Married With The Devil

Married With The Devil
Love


__ADS_3

Empat tahun telah berlalu dan sudah begitu banyak hal yang juga berubah. Saat ini, Bianca telah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa berusia dua puluh satu tahun. Rambutnya masih sama—hitam panjang dengan bagian ujung rambut yang bergelombang. Bentuk tubuhnya pun juga lebih indah. Bak seorang model profesional.


Setelah menyelesaikan kuliahnya di salah satu universitas bergengsi dalam kurun waktu tiga tahun sebagai lulusan jurusan manajemen bisnis, Alan langsung memintanya untuk menjadi sekretaris pribadi pria itu. Padahal awalnya, ia berencana untuk melamar pekerjaan di salah satu perusahaan asing yang bergerak dibidang software.


“Sayang.” Alan yang baru saja menandaskan sarapan paginya, menatap hangat pada Bianca yang baru saja bergabung dengannya di meja makan. Wanita itu terlihat cantik dalam balutan kemeja polos pink berlengan panjang yang dipadukan dengan rok span pendek warna hitam. Kaki jenjangnya ditutupi oleh sepatu hak berwarna krem setinggi sepuluh senti.


“Ya.” Jawab Bianca. Satu kecupan singkat ia daratkan pada sudut bibir Alan lalu segera mendudukkan dirinya tak jauh dari pria itu untuk menikmati sarapan pagi yang telah Sofie siapkan—roti panggang, telur setengah matang serta sosis dan juga bacon.


Alan segera menggenggam erat tangan Bianca yang duduk di dekatnya. Lima tahun telah berlalu setelah mereka menyandang satus sebagai pasangan suami-istri. Seraya tersenyum simpul, Alan mengecup jari manis sebelah kiri Bianca—tempat sebuah cincin emas putih yang dihiasi oleh butiran- butiran berlian berukuran kecil.


Setelah Bianca lulus kuliah, Alan mengatakan pada wanita itu jika ia ingin mengadakan resepsi pernikahan mereka dan mengundang semua rekan-rekan kerjanya agar semua orang tahu kalau Bianca adalah istrinya. Bukan hanya sekadar kekasih. Tapi Bianca menolak. Wanita itu mengatakan padanya jika ia sudah sangat bahagia dengan kehidupan mereka sekarang. Alan hanya perlu memberitahu orang-orang terdekatnya perihal status mereka yang sebenarnya. Sebagai gantinya, ia menghadiahkan cincin tersebut pada Bianca. Sementara ia sendiri memakai cincin emas putih polos dengan ukiran namanya dan Bianca di bagian dalam—sepasang dengan milik wanita itu. Serta hasil karya perancang ternama.


“Apa Jimmy belum datang?” Tanya Bianca seraya menatap Alan lekat. Ia tersenyum senang ketika pria itu beralih untuk mengecup punggung tangannya. Prianya berubah menjadi lebih romantis. Berbeda jauh ketika mereka pertama kali bersama.


“Aku langsung menyuruhnya ke kantor.” Jawab Alan. Selagi Bianca masih bersiap-siap, ia segera menghubungi Jimmy dan menyuruh pria itu untuk langsung datang ke kantor dan tak menjemputnya. Hari ini, ia punya janji bertemu dengan teman lamanya. Dan ingin Bianca yang menemaninya.


“Ayo.” Ucap Alan seraya menggenggam tangan Bianca. Mereka berdua melangkah bersama menuju mobil hitam Alan yang telah terparkir di halaman rumah.


“Kita bisa terlambat.” Bianca berucap kesal ketika baru saja memasang sabuk pengamannya, Alan justru mengecup lama bibirnya. Dan diakhiri dengan kecupan singkat di pipi.


“Aku tak peduli. Dia bisa menunggu.” Alan berucap santai seraya menyeringai kecil. Ia memang punya janji dengan salah satu temannya yang sudah cukup lama bekerjasama dengan perusahaannya. Tapi bukan berarti ia akan bersikap layaknya bawahan yang datang cepat dan menunggu seperti orang bodoh. Dalam hidupnya, Alan tak pernah sekalipun menundukkan kepala atau pun membungkukkan badan pada orang lain. Kecuali pada Bianca. Wanita itu bahkan mampu membuatnya bertekuk lutut.


***


Alan dan Bianca yang baru saja tiba di dalam ruangan VIP sebuah restoran makanan Jerman, langsung disambut senyuman oleh seorang pria bertubuh tinggi dan berkulit sedikit gelap. Pria itu bahkan langsung menghampiri Alan seraya memeluknya sekilas.


“Long time no see.” Ucap pria itu seraya tersenyum geli melihat ekspresi kesal Alan.


“Bukankah aku sudah berkali-kali mengatakan padamu untuk tak memelukku, Aideen.” Pria yang dipanggil Aideen itu sontak tertawa geli. Pandangannya segera beralih pada Bianca yang sejak tadi berdiri di dekat Alan tanpa mengucapkan apa pun.


“Mrs. Bianca.” Sapa Aideen ramah. Ia mengulurkan sebelah tangannya pada Bianca dengan harapan, wanita itu segera menyambutnya. Ia memang sudah diberitahu oleh Alan jika akan datang bersama seorang wanita bernama Bianca.


“Senang bertemu denganmu, Mr. Aideen.” Balas Bianca seraya tersenyum simpul. Mata coklatnya yang berpadu dengan rambut hitam bergelombangnya, terlihat begitu cantik di mata pria itu. Aideen bahkan tak sadar jika ia menjabat tangan Bianca dengan sedikit kuat seraya meremasnya pelan.


“Aku tak punya banyak waktu.” Alan berucap sinis seraya menatap Aideen tajam sehingga membuat pria itu dengan cepat melepas genggaman tangannya pada Bianca. Lalu mengajak mereka berdua untuk segera duduk bersama.


“Apa dia sekretarismu?” Tanya Aideen seraya menatap Alan lekat. Ia memang baru bertemu dengan Alan setelah menghabiskan waktunya selama enam tahun di Eropa untuk mengurus perusahaannya yang berada di sana.


“Ya. Dan juga istriku.” Jawab Alan santai.


“APA?! Istrimu?” Aideen berteriak kaget seraya menatap Alan tak percaya. Pria yang gemar berganti wanita itu telah menikah dan tak memberitahunya sama sekali. Pun mengundangnya. Padahal mereka masih sering berkomunikasi. Walaupun hanya membahas masalah pekerjaan.


“Aku sengaja menjadikan istriku sebagai sekretaris pribadi agar kami bisa selalu bersama. Sekaligus menjaganya dari pria brengsek sepertimu.” Ucap Alan seraya menyeringai puas. Ia memang dengan sengaja meminta—lebih tepatnya memaksa Bianca agar menjadi sekretaris pribadinya dan ikut ke mana pun ia pergi. Alan tak bisa tenang jika harus membiarkan istrinya bekerja di tempat lain dan justru bertemu dengan banyak pria brengsek di luar sana.


“Wow. Aku benar-benar tak percaya.” Seru Aideen takjub. Tak lama, ekspresi wajahnya berubah menjadi serius.


“Jadi, cepat katakan apa maumu.” Ujar Alan tanpa minat. Jujur saja, ia sangat ingin berduaan dengan Bianca. Tanpa gangguan dari siapa pun.


“Aku ingin memintamu untuk berinvestasi di anak perusahaanku yang baru saja kudirikan.” Ucap Aideen tegas. Ia memang baru saja mendirikan satu anak perusahaan yang terletak di Texas. Sedangkan pusatnya, berada di Eropa. Itulah sebabnya ia menghabiskan lebih banyak waktu di sana.

__ADS_1


“Anak perusahaan?” Tanya Alan seraya menatap Aideen lekat. Ia tak masalah jika diminta untuk berinvestasi, apalagi oleh pria itu. Hanya saja, Alan ingin tahu lebih dulu perusahaan seperti apa yang pria itu dirikan.


“Periklanan.” Jawab Aideen. Perusahaannya yang berada di Eropa juga bergerak dibidang yang sama. Hanya saja, ia ingin kembali mendirikan satu perusahaan di negara yang berbeda.


“Tak masalah. Kau tinggal mengirim rinciannya ke alamat e-mailku. Dan Bianca yang akan memutuskannya.” Ucap Alan santai. Dengan cepat, ia berdiri dari duduknya seraya menggenggam tangan Bianca. Ia juga mengabaikan raut wajah tak mengerti Aideen.


Bianca sudah lebih dari kata pantas untuk mengambil alih perusahaannya. Wanita itu bukan hanya cantik, tapi juga cerdas. Dan sejak Bianca menjadi sekretaris pribadinya, semua pekerjaannya bisa selesai lebih cepat. Bahkan jadwalnya pun tersusun rapi.


“Aku pergi dulu.” Ujar Alan seraya melangkah pergi bersama Bianca. Meninggalkan Aideen seorang diri yang hanya bisa menatapnya tak percaya. Ia juga tak membiarkan Bianca untuk berpamitan atau pun menatap pria itu lagi.


“Pria itu tak pernah berubah.” Gumam Aideen seraya tersenyum takjub. Alan bahkan tak mau merepotkan dirinya untuk menyentuh minuman yang telah ia pesankan.


***


Fiona yang baru saja selesai mandi dan berniat menuju dapur untuk mengambil air mineral, tersentak kaget ketika ia mendapati Jimmy baru saja masuk ke dalam rumah. Ia segera mengalihkan perhatiannya pada jam di dinding—pukul lima sore. Pria itu pulang lebih cepat dari biasanya.


“Fiona.” Jimmy yang baru saja berbalik setelah menutup pintu, tertegun tak percaya saat mendapati Fiona yang hanya mengenakan jubah mandi berwarna biru sebatas lutut. Dengan cepat, ia segera menghampiri wanita itu lalu berdiri tepat di hadapannya.


“Kau–sudah pulang?” Tanya Fiona dengan wajah merona. Sekalipun sudah tinggal bersama cukup lama, ia masih tetap saja merasa malu. Padahal ini bukan kali pertama Jimmy melihatnya mengenakan jubah mandi.


“Aku merindukanmu.” Bisik Jimmy seraya memeluk erat Fiona. Rambut wanita itu masih setengah basah. Dan Jimmy pun masih bisa mencium dengan jelas aroma sabun yang menguar dari tubuh wanita itu.


“Apa kau ingin aku membuatkanmu makanan?” Fiona segera mendongak untuk menatap Jimmy tanpa melepaskan pelukannya. Mata biru pria itu menatapnya hangat.


“Nanti.” Jawab Jimmy. Ia lebih memilih untuk mengecup kepala Fiona. Lalu beralih ke kening dan kedua pipi wanita itu.


“Jimmy.” Bisik Fiona seraya memejamkan mata. Jimmy kembali menyatukan bibir mereka.


“Ya. Dia baru saja menghabiskan semangkuk sereal dan sepiring kecil nuget ayam.” Jawab Fiona seraya tersenyum senang. Selama tiga tahun terakhir, Jane mulai menunjukkan perubahan kecil. Wanita itu bukan hanya mengedipkan matanya ketika merespon ucapannya atau Jimmy. Tapi juga mulai menganggukkan kepalanya walaupun hanya sesekali. Nafsu makan Jane juga bertambah. Wanita itu hampir tak pernah lagi menyisakan makanannya. Dan yang lebih membahagiakannya lagi, Jane pun tak pernah lagi mengamuk atau berteriak secara tiba-tiba seperti dulu.


“Terima kasih.” Ucap Jimmy tulus. Ia merasa jika semua perubahan yang terjadi pada Jane adalah berkat usaha dan ketulusan Fiona dalam merawat serta menemani saudaranya.


“Aku senang melakukannya.” Fiona menjawab senang dengan wajah bahagia. Ketika menatap Jane, ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga dan merawat wanita itu sampai Jane kembali menjadi dirinya sendiri.


Perlahan, Jimmy kembali menyatukan bibir mereka berdua. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk memegang tengkuk wanita itu dan membuat ciuman mereka berdua semakin dalam. Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Jimmy mengajak Fiona untuk melangkah pelan menuju kamar wanita itu yang terletak tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Sebelah tangannya yang bebas dengan cepat memegang dan menekan gagang pintu kamar Fiona agar segera terbuka.


“Jimmy.” Ucap Fiona di antara deru napasnya. Mata hazelnya menatap Jimmy lekat. Dan pria itu juga melakukan hal yang sama.


Tak lama, tubuh keduanya menghilang di dalam kamar Fiona seiring dengan bunyi dentuman kecil pada pintu yang telah tertutu rapat. Dalam diam, mereka berdua saling berbagi dan melampiaskan kerinduan masing-masing.


Sudah lebih dari tiga tahun lamanya setelah Jimmy mengajak Fiona bertunangan. Tepat satu tahun setelah mereka tinggal bersama, Jimmy tanpa ragu berlutut di hadapan Fiona seraya menyodorkan sebuah kotak beludru berwarna biru dan berisikan satu cincin emas bertahtahkan sebuah pink diamond berukuran cukup besar. Ia sudah yakin akan perasaannya pada wanita itu.


Tanpa sadar, Fiona menitikan air mata seraya mengangguk cepat sebagai jawaban. Dan setelah Jimmy memasangkan cincin tersebut ke jari manis sebelah kanannya, ia segera memeluk erat pria itu sembari mengucapkan kalimat penuh cinta. Lalu mengecup lama bibir Jimmy. Berharap, pria itu juga tahu akan perasaannya tanpa harus dikatakannya lagi.


***


Alan yang baru saja berniat merebahkan dirinya di samping Bianca, sontak menggeram jengkel ketika ponselnya kembali berdering. Dengan kesal, ia segera menatap layarnya dan menemukan nama “Robin Carter” tertera di sana.

__ADS_1


“Ya, Mr. Carter.” Jawab Alan tak bersahabat. Sementara lawan bicaranya di seberang sana justru tertawa kecil.


“Aku ingin mengundangmu untuk makan malam lusa nanti.” Jawab Robin senang. Pria tua itu terdengar begitu bahagia.


“Hanya itu? Aku harus bertanya pada istriku du—”


“Ya, kau bisa bertanya pada Bianca terlebih dulu. Tapi aku yakin, dia pasti tak akan menolaknya.” Sela Robin cepat.


“Aku akan menanyakannya sekarang.” Ucap Alan cepat seraya memutuskan sambungan telfonnya secara sepihak. Lalu kembali meletakkan ponselnya di atas nakas. Setelah lebih dulu menonaktifkannya.


“Siapa?” Tanya Bianca seraya menatap Alan. Buku yang tadi sedang di bacanya, telah ia letakkan di dalam rak berukuran sedang yang berada di dalam kamar Alan.


“Robin. Dia mengajak kita untuk makan malam bersama.” Jawab Alan seraya memposisikan tubuhnya di dekat Bianca seraya meletakkan sebelah tangannya di atas perut wanita itu yang masih duduk menyandar di atas tempat tidur.


“Tak masalah.” Jawab Bianca tak acuh. Bukan hanya dirinya yang berubah tapi juga Kate. Wanita yang dulu pernah menyukai bahkan tergila-gila pada Alan, telah menikah dan mempunyai seorang anak perempuan.


“Aku akan memberitahu Robin nanti.” Ucap Alan. Ia segera memberi isyarat pada Bianca untuk ikut merebahkan tubuhnya. Sudah sedari tadi ia ingin menyentuh wanita itu namun terus saja mendapat gangguan.


Sembari tersenyum, Bianca segera mengikuti ucapan Alan lalu menautkan jemari mereka. Dengan tak sabaran, Alan memeluk posesif tubuh istrinya. Ia benar-benar mencintai dan menyayangi Bianca.


Satu kecupan ia daratkan pada leher Bianca. Lalu beralih ke bahunya. Secara tak sabaran, ia mempertemukan bibirnya dengan bibir Bianca dalam ciuman panas tanpa henti.


Keduanya larut dalam tautan memabukkan tersebut. Dan satu desahan kecil yang lolos dari bibir Bianca, menjadi tanda jika mereka berdua akan kembali berakhir dengan pusaran kenikmatan.


***


Riuh suara teriakan serta dentuman musik keras kembali memenuhi ruangan gelap berlampu warna-warni tersebut. Tak jauh dari bangunan kokoh sebuah apartemen mewah, terdapat satu club besar yang diperuntukkan untuk mereka yang berasal dari kalangan menengah. Wanita-wanita berpakaian seksi juga menenuhi ruangan tersebut.


“Setelah ini giliranmu.” Seorang wanita berambut pendek yang hanya mengenakan lingerie transparan, berucap pada salah satu rekannya yang juga berada di dalam ruangan yang sama dengannya.


“Siapa?” Sang wanita yang diajak berbicara berucap tak acuh seraya memoleskan lipstik berwarna magenta pada bibirnya.


“Mr. Daffin.”


“Okay. Aku akan segera ke sana.” Jawabnya seraya tersenyum menggoda. Tubunya yang tertutupi gaun tipis dan seksi, melangkah pelan menuju salah satu kamar yang berada di dalam club tersebut.


“Stacy, apa kau sudah meminum birth controll pillmu?” Temannya berteriak dengan suara yang cukup keras. Wanita yang dipanggilnya Stacy itu sontak berbalik seraya mengedip nakal.


“Bitch sekali.” Gumam temannya seraya tertawa sumbang.


Hanya dengan satu kali ketukan, pintu kamar yang tadinya tertutup rapat itu sontak terbuka lebar dan menampilkan seorang pria paruh baya yang masih terlihat lumayan tampan, tengah menatapnya lekat seraya tersenyum sekilas. Tak lama, tubuhnya yang hanya ditutupi oleh handuk, segera menarik tangan Stacy untuk menempel padanya.


“Mr. Daffin.” Bisik Stacy dengan suara manja.


“Aku sudah menunggumu sedari tadi.” Pria paruh baya yang dipanggil Daffin itu berucap dengan napas memburu penuh hasrat. Dengan cepat, ia menarik Stacy menuju tempat tidur agar bisa segera memuaskan dirinya. Dan memakai wanita itu sampai ia merasa puas.


Setelah dikeluarkan secara tak hormat dari sekolah serta diabaikan oleh kedua orang tuanya, Stacy memilih untuk menjadikan dirinya sebagai wanita penghibur sekaligus pemuas lelaki. Tanpa harus bersusah payah atau pun bekerja keras, ia bisa mendapatkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan serta gaya hidupnya. Ia hanya perlu membuka kedua pahanya untuk setiap pria yang telah membayarnya. Dan kenikmatan , bisa ia dapatkan.


Ia juga tahu jika pria tua yang saat ini sedang menguasai tubuh bagian bawahnya adalah ayah dari Rico. Pria brengsek yang telah menghancurkan hidupnya. Namun Stacy tak lagi peduli, selama Daffin membayarnya, ia tak akan keberatan untuk memuaskan hasrat pria itu.

__ADS_1


Dan menurut berita yang didengarnya, perusahaan milik pria itu berada diambang kehancuran. Daffin kehilangan banyak client penting. Dan orang-orang yang bekerjasama dengannya, secara mendadak menarik semua investasi mereka. Dan penyebabnya adalah orang yang sama yang membuat hidupnya menjadi berantakan seperti ini.


“Shit!” Daffin mengumpat jengkel ketika Stacy selalu bisa membuatnya hilang kendali. Satu pukulan kuat ia layangkan pada bokong wanita itu. Lalu setelahnya, ia kan terus menyiksa Stacy sampai dirinya merasa puas. Uang yang dikeluarkannya tak berakhir sia-sia.


__ADS_2