
Pagi ini, ada satu pemandangan yang berbeda di kediaman Alan. Lebih tepatnya di bagian dapur. Setelah menyelesaikan sarapan, Bianca langsung mengajak Alan untuk membuat cookies coklat bersama. Wanita juga itu meminta Sofie untuk beristirahat saja dan tak masuk bekerja. Berhubung sedang hari minggu, jadi Bianca ingin menghabiskan waktunya bersama Alan dengan melakukan hal yang menyenangkan.
Di mata Bianca, Alan terlihat semakin tampan dalam balutan apron berwarna coklat yang dikenakannya. Pria itu bahkan tak menolak sama sekali saat Bianca memintanya mengambil beberapa bahan yang diperlukan di dalam kulkas.
“Sayang.” Panggil Alan seraya memasangkan apron yang sama seperti dipakainya pada Bianca. Iris hitamnya menatap wanita itu lekat.
“Hm.”
“Apa kau yakin akan baik-baik saja?” Tanya Alan khawatir. Ia tak ingin istrinya sampai kelelahan.
“Aku yakin.” Jawab Bianca seraya mengecup sekilas bibir Alan. Berusaha untuk meyakinkan pria itu agar tak terlalu mencemaskannya. Bianca hanya merasa jika suasana hatinya hari ini benar-benar sedang baik. Karena itulah ia memutuskan untuk membuat kue kering coklat yang akan diberikannya juga pada Jane dan Fiona nanti.
“Lalu apa yang harus kulakukan?” Pertanyaan bingung Alan sontak membuat Bianca tertawa kecil. Tahu betul jika ini adalah yang pertama bagi pria itu. Dalam hati, Bianca kembali bersyukur karena hampir semua yang mereka lakukan adalah yang pertama untuk Alan. Pun dirinya. Kecuali satu hal. Yah. Satu hal.
“Campurkan telur, gula dan margarin yang sudah kutakar menjadi satu.” Ucap Bianca seraya menunjuk tiga buah mangkuk putih yang masing-masing berisi beberapa bahan untuk membuat kue yang telah ditakarnya lebih dulu.
“Campur? Apa aku harus menggunakan tangan?” Tanya Alan bingung. Pasalnya, Bianca tak menjelaskan secara rinci. Jangankan untuk membuat kue, memasak nasi pun ia tak tahu.
“Alan, kau harus menggunakan mixer.” Seru Bianca geli seraya menunjuk mixer yang berada tak jauh dari mereka berdua.
Alan mengangguk mengerti. Tanpa bertanya lebih jauh lagi, pria itu mengambil mixer tersebut yang telah lebih dulu Bianca sambungkan pada aliran listrik.
“Sayang!” Alan sontak berseru kaget ketika tangannya secara tak sengaja menekan tombol on pada mixer tersebut. Pria itu bahkan mengangkat ke atas mixer yang masih berputar dan sukses membuat apron yang dikenakannya sedikit kotor.
“Biar aku yang melakukannya.” Bianca tak kuasa menahan tawanya ketika mendengar ucapan panik prianya. Apalagi saat menatap wajah kaget pria itu.
Alan yang melihat tawa istrinya, juga ikut tersenyum senang. Bersyukur karena wanita itu terlihat begitu bahagia. Biasanya, setiap pagi menyapa, yang pertama kali dilihatnya adalah wajah pucat serta kelelahan istrinya karena terus saja merasa mual serta memuntahkan makanan yang masuk ke perutnya. Tapi hari ini, Bianca menikmati sarapan paginya dengan lahap.
“Jauh lebih baik jika aku melihatmu saja.” Dengan penuh kehati-hatian, Alan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Bianca. Memeluknya dari arah belakang seraya meletakkan dagunya pada bahu kiri Bianca.
Bianca tersenyum. Wanita itu menoleh dengan cepat untuk mengecup pipi suaminya.
“Apa kau sengaja ingin menggodaku?” Bisik Alan tepat di depan telinga Bianca. Sengaja ingin menggodanya.
“Alan!” Seru Bianca kaget ketika merasakan kedua bibir Alan menempel pada lehernya.
Alan tak peduli. Pria itu masih tetap fokus mengecupi seluruh bagian leher istrinya. Dan saat bibirnya berada di tengkuk Bianca, Alan secara sengaja mengigitnya pelan.
“Alan!” Bianca dengan cepat berbalik. Ia menatap Alan jengkel karena pria itu dengan sengaja menggoda serta mengganggunya.
“Aku hanya ingin menghabiskan waktu berdua bersamamu.” Bisik Alan. Satu kecupan singkat pria itu daratkan pada bibir menggoda istrinya.
“Kau bisa melakukannya nanti setelah aku selesai.” Ucap Bianca.
Namun, saat Bianca hendak berbalik, Alan dengan cepat memegang kedua pinggulnya seraya menahan tubuh wanita itu untuk tetap menghadap padanya.
“Apa yang ka—” Bianca hanya bisa membulatkan mata tak percaya saat Alan kembali mengulum bibirnya. ********** secara bergantian disertai dengan suara decakan yang begitu mengintimidasi.
Awalnya, Bianca mengira jika ajakannya untuk membuat kue bersama bisa berlangsung dengan lancar tanpa halangan sama sekali. Tapi nyatanya, Alan justru menjadi pengganggu terbesarnya. Pria itu bahkan tak membiarkannya bergerak sama sekali.
“Bianca.” Ucap Alan. Sebelah tangannya telah terangkat ke atas untuk memegang pipi wanita itu dengan tetap menyatukan bibir mereka berdua.
“Kita lanjutkan setelah aku selesai.” Ucap Bianca setelah memutuskan tautan bibir mereka secara sepihak. Di hadapannya, Alan justru menatapnya sedih. Tapi ia tak akan termakan oleh tipuan pria itu.
Sekali ia memberikan Alan celah, maka sudah bisa dipastikan jika pria itu akan terus mengurung dirinya di dalam kamar.
__ADS_1
***
Jane yang baru saja membuka pintu rumahnya, menatap kaget pada Bianca dan Alan yang juga menatapnya dengan tak kalah kagetnya. Pun melihat secara jelas raut wajah tak percaya Bianca.
“Jane!” Seru Bianca saat baru tersadar. Wanita itu dengan segera memeluk Jane sembari berguman tak jelas. Berbanding terbalik dari Alan yang justru menatapnya tajam.
“Jane, siapa yang dat—Bianca!” Fiona yang menyusul Jane, sontak berteriak senang ketika melihat wanita yang tengah mengandung itu datang. Setelah mempersilahkan Alan masuk, Fiona segera mengajak mereka berdua masuk untuk menemeui Jimmy yang sedang berada di ruang tengah.
“Tuan! Nona Bianca!” Ucap Jimmy kaget. Sebab, baik Alan maupun Bianca tak memberitahunya sama sekali jika mereka berdua akan datang berkunjung.
Perhatian Alan dan Bianca langsung tertuju pada seorang pria yang duduk tak jauh dari Jimmy. Yang terasa begitu tak asing bagi mereka. Tapi ketika Jane berdiri di dekat pria itu, Alan dan Bianca sama-sama tersadar jika sosok itu adalah pria yang terus berada di sisi Jane selama pesta pernikahan Jimmy dan Fiona berlangsung waktu itu.
“Mr. Drax.” Sapa James ramah. Siang ini, ia kembali berada di rumah Jimmy karena pria itulah yang memintanya untuk datang.
Alan mengangguk kecil sebagai sebuah balasan. Tanpa menunggu persetujuan dari Jimmy, Alan segera mengajak Bianca untuk duduk di sofa seraya meletakkan paper bag kecil yang dipegangnya di atas meja.
“Tuan.”
“Aku hanya membawa cookies yang Bianca buat pagi tadi.” Jawab Alan santai ketika melihat wajah Jimmy. Pria itu pasti mengira ia dan Bianca kembali membawa barang-barang mahal. Yang bagi Alan, kue buatan istrinya jauh lebih berarti dan berharga dibanding segalanya.
Jimmy yang merasa suasana di sekitarnya terasa begitu hening, sontak berdehem pelan seraya melirik sekilas pada Jane yang menatapnya cemas. Ia tahu jika wanita itu ingin memperkenalkan James sebagai pria yang dekat dengannya pada Bianca. Tapi di sisi lain, Jane juga merasa takut melihat reaksi Bianca yang sudah dianggapnya sebagai keluarga.
“Perkenalkan, dia dokter James, kekasih Jane.” Ucapan Jimmy barusan sukses membuat Bianca menatapnya tak percaya. Ditambah Alan yang juga memandangnya dengan mata memicing.
“Kekasih?” Tanya Bianca meyakinkan. Ia menatap Jimmy dan Jane secara bergantian. Lalu beralih menatap James lekat. Penuh selidik.
“Ya. Apa kau tau menyukainya, Bianca?” Bianca dan Alan kembali dibuat kaget oleh ucapan Jane. Terakhir kali mereka bertemu, Jane masih lebih sering terdiam. Dan saat ini, wanita itu justru berbicara dengan sangat lancar.
“Apa? Tidak. Tidak sama sekali.” Jawab Bianca cepat. Ia masih sibuk mencerna ucapan Jimmy serta Jane.
“Apa kau benar-benar mencintai Jane?” Bianca sadar betul jika ia tak punya hak sama sekali untuk bertanya seperti itu. Hanya saja, ia tetap tak bisa menahan dirinya. Ia menyayangi dan menganggap Jane seperti saudaranya sendiri.
“Ya. Aku mencintainya.” Jawab James mantap tanpa keraguan sedikitpun. Ia juga balas menatap Bianca lekat.
“Kau yakin?” Kali ini Alan yang bertanya. Iris hitam pria itu menatap tajam James. Sehingga membuat pria itu sedikit merasa takut.
“Aku sangat yakin, Mr. Drax.” Sebanyak apa pun orang lain bertanya padanya, jawaban James akan tetap sama. Tak akan pernah berubah. Sekalipun berubah, bisa dipastikan jika rasa sayang dan cintanyalah pada Jane yang semakin membesar.
“Aku tak akan memaafkanmu jika kau sampai menyakiti Jane.” James mengangguk mantap seusai mendengar ucapan Bianca. Mendapatkan tatapan mengintimidasi dari pasangan suami istri itu sukses membuat tubuhnya berkeringat dingin.
Menyakiti Jane? Jika James sampai benar-benar melakukannya, maka ia adalah pria paling bodoh di dunia ini.
***
Menjelang sore, Bianca memutuskan mengajak Alan pulang karena tiba-tiba saja merasa lelah. Juga kepalanya yang sedikit pusing. Bahkan Jimmy juga langsung mengajak Fiona untuk keluar sebentar. Dengan sengaja meninggalkan James dan Jane berdua. Sebab, Jimmy tahu jika masih ada begitu banyak hal yang ingin mereka berdua katakan.
“Jane.” James menggenggam erat tangan Jane yang duduk di sebelahnya. Tak lupa kecupan sayang ia daratkan pada punggung tangan wanita itu.
Jane tersenyum. Secara perlahan, ia berbalik untuk menatap lekat pada James.
Dengan lembut, James mengelus pipi wanita itu. Lalu mendaratkan satu kecupan singkat di sana.
“Jane, apa kau yakin tak akan menyesal telah memilihku?” Jane sontak menatap kaget pada James. Tak menyangka sama sekali jika pria itu akan menanyakan hal seperti tadi.
Jane masih terdiam. Tak menjawab sama sekali. Hanya raut wajah serta pancaran matanya yang menunjukkan kesedihan
__ADS_1
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Apa kau tak malu memiliki hubungan dengan wanita tak nor—”
“Aku mencintaimu!” Potong James cepat. Ia tak pernah suka mendengar Jane merendahkan dirinya sendiri. Di matanya, wanita itu selalu terlihat indah. Dan hanya Jane satu-satunya wanita yang ia inginkan. Tak peduli seberapa banyakpun wanita cantik di luar sana yang mendekatinya.
“Bagaimana jika suatu saat nanti kau tak lagi mencintaiku? Apa kau akan langsung membuangku begitu saja?”
“Jane, aku bukan tipe pria yang seperti itu.” Ada nada sedih yang terselip pada ucapan James barusan. Dengan cepat, pria itu mengalihkan perhatiannya. Menatap dalam diam pada sofa kosong di depannya.
“Maafkan aku.”
“Jane, maukah kau berjanji padaku?” Ucap James seraya kembali menatap Jane. Mata biru wanita itu selalu berhasil membuatnya terperangkap.
“Jika suatu saat nanti kau mencintai pria lain, kumohon, biarkan aku tetap berada di sisimu. Setidaknya, sampai aku memastikan jika pria yang kau pilih nanti benar-benar mampu membuatmu bahagia.”
Seusai mendengar perkataan James, Jane merasakan denyutan rasa sakit yang begitu besar pada hatinya. Pria lain? Ia tak akan mungkin bisa. Bagi Jane, memiliki James di sisinya masih terasa seperti mimpi. Dan ia tak akan mungkin sebodoh itu melepaskan pria sebaik dan setulus James hanya karena pria lain yang belum tentu mencintainya dengan penuh kesungguhan.
“Jane.”
“Aku tak bisa berjanji. Bagiku, memilikimu sudah lebih dari cukup. Aku tak menginginkan hal yang lain lagi. Bahkan jika kau berpaling pada wanita lain, aku akan tetap baik-ba—”
Jane sontak membulatkan matanya tak percaya ketika merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Dengan kedua mata yang masih membulat tak percaya, ia bisa melihat secara jelas James yang menyatukan bibir mereka. Hanya sekadar menempel. Tanpa pergerakan sedikitpun namun sukses membuat tubuhnya terdiam mematung.
“Aku mencintaimu. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi bukti seberapa berharganya dirimu untukku.” Jane tanpa sadar meneteskan air mata. Selama ini, ia mengira jika tak akan ada lagi yang mau menerima dan mencintai dirinya selain Jimmy. Terkadang, Jane menganggap Jimmy begitu bodoh karena tetap ingin merawat wanita sepertinya. Tapi hari ini, mendengar perkataan tulus James langsung membuatnya tersadar. Tak peduli seperti apa pun dirinya. Masa lalunya. Akan tetap ada yang mau menerima serta mencintainya dengan tulus. Tanpa pernah melihatnya dengan sebelah mata.
“Aku–aku juga mencintaimu, James.” Ucap Jane seraya tertunduk malu. Tak berani menatap pria itu.
“Jane, bisakah kau kembali menatapku?” Pinta James lembut seraya meletakkan sebelah tangannya pada pipi kanan wanita itu.
Jane mengangguk pelan. Secara perlahan, ia kembali mendongak dan langsung di hadapkan dengan tatapan intens pria itu.
“Aku–aku tak tahu apakah ini terlalu mendadak bagimu atau tidak. Tapi bagiku, ini adalah hal yang sudah sejak lama ingin kukatakan padamu.”
“James….”
“Jane, aku tak hanya ingin sekadar menjadi kekasihmu. Menjadi pria yang berada di sisimu di saat-saat tertentu saja. Yang hanya bisa bertemu denganmu sesekali. Yang tak bisa menggenggam tanganmu dengan bebas. Tapi aku ingin menjadi satu-satunya pria yang memelukmu, menggenggam erat tanganmu serta mengecup keningmu disetiap waktu. Tanpa jeda. Tanpa batasan. Dan tanpa alasan. Aku ingin menjadi satu-satunya pria yang berada di sisimu, baik dalam keadaan senang maupun susah. Aku ingin menjadi satu-satunya pria yang menjadi tempatmu bersandar. Berkeluh kesah. Menumpahkan air mata. Serta mendengarkan setiap isi hatimu. Bagiku, segala sesuatu yang ada pada dirimu begitu berharga bagiku. Sampai membuatku menjadi begitu egois karena tak ingin membaginya dengan pria lain. Jimmy sekalipun.”
James tak pernah mengalihkan sedetikpun tatapannya pada Jane. Tak peduli apa pun tanggapan serta jawaban wanita itu padanya, ia sudah merasa lega mengatakan semuanya. Ia hanya tak ingin menyembunyian satu hal pun dari wanita yang dicintainya. Menurutnya, Jane berhak untuk tahu seperti apa pikiran serta isi hatinya. Sehingga wanita itu bisa memilih untuk tetap bersamanya atau tidak.
Jane tak menjawab. Wanita itu justru memeluk James erat. Menenggelamkan wajahnya dalam dekapan hangat pria itu sembari menikmati aroma menenangkan yang berasal dari tubuhnya. Tak bisa dipungkiri, jantungnya di dalam sana tengah melompat-lompat bahagia setelah mendengar ucapan pria itu. Baginya, memeluk James adalah satu-satunya cara terbaik yang bisa dilakukannya untuk menyembunyikan rona merah pada wajahnya.
Sembari tersenyum simpul, James meletakkan kedua tangannya pada pundak wanita itu dan menarik tubuh Jane dengan lembut dari dalam dekapannya.
“Sampai saatnya tiba dan kau sudah benar-benar merasa yakin, maukah kau langsung memberitahuku jika kau telah bersedia untuk menghabiskan seluruh sisa hidupmu bersamaku?”
James sukses membuat Jane meneteskan air mata. Sungguh, ia tak pernah menyangka jika pria itu akan “melamarnya” secara tak langsung. Bahkan setelah tahu seperti apa dirinya dulu yang berbeda jauh dari orang normal lainnya.
“Ya.” Jawab Jane seraya mengangguk cepat. Dengan senyuman lebar yang menghiasi wajah cantiknya.
James balas tersenyum lembut.
Dengan tangan yang saling menggenggam, James mendaratkan kecupan hangat penuh kasih pada kening Jane. Ia mencintai wanita itu. Dengan sangat.
James akan melakukan apa pun untuk membuktikan seberapa besar rasa cintanya pada Jane. Seberapa berharga dan berartinya wanita itu baginya.
James akan tetap menunggu.
__ADS_1
Selama apa pun itu.