Married With The Devil

Married With The Devil
Perubahan Sikap


__ADS_3

Pukul lima pagi, Alan terbangun secara tiba-tiba. Deru napasnya memburu. Ditambah dengan detak jantungnya yang jauh dari kata normal. Dengan cepat, ia beralih menatap Bianca dan mendapati wanita itu masih tertidur pulas. Namun, Alan yang baru saja merasa lega, secara tak sengaja menatap tangan Bianca yang berada di atas selimut. Matanya membulat tak percaya ketika melihat pergelangan tangan wanita itu memerah serta meninggalkan bekas yang cukup jelas.


Alan segera berlari menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Di depan cermin, ia menatap wajahnya yang terlihat berantakan. Bahkan setelah meminum obat tidur sekali pun, kantung matanya tetap saja muncul. Alan yakin jika semalam ia bermimpi buruk dan tanpa sadar bertindak di luar kendalinya.


“Brengsek!” Umpat Alan dengan suara pelan.


***


Bianca yang masih tertidup pulas, mau tak mau segera membuka mata ketika ponselnya yang berada di atas meja nakas samping tempat tidur terus berdering. Nama Lily tertera pada layarnya.


“Halo, Lily.” Sapa Bianca dengan suara serak. Ia kembali memejamkan matanya.


“Bianca, kau masih tertidur?” Di seberang sana Lily berucap dengan nada tak percaya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


“Bianca!” Panggil Lily dengan suara yang cukup keras.


“Ya?” Bianca menjawab cepat seraya membuka kedua matanya.


“Bangun dan temani aku ke toko buku. Aku akan menunggumu di tempat biasa. Dua puluh menit.” Seusai berucap, Lily langsung mematikan sambungan telfon. Dan meninggalkan Bianca yang hanya bisa menatap layar ponselnya tak percaya.


“Ya Tuhan.” Bianca mendengus jengkel seraya bangkit dari atas tempat tidur dan tersadar jika sosok Alan telah menghilang. Ia tahu jika pria itu sedang tak bekerja. Mengingat jika hari ini adalah hari minggu. Biasanya, Alan selalu membangunkannya untuk sarapan atau pun makan siang bersama. Tapi sekarang, pria itu pergi tanpa mengatakan apa pun.


“Hah.” Bianca menghela napas kasar seraya menatap pergelangan tangannya. Tempat Alan mencetak jejak genggaman yang cukup jelas. Dengan berat, Bianca melangkah menuju kamar mandi. Mungkin memang sebaiknya hari ini ia keluar untuk mencari udara segar.


***


Jimmy yang sedang menemani Alan di kantor, segera mengambil ponselnya yang bergetar singkat di dalam saku celananya. Sebuah pesan dari Bianca baru saja masuk.


Katakan padanya, aku sedang menemani Lily ke toko buku.


“Tuan.” Panggil Jimmy seraya menatap Alan. Lalu menyodorkan ponselnya pada pria itu.


“Apa?” Tanya Alan tak mengerti. Namun tetap menerima ponsel yang Jimmy berikan.


“Pesan dari nona Bianca.” Alan dengan cepat menatap layar ponsel Jimmy ketika mendengar nama Bianca. Tak lama, pria itu menghela napas dalam seraya mengembalikan ponsel Jimmy.


“Kenapa dia tak langsung memberitahuku?” Alan menunduk seraya berucap lirih. Kepalanya terasa pusing.


“Apa sedang terjadi sesuatu?” Jimmy bertanya tanpa ragu. Ia juga menatap Alan lekat. Menanti jawaban dari pria itu.


“Aku tak tahu!” Alan berucap frustasi seraya mendongak dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Ia memang memutuskan untuk datang ke kantor dihari minggu ini dan meminta Jimmy untuk menemaninya. Setidaknya, berada jauh dari Bianca membuatnya merasa sedikit lega tanpa harus takut jika ia akan kembali menyakiti wanita itu.


“Mimpi buruk?” Jimmy bertanya tanpa rasa takut. Ia bukan baru mengenal Alan. Mereka sudah bersama dengan cukup lama.


“Mimpi buruk sialan itu kembali lagi.” Alan berucap dengan wajah menahan marah. Padahal ia yakin, jika ia sudah bisa lepas dari semuanya. Dan sekarang, ketika ia telah merasa hubungannya bersama Bianca mulai berjalan baik, sesuatu yang sangat ingin dilupakannya, muncul kembali.


“Apa terjadi sesuatu pada nona Bianca?”

__ADS_1


“Kurasa aku harus menambah dosis obat tidurku.” Lirih Alan. Sengaja mengabaikan pertanyaan Jimmy.


“Tuan!” Seru Jimmy seraya menatap Alan tak percaya.


“Kurasa, selama beberapa hari, aku akan tidur di sini.”


Selain memiliki ruangan kerja yang begitu luas dengan fasilitas super mewah dan lengkap. Di dalamnya juga terdapat sebuah pintu rahasia yang ketika terbuka, akan menampakkan sebuah kamar berukuran besar. Lengkap dengan kamar mandi dan juga kasur king size.


Alan memang dengan sengaja membuat kantornya senyaman mungkin. Bukan hanya untuk pegawainya tapi juga untuk dirinya sendiri.


“Tapi, bagaimana dengan nona Bianca?”


“Aku akan pulang dan berbicara dengannya nanti.” Ucap Alan tanpa semangat. Ia kembali mengisi gelasnya yang kosong dengan Cider—minuman beralkohol yang terbuat dari buah apel yang difermentasikan. Dengan minum, Alan merasa sedikit lebih tenang.


***


Bianca menatap Lily yang sedang sibuk memilih buku dalam diam. Sudah hampir tiga puluh menit mereka berdua mengelilingi seluruh penjuru toko buku tersebut, tapi Lily belum juga membeli apa pun.


Bianca dengan sengaja memakai baju berlengan panjang. Ia tak ingin Lily melihat pergelangan tangannya dan membuat gadis itu khawatir.


“Sebenarnya, kau sedang mencari buku apa?” Tanya Bianca. Ia juga ikut mengambil sebuah buku yang pada sampulnya terdapat gambar “hati.”


“Aku sedang mencari novel misteri yang baru saja rilis. Ditambah dengan beberapa novel horor dan juga thriller.” Jawab Lily senang. Matanya berbinar ketika melihat sebuah buku yang cukup tebal bersampul hitam.


“Kau tak membeli buku juga?” Tanya Lily seraya menatap Bianca sekilas.


“Cara menjadi kekasih yang baik, mungkin.” Lily berucap asal seraya terkekeh geli. Tanpa Lily sadari, raut wajah Bianca seketika berubah. Ia kembali teringat pada Alan.


“Aku lapar.” Lirih Bianca. Dengan cepat ia menarik Lily menuju kasir. Bianca terpaksa melakukannya agar mereka segera beranjak pergi. Jika tidak, Lily akan tinggal lebih lama lagi dan membeli banyak buku.


***


Bianca baru tiba ketika hari sudah mulai menjelang sore. Ia juga melihat mobil Alan yang terparkir di luar. Bukan di halaman rumah atau pun garasi.


“Bianca.” Alan yang sedang duduk di ruang tamu, segera memanggil Bianca ketika wanita itu baru saja masuk.


“Kenapa mobilmu terparkir di luar?” Bianca bertanya dengan nada penasaran.


“Kemari lah.” Ucap Alan seraya mengisyaratkan Bianca untuk duduk di hadapanya.


Alan tak langsung mengatakan tujuannya pulang ke rumah. Ia lebih memilih untuk menatap Bianca intens seraya menghela napas dalam. Ia ingin sekali memeluk dan mengecup bibir Bianca. Tapi Alan takut jika ia kembali menyakiti wanita itu.


“Alan.” Panggil Bianca ketika Alan masih terdiam.


“Selama beberapa hari, aku akan tinggal di kantor.” Kening Bianca berkerut tak mengerti ketika mendengar ucapan Alan.


“Tinggal?” Tanya Bianca memastikan.

__ADS_1


“Ya. Aku tak akan pulang ke rumah. Aku sudah memberitahu Sofie dan menyuruhnya untuk menemanimu.” Bianca segera bangkit dari duduknya seraya menatap Alan tajam. Ia benar-benar tak mengerti dengan sikap pria itu.


“Alan, apa yang sebenarnya terjadi padamu?!”


“Jimmy juga akan—”


“ALAN!” Teriak Bianca  dengan wajah kesal. Pria itu sengaja menghindari pertanyaannya.


“Katakan padaku, ada apa sebenarnya denganmu? Aku benar-benar tak mengerti. Sikapmu mendadak berubah aneh. Terkadang, aku merasa jika kau ini seseorang yang asing bagiku.”


“Tak terjadi apa pun padaku. Aku hanya ingin memberi jarak di antara kita.” Jawab Alan tanpa menatap Bianca.


“Jarak? Untuk apa?”


“Tak ada alasan yang penting. Aku hanya ingin menyendiri.” Bianca yang tak tahan lagi, tanpa sadar melepas secara kasar sling bag yang ia gunakan. Hatinya sakit ketika mendengar ucapan santai Alan.


“Apa sebegitu tak berharganya aku untukmu?” Bianca berucap dingin seraya menatap Alan datar. Wajahnya juga tak menampakkan ekspresi apa pun.


“Bianca, bukan seperti itu maksudku.” Alan berucap panik seraya menatap Bianca dengan tatapan bersalah. Sungguh, ia tak bermaksud untuk menyakiti wanita itu.


“Terkadang, kau memperlakukanku dengan begitu lembut. Membuatku merasa, jika aku ini benar-benar sosok yang berharga untukmu. Tapi setelahnya, kau juga memperlakukanku dengan kasar, bahkan sampai menyakitiku.” Ucap Bianca seraya menatap Alan sedih. Dadanya sesak. Namun ia tak ingin menangis di hadapan Alan. Tidak setelah tahu jika pria itu membuangnya begitu saja.


“Aku terpaksa melakukannya karena tak ingin menyakitimu.”


“Menyakitiku? Apa kau tak sadar jika yang kau lakukan saat ini lebih menyakitiku lagi? Jika kau memang sudah tak membutuhkanku, kau bisa langsung membuangku begitu saja.”


“Kau tak tahu apa pun.” Alan berucap lirih seraya mengalihkan pandangannya. Hatinya juga sesak ketika melihat Bianca terluka.


“Aku tak tahu karena kau tak pernah mengatakan apa pun padaku!” Bianca berteriak marah seraya menatap Alan penuh kebencian. Ia tak bisa lagi menahan laju air matanya. Pria itu selalu saja berbuat seenaknya.


“Apa kau ingin kejadian beberapa hari yang lalu kembali terulang? Bianca, aku tak ingin melakukan sesuatu yang membuatmu terluka. Bukankah bekas dipergelangan tanganmu itu akibat dari ulahku? Bagaimana jika aku melakukan yang lebih buruk dari itu tanpa aku sadari?!”


“Dan kau pikir pergi dari rumah bisa menyelesaikan segalanya? Kau tak menjelaskan apa pun padaku dan lebih memilih untuk menjauhiku. Apa semua sikap manismu selama ini hanya sebuah kebohongan juga?” Bianca sudah tak peduli lagi jika ia membuat Alan marah. Bahkan jika pria itu menyakitinya lebih dalam, Bianca juga tak peduli. Jauh lebih baik jika Alan langsung menghancurkannya saja. Dari pada harus menyiksanya secara perlahan.


“Bianca, aku mencintaimu. Dan menyakitimu adalah satu-satunya hal yang tak akan mungkin kulakukan. Tapi aku tak punya pilihan lain. Setidaknya, untuk saat ini, biarkan aku menyendiri untuk menyelesaikan semuanya.” Alan akhirnya mengungkapkan seperti apa perasaannya pada Bianca. Dan berharap agar wanita itu mau sedikit mengerti.


Bianca tertawa sumbang. Ia tak bereaksi sama sekali ketika mendengar ucapan Alan barusan.


Cinta? Persetan dengan semuanya!


“Bukankah rumah ini milikmu? Jauh lebih pantas jika aku yang pergi.” Bianca segera mengambil tasnya yang tergeletak di atas lantai. Dengan cepat, ia berlari keluar meninggalkan Alan. Tangannya dengan lincah bergerak di atas layar ponsel untuk menelfon taksi. Bianca akan pergi ke mana pun. Bahkan tinggal di jalanan juga tak akan masalah. Manusia buangan dan tak berharga sepertinya memang tak pernah punya tempat.


“Bianca!” Alan hanya mampu berteriak tanpa bergerak sedikit pun. Ia ingin mengejar wanita itu. Tapi di sisi lain, ia juga tak ingin menyakiti Bianca. Alan yakin jika Bianca akan baik-baik saja karena wanita itu memiliki seorang sahabat yang baik.


Mungkin memang ini yang terbaik untuk mereka berdua.


Mimpi buruknya adalah momok paling menakutkan dan juga mengerikan baginya. Dan satu-satunya cara untuk terbebas adalah dengan berdamai dengannya.

__ADS_1


Lalu setelahnya, Alan akan menceritakan semuanya pada Bianca. Tanpa menyembunyikan satu hal sedikit pun.


__ADS_2