Married With The Devil

Married With The Devil
Kejutan Bulan Madu


__ADS_3

Jimmy yang baru saja tiba di hotel tempatnya menginap bersama Fiona ketika jam telah menunjukkan pukul enam sore, kembali menghela napas lega saat pesta pernikahannya telah usia. Sejak dimulai pukul sepuluh pagi setelah acara pemberkatan nikah, tamu undangannya terus saja berdatangan. Walau ada beberapa yang tak sempat hadir karena sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Jimmy bahkan merasa tak percaya ketika melihat seluruh tamu undangannya yang tak bisa dikatakan sedikit. Jika bukan karena Alan, pesta pernikahannya pasti tak akan meriah. Terkadang, Jimmy masih merasa jika semua hanyalah mimpi. Namun bagaimanapun juga, ia tetap bersyukur dan berterima kasih pada Alan karena kebahagiaan yang dirasakannya jauh lebih besar.


“Jimmy!” Teriakan Fiona dari dalam kamar sontak membuat Jimmy yang sedang duduk di sofa segera berlari menghampiri wanita itu. Kamar hotel yang di tempatinya saat ini tak menyajikan tempat tidur secara langsung. Selain sofa yang terletak di ruang tengah, terdapat dua ruangan lagi yang berfungsi sebagai kamar. Jadi bisa di bilang, Jimmy dan Fiona merasa privacy mereka lebih terjaga.


“Ada apa?!” Tanya Jimmy panik. Tak jauh darinya, ia melihat Fiona tengah berdiri memunggunginya karena sedang menghadap tempat tidur.


“Pakaian–pakaianku tak ada.” Ucap Fiona tak percaya. Ia yang berniat mengambil baju karena ingin segera mandi lalu berganti pakaian, dibuat kaget dengan keberadaan kopernya yang menghilang. Begitupun dengan milik Jimmy. Hanya ada satu tas karton besar yang berisikan masing-masing satu set pakaian santai untuk mereka berdua. Juga sepucuk surat di atas tempat tidur.


“Apa kau yakin?” Tanya Jimmy sekali lagi saat berada di dekat Fiona. Dan benar saja, ia tak lagi menemukan koper miliknya.


“Apa ini?” Ucap Jimmy bingung seraya mengambil sebuah kertas putih yang berada di atas tempat tidur. Tak lama, kedua matanya membulat saat membaca rentetan kalimat yang ditulis tangan oleh Alan.


'Aku, Bianca dan Jane berangkat lebih dulu ke Florida. Besok pagi, manager hotel akan datang menemuimu dan kalian berdua tinggal mengikutinya saja. Jadi bersenang-senanglah dan buatkan teman bermain untuk anakku.'


Jimmy hanya bisa terdiam mematung setelah membaca pesan singkat yang Alan berikan. Menjelang pukul tiga siang, Alan dan Bianca memang telah lebih dulu kembali ke hotel dengan mengajak serta Jane. Sementara James yang ia minta menjadi dokter pribadi Jane langsung terbang ke Washington setelah lebih dulu mengantarnya ke hotel.


“Ya Tuhan!” Seru Fiona tak percaya. Mendadak, wajahnya bersemu merah. Ia sungguh tak menyangka jika pasangan suami istri itu—Alan dan Bianca, kembali mengejutkan mereka berdua.


“Jimmy, bagaimana ini—” Ucapan Fiona sontak terhenti ketika Jimmy dengan cepat membungkam bibirnya. Sebelah tangannya ia lingkarkan pada pinggang Fiona dan tangannya yang satu lagi ia gunakan untuk menahan tengkuk wanita itu.


Perlahan, kedua mata Fiona tertutup. Sama seperti Jimmy. Fiona bahkan bisa merasakan sentuhan lembut Jimmy pada punggungnya sekalipun masih tertutupi oleh gaun.


“Kita tak punya pilihan lain.” Ucap Jimmy. Ia menatap Fiona lekat setelah tautan bibir mereka terlepas.


“Tapi bagaimana dengan Jane?” Seru Fiona khawatir.


“Dia akan baik-baik saja.” Jawab Jimmy menenangkan. Tak ada yang perlu mereka cemaskan. Jimmy sangat yakin jika Bianca dan Alan pasti merawat serta memperlakukan Jane dengan sebaik mungkin. Jimmy bahkan hanya bisa tersenyum geli saat melihat Bianca yang terus saja ingin menempel pada Jane dan membuat Alan frustasi karenanya.


“Tapi—”


“Dear.” Bisik Jimmy. Ia kembali mengecup bibir Fiona. Mengulumnya lembut disertai dengan gigitan kecil.


“Jimmy.” Lirih Fiona seraya mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu. Hatinya kembali berdesir bahagia. Apalagi saat merasakan sentuhan lembut Jimmy pada kulit wajahnya.


Fiona tahu jika ini bukan kali pertama Jimmy menyentuhnya. Namun rasanya tetap berbeda ketika mereka berdua telah menyandang status sebagai pasangan suami istri. Fiona lebih merasa bebas.

__ADS_1


***


Setelah memandikan Jane dan mengganti gaun yang wanita itu kenakan dengan pakaian tidur, Bianca meminta Alan untuk membuat segelas susu hangat untuknya dan juga Jane. Tak butuh waktu lama bagi mereka bertiga untuk sampai di Florida. Apalagi dengan Alan yang menggunakan helikopter pribadi miliknya.


East Sister Rock Island adalah salah satu pulau pribadi yang terletak di Florida. Tepatnya, Florida Keys. Yang hanya membutuhkan waktu tempuh lima menit menggunakan perahu dari pemukiman padat penduduk yang berada tak jauh dari pulau tersebut. Mempunyai rumah mewah bergaya Bahama yang terdiri dari sembilan belas pintu kaca geser. Sehingga bisa membuat setiap pengunjung yang datang melihat pemandangan pulau secara 360 derajat. Terdiri dari tiga kamar tidur, dua kamar mandi, kolam renang, dapur terbuka, snorkeling serta berbagai macam hiburan lainnya. Juga landasan helikopter yang membuat mereka bertiga bisa langsung sampai di pulau tanpa harus lagi menaiki perahu.


Alan memang dengan sengaja menyewa pulau tersebut secara keseluruhan selama satu minggu agar mereka berlima bisa puas menikmati semua keindahan yang ada tanpa gangguan dari siapa pun.


“Sayang.” Panggil Alan ketika melihat Bianca baru saja keluar dari dalam kamar yang di tempati Jane. Wanita itu membawa satu gelas kosong yang isinya telah tandas.


“Bagaimana dengan Jane?” Tanya Alan. Ia menarik tangan Bianca untuk melangkah bersama menuju balkon guna menikmati pemandangan malam pulau tersebut. Sekalipun menggunakan helikopter pribadi, mereka bertiga tetap tiba pada malam hari karena baru berangkat pada pukul empat sore dan membutuhkan waktu dua hingga tiga jam lebih untuk sampai di East Sister Rock.


“Dia sudah tidur.” Jawab Bianca.


Mereka berdua tengah berdiri seraya menghadap laut dengan Alan yang memeluk tubuh Bianca dari arah belakang. Kedua tangan Alan mengelus pelan perut istrinya diiringi dengan kecupan lembut pada pucuk kepala Bianca.


“Sayang.”


“Hm….”


“Kau ingin punya berapa anak?” Pertanyaan tak terduga Alan sontak membuat Bianca berbalik untuk menatapnya. Kedua matanya mengerjap tak percaya. Tak lama, tawa kecil Bianca terdengar.


“Lima. Atau sepuluh, mungkin.” Ucap Alan santai. Tawanya langsung pecah saat menatap wajah kaget Bianca.


“Alan!”


Alan dengan segera membungkam bibir Bianca sebelum wanita itu mengajukan protes. Lidahnya dengan cekatan menyapu permukaan kedua bibir Bianca. Setelahnya, Alan dengan cepat melilitkan lidahnya dengan lidah Bianca sehingga menghasilkan bunyi decakan yang cukup jelas.


“Aku tak peduli sebanyak apa pun anak kita nanti, selama kau yang mengandung dan juga melahirkan mereka. Hanya kau satu-satunya yang aku inginkan, Bianca.” Bisik Alan. Ia menatap Bianca penuh cinta.


Alan mencintai Bianca. Dengan sangat. Dan ia akan selalu merasa bahagia selama wanita itu terus berada di sisinya.


Alan kembali mengecup lembut bibir Bianca. Mengulumnya secara bergantian. Secara perlahan, Bianca membuka mulutnya untuk memberikan akses lebih pada Alan.


Satu desahan kecil lolos dari bibir Bianca ketika Alan menggigit cukup kuat ujung lidahnya. Lalu berganti dengan Alan yang menyentuh seluruh sisi dalam mulutnya.

__ADS_1


“Alan.” Lirih Bianca. Ia meminta Alan untuk membiarkannya duduk di kursi. Akhir-akhir ini, Bianca memang lebih sering merasa lelah. Bahkan baru saja berdiri sebentar, ia sudah mengeluh kakinya sakit.


“Kita ke kamar.” Ucap Alan. Pria itu sudah siap menggendong tubuh istrinya.


“Untuk apa?” Tanya Bianca seraya tersenyum simpul.


“Aku tak keberatan melakukannya di sini.” Seru Alan tak acuh yang sukses membuat Bianca menatapnya tak percaya.


Hanya ada mereka berdua karena Jane telah cukup lama terlelap. Lagipula, Jimmy dan Fiona baru akan tiba besok pagi. Jadi tak ada masalah sama sekali.


“Bagaimana jika ada orang lain yang melihat?”


“Siapa? Hanya ada kita berdua saat ini. Staf yang bekerja hanya akan datang ketika aku meminta mereka untuk datang. Jadi tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku membayar mahal agar bisa memuaskan diriku.” Ucap Alan penuh percaya diri.


Selama satu minggu Alan menyewa tempat tersebut, ia harus mengeluarkan uang sekitar dua puluh juta untuk setiap malamnya. Alan tahu betul jika masih ada tempat yang jauh lebih bagus dan lebih mahal lagi. Hanya saja, yang menjatuhkan pilihan pada East Sister Rock Island adalah Bianca. Dan wanita itu menolak mencari tempat yang lebih mewah lagi.


Bianca mengatakan padanya jika yang dicarinya bukanlah tempat mahal atau pun bergengsi. Tapi sebuah tempat yang membuat mereka merasa nyaman dan juga tenang. Tanpa ada gangguan dari siapa pun. Dan Bianca tak menyesal pada pilihannya karena pemandangan yang disuguhkan benar-benar memukau.


“Jangan bod—” Alan kembali membungkam bibir Bianca seraya menggendong wanita itu ala bridal style menuju kamar yang akan mereka tempati selama berlibur.


Tanpa melepaskan tautan bibir mereka, Alan melangkah dengan penuh kehati-hatian agar tak menabrak tembok atau benda yang lainnya. Atau yang lebih parahnya lagi, sampai membangunkan Jane.


“Sayang.” Panggil Alan. Iris hitamnya menatap Bianca lekat. Seolah meminta izin pada wanita itu.


Awalnya, Bianca hanya diam sembari menatap Alan tak mengerti. Tak lama, bibirnya tersenyum lebar ketika menatap wajah memberengut suaminya.


“Terima kasih.” Ucap Bianca.


“Untuk apa?” Tanya Alan tak mengerti. Bianca selalu saja mengucapkan kalimat terima kasih padanya padahal ia tak merasa melakukan sesuatu yang spesial.


“Untuk semuanya. Termasuk liburan di pulau ini.”


“Anything for you.” Bisik Alan.


Apa pun akan Alan lakukan untuk Bianca. Pun halnya semua yang wanita itu inginkan. Asalkan ia selalu bisa melihat senyum serta tawa bahagia wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


Mereka berdua kembali larut dalam tautan bibir penuh hasrat. Serta sentuhan yang selalu menjadi candu.


Ditemani dengan deburan pelan ombak laut di luar sana, Bianca dan Alan sama-sama menenggelamkan diri mereka dalam puncak kenikmatan tak berujung.


__ADS_2