
Bianca memutuskan untuk mengisi hari liburnya dengan mengajak Alan pergi berbelanja. Bukan berbelanja kebutuhannya. Tapi ia ingin membelikan Jane hadiah sebelum datang mengunjunginya. Tak lupa untuk Jimmy dan juga Fiona. Awalnya, Alan menolak karena hanya ingin tinggal di rumah sembari bermesraan. Tapi Bianca tetap memaksa dan mengancam Alan akan pergi seorang diri. Hingga akhirnya pria itu memutuskan untuk menyerah.
“Bianca.” Panggil Alan seraya semakin mengeratkan genggaman tangan mereka. Ia dan Bianca sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar kedua di kotanya.
“Hm.” Jawab Bianca. Ia menatap Alan sekilas lalu kembali memerhatikan toko-toko di sekitarnya. Berharap menemukan hadiah yang bagus untuk Jane.
“Tsk.” Alan sontak berdecak jengkel ketika beberapa orang pria muda ataupun tua yang berpapasan dengan mereka, menatap Bianca menggoda.
Istrinya memang tak memakai baju seksi karena Bianca memilih untuk mengenakan pakaian santai dan menjatuhkan pilihannya pada skinny jeans berwarna biru, yang dipadukan dengan tank top abu-abu serta cardigan berwarna krem. Flat shoes hitam juga sling bag berwarna senada.
Sedangkan Alan sendiri memilih untuk memakai kaos lengan panjang putih, slim fit jeans hitam dan loafers coklat. Tak lupa, jam tangan hitam yang menghiasi pergelangan tangan sebelah kirinya.
Alan sadar jika ada banyak wanita berpakaian seksi di sekitar mereka. Namun, mata coklat serta rambut hitam Bianca lah yang menjadi daya tarik wanita itu.
“Alan.” Bianca berseru kaget ketika Alan secara tiba-tiba berdiri di hadapannya lalu mengancing bagian atas cardigannya. Hal yang juga berhasil membuat kedua sudut bibir Bianca mengukir senyuman manis. Prianya sedang cemburu.
“Aku tak suka jika ada orang lain yang melihatnya.” Ucap Alan jengkel. Ia juga tak memedulikan tatapan kaget serta memuja wanita-wanita di sekelilingnya. Pria itu tak sadar, jika tindakannya barusan, membuat para wanita yang melihatnya, menginginkan hal yang sama—diperlakukan dengan manis olehnya.
“Terima kasih.” Bisik Bianca. Ia tak kuasa menutupi rasa bahagianya.
Secara tak sengaja, Bianca menatap sebuah mini dress tanpa lengan berwarna light blue. Dengan cepat, ia menarik tangan Alan untuk memasuki toko tersebut.
“Kau menyukainya?” Tanya Alan seraya ikut menatap mini dress tersebut.
“Ya.” Jawab Bianca singkat.
“Aku akan membelikannya untukmu.” Seru Alan cepat.
“Aku ingin memberikannya pada Jane.” Bianca sontak menghentikan pergerakan Alan yang berniat untuk memanggil pegawai toko tersebut. Koleksi gaunnya sudah terlalu banyak. Dan hampir semuanya adalah hadiah dari Alan. Jadi ia tak perlu repot-repot untuk membeli lagi.
Alan mengangguk mengerti. Perlahan, ia melepaskan tautan tangan mereka. Sehingga membuat Bianca langsung menatapnya bingung. Sebab, setiap kali mereka jalan bersama, pria itu hampir tak pernah mau melepaskannya.
“Aku ingin ke toilet sebentar.” Ucap Alan seraya tersenyum simpul. Tak lama, ia segera melangkah keluar meninggalkan Bianca. Walau pada kenyataannya, ia tak tenang jika harus meninggalkan wanita itu seorang diri.
Tak lama setelah kepergian Alan, Bianca dengan cepat meminta kepada pegawai toko tersebut untuk memberikannya dress yang sama tapi dengan ukuran yang berbeda. Lalu kembali melangkah untuk mencari baju yang lainnya. Ia terpaksa melakukannya. Jika tidak, Alan pasti akan memaksanya untuk membayar semuanya.
Bianca tak mampu menahan senyuman kebahagiaannya ketika kedua tangannya telah penuh dengan tas belanjaan. Bukan hanya untuk Jane, tapi ia juga sudah memilih yang terbaik untuk Fiona dan juga Jimmy.
“Hai.” Bianca yang baru berniat melangkah keluar dari toko tersebut, dikejutkan dengan kehadiran seorang pria berkulit putih pucat yang menghadang jalannya. Pria asing itu tersenyum lebar seraya menatapnya lekat.
“Sorry.” Ucap Bianca santai seraya mengangkat tangan kirinya. Tempat di mana cincin kawinnya berada. Dan tindakannya berbuah manis. Pria asing itu segera melangkah pergi dengan ekspresi sedih.
“Bianca.”
Tubuh Bianca sontak mematung ketika melihat sosok yang berada di hadapannya saat ini. Apalagi ketika mendengar namanya dipanggil. Sebelah tangannya terkepal kuat. Ditambah dengan tatapan matanya yang berubah penuh kemarahan.
“Stacy.” Desis Bianca dengan suara sangat pelan. Ia tak menyangka, jika setelah menghilang begitu saja, ia dan wanita itu justru bertemu di tempat yang tak pernah diduganya sama sekali. Apalagi di sisi Stacy berdiri seorang pria yang ia perkirakan memiliki usia sekitar enam puluh tahun. Walaupun masih terlihat sedikit muda. Dan mereka berdua bergandengan mesra.
__ADS_1
“Aku akan menunggumu di sini.” Ucap Stacy. Pria itu yang sedang bersama mengangguk mengerti lalu melangkah pergi. Di dalam hati, Bianca tak henti-hentinya memohon agar Alan datang sedikit lebih lama.
“Dia pelangganku.” Ucapan Stacy barusan sontak membuat Bianca menatapnya tak mengerti. Pelanggan?
“Apa maksudmu?” Tanya Bianca. Sejujurnya, ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan pada Stacy. Tapi keadaan yang tak mendukungnya. Bukan hanya karena keberadaan Alan. Ia juga harus segera ke rumah Jimmy.
“Aku bekerja sebagai seorang wanita penghibur.” Jawaban santai Stacy barusan sontak membuat Bianca tertegun.
“Wanita penghibur?” Ulang Bianca sekali lagi.
“Ya. Hidupku sudah berantakan.” Stacy kembali berujar santai. Ia bahkan tak merasa malu sama sekali. Tak ada gunanya juga untuk berbohong. Stacy juga tak peduli akan penilaian orang lain padanya. Selama bisa menghasilkan uang, Stacy akan melakukan apa pun.
“Aku tak peduli.” Ucap Bianca dingin. Ia tak mau tahu akan kehidupan Stacy. Menjual diri sekalipun, tak ada urusan dengannya.
“Tentu saja. Kau memiliki semuanya.” Stacy berucap dengan nada menyindir. Bibirnya tersenyum meremehkan. Sekali lihat pun, ia langsung tahu, kehidupan Bianca penuh dengan limpahan kemewahan. Terbukti dari beberapa tas belanja dari merek terkenal yang wanita itu pegang.
“Bukankah semuanya akibat dari perbuatanmu sendiri? Kehidupanku tak ada sama sekali urusannya denganmu.” Ucap Bianca tak bersahabat. Kebencian mendalam kembali menjalari hatinya ketika teringat lagi akan perbuat Rico dan Stacy padanya.
“Aku tahu. Tapi aku tak akan meminta maaf padamu. Menurutku, kau memang pantas untuk mendapatkannya.” Stacy sontak menatap Bianca penuh kebencian. Tak bisa dipungkiri, ada sebagian dalam dirinya yang merasa iri akan kehidupan wanita itu. Disaat Bianca bersenang-senang dan memiliki semuanya, ia sendiri justru terjebak dalam dunia kotor.
“Aku tak pernah membutuhkan kata maaf darimu atau pun Rico. Bagiku, kehidupanmu saat ini sudah menjadi hukuman yang pantas. Hanya saja, di mataku, seorang pemulung jauh lebih memiliki derajat daripada manusia sepertimu.” Bianca berucap dingin seraya menatap Stacy lekat. Ia tak menyesal sama sekali telah mengucapkan kata-kata kasar. Stacy pantas mendapatkannya. Wanita itu juga tak terlihat menyesal sama sekali akan perbuatannya dulu.
“Kau—”
“Sayang.” Bianca sontak berbalik untuk menatap Alan. Pria itu tengah berjalan ke arahnya sembari tersenyum lembut. Dan membuat Stacy yang masih bersamanya, dengan cepat melangkah pergi. Ia tak ingin lagi berurusan dengan Alan. Stacy takut jika Alan kembali membuat hidupnya lebih berantakan.
“Apa aku membuatmu menunggu lama?” Tanya Alan. Ia segera mengambil alih paper bag yang memenuhi kedua tangan istrinya. Sementara tangannya yang bebas, ia gunakan untuk menggenggam erat tangan Bianca.
***
Fiona sontak melepaskan tautan bibrnya dengan Jimmy ketika mendengar suara bel baru saja berbunyi. Ia sangat yakin jika itu adalah Bianca dan Alan. Dengan cepat, Fiona segera bangkit dari duduknya di atas sofa untuk membuka pintu.
“Jimmy.” Ucap Fiona pelan. Jimmy secara tiba-tiba menahan tangannya. Dan membuat Fiona kembali terduduk.
“Aku harus membuka pin—” Jimmy kembali membungkam bibir Fiona. Ia mengulumnya pelan sembari menyapukan lidahnya pada permukaan bibir wanita itu. Sebelah tangannya sudah menahan tengkuk Fiona. Sehingga membuat Fiona susah untuk bergerak.
“Jimmy!” Pekik Fiona dengan suara pelan. Ia memutuskan secara paksa tautan bibir mereka lalu dengan cepat melangkah menuju pintu. Meninggalkan Jimmy seorang diri yang tengah menatapnya lekat seraya tersenyum kecil.
“Bianca!” Sapa Fiona senang tepat ketika ia baru saja membuka pintu. Pelukan hangat segera ia berikan pada Bianca. Dan dibalas wanita itu dengan tak kalah hangatnya.
“Mr. Drax.” Ucap Fiona. Ia masih canggung jika harus memanggil nama Alan secara langsung.
“Di mana Jane?” Tanya Bianca seraya melangkah masuk dan mengikuti Fiona menuju ruang tengah. Tempat biasa mereka berkumpul bersama ketika datang untuk mengunjungi Jane.
“Masih di kamar.” Jawab Fiona.
“Kuharap aku tak mengganggumu dan Jimmy.” Ucapan santai Alan barusan sontak membuat Fiona berbalik untuk menatapnya. Tak lama, wajahnya langsung bersemu merah. Apalagi saat melihat Alan menyeringai penuh arti.
__ADS_1
“Tuan.” Sapa Jimmy. Ia baru saja mengajak Jane keluar dari kamar menuju ruang tengah. Jimmy sudah cukup lama melepas rantai yang terpasang pada sebelah kaki Jane. Sekalipun masih belum mau berbicara, tapi Jimmy tetap bersyukur karena Jane sudah mau berjalan.
“Jane!” Bianca berucap senang seraya memeluk Jane erat.
“Aku membawa cheese cake untukmu.” Bianca dengan cepat mengangkat sebuah cake box yang masih dipegangnya. Dan kebahagiaannya semakin bertambah besar ketika melihat Jane mengedipkan mata.
“Masih ada lagi.” Seru Alan seraya menyerahkan lima tas belanja berukuran besar kepada Fiona. Yang diterima wanita itu dengan wajah kaget.
“Apa ini?” Tanya Fiona. Setiap kali datang berkunjung, Bianca dan Alan tak pernah lupa membawakan sesuatu untuk mereka.
“Tu—”
“Bukan dariku.” Sela Alan cepat ketika Jimmy ingin mengajukan protes.
“Nona Bi—”
“Aku senang melakukannya, Jimmy.” Potong Bianca. Ia menatap Jimmy seraya tersenyum simpul.
Jimmy menyerah. Kedua tuannya tak pernah bisa dibantah atau pun ia tolak.
***
Jane kembali membuka mulutnya ketika Bianca masih setia menyuapkan sesendok kecil cheese cake dengan toping buah beri padanya. Ia mengunyah dengan lahap. Apalagi ketika suasana di sekitarnya terasa begitu ramai dari biasanya.
Setelah selesai membantu Fiona membersihkan piring kotor di dapur hasil dari makan malam mereka, Bianca dengan cepat menghampiri Jimmy dan Alan bersama Jane di ruang tengah, dan meminta pada Jimmy agar pria itu memperbolehkannya untuk menyuapi Jane.
“Jane.” Panggil Bianca lembut seraya menyampirkan helaian rambut Jane ke belakang telinga wanita itu. Di dalam lubuk hatinya, ia memohon dan berdoa dengan penuh ketulusan, agar kondisi Jane semakin membaik. Ia sudah menganggap Jane dan Fiona seperti seorang kakak. Keluarga baru yang dimilikinya. Yang tak memiliki sedikitpun ikatan darah dengannya, namun menyambut serta memperlakukannya dengan begitu hangat.
“Sayang.” Panggil Alan seraya mengisyaratkan Bianca untuk duduk di dekatnya. Jane sudah sedari tadi memonopoli istrinya, jadi sekarang gilirannya.
“Di mana Jimmy?” Tanya Bianca. Ia baru tersadar jika Jimmy tak ada bersama dengan mereka.
“Dapur.” Jawab Alan singkat. Ia segera mengecup lama punggung tangan Bianca yang sedang digenggamnya.
Tak lama kemudian, Jimmy muncul dari arah dapur seraya membawa nampan yang berisikan tiga gelas coklat hangat dan dua gelas espresso dengan asap yang masih mengepul. Di belakangnya, Fiona menyusul seraya membawa sepiring besar pie apel yang masih hangat.
“Fiona.” Bianca sontak menatap Fiona dengan tatapan memohon. Mendadak, perutnya kembali merasa lapar setelah melihat pie apel tersebut. Dengan senang, Bianca menerima dua potong besar pie apel yang Fiona berikan untuknya.
“Kau masih lapar?” Tanya Alan tak percaya.
Bianca mengangguk pelan dengan mulut penuh. Ia makan dengan begitu lahap.
Fiona dan Jimmy kompak tersenyum melihat Bianca. Sementara Alan tengah sibuk membersihkan sudut bibir istrinya. Alan bahkan takjub, seberapa besar pun nafsu makan Bianca, tubuh wanita itu tetap saja sama. Tak berubah sedikitpun.
Jane yang sedari melihat keadaan di sekitarnya kembali mengedip. Ia menatap wajah setiap orang yang sedang bersamanya saat ini dengan lekat. Perasaan hangat kembali mengaliri tubuhnya. Ada kerinduan yang begitu besar yang ia rasakan.
Perlahan, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas secara sempurna dan membentuk sebuah senyuman paling indah.
__ADS_1
“Terima kasih.” Ucap Jane terbata dengan suara yang sangat pelan. Sehingga membuat Jimmy, Fiona, Alan serta Bianca tak menyadarinya.
Walaupun begitu, Jane tetap merasa bahagia melihat senyum dan tawa dari orang-orang di sekitarnya.