
Jane menghela napas lega seusai melepas ball gown seberat lima kilogram yang dipakainya. Pesta pernikahannya yang di adakan di sebuah ballroom hotel mewah baru selesai menjelang pukul dua belas malam. Tak hanya keluarga James, tapi juga rekan kerja pria itu serta Jimmy menjadi tamu yang mendominasi.
Saat ini, mereka berdua telah berada di apartemen James. Pria itu menolak menginap di hotel dan lebih memilih mengemudi sendiri untuk pulang ke tempat yang disebutnya rumah.
“Jane.”
James yang melihat istrinya hendak melangkah masuk ke dalam kamar mandi segera memeluk wanita itu dari arah belakang. Bibirnya ia tempelkan pada tengkuk Jane sembari menghidu aroma menyenangkan dari tubuhnya.
Kedua tangan James yang melingkar sempurna pada perut Jane membuat jantung wanita itu berdegup kencang. Sebelumnya, mereka berdua belum pernah bersentuhan kulit secara intens dan sekarang, Jane justru tak tahu raut wajahnya sudah seperti apa.
“James.” Panggil Jane lembut. Ia mengelus pelan punggung tangan suaminya.
“Hm....” James bergumam pelan. Sembari memejamkan mata, ia semakin merapatkan tubuh mereka berdua.
“Aku–aku ingin mandi.” Jane bergerak gelisah dalam dekapan hangat suaminya. Sekalipun tak telanjang bulat karena masih mengenakan dalaman, ia tetap saja merasa malu.
“Kau bisa melakukannya nanti.” James mendaratkan kecupan-kecupan singkat di sepanjang tengkuk serta bahu Jane. Sesekali, lidah dan giginya bertemu dengan kulit wanita itu.
“Apa kau tak keberatan kita melakukannya di sini?”
Pertanyaan tak terduga James sukses membuat Jane berbalik menatapnya tak percaya. Wajah hingga telinga wanita itu bersemu merah karena malu.
Tak lama berselang, tawa kecil lolos dari mulut James. Ia tak kuasa menahan dirinya lebih lama lagi ketika menatap wajah malu istrinya. Dengan tetap memeluk Jane dari belakang, pria itu segera menjangkau bibirnya. Mengecup serta ********** secara bergantian.
James meloloskan lidahnya masuk ke dalam mulut Jane lalu saling melilitkan lidah. Di tengah tautan bibir mereka berdua, James secara perlahan menggerakkan tangannya menuju dada kiri Jane. Meremasnya pelan beberapa kali sembari memainkan puncaknya.
“James.” Jane memanggil nama suaminya diiringi dengan desahan kecil. Ia mendongak untuk menatap pria itu. Tangannya yang telah berada di tengkuk James menarik secara perlahan kepala pria itu agar bibir mereka kembali bertemu.
“Aku tak akan keberatan asalkan bersama denganmu.” Jane menjawab penuh kejujuran dan keyakinan. Matanya yang seindah warna air laut menatap penuh cinta pada sosok pria yang telah berhasil mencuri hatinya. Pun membuatnya merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia ini.
“I love you.” Kecupan sayang James daratkan pada kening istrinya. Setelah menatap wanita itu sejenak, James secara tiba-tiba menggendong tubuh Jane menuju tempat tidur. Membaringkannya secara lembut lalu ikut melakukan hal yang sama.
Mereka berdua berbaring secara berhadapan. Tak lama setelahnya, James menurunkan sedikit tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan dada istrinya.
Kecupan singkat James berikan pada dada Jane. Setelahnya, puncak dada wanita itu telah berada di dalam mulutnya. Tak hanya menyesap kuat, sesekali, James juga memainkan lidahnya, lantas menghadiahi gigitan-gigitan kecil.
Sebelah tangannya yang bebas tak tinggal diam. Elusan-elusan lembut James berikan pada paha serta milik Jane secara bergantian. Merasa wanita itu tak memberikan penolakan, James segera menyusupkan tangannya, menyentuh secara langsung pusat sensitif Jane tanpa melepaskan dalamannya.
“James!” Tubuh Jane menggelijang geli disertai dengan sensasi menyenangkan. Kedua matanya terpejam tatkala merasakan jemari James bergerak pelan pada tubuh bagian bawahnya.
Melihat respon yang diberikan oleh istrinya membuat pergerakan bibir serta lidah James pada puncak dada Jane semakin menjadi. Dua jarinya yang juga berada di dalam tubuh wanitanya tak tinggal diam. James menggerakkannya dengan cepat seraya terus mendorongnya semakin dalam.
Ia secara sengaja ingin membiarkan Jane terbiasa lebih dulu akan sentuhannya. James tak ingin menyakiti wanita yang dicintainya hanya karena ia tak bisa mengendalikan diri.
James bukan hanya telah berjanji pada dirinya dan Jimmy, tapi ia juga telah berjanji pada Tuhan untuk selalu membahagiakan wanita itu. Tak pernah menyakiti bahkan membuatnya meneteskan air mata.
“Have a nice dream.” James berbisik lembut seraya menatap wajah Jane. Pelepasan wanita itu baru saja tiba dan memenuhi tangannya.
James tersenyum simpul ketika melihat kedua mata Jane perlahan terpejam. Wanita itu pasti merasa lelah, sama seperti dirinya. Tidak ada sedikit pun kesedihan dalam diri pria itu karena malam ini mereka berdua tak saling menyatukan tubuh..
Baginya, malam ini atau pun malam berikutnya tetap sama. Asalkan selalu bersama wanita yang dicintainya, mereka berdua bisa melakukannya kapan pun.
Setelah menutupi tubuhnya dan Jane dengan selimut, James tak lupa memeluk wanita itu. Tak lama berselang, kedua matanya juga ikut terpejam. Terlelap bersama wanitanya.
***
“Hello, Mrs. Davis.”
Sapaan ramah seorang wanita yang datang bersama Jimmy membuat Fiona mengerutkan kening bingung. Ia beralih menatap Jimmy, menuntut jawaban serta penjelasan dari pria itu.
“Sayang, perkenalkan, dia Alice. Mulai hari ini, dia yang akan membantumu di rumah.”
__ADS_1
“Apa?!” Fiona menatap Jimmy tak percaya. Pria itu tak memberitahunya sama sekali perihal asisten rumah tangga yang akan bekerja pada mereka.
“Dalam satu minggu ini kau sudah dua kali pingsan dan aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kalian berdua.” Jimmy menjelaskan dengan lembut. Ia menggenggam erat tangan Fiona tanpa memedulikan kehadiran Alice.
“Alice, bisakah kau menunggu sebentar di sini? Aku dan suamiku perlu berbicara sebentar.”
“Tentu saja.” Jawab Alice seraya tersenyum ramah.
Fiona segera bangkit dari duduknya pada sofa ruang tamu. Ia menarik tangan Jimmy menuju kamar tanpa suara.
“Sayang.”
“Jimmy, kau tak mengatakan apa pun padaku. Dan lagi, apa kau tak lihat jika dia masih muda? Bahkan jauh lebih muda dari kita berdua.” Fiona berujar dengan nada kesal. Hanya dengan sekali lihat pun ia sudah bisa tahu jika wanita bernama Alice itu memiliki usia yang sama dengan Bianca.
“Fiona, hanya dia satu-satunya asisten yang tersedia. Lagi pula, dia hanya akan berada di rumah saat aku ke kantor. Jadi, kau tak perlu cemburu.” Jimmy tak kuasa menahan senyum gelinya ketika mendapati Fiona mendelik jengkel padanya.
“Aku tak cemburu.”
Tawa Jimmy pecat saat mendengar ucapan istrinya. Raut wajah wanita itu berbanding terbalik dengan apa yang dikatakannya.
“Aku hanya mencintaimu.” Jimmy berbisik pelan sembari memeluk Fiona dari arah samping. Mereka berdua sedang duduk di tepi tempat tidur.
“Aku tahu.” Fiona menjawab penuh percaya diri seraya tersenyum senang. Ia mengelus pelan rambut Jimmy lalu mengecup bibir pria itu.
“Ayo.” Jimmy kembali menggenggam tangan Fiona dan mengajaknya menemui Alice. Tak ada lagi yang perlu dikhawatirkannya.
“Alice, kau bisa bekerja mulai besok.”
“Benarkah? Terima kasih banyak Mr. Davis.” Alice berseru senang seraya bangkit dari duduknya. Ia bahkan menarik paksa tangan Jimmy agar bisa menyalaminya. Yang juga langsung memutuskan genggaman tangannya bersama Fiona.
Perasaanku tak enak.
Fiona membatin tak tenang ketika melihat sikap Alice barusan. Yang ia khawatirkan bukan Jimmy, tapi wanita itu.
***
“Alex!” Bianca berteriak panik ketika melihat putra laki-lakinya yang sedang duduk di atas tempat tidurnya dan bermain bersama Beatrice hampir terjatuh ke bawah. Beruntung Alan yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan sigap menahan anak itu.
“Bukankah sudah kubilang untuk tak meninggalkannya sendiri?” Alan berucap jengkel. Ia menggendong Alex yang tengah menangis akibat kaget.
Bianca yang mendengar ucapan suaminya hanya mampu menganga tak percaya. Toples kaca yang berisi biskuit kesukaan Alex dan Beatrice ia letakkan secara kasar ke dalam lemari kecil di kamarnya.
Wajah Bianca memberengut. Tak terima karena Alan menyalahkannya.
“Jelas-jelas kau yang berada terlalu lama di dalam kamar mandi.” Sindir Bianca setelah berada di dekat Beatrice. Ia segera menggendong putri kecilnya yang tengah sibuk memakan biskuit pemberiannya.
“Kau bisa menaruh mereka berdua lebih dulu di box tidurnya.”
“Sudah, tapi Alex langsung menangis keras dan kau pasti akan kembali menyalahkanku.” Bianca menatap Alan tajam. Ia benar-benar tak habis pikir. Pria itu langsung menyalahkannya begitu saja.
Bianca sadar jika ia telah melakukan hal bodoh. Kalau saja Alex sampai terjatuh, ia pasti tak akan memaafkan dirinya sendiri.
“Sayang, aku tak bermaksud—”
“Alex tidur denganmu.” Tanpa menatap Alan, Bianca segera melangkah keluar. Menuju kamar yang akan menjadi milik Beatrice ketika besar nanti.
“Ya Tuhan.” Alan menggeram frustrasi. Bianca akan sangat susah untuk dibujuk saat sedang marah. Ia harus pintar-pintar memutar otak dan mencari cara agar wanita itu mau memaafkannya.
“Sayang.” Alan membuka pintu kamar Beatrice dengan pelan. Alex yang tertidur di dalam gendongannya telah ia baringkan di dalam box bayinya.
Bianca tak menjawab. Posisinya yang sedang memunggungi Alan membuat pria itu tak bisa menatap wajahnya.
__ADS_1
“Maafkan aku.” Alan yang telah berada di dekat Bianca berbisik pelan agar tak mengganggu Beatrice yang baru saja terlelap.
“Bukankah aku yang salah? Jadi untuk apa kau meminta maaf.” Ucap Bianca dingin. Hatinya masih kesal.
Alan yang merasa usahanya akan berakhir sia-sia secara perlahan membaringkan dirinya di samping Bianca. Sebelah tangannya melingkar pada perut istrinya.
“Kau tetap tidur dengan Alex.”
“Maafkan aku.” Alan mendaratkan satu kecupan lembut pada rambut Bianca. Lalu berpindah pada leher dan tengkuknya.
Helaan napas dalam Bianca terdengar. Setelah meletakkan bantal kecil di kedua sisi tubuh Beatrice, ia dengan cepat berbalik. Menatap lekat pada wajah memohon suaminya.
“Jadi siapa yang salah?” Tanya Bianca sembari mengelus rambut suaminya.
“Aku.” Jawab Alan pasrah.
“Jadi siapa yang harus meminta maaf?” Tanya Bianca sekali lagi.
“Maafkan aku.”
Senyuman puas Bianca merekah tatkala mendengar jawaban pasrah suaminya. Ia memang tak pernah bisa marah terlalu lama pada pria yang sangat dicintainya itu.
“Aku merindukanmu.” Bisik Alan. Ia mengecup singkat bibir istrinya.
“Hanya di bibir?” Bianca bertanya menggoda lalu melingkarkan sebelah kakinya pada paha Alan.
Alan yang mendapati godaan Bianca kembali membungkam bibir wanita itu tak sabaran. Ciumannya terasa liar dan menuntut.
Bianca yang mengenakan celana super pendek memudahkan Alan untuk mengelus pahanya. Juga menyelipkan dua jarinya agar segera berada di dalam milik wanita itu.
“Alan, tidak di sini.” Bianca menatap Alan memohon. Berharap pria itu segera mengeluarkan kedua jarinya.
“Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi.” Alan segera mengangkat sedikit kaki Bianca ke atas setelah membuka kancing celana wanita itu.
Dengan tak sabaran, Alan menarik keluar sebelah sisi celana Bianca agar tak menghalangi pergerakannya.
Tubuh bagian bawahnya telah ia posisikan di depan pusat sensitif Bianca. Dengan satu kali dorongan, ia berhasil mengisi penuh milik wanita itu.
Bianca yang tak bisa lagi menahan diri memberi isyarat pada Alan agar segera bergerak dengan cara menyesap kuat lidah pria itu tanpa henti.
Tubuh keduanya perlahan bergerak secara bersamaan. Sebisa mungkin, Bianca menahan desahannya agar tak mengganggu tidur nyenyak putri kecilnya.
Tak peduli sekuat apa pun Bianca berusaha, nyatanya, gerakan lincah pinggul Alan selalu membuatnya tak berdaya. Pria itu tanpa jeda terus menghujam bagian dalam tubuhnya.
“Bianca.” Alan mengerang tertahan sembari meremas dada Bianca. Tak lupa dengan memberikan cubitan kuat pada puncak dadanya.
Setiap kali Alan melakukannya, ia selalu merasakan milik Bianca membungkusnya dengan erat dan juga hangat. Bahkan membuat tubuhnya hilang kendali sampai tak ingin berhenti bergerak.
Napas keduanya memburu. Desahan kenikmatan Bianca pun semakin menjadi. Kedua matanya bahkan selalu terpejam setiap kali Alan menyentuh titik rangsangannya.
“Sayang, sekali lagi.” Ucap Alan setelah pelepasannya usai.
“Apa?! Tapi Alex—”
“Kita bertiga pindah setelah ini.”
Bianca tak bisa berkutik. Milik Alan masih berada di dalam tubuhnya bersama hasil dari pelepasan pria itu.
Kali ini, posisi keduanya berubah dengan Bianca yang berada di atas tubuh Alan.
Wanita itu mengambil alih kendali dan mulai bergerak.
__ADS_1
Membuat keduanya kembali merasakan sensasi penuh kenikmatan tanpa akhir.