
Bianca yang merasa bosan karena hanya menghabiskan waktunya di rumah, memilih untuk mengajak Alan pergi berbelanja. Mendadak, ia jadi ingin membeli beberapa camilan serta buah. Juga body lotion dan beberapa pelembab wajah. Bukan karena ia membutuhkannya, tapi ia hanya sedang merasa “ingin” saja.
Morning sicknessnya sudah tak separah beberapa hari yang lalu. Apalagi Alan yang memilih untuk tak masuk kerja dan tetap setia berada di sisinya. Yang lebih membahagiakannya lagi, Alan selalu sigap membuatkannya segelas susu hangat setelah ia muntah. Pria itu juga menyalakan lilin aromaterapi di dalam kamar untuk membuatnya merasa tenang.
“Alan.” Bianca tersenyum simpul ketika menatap pria itu. Di sebelahnya, Alan terlihat begitu santai mendorong troli belanjaan. Dengan Bianca yang memeluk lengannya.
“Ya.” Jawab Alan singkat. Ia memasukkan tujuh dus susu coklat khusus untuk ibu hamil ke dalam troli belanjaan yang didorongnya dengan tak acuh.
Mulanya, Alan menolak untuk mengikuti permintaan Bianca. Ia khawatir terjadi sesuatu pada wanita itu. Tapi karena Bianca terus meyakinkannya jika ia akan baik-baik saja, Alan memilih mengalah. Tak seperti beberapa hari yang lalu, Bianca tak lagi terlalu mual. Wanita itu juga menghabiskan sarapannya dengan lahap tanpa harus memuntahkannya lagi.
“Tujuh?” Tanya Bianca seraya menatap Alan tak percaya. Seingatnya, di rumah masih tersisa tiga dus lagi.
“Tak masalah.” Jawab Alan santai. Ia mengelus lembut tangan Bianca yang masih melingkar erat pada lengannya. Apa pun akan ia lakukan untuk wanita itu. Dan membeli beberapa dus susu dengan harga mahal sekalipun tak akan membuatnya jatuh miskin. Alan bahkan sangsi jika angka pada saldo rekeningnya akan berkurang.
Bianca menggeleng pelan setelah mendengar ucapan Alan. Pria itu masih tetap saja sama. Tak pernah memusingkan masalah uang. Alan bahkan melarangnya untuk membawa tas serta dompet. Dan menyerahkan masalah pembayaran pada pria itu saja.
Bianca yang baru saja melihat rak khusus perawatan tubuh, dengan cepat menarik tangan Alan untuk mengikutinya. Ia memasukkan beberapa botol body lotion pengeluaran terbaru juga pelembab wajah. Selanjutnya, ia melangkah menuju rak cemilan dan mengambil beberapa bungkus keripik kentang, biskuit coklat dan apa pun yang menarik perhatiannya.
Bianca memang masih merasa mual ketika mencium aroma keju tapi jika coklat, ia selalu bisa menikmatinya dengan puas.
“Sayang.” Alan memanggil lembut Bianca. Pria itu bahkan tak sadar jika ucapannya barusan membuat seorang wanita muda di belakangnya langsung menahan napas—tak sanggup mendengar ucapan manisnya.
“Hm.” Jawab Bianca tanpa menatap Alan. Saat ini, ia sedang sibuk mengamati rak buah sebelum memutuskan akan mengambil yang mana.
“Hanya itu?”
“Apa?” Tanya Bianca tak mengerti.
“Apa kau tak membutuhkan yang lainnya?” Bianca segera mengikuti arah pandang Alan yang tertuju pada troli belanjaan mereka yang sudah hampir penuh.
“Aku masih ingin membeli sesuatu untuk Sofie.” Alan mengangguk mengerti setelah mendengar ucapan wanitanya. Apa pun yang Bianca inginkan, akan selalu ia berikan. Hanya Bianca satu-satunya wanita yang pantas untuk mendapatkan semuanya—hati serta segala sesuatu yang dimilikinya.
“Alan!” Alan dan Bianca yang sedang sibuk memilih serta mengambil beberapa buah alpukat, jeruk, anggur serta berry, langsung menatap asal suara secara bersamaan dan menemukan Mark Anderson—salah satu rekan kerja Alan, berjalan menghampiri mereka berdua sembari melambai penuh semangat.
“Mark.” Ucap Alan. Pandangannya segera beralih pada sisi kanan pria itu dan mendapati seorang wanita berambut sebahu yang ia yakini sebagai tunangan Mark, tersenyum simpul padanya. Di sisi kirinya, Rebecca berdiri dalam diam dengan wajah kaget.
“Bianca.” Sapa Mark ramah. Bianca yang masih sibuk mengambil beberapa buah anggur, menatap Mark sekilas seraya tersenyum simpul. Bianca memang telah meminta pria itu untuk memanggil namanya saja. Sebelum ia mengalihkan perhatiannya dari Mark, Bianca bisa melihat dengan jelas raut wajah tak bersahabat Rebecca padanya. Jika tak salah ingat, wanita itu dan Mark memang berteman dekat.
“Perkenalkan, ini tunanganku Cloe.” Ucap Mark sembari memperkenalkan wanita di sisi kanannya. Tangan mereka berdua masih bertautan erat.
__ADS_1
“Hai.” Sapa Cloe ramah. Alan dan Bianca tersenyum sebagai balasan untuk wanita itu.
“Kau … berbelanja?” Mark menatap Alan tak percaya. Awalnya, ia merasa tak yakin jika sosok pria yang dilihatnya dari kejauhan adalah Alan. Tapi setelah memusatkan pandangannya kembali, Mark hanya mampu terdiam saat melihat Alan sedang sibuk memilih buah bersama istrinya.
“Aku sedang menemani istriku.” Ucap Alan sembari tersenyum senang. Bianca sudah kembali berada di sisinya seraya menggenggam erat tangannya. Dan berhasil membuat Rebecca berdecih jengkel.
“Apa setelah ini kau sibuk? Jika tidak, kita bisa makan siang bersama.” Mark menatap Alan dan Bianca secara bergantian. Terlihat jelas jika pria itu berharap Alan menerima tawarannya.
“Bianca.” Alan sontak beralih menatap Bianca. Meminta persetujuan dari wanita itu. Alan hanya tak ingin jika ia menerima tawaran Mark dan ternyata istrinya telah kelelahan.
“Apa kau bersedia menunggu? Aku harus membayar belanjaanku dulu.” Ucap Bianca sembari menatap Mark. Ia memang memutuskan untuk pergi berbelanja sebelum jam makan siang.
“Tentu saja.” Jawab Mark dengan senang hati. Selain ingin membahas perihal pekerjaan dengan Alan, ia juga penasaran ingin melihat seperti apa hubungan pria itu bersama istrinya.
Mark merasa beruntung karena bersedia menemani Cloe pergi berbelanja hari ini, sehingga ia bisa bertemu dengan Alan. Berhubung tunangannya dan Rebecca juga sudah saling mengenal, ia memutuskan untuk mengajak wanita itu. Mark hanya merasa kasihan karena hanya ia satu-satunya teman yang Rebecca miliki.
“Membayar? Bukankah kau tak membawa tas?” Rebecca berucap tajam setelah memperhatikan Bianca. Ia bisa melihat dengan sangat jelas jika Bianca tak membawa tas. Apalagi dompet.
“Suamiku bersedia untuk membayar semuanya.” Bianca berucap santai sembari menatap Alan. Ia tersenyum senang ketika Alan mengelus lembut pipinya. Melalui sudut matanya, Bianca bisa melihat jika Rebecca menatapnya penuh kebencian.
Bianca sudah memutuskan jika ia tak akan lagi peduli seperti apa masa lalu Alan bersama wanita-wanitanya. Pun seberapa keras Rebecca mengatakan hal menyakitkan padanya. Ia tak akan goyah. Waktunya terlalu berharga untuk terbuang percuma hanya karena sesuatu yang tak penting.
Ia mencintai dan menyayangi Alan. Begitupun sebaliknya. Dan Bianca memilih untuk menikmati semua kebahagiaannya bersama Alan tanpa memberikan sedikitpun celah bagi wanita lain ataupun segala sesuatu dari masa lalu pria itu.
“Yeah.” Jawab Alan senang. Ia menatap Mark penuh kebahagiaan.
Tanpa mereka sadari, Rebecca yang mendegar ucapan Alan, mengepalkan kedua tangannya dengan wajah bersungut marah. Sedangkan Cloe yang sedari tadi diam dan sibuk menyimak, melirik sekilas pada Rebecca lalu menyeringai kecil. Jujur saja, ia tak pernah suka pada wanita itu. Yang terus saja mengekor pada tunangannya.
***
Rebecca kembali memasang wajah tak suka saat melihat Alan memperlakukan Bianca dengan begitu manis. Hal yang dulu tak pernah ia dapatkan dari pria itu. Dan kekesalannya semakin bertambah ketika Alan menunjukkan seberapa besar rasa cintanya pada Bianca di hadapan mereka bertiga.
“Kau hamil?” Bianca sontak menatap Rebecca setelah mendengar pertanyaan tak bersahabat wanita itu. Dengan tak acuh, Bianca kembali memasukkan sesendok besar potongan kue coklat ke dalam mulutnya.
“Ya.” Bianca menjawab singkat. Ia lebih memilih menikmati camilan siangnya. Ia memutuskan untuk makan setelah kembali ke rumah. Mendadak, ia jadi merindukan masakan Sofie.
“Kau yakin?” Mark, Cloe serta Alan yang mendengar ucapan Rebecca barusan kompak menatap wanita itu heran. Merasa aneh akan pertanyaan yang diajukannya.
“Sangat yakin. Buah cinta kami berdua.” Bianca berucap senang sembari memeluk erat lengan Alan. Yang dibalas pria itu dengan kecupan sayang pada surai hitamnya.
__ADS_1
Secara tiba-tiba, Rebecca bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju toilet dengan tak sabaran. Bianca menyeringai puas. Rebecca salah jika mengira ia akan terpancing. Bianca justru dengan senang hati akan memamerkan seberapa besar cinta Alan padanya.
“Kau tahu, aku tak pernah suka padanya.” Ucap Cloe. Ia menatap Bianca lekat seraya tersenyum lembut. Wanita bermata coklat itu sudah sedari tadi menarik perhatiannya.
“Dia terus saja mengekor pada Mark. Tapi setelah kami menikah nanti, aku akan menyuruhnya menjauh.” Cloe berujar jengkel sembari menyeruput minumannya dengan tak bersahabat. Hatinya mendadak kesal saat kembali teringat pada Rebecca. Beruntung wanita itu tak ikut ketika ia dan Mark sedang pergi berkencan atau pun memilih menghabiskan waktu berdua di apartemen pria itu.
“Sayang!” Ujar Mark pelan sembari mencubit kecil pipi wanitanya.
“Apa? Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.” Seru Cloe. Ia memeluk Mark penuh sayang. Cloe sangat yakin jika Mark hanya mencintainya dan tak memiliki sedikitpun perasaan pada Rebecca. Hanya saja, ia tetap tak suka jika wanita itu terus saja mengganggu mereka berdua.
“Aku tahu.” Ucap Bianca. Ia menatap Cloe lekat seraya tersenyum ramah. Tak lama, Rebecca kembali bergabung bersama mereka.
“Alan.” Rebecca memanggil Alan dengan suara lembut. Yang sayangnya, tak menarik perhatian pria itu. Sedikitpun.
“Alan.”
“Apa?” Jawab Alan tak bersahabat. Ia menatap Rebecca tanpa minat.
“Bisakah kau bersikap sedikit ramah padaku? Aku tahu jika aku hanyalah mantan kekasihmu.” Ucap Rebecca. Ia menatap Alan dengan tatapan sendu. Berharap, pria itu menunjukkan sedikit perhatian padanya.
“Mantan?” Ulang Alan. Pria itu tertawa kecil setelah mendengar ucapan Rebecca. Wanita itu memang sudah gila dan terlalu terobsesi padanya. Atau mungkin pada hartanya.
Bianca tanpa sadar tertawa geli ketika mendengar ucapan Rebecca. Setelah menandaskan minumannya, Bianca segera mengalihkan perhatiannya pada Rebecca. Sepasang mata coklatnya menatap wanita itu datar namun sarat akan peringatan.
“Aku yakin betul jika hanya aku satu-satunya wanita yang dianggap oleh Alan. Pun menyandang status resmi sebagai Nyonya Drax.” Rebecca tersentak kaget setelah mendengar ucapan Bianca. Setiap kata yang terlontar dari bibir wanita itu ibarat mantra penghancur baginya. Apalagi saat ia melihat Alan menyeringai puas ke arahnya.
Bukannya terlihat marah atau terganggu akan ucapannya, Bianca justru merespon dengan santai semua tindakannya. Padahal ia berharap wanita itu terpancing oleh semua kata-katanya dan pada akhirnya membenci Alan. Lalu pergi meninggalkan pria itu.
“Kuberitahu satu hal padamu, bukannya sudah tak ada lagi celah, tapi Alan telah menyerahkan semua yang dia punya padaku. Termasuk hatinya.” Bianca kembali berucap santai. Perlahan, ia bangkit dari duduknya dengan tangan yang digenggam erat oleh Alan. Disusul Mark beserta tunangannya. Sedangkan Rebecca masih terdiam mematung tak percaya.
***
Rebecca melangkah memasuki apartemen berlantai satu miliknya dengan perasaan marah. Ia melempar tasnya dengan kasar di atas lantai. Disusul sepatu hak tingginya yang terlempar cukup jauh darinya. Ia tak terima akan setiap ucapan Bianca padanya. Bukan hanya menyakiti, tapi wanita itu juga telah mempermalukannya.
“Brengsek!” Umpat rebecca. Ia berjalan cepat menghampiri lemari pendingin miliknya dan mengambil secara kasar saru botol wiski dari dalam sana. Ia meneguknya tak sabaran.
“Alan! Alan!” Rebecca meracau tak jelas. Sejujurnya, ia hanya pernah tidur sekali dengan Alan. Rebecca dengan sengaja mengatakan pada Bianca jika ia dan Alan pernah tidur dua kali untuk membuat wanita itu cemburu. Walau pada kenyataannya, ia yang lebih dulu menawarkan dirinya pada Alan. Dan setelahnya, pria itu menolak untuk bertemu lagi dengannya.
“Seharusnya aku yang berada di sisinya!” Desis Rebecca. Ia memang menyukai Alan dan berharap bisa menjadi pendamping pria itu. Sekaligus menjadi pemilik dari semua kekayaan Alan.
__ADS_1
Setiap kali membayangkan Bianca menikmati semua kemewahan yang Alan berikan juga memiliki pria itu di sisinya, hati Rebecca selalu berdenyut sakit. Bianca bisa memiliki apa pun yang diinginkannya. Sementara dirinya harus menjadi wanita simpanan salah satu pejabat tua untuk bisa menikmati kehidupan mewah. Ia bahkan harus berbohong pada Mark jika semua yang ia punya adalah pemberian dari kedua orangtuanya.
“Sialan!” Umpatnya lagi. Kali ini, Rebecca langsung meneguk habis isi botol wiski tersebut yang masih tersisa setengah. Tak lama, ia jatuh tak sadarkan diri di atas sofa.