
Jimmy melangkah memasuki salah satu bar kecil yang terletak di sudut kota. Matanya menatap ruangan yang didominasi oleh kaum pria itu dengan tajam. Mencari satu sosok yang telah berhasil menarik perhatiannya.
“Jimmy!” Seorang pria bertubuh tambun menyapa Jimmy ramah. Wajahnya telah memerah karena mabuk.
Jimmy mengangguk pelan. Lalu berjalan menuju bar counter.
“Seperti biasa?” Sang bartender bertanya seraya menatap Jimmy akrab. Walaupun Jimmy baru datang beberapa kali, tapi ia merasa senang karena pria bermata biru itu selalu membayar lebih.
“Tidak. Berikan aku segelas dry martini.” Jawab Jimmy singkat. Sesekali, ia menatap pintu berwarna coklat tua yang berada tak jauh darinya. Tempat pelayan bar tersebut sering keluar masuk sekaligus terhubung dengan dapur.
Sang bartander mengangguk paham. Segera, ia membuatkan pesanan Jimmy agar tak membuat pria itu menunggu lama.
“Silahkan.” Ucap sang bartender seraya menyodorkan satu gelas kecil berisi minuman berwarna putih kepada Jimmy. Yang langsung disambut pria itu dengan senang hati.
Samar-samar, Jimmy mendengar suara seseorang yang sedari tadi dicarinya. Bahkan gelas yang baru saja Jimmy pegang, ia letakkan kembali ke atas meja. Perlahan, ia berbalik untuk menatap seorang wanita berambut panjang dan memiliki warna senada dengan cinnamon roll, sedang memunggunginya. Hari ini, rambutnya diikat dengan model kuncir kuda.
“Kau sudah minum terlalu banyak.” Sang wanita berucap dengan nada jengkel yang dibuat-buat. Salah satu pelanggan bar tersebut telah mabuk.
“Sedikit lagi.” Pria bertubuh tambun yang tadi menyapa Jimmy, berucap tak jelas dengan kepala yang telah jatuh tak berdaya di atas meja. Kesadarannya sudah hampir hilang sepenuhnya.
Sang wanita berdecak jengkel seraya berkacak pinggang. Dia memang telah akrab dengan beberapa pelanggan tetapnya walaupun baru bekerja selama satu bulan.
“Aku tak mau menelfon istrimu lagi.” Sang wanita berucap dengan nada mengancam seraya berkacak pinggang. Rambutnya yang dikuncir kuda bergerak lucu. Dan tepat ketika ia berbalik, iris hazelnya bertemu dengan mata biru Jimmy. Mereka bertatapan sejenak dan tak lama, sang wanita segera membuang muka lalu berjalan cepat menuju pintu khusus karyawan.
“Fiona, kau sudah boleh pulang.” Teriak sang bartender ketika melihat jam yang telahmenunjukkan pukul satu dini hari.
“Thank you, Mr. Scott. “ Seru Fiona dari balik pintu. Tak lama, Jimmy segera menandaskan minumannya dan meletakkan selembar pecahan sepuluh dolar di atas meja. Lalu beranjak keluar.
“Gracias.” Ucap Mr. Scott senang. Selain berperan sebagai bartender, pria berusia empat puluh tahun itu jugalah pemilik bar tersebut.
***
Fiona yang sedang berjalan menuju apartemen kumuh miliknya, yang terletak tak jauh dari bar tempatnya bekerja, sontak menghentikan langkahnya ketika merasakan seseorang tengah mengikutinya.
__ADS_1
“Bisakah kau berhenti mengikutiku?” Ucap Fiona kesal tanpa berbalik. Ia sudah tahu betul siapa pelakunya.
Jimmy yang sedang bersembunyi di dekat tembok, segera melangkah keluar seraya menatap punggung wanita itu lekat. Bibirnya masih tertutup rapat. Perlahan, ia berbalik lalu berjalan menjauhi Fiona. Setidaknya, ia sudah memastikan jika wanita itu baik-baik saja.
***
Bianca menatap tanpa minat selembar kertas yang diberikan oleh salah satu gurunya saat berada di sekolah tadi. Ia diberikan beberapa universitas yang direkomendasikan langsung dari sekolah karena mempunyai kredit yang bagus. Pandangannya menerawang, bingung apakah ia langsung melanjutkan ke universitas atau bekerja. Ia yakin, jika Alan pasti tak akan keberatan untuk membiayai seluruh kebutuhannya selama kuliah nanti. Hanya saja, Bianca merasa tak enak jika harus membenami pria itu lebih lama lagi. Setidaknya, dengan bekerja, ia bisa memenuhi kebutuhan pribadinya.
“Ada apa?” Tanya Alan ketika baru saja keluar dari kamar mandi. Ia menatap Bianca yang tengah duduk di dekat jendela kamar seraya memegangi kertas putih.
“Alan.” Panggil Bianca. Ia menatap Alan lekat seraya menghela napas dalam.
Alan tersenyum simpul. Lalu beranjak untuk menghampiri istrinya.
“Kurasa, setelah lulus nanti, aku akan langsung bekerja.” Ucap Bianca. Ia tak berani menatap Alan dan lebih memilih untuk menunduk.
“Kau memikirkan biayanya?” Tanya Alan dingin. Ia sangat tak suka jika Bianca selalu menyinggung masalah uang padanya. Padahal wanita itu tau, jika ia mampu untuk membayar semua biaya kuliahnya.
Bianca terdiam seraya menggigit bibir bawahnya. Sungguh, ia tak bermaksud membuat Alan marah.
“Untuk apa? Aku saja sudah lebih dari cukup. Tugasmu hanyalah menikmati semuanya.” Ucap Alan penuh penekanan. Ia tak ingin Bianca memusingkan masalah uang.
Bianca menghela napas kasar seraya mendongak menatap Alan. Dan menemukan pria itu menatapnya dengan padangan terluka. Dengan cepat, Bianca segera bangkit dari duduknya. Ia memeluk Alan erat seraya meminta maaf.
“Bianca, bukankah kau sudah tahu semuanya? Saat ini, satu-satunya hal yang kuinginkan adalah membuatmu bahagia dengan semua yang kupunya. Aku akan tetap mendukung apa pun keputusanmu.” Alan berucap lembut seraya mengecup rambut istrinya. Kedua tangannya balas memeluk Bianca erat.
Bianca tersenyum seraya mengangguk pelan. Ia akan memikirkannya lagi. Masih ada beberapa bulan lagi sebelum hari kelulusannya tiba.
“Aku juga tak akan keberatan jika kau ingin langsung bekerja.” Ucap Alan seraya menyeringai penuh arti. Sehingga membuat Bianca menatapnya dengan mata memicing.
“Menjadi sekretaris eksklusifku juga tak buruk.” Seru Alan seraya mengecup bibir Bianca.
“Kau yakin?” Tanya Bianca. Saat ini, mereka telah duduk di pinggir tempat tidur. Bianca berada di atas pangkuan Alan dengan posisi menyamping
__ADS_1
“Aku punya kamar pribadi di dalam ruangan kerjaku. Jadi, kita berdua bisa bercinta setiap saat.” Alan berujar senang seraya menatap Bianca lekat. Membayangkan wanita itu menjadi sekretarisnya tak ada ruginya sama sekali. Mereka berdua bisa selalu bersama dan yang pasti, kapan pun ia merindukan dan menginginkan Bianca, Alan bisa langsung memilikinya.
Bianca sontak menatap Alan malas. Ia sudah tahu betul jalan pikiran pria itu. Tanpa Alan duga, Bianca menggigit kecil bahunya yang telah tertutupi baju kaos putih.
Alan tak terima. Dengan cepat, ia balas melakukan hal yang. Lalu berakhir dengan tertawa bersama.
***
Sudah sedari tadi Bianca menatap Lily intens tanpa suara. Mendadak, ia teringat pada Rico dan juga Stacy. Padahal, waktu kembali menginjakkan kakinya di sekolah, ia sama sekali tak memikirkan ataupun memedulikan mereka berdua.
“Apa?” Tanya Lily. Ia merasa resah karena Bianca terus memperhatikannya.
“Lily, apa kau tahu di mana Rico dan juga Stacy?”
“Aku tak tahu,” Jawab Lily setelah diam beberapa saat.
“Pihak sekolah hanya membuat sebuah pengumuman jika mereka berdua dikeluarkan secara tak hormat.” Sambungnya lagi. Bianca mengangguk sekilas. Yakin jika Alan punya peran penting dibelakang semuanya. Apa pun yang Alan lakukan, Bianca tetap bersyukur karena pria itu melakukan semua untuk dirinya. Yang lebih penting, Bianca berharap jika sampai kapan pun, ia tak akan pernah lagi bertemu dengan Rico dan Stacy.
***
Jimmy melangkah pelan memasuki kamar Jane seraya membawa sebuah nampan kecil yang berisikan semangkuk kecil mushed potato yang telah dicampur daging cincang. Serta segelas air mineral.
“Jane.” Jimmy memanggil lembut saudaranya. Perlahan, ia mendudukkan dirinya di atas tempat tidur bersprei hijau milik wanita itu seraya memegang makanan yang dibawanya.
“Waktunya makan.” Ucap Jimmy seraya tersenyum simpul. Jane tak bersuara. Tapi ia menatap Jimmy seraya membuka kecil mulutnya. Seolah sudah terbiasa.
Dengan penuh kesabaran, Jimmy menyuapi saudaranya. Wanita itu mengunyah pelan dengan pandangan yang tak pernah lepas dari wajah Jimmy. Sebelah tangannya terangkat untuk memegang pipi pria itu.
Secara tiba-tiba, Jane menatap Jimmy tajam serta memuntahkan makanan yang berada di dalam mulutnya. Bibirnya meracau tak jelas dengan tangan yang mencengkeram kuat pipi Jimmy.
Jimmy tak melakukan apa pun. Ia tetap diam seraya menatap lembut keluarga satu-satunya yang ia miliki. Perlahan, Jimmy menggenggam tangan Jane seraya membaringkan tubuh wanita itu. Ia telah mencampurkan sedikit obat tidur di dalam makanan yang ia buatkan untuk saudaranya.
“Selamat malam.” Lirih Jimmy seraya mengecup kening Jane.
__ADS_1
Dengan pelan, Jimmy melangkah keluar. Kedua bibirnya tersenyum sedih.