
Stacy kembali menatap jam weker di atas meja nakasnya yang telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Setelah memasukkan seluruh pakaiannya ke dalam sebuah koper besar, Stacy berniat untuk kabur dan tinggal bersama kedua orang tuanya di Ohio. Ia memang tinggal seorang diri disebuah apartemen yang cukup elit.
“Aku harus segera pergi.” Ucap Stacy takut. Dengan segera, ia mengambil kopernya yang terletak di atas tempat tidur. Namun pergerakannya terhenti ketika kembali teringat akan ucapan Jimmy,
Jangan pernah berpikir untuk kabur!
“Sial!” Stacy mengumpat jengkel seraya menjatuhkan kopernya dengan kasar di atas lantai. Ia tak berani untuk kabur. Kata-kata Jimmy layaknya mantra mematikan yang tertanam dengan kuat di dalam dirinya.
“Ini semua karena Rico.” Stacy kembali berguman tak jelas. Jika saja ia tak mengikuti permintaan Rico, ini semua pasti tidak akan pernah terjadi. Seharusnya pria itu yang menanggung ini semua, bukan dirinya. Seharusnya Rico saja yang hancur.
“Brengsek!” Stacy berteriak marah seraya menjatuhkan dirinya di atas kasur secara kasar. Pikirannya kacau. Tubuhnya pun juga sudah sedari tadi bergetar ketakutan. Ayahnya tidak boleh sampai tahu. Dan yang lebih penting, ia tak ingin jatuh miskin dan berakhir di jalanan.
***
Bianca hanya bisa terisak kecil ketika merasakan rasa sakit di bahunya. Rico kembali membuat jejak gigitan pada salah satu bagian tubuhnya. Sudah lima hari ia disekap tanpa makan dan minum yang layak. Tubuhnya pun juga jauh dari kata bersih. Ia belum mandi sama sekali. Bahkan Alan dan Jimmy pun belum datang untuk menjemputnya. Beruntung hari sudah siang. Jadi ia bisa melihat dengan baik sekarang.
“Alan.” Di tengah isakan tertahannya, Bianca kembali membisikkan nama Alan. Ia ingin bertemu dengan pria itu—sangat.
“Sekali lagi kau menyebut namanya, maka aku tak akan segan menelanjangimu.” Rico berucap marah ketika mendengar ucapan Bianca. Suasana yang sepi membuatnya bisa mendengar dengan jelas. Walau dalam bentuk bisikan sekali pun.
“Aku sudah tidak peduli lagi.” Ucap Bianca lemah. Ia tak lagi punya tenaga untuk memberontak.
“Kalau begitu, aku tak akan lagi segan.” Rico segera berjalan menghampiri Bianca. Kedua tangannya menyentuh pengait baju yang berada di tengkuknya. Dengan satu kali gerakan, ia berhasil melepasnya.
Selama beberapa hari menyekap Bianca, Rico memang belum berbuat terlalu jauh. Yang ia lakukan hanyalah mencium pipi Bianca ataupun menggigit salah satu bagian tubuhnya. Rico memang dengan sengaja melakukannya. Ia ingin menyiksa Bianca sampai akhirnya gadis itu sendiri yang memohon padanya.
“Rico!” Bianca berteriak pelan dengan sisa tenaganya. Beberapa bekas gigitan telah tercetak pada betis dan punggungnya. Beruntung, ada beberapa juga yang telah sembuh dan hilang.
Rico menatap Bianca lekat seraya menyeringai puas.
“Bukankah kau sendiri yang menginginkannya? Seharusnya kau berterima kasih padaku.” Seru Rico santai.
“Berterima kasih? Cih!” Decih Bianca seraya menatap Rico penuh kebencian.
“Biarkan aku menanyakan beberapa hal padamu. Sebelum pada akhirnya, aku menikmati tubuh indahmu itu.” Rico berucap seperti orang gila. Sesekali pria itu tersenyum atau pun tertawa seorang diri.
“Katakan padaku, hal apa yang membuatmu tak menyukaiku?” Bianca tak kuasa menahan tawa sumbangnya ketika mendengar ucapan Rico. Tanpa harus menjawab sekalipun, seharusnya pria psiko itu sudah tahu.
__ADS_1
“Jawabannya hanya satu, karena aku memang tidak pernah menyukaimu. Sedikit pun.” Jawab Bianca singkat. Tapi mampu membuat Rico menatapnya kesal.
“Bukankah kau tahu sendiri, aku ini pria yang dipuja di sekolah. Aku tampan. Jadi tak ada alasan bagimu untuk menolakku.” Seru Rico penuh percaya diri.
“Tampan? Kekasihku berkali-kali lipat lebih tampan darimu.” Bianca berucap lantang seraya menatap Rico dengan tatapan menantang. Tidak ada gunanya lagi dia berpura-pura bersikap baik pada pria itu. Rico harus tahu apa yang dipikirkannya.
“Kau!” Rico berteriak marah seraya menatap Bianca dengan mata memerah. Ia tak terima ketika gadis itu lebih memilih untuk memuja pria lain.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, Rico segera meletakkan tangannya di dada bianca—dekat leher. Jarinya menggenggam kuat gaun tersebut. Rico sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia harus memberikan pelajaran pada Bianca supaya gadis itu tahu sedang berhadapan dengan siapa.
“Kumohon.” Bianca berucap lirih dengan mata memerah. Ia tidak ingin ada orang lain yang melihat apalagi sampai menyentuh tubuhnya. Alan tidak akan mungkin lagi menginginkannya setelah ia ternodai oleh pria lain. Ia sudah tidak memiliki siapa-siapa. Hanya Alan yang mau menerimanya.
Rico bergeming. Tak diacuhkannya tatapan memohon serta isakan Bianca.
***
Alan melajukan mobilnya seperti orang yang sedang kerasukan. Ia bahkan menolak ketika Jimmy menawarkan diri untuk mengemudikan mobilnya. Ia ingin cepat-cepat menemui Bianca. Apalagi sudah sejak tadi perasaannya berubah tidak enak.
“Brengsek!” Alan kembali mengumpat marah ketika sebuah mobil tiba-tiba menghadangnya. Di sebelahnya Jimmy juga tengah sibuk menunjukkan lokasi keberadaan Bianca.
“Tuan, setelah lurus, Anda harus berbelok ke kiri.” Alan secepat kilat membelokkan mobilnya. Tak peduli sekalipun jika sampai tergores karena kondisi gang yang tidak terlalu besar. Tapi cukup untuk menampung satu mobil.
Jimmy tidak menjawab. Ia hanya memberikan isyarat pada Alan agar mengikutinya dalam diam. Dan Alan paham betul jika saat ini Jimmy sedang fokus pada tujuannya untuk mengantarnya menuju Bianca.
“Tidak!” Satu teriak keras dari seorang wanita sontak membuat Jimmy dan juga Alan berjengit kaget. Ketakutan terpancar jelas di wajah Alan. Tidak. Ia tidak ingin jika sesuatu yang buruk terjadi pada Bianca karena kebodohannya.
Dengan sigap, Jimmy segera berlari menuju gedung di belakang pabrik lilin tersebut. Di belakangnya Alan mengikuti dengan tak kalah cepatnya. Pergerakan Jimmy dan Alan langsung terhenti ketika satu pintu menghalangi mereka.
“Shit!” Alan tidak peduli lagi. Dengan satu kali gerakan, ia menendang pintu kayu tersebut dengan kuat hingga jatuh ke lantai. Lalu kembali untuk mencari Bianca dengan berbelok ke arah kanan, melewati satu tembok besar.
“Bianca!” Teriak Alan.
“Alan … ALAN!” Bianca balas berteriak ketika yakin jika suara yang didengarnya adalah milik Alan. Dan tak lama kemudian, ia akhirnya melihat sosok pria itu bersama Jimmy.
“Brengsek!” Rico berteriak marah seraya dengan cepat mengambil tongkat bisbol yang terletak tak jauh darinya.
“Kau pikir bisa melukaiku dengan itu?” Alan berucap santai seraya menatap Rico dengan tatapan membunuh. Mengumpat jengkel ketika ia tidak bisa melihat jelas sosok Bianca karena Rico berdiri di depannya.
__ADS_1
“Tuan, biar aku yang mengurusnya. Anda harus segera menyelamatkan nona Bianca.” Jimmy berucap tenang. Tanpa rasa takut sama sekali, ia melangkah pelan menghampiri Rico.
“Maju satu langkah dan aku tak akan segan untuk memukulmu.” Ancam Rico. Namun sayang, Jimmy tak menunjukkan reaksi apapun. Mata biru lautnya berkilat tajam. Aura membunuh menyelubungi tubuhnya. Tak ada satu pun yang bisa menghentikan Jimmy saat ini, kecuali Alan.
Setelah yakin jika Rico sedang fokus pada Jimmy, Alan dengan cepat berlari menghampiri Bianca. Kedua matanya membulat tak percaya. Apalagi ketika melihat bagian depan gaun Bianca yang hampir terbuka.
“Alan.” Bianca memanggil lirih nama Alan. Ia tak kuasa lagi menahan laju air matanya. Pria itu benar-benar berada di hadapannya. Alan datang untuk menyelamatkannya.
“Bianca. Bianca.” Alan berucap dengan suara parau. Tenggorokannya tercekat ketika melihat kondisi tubuh Bianca. Membayangkan hal apa saja yang telah dialami oleh wanita itu membuat dadanya terasa sakit dan juga sesak. Alan tidak terima.
“JIMMY!” Jimmy yang tengah sibuk menghadapi Rico setelah mematahkan tongkat bisbol yang pria itu pegang menjadi dua bagian, tersentak kaget ketika mendengar teriakan Alan.
Dengan tatapan yang terus tertuju pada Rico, Alan melangkah pelan menghampiri pria itu setelah menyuruh Jimmy menjaga Bianca. Hatinya dipenuhi kegelapan. Dan hanya satu hal yang Alan inginkan saat ini: membunuh Rico.
“Cih!” Decih Rico seraya meludah. Seakan meremehkan Alan.
Alan tak bergeming. Tanpa Rico sadari, Alan sudah berdiri di hadapannya. Satu pukulan telah berhasil ia daratkan pada wajah Rico. Sehingga membuat pria itu jatuh tersungkur di atas lantai seraya meringis sakit.
“Brengsek!” Teriak Rico tak terima. Ia kembali mencoba untuk bangkit seraya masih memegangi wajahnya. Darah segar mengucur dari hidungnya.
Alan tidak peduli. Kali ini, ia berjalan untuk menghampiri sebuah kursi besi yang berada tak jauh darinya—kursi yang sering diduduki oleh Rico. Hanya dengan satu tangan, ia berhasil mengangkat kursi tersebut.
“Berhenti.” Rico berteriak ketakutan seraya melangkah mundur. Ia tidak lagi memiliki senjata apapun. Bahkan tongkat bisbolnya sudah hancur tak berguna.
“Tutup mulutmu!” Alan berucap dengan nada dingin. Kakinya terus berjalan untuk menghampiri Rico.
Rico tersudut. Ia tak bisa lagi kabur karena tembok di belakangnya menghalangi. Dengan hidung yang masih mengucurkan darah, ia kembali menunduk sebentar. Namun tanpa Rico sadari, Alan sudah mengangkat kursi tersebut tepat di atas kepalanya.
“ARGH!” Rico memekik kesakitan. Kursi tersebut sukses menghantam kepalanya. Ia langsung jatuh tersungkur di atas tanah dengan posisi telungkup. Alan masih tidak puas. Ia kembali mengambil kursi tersebut lalu kali ini menghantamnya tepat di atas tubuh Rico yang sudah tak sadarkan diri.
“Tuan.” Teriak Jimmy untuk menyadarkan Alan. Tapi pria itu masih bergeming.
“Alan, hentikan.” Alan yang berniat untuk kembali memukul tubuh Rico dengan kursi langsung terhenti ketika mendengar ucapan lemah Bianca. Wanita itu menatapnya dengan tatapan nanar. Ikatan pada tangannya juga telah terlepas.
“Bianca.” Alan memanggil nama Bianca dengan lembut. Dengan segera, ia melempar kursi besi tersebut ke sembarang arah lalu berlari untuk menjangkau tubuh Bianca. Memeluknya erat. Mengecup pucuk kepalanya tanpa henti. Dan Alan kembali merasakan hatinya berdenyut sakit ketika Bianca terisak keras di dalam pelukannya. Penuh kesedihan dan juga ketakutan.
“Biar aku yang mengurusnya.” Ucap Jimmy seraya menatap Alan. Dengan penuh kehati-hatian, Alan segera menggendong tubuh Bianca. Wanita itu jatuh tak sadarkan diri di dalam dekapannya.
__ADS_1
Setelah Alan menghilang dari jarak pandangnya, Jimmy segera mengambil ponselnya—ponsel berbeda dari yang dilempar Alan. Jarinya dengan lincah menekan beberapa angka.
“Aku membutuhkanmu.” Ucap Jimmy setelah sambungan teleponnya terhubung. Setelah memberitahu sang lawan bicara posisinya saat ini, Jimmy langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Lalu beralih menatap datar pada Rico yang kepalanya mengeluarkan darah.