, wanita itu tersenyum simpul seraya mengelus pipi suaminya. Alan tak tahu, jika ia juga sudah memikirkan hal tersebt selama satu minggu.

__ADS_1


“Bagaimana denganmu?” Tanya Bianca. Ia tertawa kecil saat Alan menatapnya bingung.


“Aku? Tentu saja aku harus tetap bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kalian.” Alan ikut tertawa kecil dengan tangan yang mengelus pelan kepala Bianca.


“Apa pun akan aku lakukan untuk kalian berdua.” Bisik Alan seraya mengecup lama perut Bianca. Baginya, tak ada hal yang jauh penting dibanding dengan kebahagiaan keluarga kecilnya.


Bianca tersenyum bahagia sembari mengelus kepala Alan yang tengah menunduk untuk terus mengecupi perutnya yang semakin membesar. Salah satu sudut matanya mengeluarkan cairan bening. Bianca tak pernah menyangka jika ia juga akhirnya bisa bahagia. Bersama pria yang begitu mencintainya. Terus berada di sisinya. Rela melakukan apa pun untuk dirinya.


Dalam hati, ia terus berdoa dan memohon pada Tuhan agar tak pernah merenggut kebahagiaan keluarganya. Pun membiarkan sesuatu mengusiknya.


“Bianca.” Lirih Alan. Kedua iris hitam pria itu menatap Bianca intens. Seakan meminta sesuatu padanya.


Bianca tertawa kecil. Perlahan, ia meminta Alan untuk mendekat dan dengan segera mengecup bibir pria itu. ******* serta mengulumnya pelan.


Sudah hampir lima hari mereka tak saling menyentuh secara intens. Baik Alan maupun Bianca, sama-sama merindukannya.


“Alan.” Bianca menatap Alan sedih. Seolah merasa menyesal karena tak bisa memenuhi keinginan pria itu. Ia juga merindukan sentuhan pria itu. Tapi Bianca juga tak ingin mengambil resiko dengan membuat tubuhnya menjadi semakin lelah.


“Aku tahu.” Ucap Alan santai seraya mengangguk kecil. Tapi tak lama, tatapannya berubah tajam. Sebelah sudut bibirnya juga terangkat ke atas.


Kedua mata Bianca sontak membulat tak percaya disertai rona merah pada kedua pipinya. Tahu betul maksud ucapan pria itu.


Malam ini, mereka berdua akan bersenang-senang dengan cara yang berbeda dari biasanya.


***


“Tuan.” Panggil Jimmy saat melihat Alan terus saja tersenyum geli di tempat duduknya. Pria itu juga mengabaikan beberapa berkas di hadapannya.


“Jimmy.”


“Ya?” Jawab Jimmy kaget. Pasalnya, ia mengira jika Alan sudah melupakan keberadaan dirinya karena tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.


“Bagaimana Fiona?” Tanya Alan. Ia menatap lekat pada Jimmy yang menatapnya bingung.

__ADS_1


“Apa kalian sudah menghasilkan Jimmy Junior?” Jimmy langsung merasakan hawa panas pada kedua pipinya. Tak pernah menyangka sama sekali Alan akan menanyakan hal seperti itu padanya.


“Tuan, aku–aku—”


Alan tak kuasa menahan tawa puasnya saat melihat Jimmy kebingungan mencari jawaban akan pertanyaannya tadi. Merasa senang karena telah berhasil menggoda pria itu.


Sejak tadi, pikiran Alan terus tertuju Bianca. Memikirkan hal yang semalam mereka lakukan. Kembali membayangkan wajah serta suara putus asa wanita itu ketika ia dengan sengaja menggodanya. Sekalipun tak bisa menyentuh Bianca seperti yang biasa mereka lakukan, tapi Alan masih punya banyak cara untuk memenuhi hasrat membuncah mereka berdua.


Shit!


Batin Alan. Pria itu kembali teringat akan sentuhan bibir Bianca padanya.


“Tuan!”


“Huh?” Ucap Alan kaget. Baru menyadari jika Jimmy telah berdiri di hadapannya.


“Ada apa?” Tanya Alan bingung.


Dengan wajah yang telah kembali datar, Jimmy menunjuk beberapa berkas yang berada di atas meja Alan. Yang masih belum tersentuh sama sekali padahal jam makan siang hampir tiba.


Alan mendesah pelan. Merasa tak berdaya di hadapan Jimmy. Pria itu masih tetap sama. Jika menyangkut masalah pekerjaan, Jimmy pasti tak akan setengah-setengah. Terkadang, pria bermata biru itu bisa jauh lebih menyeramkan dari dirinya.


“Bagaimana dengan nona Bianca?” Sudah cukup lama Jimmy tak bertemu Bianca. Selain karena tak masuk bekerja, Bianca juga tak lagi datang berkunjung ke rumahnya.


“Mereka berdua baik-baik saja. Hanya saja, aku meras sedih setiap kali melihatnya mengeluh pusing.” Alan tak berbohong. Setiap kali menatap wajah pucat Bianca, ia selalu merasa sedih. Membayangkan seberapa besar tanggung jawab yang wanita itu pikul.


Dalam hati, Alan bersyukur karena hanya Bianca satu-satunya wanita yang mengandung anaknya. Tak ada wanita lain, yang dulu menjadi teman bermainnya di atas tempat tidur yang hamil atau lebih parahnya, mengaku tengah mengandung anaknya.


“Jimmy, aku ingin kau melakukan sesuatu untukku dan Bianca. Juga dengan bantuan dari Fiona dan Jane.”


“Sesuatu?”


“Ya. Tapi aku akan memberitahumu nanti.” Alan tersenyum senang saat berhasil menemukan kejutan spesial yang akan ia berikan pada Bianca sebagai hadiahnya pada wanita itu seusai bersalin nanti.

__ADS_1


Alan penasaran, apakah anaknya nanti akan lebih mirip dirinya atau Bianca? Tapi apa pun itu, anak-anaknya pasti akan tumbuh menjadi pribadi yang menawan sepertinya dan juga Bianca.


Jimmy yang melihat tuannya kembali terkekeh geli seorang diri, hanya bisa menggelengkan kepala. Pasrah jika hari ini ia harus lembur karena Alan masih belum menyelesaikan pekerjaannya sama sekali.


__ADS_2