Married With The Devil

Married With The Devil
Bunga Untuk Jane


__ADS_3

Jimmy yang baru saja tiba di kantor, tersenyum simpul ketika ia melihat Bianca dan Alan berada tak jauh darinya. Mereka berdua berjalan beriringan sambil bergandengan tangan. Sesekali, ia melihat Bianca menyapa beberapa pegawai yang berpapasan dengannya. Sementara Alan sendiri hanya menganggukkan kepala.


“Nona Bianca.” Sapa Jimmy ketika ia baru saja berada di sebelah Bianca.


“Jimmy!” Bianca sontak berjengit kaget saat Jimmy secara tiba-tiba telah berada di sebelahnya. Setelah beberapa hari tak bertemu, ia merasa jika pria bermata biru itu justru semakin terlihat bahagia.


“Tuan.” Sapa Jimmy pada Alan yang dijawab dengan anggukan singkat. Seperti biasa.


Pagi ini, Jimmy terlihat semakin tampan dalam balutan kemeja biru dongker yang lengannya ia gulung sampai sebatas siku. Dipadukan dengan jeans hitam serta sepatu slip on berwarna senada. Biasanya, pria itu selalu memakai setelan jas.


“Sayang.” Bisik Alan ketika mereka bertiga telah berada di dalam ruangan kerjanya.


Mendengar namanya dipanggil, Bianca yang berniat melangkah menuju sofa segera berbalik untuk menatap Alan. Dan langsung mendapatkan kecupan singkat pada bibirnya.


“Alan!” Pekik Bianca dengan suara pelan. Takut jika Jimmy mendengarnya. Beruntung pria itu sedang memunggungi mereka berdua karena tengah sibuk mengambil beberapa berkas pada meja kerja Alan.


“Morning kiss.” Ucap Alan seraya tersenyum simpul. Ia melangkah santai menuju kursi kebesarannya. Meninggalkan Bianca yang hanya bisa menatapnya tak percaya.


Morning kiss? Pria itu bahkan sudah mendapatkan yang lebih tadi pagi.


Tak peduli setampan apa pun Jimmy, bagi Bianca, Alan tetaplah yang nomor satu. Ia tak ingin bersikap munafik dengan menampik ketampanan pria-pria lain. Tapi di mata dan hatinya, Alan telah menempati tempat teratas. Dan itu berlaku untuk selamanya. Dalam keadaan apa pun. Bahkan sampai mereka berdua menua nanti.


“Jimmy.” Jimmy segera mengalihkan perhatian dari berkas menuju Alan. Pria beriris hitam itu menatapnya lekat.


“Ya.” Jawab Jimmy singkat.


“Bagaimana dengan persiapan pernikahanmu?” Raut wajah Jimmy langsung berubah ceria setelah mendengar pertanyaan dari tuannya. Satu minggu lagi, ia dan Fiona akan secara resmi menyandang status sebagai pasangan suami istri. Sekalipun sibuk berkerja dan menggantikan Alan yang tak masuk selama beberapa hari, Jimmy juga tetap fokus mengurus seluruh keperluan pernikahannya bersama dengan Fiona.


“Semuanya berjalan dengan lancar.” Jawab Jimmy mantap. Bianca yang sedang duduk di sofa, di hadapan pria itu, mendadak tersenyum geli mendengar jawaban Jimmy. Terlihat jelas jika pria bermata biru itu sangat antusias mengurus seluruh keperluan pernikahannya.


“Apa Fiona sudah menemukan gaun pengantin?” Tanya Bianca. Ia sangat berharap jika Fiona tampil memukau sekaligus membuat Jimmy tak bisa berpaling darinya di altar nanti.


“Ya. Kami berdua juga sudah memilih gaun untuk Jane.” Jimmy mengukir senyum penuh kebahagiaan saat kembali teringat pada Jane. Ketika ia dan Fiona menunjukkan kepada wanita itu beberapa model gaun, Jane tampak antusias. Kedua matanya berbinar indah. Sekalipun masih tak terlalu fasih berbicara, tapi Jane bisa menunjuk dengan lincah beberapa gaun yang menurutnya cantik.


Alan yang mendengar jawaban Jimmy, hanya menanggapi santai dengan anggukan kepala. Tak lama, tatapannya berubah tajam saat melihat Jimmy mengeluarkan sesuatu dari dalam saku depan celana jeansnya.


“Kau bisa memakainya sepuas hatimu.” Jimmy hanya mampu menatap Alan kaget sekaligus tak percaya. Terakhir kali berkunjung ke rumahnya waktu itu bersama Bianca, Alan telah menyerahkan salah satu debit card miliknya pada Jimmy. Sekarang, Jimmy berniat untuk mengembalikannya. Tapi Alan telah lebih dulu menolak.


“Tapi—”


“Aku tak menerima kata penolakan, Jimmy. Dan kau tahu betul akan hal itu.” Ucap Alan dengan wajah datar. Namun mampu membuat Jimmy mengangguk patuh saat mendengar ucapannya.


Jimmy sontak menghela napas dalam. Jujur saja, ia merasa tak enak. Apalagi ketika Alan melarangnya untuk menahan diri dalam menggunakan kartu debit miliknya. Alan ingin Jimmy mempersiapkan yang terbaik di hari bahagianya, tanpa harus memusingkan masalah uang.


“Terima kasih.” Ucap Jimmy pada akhirnya. Ia lebih memilih mengalah karena sadar jika tak akan pernah bisa menang melawan tuannya.


“Apa kau sudah mendapat tempat untuk honeymoon?” Kali ini, Bianca yang mengajukan pertanyaan. Ia menatap Jimmy penuh rasa ingin tahu.


“Aku tak tahu.” Jawab Jimmy lemah. Ia bukannya tak mendapatkan tujuan yang bagus. Hanya saja, ia memikirkan keadaan Jane. Jimmy tak mungkin meninggalkan wanita itu seorang diri. Di sisi lain, ia juga tak yakin untuk mengajak Jane ikut bersamanya dengan Fiona karena takut wanita itu akan tersakit di luar sana.


Bianca dan Alan sama-sama terdiam. Perlahan, Bianca mengalihkan perhatiannya pada Alan yang juga balas menatapnya lekat. Jimmy yang merasakan udara di sekitarnya berubah aneh, ikut menatap Alan dan mendapati pria itu menyeringai penuh arti.


“Tuan.”  Ucap Jimmy. Ia menatap Alan memohon. Merasa yakin jika pria itu pasti sedang merencanakan sesuatu.


“Apa? Aku tak melakukan apa pun, Jimmy.” Seru Alan cepat. Ia dengan segera mengalihkan perhatiannya pada layar laptop di hadapannya.


Jimmy terdiam. Sekali lagi, ia menghela napas dalam. Tuannya pasti sedang merencanakan sesuatu. Dan kali ini, Bianca ikut terlibat di dalamnya.

__ADS_1


***


Mendengar bel rumahnya berbunyi, Jimmy dengan cepat melangkah menuju pintu untuk membukanya. Tak jauh darinya, ia menemukan dokter James tengah tersenyum ramah sembari melambai singkat.


“Selamat malam.” Sapa James ramah.


“Ayo.” Ucap Jimmy. Ia langsung mengajak dokter itu melangkah bersama menuju kamar Jane tanpa mau repot-repot berbasa-basi.


Sesampainya di depan pintu kamar Jane yang terbuka, James tak mampu mengalihkan perhatiannya dari wanita itu. Tak jauh darinya, Jane sedang duduk bersandar di atas tempat tidur dengan kedua lutut yang sedikit tertekuk ke atas. Wanita bermata biru itu tengah fokus memandang bintang di atas langit sana dari jendela yang terbuka.


“Jane.” Gumam James. Jane terlihat begitu cantik dalam balutan baju tidur terusan berlengan panjang berwarna putih. Dengan rambut yang terurai.


Jane yang merasakan kehadiran seseorang di dalam kamarnya, dengan segera mengalihkan perhatiannya dan mendapati Jimmy bersama seorang pria berdiri tak jauh darinya. Kedua matanya mengerjap. Tak lama, ia tersenyum simpul pada kedua pria itu.


James tertegun. Ia tak bisa sama sekali mengalihkan pandangannya dari Jane. Senyuman wanita itu benar-benar memenjaranya.


“Jane, aku bawa sesuatu untukmu.” Ucap James lembut. Ia segera menyerahkan sebuket bunga tulip merah, yang dicampur dengan beberapa tulip ungu kepada Jane. Kedua bibirnya tersenyum senang.


Setelah terdiam beberapa saat, dengan perlahan, Jane mengangkat tangan kanannya untuk meraih bunga tersebut. Sedangkan Jimmy lebih memilih menatap dalam diam.


Jane kembali tersenyum seraya meletakkan buket bunga pemberian James di atas pahanya. Kedua matanya berbinar indah.


“Apa dia baik-baik saja?” Ucap Jimmy membuka suara. Dengan cepat, James mengalihkan perhatiannya pada pria itu.


“Bukankah kau melihat responnya tadi?” James kembali menatap Jane lekat. Namun kali ini, ia menatap wanita itu dengan pandangan seorang dokter kepada pasiennya.


Dua hari yang lalu, Jimmy memang telah menghubungi sekaligus memintanya datang kembali untuk memeriksa keadaan Jane.


“Aku tahu. Tapi, Jane masih tak terlalu banyak berbicara.” Sejujurnya, Jimmy masih ingin mendengar suara Jane. Bahkan berharap wanita itu bercerita banyak padanya.


“Semuanya butuh proses. Selama beberapa tahun, Jane menutup rapat hati serta dirinya. Dia juga memaksa saraf otaknya untuk berhenti bekerja dengan cara tak merespon semua perkataanmu. Jimmy, dia butuh waktu untuk memulai semuanya lagi dari awal.”


“Aku tak bisa merekomendasikan obat apa pun. Semuanya tergantung pada Jane. Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah tetap menanti sampai dia sendiri yang memilih untuk membuka dirinya secara perlahan.”


Bagi James, setiap penderita depresi memiliki kasus yang berbeda-beda. Ada beberapa orang di luar sana yang menderita depresi berat namun tetap terlihat normal. Hanya saja, yang orang lain tak tahu adalah, mereka harus selalu mengonsumsi obat dan juga menemui psikiater. Tak jarang, ada di antara mereka yang menyakiti diri sendiri. Atau yang lebih parahnya lagi, berakhir dengan bunuh diri.


Tapi beda halnya dengan Jane. Wanita itu lebih memilih untuk diam seraya membangun tembok kokoh di dalam dirinya. Dan James yakin, bahkan sangat, jika Jane melakukan itu semua untuk melindungi dirinya sendiri. Satu-satunya hal yang tak James tahu adalah, penyebab Jane menjadi depresi.


Bahkan Jimmy pun seolah enggan untuk memberitahunya.


“Ya.” Jawab Jimmy singkat. Ia mengangguk mengerti seraya menatap Jane sedih.


“Aku akan mencari vas bunga dulu.” James hanya bisa menatap Jimmy tak percaya ketika pria itu tanpa ragu meninggalkannya berdua bersama Jane. Secara tiba-tiba, James merasa jantungnya di dalam sana berdegup kencang.


“Jane.” Panggil James lembut. Jane yang sedari tadi menatap bunga tulip tersebut, perlahan mendongak dan balas menatap lekat pria itu. Tatapan mereka berdua beradau. Dan James tak bisa membohongi dirinya sendiri, jika ia tertarik pada Jane. Sejak pertemuan pertama mereka.


James kembali teringat saat pertama kali Jimmy datang bersama Jane ke rumah sakit tempatnya bekerja. Pria bermata biru itu memohon padanya agar ia bersedia untuk menangani Jane. Tak seperti pasien lain, yang kerap kali menyiksa diri mereka sendiri, Jane terkesan pendiam. Wanita itu hanya sesekali berteriak histeris seraya menatap takut padanya.


James tersenyum. Ia mengangkat tangan kirinya ke atas untuk mengelus lembut pipi kanan Jane. Mendadak, kedua mata wanita itu terpejam secara perlahan. Seakan, Jane menikmati sentuhan darinya.


Tidak! Tidak!


James kembali meyakinkan dirinya jika Jane mungkin saja menganggapnya sebagai Jimmy. Tak bisa dipungkiri, James terkejut sekaligus merasa sedih ketika Jimmy memutuskan untuk merawat Jane seorang diri. Ia bahkan tak punya alasan untuk datang menemui wanita itu. Setelah menanti cukup lama, keberuntungan akhirnya berpihak padanya. Jimmy menelfonnya dan memintanya untuk kembali memeriksa kondisi Jane.


Kedua mata Jane yang tadinya terpejam, kini telah kembali terbuka. Ia menatap James lekat. Sentuhan pria itu pada kulitnya memang terasa begitu asing, tapi mampu membuatnya merasa tenang. Ada perasaan hangat yang mengaliri seluruh tubuhnya.


Dalam hati, Jane tanpa sadar berharap, jika sentuhan tadi bisa ia rasakan kembali.

__ADS_1


***


“Apa ini?!” Bianca menatap Alan penuh protes ketika melihat fotonya yang baru saja diambil oleh pria itu menggunakan kamera polaroid hitamnya. Alan secara sengaja memotretnya ketika ia sedang menguap.


“Kau tetap terlihat cantik.” Jawab Alan santai seraya mengecup kening Bianca.


Bianca memberengut. Namun tetap menyerahkan hasil fotonya pada Alan untuk pria itu simpan di dalam album. Bianca bahkan tak tahu sudah berapa banyak potret dirinya yang pria itu ambil.


“Alan.” Panggil Bianca lembut. Ia mengulurkan kedua tangannya ke arah Alan. Berharap pria itu segera memeluknya.


Alan tersenyum simpul. Dengan segera, ia melangkah menuju tempat tidur dan membuat Bianca berada di dalam pelukannya.


Alan berada di atas tempat tidur dengan posisi duduk menyandar. Sedangkan Bianca berada di depannya, di atas pangkuannya, dengan menjadikan kedua lututnya sebagai tumpuan. Sehingga ia tak benar-benar menduduki kedua kaki pria itu.


“Apa dokter menyuruhmu untuk melakukan tes USG lagi?” Tanya Alan. Ia mengelus lembut perut Bianca yang belum terlihat membesar.


“Ya. Tapi setelah kandunganku memasuki usia lima atau enam bulan lagi.” Bianca tersenyum senang ketika Alan mengecup lama perutnya dari arah luar baju tidur yang dikenakannya. Kedua mata pria itu terpejam sekilas.


Sehingga membuat Bianca mengangkat sebelah tangannya ke atas untuk mengelus pelan rambut Alan.


“Bagaimana dengan perlengkapan anak kita?”


“Nanti.” Jawab Bianca singkat. Alan sudah beberapakali mengajaknya pergi berbelanja bersama untuk membeli perlengkapan bayi. Namun ia masih menolak. Bukannya tak bersemangat, tapi Bianca ingin melakukannya nanti ketika perutnya sudah sedikit membesar.


Tanpa Alan duga, Bianca mendaratkan satu kecupan singkat pada bibirnya. Tak lama kemudian, wanita itu meangkup kedua pipinya lalu ******* bibirnya. Selama hamil, Alan merasa jika hasrat Bianca padanya semakin membuncah. Dan tentu saja, ia sangat menyukainya.


Alan tersenyum simpul di tengah tautan bibir mereka. Dengan gerakan pelan, ia balas ******* kedua bibir Bianca sembari memasukkan sebelah tangannya ke dalam baju tidur wanita itu untuk mengelus lembut punggungnya.


“Alan.” Bisik Bianca. Ia segera mendongak ketika bibir Alan berada pada lehernya.


Kedua mata Bianca sontak terpejam saat Alan mengulum kuat lehernya seraya meninggalkan jejak kemerahan di sana. Diiringi dengan beberapa gigitan kecil. Lalu kembali memenjara bibirnya.


Alan menciumnya dengan penuh kelembutan. Setelah merasa sedikit puas bermain-main pada bibirnya, Alan memilih untuk mengecup kening Bianca, lalu beralih pada kedua pipinya, disusul dengan kecupan ringan pada ujung hidungnya. Dan yang terakhir, pria itu menggigit lembut dagunya.


Bianca tersenyum. Ia tak pernah menyangka jika Alan—pria dengan tatapan tajam serta raut wajah dingin yang dulu ditemuinya, kini berubah menjadi pria romantis.


“Bianca….”


Keduanya larut akan tautan bibir penuh kenikmatan tersebut. Tak jarang, lidah mereka beradu sehingga menghasilkan suara decakan. Yang sialnya, semakin membuat gairah Alan membara.


“Apa kalian akan baik-baik saja?” Tanya Alan dengan suara lembut. Ia menginginkan Bianca. Tapi kondisi istri serta anaknya jauh lebih penting. Maka dari itu, Alan memilih untuk bertanya lebih dulu pada Bianca.


“Kalian?” Bianca menatap Alan tak mengerti.


“Ya. Kau dan anak kita.” Jawab Alan. Ia kembali mendaratkan satu kecupan singkat pada sudut bibir Bianca.


Mendadak, Bianca teringat jika ia belum menyediakan nama untuk anak mereka. Lagipula, kandungannya baru berusia tiga bulan lebih. Ia masih punya banyak waktu untuk memikirkannya.


“Apa kau sudah menyiapkan nama untuknya?” Ucap Bianca seraya mengelus perutnya. Ia penasaran akan nama yang akan Alan berikan untuk anak mereka.


“Ya. Tapi aku tak akan memberitahumu sekarang.” Alan dengan cepat ******* bibir Bianca sebelum wanita itu kembali bertanya padanya. Ia memang telah menyiapkan nama untuk buah hati mereka. Bukan hanya satu, tapi dua sekaligus. Sejak pertama kali setelah tahu bahwa Bianca hamil.


Satu desahan kecil berhasil lolos dari bibir Bianca. Ia mengerang tertahan ketika Alan mengulum kuat lidahnya. Pria itu bahkan tak berniat sedikitpun untuk melepaskannya.


“Sayang.” Lirih Alan. Ia menatap Bianca intens dengan napas memburu. Tubuhnya sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi.


“My dear, Alan.” Bisik Bianca. Ia menggigit kecil daun telinga Alan—sengaja ingin menggoda pria itu.

__ADS_1


Dengan satu kali gerakan pelan, Alan berhasil membuat tubuh Bianca berbaring di atas tempat tidur.


Malam ini, sama seperti malam yang lainnya, Alan akan kembali membuat Bianca berada di bawah kungkungannya.


__ADS_2