
Seusai menemani Bianca kembali melakukan USG, Alan langsung mengajak wanita itu pergi berbelanja untuk membeli seluruh kebutuhan serta perlengkapan bayi. Pun yang akan Bianca perlukan setelah bersalin nanti. Alan juga sudah menentukan rumah sakit mana yang akan menjadi tempat Bianca melahirkan. Pria itu bahkan telah meminta pihak rumah sakit untuk menyiapkan ruangan terbaik. Dokter serta perawat terbaik. Dan yang pasti, harus seorang wanita. Alan tak ingin jika ada pria lain yang melihat anggota tubuh istrinya.
“Alan.” Bianca kembali mengeratkan genggaman tangannya pada Alan saat merasa jika orang-orang di sekitar mereka terus memperhatikan. Bukannya pergi ke mall, Alan justru mengajak Bianca pergi berbelanja ke “Me and My Baby Shop” yang terletak di dekat salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Washington.
“Ada apa? Apa kau merasa lelah?” Tanya Alan seraya menatap Bianca cemas.
“Aku baik-baik saja.” Jawab Bianca sembari tersenyum simpul.
Selama dokter memeriksa kondisi janinnya, tak pernah sedetikpun Alan melepaskan genggaman tangan mereka. Kedua mata pria itu juga fokus menatap monitor yang memperlihatkan kondisi anak mereka yang sedang berada di dalam kandungannya.
“Aku sudah tak sabar.” Binar bahagia terpancar jelas dari wajah Alan ketika kembali teringat akan kondisi buah hati mereka yang baik-baik saja. Bahkan begitu sehat.
Sampai saat ini, baik Alan maupun Bianca belum tahu sama sekali jenis kelamin anak mereka. Lebih tepatnya, Alan yang memang dengan sengaja tak ingin mengetahuinya. Ia ingin semuanya menjadi kejutan di hari persalinan istrinya kelak. Laki-laki atau perempuan tak ada bedanya. Selama itu adalah buah cintanya bersama Bianca.
“Sayang, semuanya akan baik-baik saja.” Alan tanpa ragu mengecup punggung tangan Bianca dan sukses menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka.
Bianca sadar jika ia mungkin terlalu cepat merasa takut. Bagaimanapun juga, seiring berjalannya waktu, ia akan menghadapi yang namanya persalinan. Yang pertama dalam hidupnya. Sekalipun dokter sudah memberinya saran jika ia bisa memilih untuk melahirkan secara normal atau pun dengan operasi sesar. Namun Bianca tetap tak bisa mengenyahkan begitu saja rasa takutnya. Bagaimana jika seandainya terjadi sesuatu padanya ketika hendak bersalin nanti? Atau yang lebih buruk, bagaimana jika terjadi sesuatu pada anak mereka?
“Bianca.” Panggil Alan lembut. Berharap wanita itu bisa sedikit lebih tenang.
“Percayalah, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan melakukan apa pun untuk kalian berdua.”
Ketakutan yang sedari tadi menyelimuti hati Bianca, perlahan sirna saat menatap iris hitam suaminya. Pria itu berucap dengan penuh kesungguhan. Tanpa sedikitpun jejak keraguan. Bianca percaya jika seperti kata Alan, semuanya pasti akan baik-baik saja. Bianca dikelilingi oleh orang-orang yang peduli serta mencintainya secara tulus. Sekalipun kedua orangtuanya begitu tega membuangnya, tapi kini Tuhan telah menggantikannya dengan sesuatu yang jauh lebih baik lagi.
“Terima kasih.” Ucap Bianca senang. Setelah mendapatkan kembali semangatnya, wanita itu segera memusatkan perhatiannya pada setiap sudut di dalam toko tersebut. Mendadak, nalurinya sebagai seorang wanita bangkit. Hasratnya untuk berbelanja dan membeli semuanya sedang berada di puncak. Dengan mata berbinar, Bianca segera menatap Alan lekat seraya tersenyum lebar.
“Kau bisa membeli semuanya.” Ucapan Alan barusan bagai lampu hijau untuk Bianca. Sama seperti Alan, ia pun juga sudah tak sabar untuk menanti kehadiran buah hati mereka. Juga memakaikan baju-baju lucu yang sekarang sukses menyita perhatiannya.
Setelah memeluk Alan sekilas, Bianca segera melangkah untuk berkeliling. Mencari sesuatu yang menarik perhatiannya.
“Bisakah kau mengambil baju yang itu?” Ucap Bianca pada salah satu pegawai toko tersebut yang terlihat seumuran dengannya. Yang justru menatapnya dengan tatapan ragu.
“Kau yakin?” Tanya pegawai wanita itu seraya menatap Bianca lekat. Pasalnya, saat ini Bianca menunjuk satu pasang baju anak bayi yang terletak di dalam sebuah lemari kaca bertuliskan “limited” di bagian luarnya.
“Ya. Aku menginginkan yang itu.” Jawab Bianca seraya mengangguk mantap. Merasa tak ada yang salah dalam setiap ucapannya. Baginya, membeli atau tidak, seluruh pegawai di dalam toko tersebut wajib melayani setiap pengunjung sebaik mungkin.
“Tidak bisa, Nona. Baju tersebut hanya boleh disentuh setelah kau membelinya.” Wajah Bianca yang tadinya bersahabat, langsung berubah datar disertai dengan tatapan dingin. Ia sangat yakin jika pegawai wanita itu sedang meremehkan dirinya.
“Apa kau meremehkanku karena pakaian yang kugunakan?” Bianca berucap tajam dengan tatapan yang tak pernah lepas sedikitpun dari wajah pegawai itu. Saat tahu jika hanya akan pergi memeriksa kondisi kandungannya, Bianca memutuskan untuk memakai baju terusan sebatas betis, berlengan pendek dan berwarna putih gading yang dibelinya pada sebuah toko kecil yang terletak di pinggir jalan. Bianca bahkan tak peduli sama sekali jika pakaian yang dipakainya adalah barang merek terkenal atau tidak. Selama merasa nyaman, maka tak akan ada masalah sama sekali.
“Penampilan adalah yang paling utama.” Ucap pegawai wanita itu tanpa minat.
“Sayang, ada apa?” Bianca yang baru berniat kembali membuka mulut, dihentikan dengan kehadiran Alan yang melangkah pelan untuk menghampirinya. Pria itu juga tengah sibuk mencari serta memilih pakaian yang dianggapnya bagus.
“Aku menginginkan baju yang itu tapi wanita ini justru memperlakukanku secara tak bersahabat karena merasa yakin aku tak mampu membelinya.” Alan yang mendengar penuturan istrinya, sontak menatap wanita bername tag “Sarah” itu tajam. Yang anehnya, justru membuat sang wanita menunduk dengan wajah merona.
“Memang berapa harganya?” Tanya Alan dingin. Pria itu telah menggenggam tangan Bianca.
“Ya?”
“Apa kau tuli? Aku menanyakan harga baju yang berada di dalam lemari tersebut.” Alan semakin menatap tajam wanita itu. Bahkan berhasil menarik perhatian pengunjung yang lainnya.
Sejak awal, Alan tahu betul jika tempat yang menjadi pilihannya untuk mengajak Bianca berbelanja adalah salah satu pusat perlengkapan bayi termahal. Tapi ia tak pernah menyangka jika Bianca akan mendapatkan perlakuan tak menyenangkan hanya karena penampilan wanita itu yang sangat sederhana. Yang bahkan tak masalah sama sekali baginya.
“Lima–Lima belas juta.” Jawab wanita itu takut.
__ADS_1
“Hanya lima belas juta?”Alan sontak tertawa sumbang mendengar jawaban pegawai itu. Tak lama, tatapannya kembali berubah tajam.
“Berikan aku semua pakaian serta perlengkapan bayi termahal di sini. Dan pastikan jika tak ada satu orang pun yang memakainya selain anakku.” Sarah yang mendengar jawaban Alan, hanya bisa membulatkan mata tak percaya. Jika pria itu meminta semua barang termahal di tempatnya bekerja, maka pria itu sudah pasti mengeluarkan uang yang tak sedikit.
“Apa kau tak mendengar apa yang dikatakan oleh suamiku?” Bianca yang sedari tadi terdiam, kembali membuka suara seraya menatap pegawai itu dingin.
“Ya? Baik–baik, Tuan. Apa Anda ingin membayarnya dengan kartu kre—”
“Aku tak suka berhutang.” Ucap Alan cepat. Ia segera mengeluarkan salah satu kartu debit berwarna hitam-gold miliknya. Dengan masih menggenggam tangan Bianca, ia mengajak wanita itu berjalan menuju meja kasir. Meninggalkan Sarah seorang diri yang hanya bisa mematung dengan wajah memucat.
Sadar jika telah membuat sebuah kesalahan besar.
Sang menejer toko yang baru mengetahui perbuatan salah satu pegawainya, dengan cepat menghampiri Alan dan Bianca seraya memohon maaf.
“Berapa banyak yang harus kubayar?” Tanya Alan pada pegawai kasir tersebut. Mengabaikan manager toko yang tanpa henti meminta maaf pada mereka berdua.
“Dua ratus sembilan pul—”
“Hanya dua ratus juta? Tsk!” Alan dengan cepat menggesek kartu debit miliknya dengan tak acuh. Juga mengetik password kartunya tanpa peduli akan keadaan sekitarnya. Setelah pembayarannya selesai, Alan segera menatap sang menejer yang telah memanggil Sarah untuk berdiri di sebelahnya sembari ikut meminta maaf.
“Aku tak membutuhkan struk belanjaannya. Dan kau ….” Alan beralih menatap dingin Sarah yang hanya bisa tertunduk di hadapannya. Di dalam hati, Alan hanya bisa berharap serta berdoa jika sesampainya di rumah nanti, suasana hati Bianca akan kembali membaik.
“Bersyukurlah karena aku tak membuatmu kehilangan pekerjaan saat ini juga. Jangankan untuk memecatmu, untuk membuat toko ini hancur berantakan aku cukup membalik telapak tangan.”
“Mr. Drax, kumohon–kumohon maafkan aku.” Sang manager kembali menatap Alan memohon dengan dipenuhi rasa takut. Ia barus tahu siapa sosok pria itu setelah melihat debit card miliknya dan membaca nama yang tertera di sana.
Sekalipun merupakan salah satu pengusaha muda tersukses, tak banyak yang tahu siapa sosok Alan yang sebenarnya. Selain karena jarang tampil di depan media—hampir semua tawaran untuk muncul di TV ia tolak. Tak jarang, Alan akan menyuruh Jimmy untuk mewakilinya menghadiri acara-acara penting ketika sedang malas.
“Alan, aku lelah.” Ucap Bianca. Berlama-lama menatap wajah pegawai itu membuat suasana hatinya semakin memburuk.
“Kita pulang.”
“Kuharap, setelah ini tak ada lagi orang lain yang bernasib sama sepertiku. Jika menurutmu penampilan adalah segalanya, maka lihatlah penampilanmu lebih dulu. Jangan sampai berakhir dengan membuat malu dirimu sendiri.”
Bianca tak peduli jika ucapannya tadi menyakiti hati wanita itu. Ia tak ingin membuang waktunya yang berharga untuk siapa pun yang tak bisa menghargai orang lain. Penampilan? Cih! Ia tak peduli. Sesukses dan sekaya apa pun Alan, ia tak akan malu untuk memakai pakaian murah atau pun tak bermerek. Penilaian orang lain tak penting dibanding dengan kebahagiaannya sendiri.
“Mr. Drax, biar kami yang membawakan barang-barang kalian.” Manager tersebut segera memanggil empat orang karyawan prianya dan menyuruh mereka untuk membawa semua barang-barang yang telah dibeli Alan.
Alan tak menanggapi ucapan manager itu dan lebih memilih untuk melangkah pergi bersama Bianca. Ia juga tak peduli pada empat orang pria yang mengikutinya dalam diam menuju tempat parkir seraya membawa banyak kantong belanjaan.
***
Menjelang makan malam, Jimmy menelfon James dan meminta pria itu untuk datang ke rumahnya. Bukan hanya sekadar ajakan makan malam biasa, tapi juga ada beberapa hal yang ingin ia tanyakan pada pria itu.
“Dokter.” Jimmy menyerahkan satu kaleng bir pada James yang diterima pria itu dengan senang hati. Setelah menyelesaikan makan malam bersama, Jimmy segera mengajak James menuju ruang tengah. Meninggalkan Fiona serta Jane yang masih berada di dapur.
“Bagaimana keadaan Jane?” Tanya Jimmy. Pria itu meneguk bir miliknya lalu kembali menatap James lekat.
“Jane? Keadaannya baik-baik saja.” Jawab James. Berusaha tenang dalam duduknya saat Jimmy terus menatapnya intens.
“Bagaimana dengan hubungan kalian berdua?” James bersyukur karena bir yang baru saja diminumnya telah ditelannya lebih dulu. Jika tidak, maka sudah bisa dipastika jika minuman yang berada di dalam mulutnya tersebut akan menyembur keluar dan mengenai wajah Jimmy yang sedang duduk tak jauh di depannya.
Jimmy sadar jika pertanyaannya barusan mungkin terkesan mendadak, tapi ia tetap tak peduli. Hari ini, ia harus memastikan semuanya. Jimmy tak ingin lagi membuat kesalahan yang sama karena tak bisa melindungi saudaranya sendiri dan kembali membuat wanita itu terpuruk.
“Kami—”
__ADS_1
“Jimmy.” Suara lembut Jane sukses membuat dua pria itu menatapnya secara bersamaan. Seraya tersenyum lembut, Jimmy meminta Jane untuk duduk di dekat James.
Jimmy tak akan pernah bisa lupa betapa terkejutnya ia ketika baru saja pulang ke rumah dan mendapati Jane tengah fokus menata beberapa piring di atas meja makan. Yang lebih membuatnya takjub lagi adalah, wanita itu juga menyapanya lembut. Lengkap dengan senyuman lebar. Dan Jimmy sangat yakin jika semua itu ada kaitannya dengan Jane yang menghabiskan waktu di taman bersama James.
“Apa kau benar-benar mencintai Jane?” Pertanyaan Jimmy sukses membuat James menatapnya tak percaya. Begitupun dengan Fiona yang baru saja muncul dari arah dapur.
Jimmy akui jika ia memang merasa sangat bahagia akan perubahan Jane. Sekalipun masih tak terlalu sering berbicara, tapi Jane lebih aktif bergerak dan tak menghabiskan waktunya berdiam diri di dalam kamar.
“Aku mencintainya, Jimmy.” Jawab James mantap. Walaupun di dalam hati ia tetap merasa takut jika Jimmy menolaknya.
“Sekalipun kau tahu kondisinya seperti itu?” Tanya Jimmy lagi.
Jimmy bisa melihat secara jelas raut wajah Jane yang berubah sedih. Ia tak punya pilihan lain. Untuk membuktikan kesungguhan James, ia harus melakukannya.
“Seperti apa maksudmu? Bukankah sudah kukatakan padamu jika Jane bukanlah orang gila? Dia hanya sedang berada di dalam kondisi memulihkan dirinya sendiri.” James sontak menatap Jimmy tajam. Merasa tak suka akan ucapan pria itu. Bahkan tanpa memedulikan Jimmy, James segera menggenggam erat tangan Jane dan berhasil membuat wanita itu menatapnya kaget.
“Kau yakin? Bagaimana jika seandainya Jane kembali seperti dulu lagi? Apa kau masih tetap mencintainya? Atau kau justru membu—”
“Jimmy!” James tanpa sadar berteriak marah. Kedua rahangnya mengeras. Ia tak terima akan setiap ucapan buruk yang ditujukan pada Jane. Bahkan dari Jimmy sekalipun.
“Aku tak akan keberatan jika kau masih meragukanku tapi aku tak akan bisa terima jika kau berkata buruk tentangnya.”
“Dokter, kau tahu betul jika Jane adalah satu-satunya keluarga yang kumiliki sejak dulu. Aku hanya ingin memastikan jika kau tak akan menyakiti dan membuatnya meneteskan air mata. Setidaknya, aku ingin tahu jika kau bukanlah pria brengsek.”
Tanpa sadar, Jane yang masih duduk di dekat James sontak meneteskan air mata. Ia menatap Jimmy sedih. Ada begitu banyak yang ingin ia katakan tapi tenggorokannya tercekat.
“Jane!” Seru James kaget. Ia dengan cepat menghapus secara lembut jejak air mata pada pipi wanita itu.
Dalam diamnya, Jimmy bisa melihat dengan jelas pancaran ketulusan dari tatapan James pada saudaranya. Perlahan, Jimmy bangkit dari duduknya untuk berdiri di hadapan Jane.
“Jane.” Panggil Jimmy lembut. Jane mendongak, balas menatap adik laki-lakinya lekat.
“Maafkan aku.” Ucap Jimmy pelan. Ia mendaratkan satu kecupan hangat pada kening wanita itu.
“Untuk kali ini, aku akan membiarkan dokter James yang mengantarmu ke kamar.” Seusai berucap, Jimmy segera melangkah pergi menuju kamarnya. Yang segera disusul oleh Fiona yang sedari tadi menatap dalam diam dari jauh.
***
“Jane.” James kembali mengelus lembut pipi Jane. Ia menatap hangat wanita itu yang telah duduk di atas tempat tidur seraya menghadap padanya.
Saat ini, mereka hanya berdua di dalam kamar Jane. James bahkan berusaha sekuat mungkin untuk menyembunyikan degupan jantungnya dengan tetap menggenggam erat tangan wanita itu.
“James.” Jane tersenyum. Balas menatap hangat pria yang telah berhasil mengisi hati serta pikirannya.
“Jane, aku berjanji untuk selalu berada di sisimu.” Ucap James. Pria itu mengecup lama punggung tangan Jane lalu kembali menatap wanita itu lekat.
James bersyukur, Jane sudah banyak menunjukkan tanda-tanda perubahan. Sampai kapanpun, ia akan tetap setia menunggu wanita itu sampai benar-benar kembali menjadi dirinya sendiri.
“Ya.” Jawab Jane singkat seraya tersenyum senang. Hatinya kembali berdesir bahagia mendengar setiap kalimat penuh ketulusan yang terlontar dari bibir pria itu.
“Aku mencintaimu, Jane.” Seraya memejamkan mata, James mendaratkan satu kecupan sayang pada kening wanita itu.
Ia ingin setiap detik dalam hidup Jane mulai saat ini, ada dirinya yang selalu berada di sisi wanita itu. Baik dalam keadaan suka maupun duka. James akan tetap setia bersama wanita itu tak peduli apa pun yang terjadi.
Bahkan jika suatu saat nanti Jane mungkin saja sudah tak menyukainya lagi, ia akan tetap berada di sisi wanita itu untuk memastikan jika pria pilihannya kelak adalah seseorang yang benar-benar mampu membuat wanita itu bahagia.
__ADS_1
“Terima kasih.” Tanpa James duga, Jane justru bangkit dari duduknya lalu memeluknya erat. Kedua mata wanita itu terpejam ketika merasakan elusan pelan pria itu pada rambut panjangnya.
Sekalipun bukan yang pertama, tapi Jane berharap jika James adalah pria terakhir dalam hidupnya. Yang akan menemaninya untuk menghabiskan seluruh sisa hidupnya. Tanpa pernah merasa bosan sedikitpun.