
Lucy yang baru saja melihat kedatangan Alan bersama Jimmy, sontak menghela napas lega seraya memandang dua pria itu penuh kebahagiaan. Pasalnya, selama satu minggu penuh, ia yang harus mengambil alih pekerjaan mereka berdua. Ditambah telfon kantor di dekatnya yang terus berdering tanpa henti untuk menanyakan perihal keberadaan Alan karena ponsel pria itu maupun Jimmy tak bisa dihubungi sama sekali.
“Mr. Drax, Mr. Davis.” Seru Lucy senang. Akhirnya, ia bisa menghirup udara bebas. Baginya, kedatangan dua pri itu adalah hadiah terindah untuknya hari ini.
“Lucy, apa kau baik-baik saja?” Tanya Alan. Ingin rasanya ia tertawa ketika melihat kondisi Lucy saat ini. Wajah pucat disertai dengan mata panda yang menjadi bukti jika wanita itu kurang tidur.
“Ya. Tentu saja.” Jawab Lucy cepat seraya tersenyum lebar. Tapi tetap tak bisa menyembunyikan raut lelah di wajahnya. Bukan hanya mengambil alih tugas Alan dan Jimmy, ia juga harus lembur dan baru pulang ketika jam telah menunjukkan pukul dua belas malam.
“Tenang saja, aku akan memberikanmu libur.” Wajah Lucy mendadak berubah cerah. Kedua matanya pun juga berbinar senang.
“Terima kasih. Terima kasih, Mr. Drax.” Ucap Lucy dengan kedua tangan yang tertangkup di depan dada. Sungguh, pengorbanannya tak berakhir sia-sia.
“Tapi setelah kau membantuku menyelesaikan semua pekerjaan yang ada hari ini.” Ucapan santai Alan barusan langsung membuat Lucy mematung di tempatnya. Wanita itu kembali membayangkan deretan berkas-berkas yang tersusun rapi di atas meja kerja Alan. Tak ada pilihan lain, hari ini, ia harus kembali lembur.
“Baik, Mr. Drax.” Jawab Lucy lemah.
Setelah mendengar jawaban dari Lucy, Alan segera melangkah memasuki ruangannya diikuti dengan Jimmy. Dan pandangannya langsung tertuju pada tumpukan berkas di atas meja kerjanya.
“Jimmy.” Mendengar panggilan Alan barusan, Jimmy dengan sigap berjalan menuju meja kerja pria itu lalu mengambil beberapa berkas. Setelah merasa yakin jika ia mengambil cukup banyak, Jimmy segera melangkah menuju sofa dan duduk diam di atasnya. Dalam hati, ia hanya bisa menghela napas berat.
“Hah.” Alan yang baru saja duduk dan bersandar pada kursi kerjanya, secara tiba-tiba menghela napas kasar. Kepala pria itu mendongak dengan kedua mata terpejam.
“Ada apa, Tuan?” Tanya Jimmy. Merasa aneh melihat Alan yang tak bersemangat padahal mereka baru saja pulang dari berlibur.
“Bianca kembali memuntahkan semua makanan yang dimakannya.” Pagi tadi, setelah menandaskan dua potong roti coklat miliknya, Bianca langsung berjalan memasuki kamar mandi. Wanita itu tak menyisahkan sedikitpun makanan di dalam perutnya. Bahkan susu coklat yang ia buatkan pun juga barakhir di dalam kloset.
“Dan yang lebih parahnya lagi, Bianca tak ingin dekat-dekat denganku.” Alan kembali teringat akan penolakan yang Bianca berikan saat ia hendak mengusap peluh di kening wanita itu. Awalnya, Alan menduga jika Bianca hanya sekadar bercanda. Namun ternyata, wanita itu tak segan-segan mengusirnya keluar dari dalam kamar. Bianca bahkan menyuruhnya untuk mandi di tempat lain.
Jimmy yang mendegar ucapan bernada frustasi Alan hanya bisa tersenyum kecil. Bianca benar-benar telah membuat tuannya berada di dalam kendalinya. Bukan hanya itu saja, Bianca juga mampu membuat Alan menuruti setiap perkataannya tanpa penolakan sama sekali. Selama tak membahayakan wanita itu serta anak yang dikandungnya.
***
Fiona kembali berseru senang ketika baru saja merapikan rambut Jane yang terurai dengan bagian bawah yang sengaja ia buat sedikit curly. Juga bibir wanita itu yang telah ia poles dengan lipstik berwarna soft pink. Sore ini, Jane akan jalan-jalan ke taman bersama James.
“Jane, apa kau sudah siap?” Tanya Fiona seraya menatap wanita itu lekat. Jimmy memang telah memberitahu mereka berdua sebelumnya jika sore ini, dokter James akan datang untuk mengajak Jane pergi ke taman yang terletak tak jauh dari tempat tinggal mereka.
“Ya.” Jane mengangguk pelan seraya tersenyum simpul sebagai sebuah jawaban. Jimmy benar-benar menepati janjinya saat mereka masih berada di pulau. Jane bahkan merasa jika jantungnya sudah sedari tadi berdegup kencang.
“Ayo!” Fiona berseru senang ketika mendengar bel rumah mereka baru saja berbunyi. Dengan lembut, ia menggenggam tangan Jane dan mengajak wanita itu melangkah bersama menuju pintu.
Dokter James yang sedari tadi berdiri gelisah di depan pintu rumah Jimmy, kembali menghela napas dalam seraya memperbaiki lengan kemeja biru muda miliknya yang digulung sampai sebatas siku. Jujur saja, ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat Jimmy menelfon dan meminta dirinya untuk mengajak Jane pergi ke taman.
Setelah yakin jika penampilannya telah sempurna, James segera menekan bel rumah Jimmy dengan harapan, ia tak gugup saat berhadapan dengan Jane nanti. Padahal ini bukan kali pertama mereka bertemu tapi jantungnya di dalam sana terus saja melompat-lompat senang.
Pintu rumah yang terbuka secara perlahan sukses mengambil alih perhatian James. Tepat di hadapannya, ia bisa melihat secara jelas Jane yang tengah menatapnya lekat sembari tersenyum lembut. Demi Tuhan, wanita itu selalu saja tampil cantik setiap kali mereka bertemu. Atau lebih tepatnya, Jane yang selalu terlihat indah di matanya.
“Dokter James.”
“Huh?” Panggilan pelan Fiona sontak menyadarkan James yang sedang fokus menatap keindahan yang tersaji di depan matanya saat ini.
“Jane, untukmu.” Seraya tersenyum malu, James menyerahkan satu buket bunga mawar merah yang dibawanya pada Jane.
Jane merasa jika darah di sekujur tubuhnya kembali berdesir aneh ketika James memanggil namanya dengan penuh kelembutan. Apalagi saat pria itu menatapnya seraya tersenyum.
“Terima kasih, Dokter.” Ucap Jane senang.
“Dokter, bukankah kau ingin mengajak Jane ke taman?” Fiona yang melihat Jane dan James hanya berdiri dalam diam, segera mengambil inisiatif dengan cara bertanya pada pria itu.
“Ah, benar. Aku datang ke sini untuk mengajakmu jalan-jalan ke taman.” James kembali tersenyum malu ketika sadar jika ia hanya berdiri dalam diam seperti orang bodoh. Ini bukan kali pertama ia mengajak seorang wanita untuk pergi bersama. Namun anehnya, ia justru merasa bingung harus melakukan apa.
“Apa kau bersedia pergi denganku?” Tanya James seraya mengulurkan tangannya pada Jane. Kedua matanya menatap lekat wanita itu.
__ADS_1
“Ya.” Dengan kedua pipi yag dihiasi rona merah, Jane secara perlahan menyambut uluran tangan pria itu. Dan tepat ketika James menggenggam erat tangannya, Jane bisa dengan jelas merasakan sesuatu yang aneh menggelitik perutnya.
“Mrs. Davis, kami pergi dulu.” Ucap James pada Fiona yang langsung mendapatkan anggukan cepat dari wanita itu. James bahkan bisa melihat secara jelas binar bahagia di mata istri Jimmy itu.
***
Sesampainya di taman yang tak terlalu ramai, James segera mengajak Jane untuk duduk di salah satu bangku kayu panjang yang terletak tak jauh dari lampu taman. Pria itu bahkan tak sadar jika ia kembali menggenggam tangan Jane.
“Jane.” Panggil James lembut. Ia segera beralih untuk menatap Jane. Wanita itu tampil cantik dalam balutan celana jeans panjang berwarna biru yang dipadukan dengan baju rajut lengan panjang berwarna krem. Juga flat shoes hitam.
Jane menoleh ke samping. Balas menatap James yang telah lebih dulu menatapnya lekat. Tak lama, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas. Membentuk satu senyuman manis. Yang sukses membuat tubuh James mematung.
“James.” Jane segera memanggil James saat merasa jika pria itu hanya menatapnya dalam diam.
“Jane, apa kau merasa senang pergi denganku?” Tanya James. Ia tetap tak melepaskan genggaman tangannya pada Jane.
James sadar jika ia tak boleh terlalu berharap. Bisa saja Jimmy memintanya mengajak Jane ke taman sebagai salah satu cara untuk membuat kondisi wanita itu semakin membaik. Tidak lebih. Hanya saja, James tetap tak bisa menahan dirinya. Ia menyukai—Tidak! Ia mencintai Jane. Hanya saja, ia belum berani untuk mengungkapkannya secara langsung pada wanita itu.
“Ya.” Jawab Jane seraya mengangguk pelan.
Mereka berdua kembali terdiam. Sesekali, hanya terdengar tawa senang dari sekumpulan anak kecil yang tengah bermain bersama.
Setelah menghela napas dalam, James kembali menatap Jane. Kali ini, ia menatap wanita itu dengan tatapan penuh kesungguhan.
“Jane, bisakah kau memanggil namaku sekali lagi?” Ucap James yang langsung dibalas Jane dengan anggukan kepala.
“James.”
“Sekali lagi.
“James.”
James merasa jika ia tak bisa lagi melarikan diri. Pria itu teramat sangat mencintai Jane. Saat ini, ia ingin mengatakan semuanya pada Jane. Apa pun jawaban wanita itu, akan James terima dengan lapang dada.
“Bukan sebagai seorang dokter, tapi sebagai seorang pria.” Jane kembali tertegun dalam duduknya ketika James mengelus pipi kanannya. Kedua matanya bahkan langsung terpejam guna menikmati setiap sentuhan lembut pria itu pada kulitnya.
“Ya.” Jawab Jane singkat. Hanya itulah satu-satunya kata yang bisa keluar dari mulutnya.
“Apa kau yakin?” Tanya James lagi. Merasa belum puas akan jawaban yang wanita itu berikan padanya.
“Aku yakin.” Kali ini, Jane menjawab tanpa keraguan sedikitpun. Ia bahkan tak tahu mendapatkan keberanian dari mana untuk menjawab seyakin itu. Jane hanya mengikuti kata hatinya sendiri.
Ia memang menyukai James. Bukan hanya karena pria itu adalah dokternya. Bukan. Tapi karena James selalu memperlakukannya dengan penuh ketulusan. Tak peduli seperti apa pun kondisinya.
“Bisakah aku menganggap ucapanmu tadi sebagai sebuah jawaban akan perasaanmu yang sebenarnya padaku?” Tanpa ragu, James mendaratkan satu kecupan singkat pada punggung tangan Jane yang masih ia genggam erat.
“Aku menyukaimu, James.” Ucap Jane yakin.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, James menunduk dalam diam di hadapan Jane seraya meyakinkan dirinya kembali jika ia tak salah dengar. Namun ketika James kembali mendongak, senyuman lembut serta tatapan hangat Jane sudah lebih dari cukup untuk menjadi bukti.
“Terima kasih.” James segera menarik tubuh Jane ke dalam pelukannya. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk mengelus lembut rambut panjang wanita itu.
Dalam hati, James tak henti-hentinya bersyukur. Awalnya, ia merasa putus asa dan hilang harapan untuk bertemu kembali lagi dengan Jane. Namun ternyata, Tuhan berkata lain. Di tengah rasa sedih dan putus asanya, Jimmy secara tiba-tiba menghubungi dan memintanya untuk kembali menjadi dokter pribadi wanita itu. Tak pernah sekalipun ia merasa sebahagia ini saat perasaannya terbalaskan. Hanya Jane satu-satunya wanita yang mampu melakukannya.
“James.”
“Jane, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” James berucap dengan penuh ketulusan. Setelah melepaskan pelukanya pada tubuh Jane, ia mengecup kening wanita itu dengan lembut. Tak peduli sekalipun jika orang-orang di sekitar melihat mereka berdua.
Jane yang merasakan kecupan hangat pada keningnya, secara perlahan memejamkan kedua matanya. Ia juga mencintai James dan akhirnya memilih untuk percaya pada pria itu.
Tak bisa dipungkiri, jika selama ini Jane selalu saja terlibat pertengkaran batin dengan dirinya sendiri. Ada satu bagian dalam dirinya yang memintanya untuk tetap menjadi Jane yang dulu. Yang harus menikmati hidup dengan tetap menjadi orang bodoh dan berpura-pura tak peduli akan keadaan sekitarnya. Tapi satu bagian yang lain dalam dirinya terus berteriak dan memintanya untuk segera bangkit. Tak peduli seperti apa pun usahanya untuk melupakan, masa lalu serta kenangan pahit dalam hidupnya akan selalu menjadi bagian dalam dirinya. Sampai kapan pun itu.
__ADS_1
Di tengah rasa putus asanya, Jane akhirnya sadar jika Jimmy tak pernah sekalipun menyerah untuk terus berada di sisinya. Pun membuatnya untuk kembali menjadi dirinya sendiri. Jane yang merasa jika sisa hidupnya hanya akan dipenuhi dengan kegelapan dan juga kebencian, sedikit demi sedikit menemukan cahayanya kembali. Bukan hanya Jimmy, tapi juga orang-orang yang berada di dekat pria itu mau menerima dirinya tanpa mengharapkan apa pun. Fiona, Bianca, Alan dan James adalah orang-orang yang menatapnya tanpa rasa kasihan sama sekali.
Tanpa sadar, Jane meneteskan air mata. Bukan karena ia merasa sedih. Tapi sebaliknya, ia justru merasa sangat bahagia karena James lah pria yang berada di sisinya. Yang bersedia menerima dirinya. Sekalipun tak lagi sempurna sebagai seorang “wanita.”
“Jane!” Seru James panik setelah melepaskan kecupannya pada kening wanita itu dan mendapati Jane meneteskan air mata.
Jane yang baru saja membuka mata, hanya bisa tertawa kecil melihat wajah panik pria itu.
“Apa kau tak men—” James tak lagi mampu melanjutkan ucapannya saat Jane memeluk tubuhnya lebih dulu. Ia bahkan hanya bisa terdiam beberapa saat sebelum pada akhirnya balas memeluk wanita itu erat seraya mengecup pucuk kepalanya cukup lama.
Jane dan James sama-sama berharap, jika kebahagiaan yang mereka berdua rasakan saat ini, bisa berlangsung untuk selamanya. Bahkan sampai mereka menua kelak.
***
Alan yang baru saja tiba di rumah menjelang pukul delapan malam, langsung diberitahu oleh Sofie jika Bianca melahap habis makan malamnya. Wanita itu juga meminta disiapkan satu piring penuh berisi potongan buah apel, pir serta anggur hijau.
“Sayang.” Panggil Alan senang sesampainya di pintu kamar yang terbuka. Tak jauh darinya, ia melihat Bianca tengah fokus menatap layar televisi sembari sibuk menyuapi mulutnya dengan buah anggur.
“Stop!” Alan yang baru saja berniat menghampiri Bianca, dikejutkan dengan ucapan tiba-tiba wanita itu. Belum lagi Bianca yang menatapnya tajam.
“Apa?” Tanya Alan tak mengerti.
“Kau baru boleh masuk setelah mandi.” Ucap Bianca tajam.
“Tapi aku ingin memelukmu dulu.” Alan segera menatap Bianca memohon. Berharap, wanita itu memperbolehkannya untuk memeluk walau hanya sebentar.
“Tidak! Aku muak mencium aroma tubuhmu!” Alan hanya bisa menatap Bianca tak percaya setelah mendengar ucapan tajam wanita itu. Dengan cepat, Alan mencium tubuhnya sendiri dan mendapati jika dirinya masih tetap wangi.
“Bianca, aku tak bau sama sekali.” Protes Alan tak terima. Semua produk perawatan tubuh yang dipakainya adalah barang-barang mahal merek terkenal.
“Kau harus mandi menggunakan sabun dan sampo milikku.” Alan tak tahu lagi harus mengatakan apa pada istrinya. Ia hanya mampu memejamkan mata seraya menghela napas dalam.
“Baik, Mrs. Drax.” Ucap Alan pasrah. Mendengar jawaban pria itu, Bianca langsung tersenyum senang.
“Kau bisa meminta pada Sofie sabun dan sampo yang biasa kugunakan.” Seakan belum puas menyiksanya, Bianca kembali menyuruhnya untuk turun ke lantai satu. Wanita itu benar-benar tak memperbolehkannya berada di dalam kamar walau hanya sedetik.
Dengan sedikit jengkel, Alan mengangguk patuh seraya berjalan menuruni tangga. Ia tak punya pilihan lain. Mandi di lantai satu adalah satu-satunya cara tercepat agar ia bisa segera membersihkan diri lalu menemui Bianca.
***
Dua puluh menit kemudian, Alan kembali masuk ke dalam kamar seraya menggosok pelan rambutnya yang masih sedikit basah menggunakan handuk kecil. Kali ini, Bianca tak lagi melarangnya. Wanita itu justru menatapnya dengan mata berbinar bahagia.
Ya Tuhan!
“Alan.” Panggil Bianca pelan setelah Alan berada di dekat tempat tidur dan berdiri di hadapannya yang dalam posisi duduk. Dengan cepat, Bianca memeluk pinggang Alan seraya menghirup aroma buah yang menguar dari tubuh pria itu.
“Aku merindukanmu.” Bisik Alan seraya menangkup kedua pipi Bianca. Meminta wanita itu mendongak menatapnya.
“Maafkan aku.” Ucap Bianca. Sadar jika ucapannya tadi mungkin saja telah menyakiti hati pria yang dicintainya.
Alan menggelang pelan seraya tersenyum lembut sebagai sebuah jawaban.
“Aku akan memafkanmu jika kau men—” Bianca langsung menyela ucapan Alan dengan cara mengecup sekilas bibir pria itu.
“Bianca, aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu.”
Alan dengan lembut mengecup bibir Bianca. ********** beberapakali seakan ingin menyalurkan semua kerinduannya. Setelah merasa puas, ia beralih menyapukan lidahnya pada permukaan bibir wanita itu. Lalu diakhiri dengan kecupan sayang pada kening Bianca.
__ADS_1
“I love you.” Ucap Bianca. Ia meminta Alan untuk segera berbaring di sebelahnya.
Malam ini, Bianca tertidur lelap di dalam dekapan hangat suaminya. Dengan Alan yang mengelus lembut perutnya.