
Setelah memandikan dan menyuapi Jane, Jimmy dan Fiona kembali menuju ke rumah sakit. Dokter Adam memang belum menelfon mereka dan Fiona merasa bersyukur karenanya. Sebab, itu berarti keadaan ibunya baik-baik saja.
“Jane.” Panggil Jimmy lembut. Ia menatap Jane seraya tersenyum. Satu kecupan sayang ia daratkan pada kening wanita itu.
“Aku pergi dulu.” Ucap Jimmy lagi. Sebelum benar-benar keluar dari dalam kamar Jane, Fiona kembali berbalik sebentar seraya melambai dengan senyuman hangat. Dan tak ia sangka, Jane juga menatapnya lekat seraya mengerjap sekali.
Fiona tertegun. Entah sadar atau tidak, Jane seolah merespon lambaiannya. Dan membuatnya merasa luar biasa bahagia. Doanya tetap saja, ia berharap Jane bisa segera sembuh dan kembali normal.
***
Setelah mengantar Bianca dan mengecup sekilas bibir wanita itu, Alan segera melajukan mobil hitamnya menuju kantor. Lucy sudah sedari tadi menghubunginya dan menyuruhnya untuk segera datang karena rapat penting akan dimulai.
“Lily.” Bianca yang melihat Lily dari kejauhan, segera memanggil nama gadis itu seraya melambai.
Dengan berlari kecil, Lily menghampiri Bianca seraya menatapnya intens.
“Kalian sudah berbaikan?” Tanya Lily dengan nada menyindir. Di sebelahnya, Bianca hanya tersenyum simpul. Ia sangat yakin jika yang mengantar sahabatnya barusan adalah Alan. Karena mobil yang selalu Jimmy gunakan untuk mengantar-jemput Bianca adalah mobil yang berbeda.
“Ya.”
“Wow. Inikah yang dinamakan kekuatan cinta?” Goda Lily seraya tersenyum penuh arti.
Wajah Bianca sontak bersemu merah. Ia tahu betul apa maksud ucapan sahabatnya itu.
“Kau juga pasti akan merasakannya.” Ucap Bianca. Ia penasaran seperti apa jadinya jika Lily nanti punya kekasih.
“Yeah. Tapi tidak sekarang. Nanti.” Seru Lily. Untuk saat ini, ia hanya ingin fokus pada pendidikannya. Tapi tak menutup kemungkinan jika setelah kuliah nanti, ia akan berpacaran. Bagaimana pun juga, Lily ingin tahu seperti apa rasanya memiliki kekasih, bergandengan tangan, saling memeluk dan seterusnya.
“Jangan lupa mengenalkannya padaku.” Goda Bianca seraya memeluk lengan Lily. Mereka melangkah bersama menuju kelas biologi karena mempunyai jadwal yang sama.
***
Jimmy dengan setia terus berada di sisi Fiona. Saat ini, wanita itu sedang sibuk mengupaskan buah pir untuk ibunya. Christine baru saja terbangun setelah tadi menyelesaikan sarapan paginya.
“Jimmy.” Panggil Christine lemah. Ia menatap pria itu lekat.
Jimmy tersenyum simpul seraya balas menatap wanita itu.
“Mom.” Ucap Fiona seraya menyodorkan sepotong buah pir pada ibunya.
“Aku sudah kenyang.” Tolak Christine seraya menatap Fiona. Mendadak, perasaannya menjadi tak enak.
Fiona mengangguk mengerti dan beralih menawarkan buah yang baru selesai dikupasnya pada Jimmy. Pria itu menatapnya kaget. Dan tak lama, Jimmy menggangguk pelan seraya mengambil buah yang Fiona sodorkan padanya.
Christine tersenyum senang melihat mereka berdua. Kebahagiaan mulai terpancar dari wajah anaknya. Perlahan, Christine memejamkan kedua matanya karena tiba-tiba merasa begitu lelah. Ia ingin beristirahat sejenak.
“MOM!” Fiona yang tengah sibuk memakan buah bersama Jimmy, sontak memekik kaget ketika ibunya tiba-tiba saja terbatuk keras. Dengan cepat, ia menatap wanita itu
Christine kembali terbatuk lebih keras dengan darah yang keluar dari mulutnya. Dengan sigap, Jimmy segera menekan tombol di dekat tempat tidur wanita itu untuk memanggil dokter. Di dekatnya, Fiona masih berteriak panik seraya menghapus bercak darah di mulut ibunya.
“Kalian berdua, silahkan keluar lebih dulu.” Dokter Adam yang baru saja tiba bersama dua orang perawat wanita, segera menyuruh Jimmy dan Fiona untuk keluar agar ia bisa segera menangani Christine.
Dengan berat hati, Fiona melangkah keluar bersama Jimmy. Jika bisa, ia ingin terus berada di sisi ibunya. Memantau keadaan wanita itu secara langsung. Di sisi lain, ia juga tak ingin menghalangi dokter yang tengah berusaha keras menolong ibunya.
“Mom.” Gumam Fiona. Ketakutan yang dirasakannya semakin bertambah besar. Dengan sigap, Jimmy segera menggenggam tangan wanita itu seraya mengajaknya untuk duduk bersama.
***
__ADS_1
Setelah menjemput Bianca, Alan kembali melajukan mobilnya kembali ke kantor. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan. Biasanya, Jimmy yang akan selalu membantunya. Namun karena pria itu sedang berhalangan hadir dalam waktu yang tak bisa ditentukan, mau tak mau, Alan yang harus menanganinya seorang diri dengan bantuan Lucy.
“Bianca.” Alan yang baru saja keluar dari dalam mobil, segera menarik tangan Bianca untuk melangkah bersama. Disepanjang perjalanan menuju ruangannya, setiap mata yang berpapasan dengan mereka, sontak menatap kaget. Merasa tak percaya pemimpin mereka yang terkenal dingin, datang bersama seorang wanita cantik.
“Kembali bekerja.” Ucap Alan dingin dengan pandangan tajam. Mendadak, semua pegawai yang mendengarnya, kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
“Mr. Drax.” Sapa Lucy ketika melihat Alan. Senyuman ramah ia juga berikan pada Bianca.
“Kau lapar?” Tanya Alan seraya menatap Bianca. Mereka masih berdiri di depan pintu ruangannya yang tertutup.
“Ya.” Jawab Bianca singkat. Dengan segera, Alan mengalihkan kembali pandangannya pada Lucy.
“Lucy, pesankan makanan untuk dua orang.” Perintah Alan.
“Baik, Mr. Drax.” Jawab Lucy seraya mengangguk mengerti. Setelahnya, Alan kembali mengajak Bianca untuk melangkah masuk ke dalam ruangannya.
“Ala—”
Tepat setelah pintu ruangannya tertutup rapat, Alan segera menarik pinggang Bianca dan membungkam bibir wanita itu. Sudah sejak tadi ia menahan dirinya. Dan ketika mereka hanya berdua, Alan tak bisa lagi mengabaikan bibir ranum Bianca yang sudah sedari tadi menggodanya.
Awalnya, Bianca tersentak kaget ketika mendapatkan serangan mendadak dari Alan. Namun tak lama kemudian, ia segera memejamkan matanya seraya memeluk Alan. Dengan langkah pelan, Alan menyudutkan Bianca ke tembok tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
“Al—”
Merasa mendapatkan celah, Alan segera meloloskan lidahnya untuk menjelajah bagian dalam mulut Bianca. Sebelah tangannya yang bebas terangkat ke atas untuk meremas pelan buah dada wanitanya.
Bianca tak tinggal diam. Ia juga balas ******* bibir Alan secara bergantian. Lalu menyesap kuat lidah pria itu yang masih berada di dalam mulutnya.
“Mr. Drax.” Suara ketukan di pintu sontak membuat Alan segera menjauhkan bibirnya. Ibu jarinya dengan cepat menghapus jejak saliva pada sudut bibir Bianca.
Dengan takut, Lucy melangkah masuk seraya membawa satu box pizza lengkap dengan spageti dan juga minumannya.
“Setelah ini, jangan ganggu aku sampai aku sendiri yang menelfonmu.” Titah Alan sebelum Lucy keluar dari dalam ruangannya. Lucy mengangguk paham seraya melangkah keluar dengan cepat. Ia takut jika Alan sampai marah padanya.
“Kau membuatnya takut.” Seru Bianca. Sedari tadi ia terus memperhatikan wajah Lucy dan terlihat jelas jika wanita itu sangat takut pada Alan.
“Aku tak peduli.” Jawab Alan tak acuh seraya mendudukkan dirinya di sebelah Bianca. Kedua tangannya dengan lincah mengeluarkan makanan yang Lucy bawakan dari tempatnya masing-masing. Bukan hanya Bianca, tapi perutnya juga sedikit lapar.
“Aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaanku dulu.” Ucap Alan setelah ia baru saja menghabiskan satu potong pizza berukuran besar. Ia segera beranjak dari duduknya untuk melangkah menuju meja kerjanya. Meninggalkan Bianca seorang diri yang sedang sibuk mengisi perutnya dengan satu porsi fettuccine carbonara berukuran sedang.
“Setelah selesai, kita akan lanjutkan yang tadi.” Alan menyeringai penuh arti seraya menatap Bianca. Tak lama, ia kembali menatap berkas di hadapannya. Dan mengabaikan tatapan tak percaya Bianca.
***
Fiona yang sudah menunggu sedari tadi, segera menatap pintu ruangan tempat ibunya berada ketika baru saja terbuka. Ia segera menghampiri dokter Adam yang melangkah keluar seraya menatapnya lekat.
“Masuklah.” Ucap dokter Adam pelan. Tanpa menunggu lebih lama, Fiona segera menghambur ke dalam dan mendapati ibunya masih terbatuk seraya mengeluarkan darah.
“Mom!” Fiona berteriak panik setelah menggenggam tangan kurus ibunya. Air matanya kembali menetes ketika wanita itu menatapnya lemah.
“Fio … na.” Christine berucap lirih di tengah batuknya. Dengan susah payah, ia mengangkat sebelah tangannya ke arah Jimmy. Dengan sigap, pria itu berdiri di dekat Christine.
“Tolong jaga Fiona baik-baik.” Ucap Christine lemah. Ia menatap lekat Jimmy. Jimmy tak tahu harus mengatakan apa. Ia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.
“Apa maksudmu?!” Fiona berteriak histeris seraya menatap ibunya. Air matanya sudah sedari tadi menetes. Tidak. Ibunya pasti akan baik-baik saja. Wanita itu tak akan pergi ke mana-mana.
Setelah menatap Fiona dan Jimmy secara bergantian, Christine balas menggenggam tangan keduanya dengan erat. Setelah terbatuk sekali, kedua bibir Christine terangkat ke atas. Mengukir senyuman penuh kebahagiaan. Ia tak lagi harus mencemaskan anaknya. Fiona sudah memiliki seseorang yang spesial di sisinya.
__ADS_1
“Tidak! Tidak!” Fiona kembali berteriak histeris ketika genggaman tangan ibunya melemah. Kedua mata wanita itu sudah terpejam.
“Dokter!” Fiona berteriak keras seraya menatap dokter Adam yang sedari tadi berada di belakangnya—menatapnya sedih dalam diam.
“Maafkan aku.” Ucap dokter itu penuh penyesalan. Ia tak bisa berbuat apa pun. Semua usaha dan obat yang diberikan pada Christine tak membuahkan hasil sama sekali.
“Buka matamu! Cepat buka matamu!” Fiona kembali memekik panik seraya memegang kedua pipi ibunya. Tak lama, ia mengguncang tubuh wanita itu. Berharap, ibunya memberikan respon.
“Tidak! Kau tak boleh meninggalkanku. Aku tak lagi punya siapa-siapa.” Fiona kembali mengguncang tubuh ibunya dengan lebih kuat. Derai air matanya semakin menjadi. Ia masih yakin jika ibunya pasti hanya sedang tertidur sebentar.
“Kumohon. Aku–aku—” Fiona tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya tercekat. Mendadak, ia jatuh terduduk di atas lantai dengan suara isakan yang memilukan. Sebelah tangannya memukul-mukul dadanya dengan kuat. Berharap agar rasa sesak yang dirasakannya bisa segera menghilang.
Ibunya baru saja pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Wanita yang telah melahirkan dan merawatnya itu, telah memutuskan untuk pergi jauh dan tak pernah kembali lagi. Meninggalkannya sebatang kara. Ia tak akan lagi bisa menatap wajah ibunya. Pun menggenggam tangan wanita itu.
“Kumohon, buka matamu. Aku belum meminta maaf. Atau pun mengucapkan terima kasih untuk yang terakhir kalinya.” Fiona berucap lirih seraya menatap lantai rumah sakit. Tangannya terkepal kuat.
Jimmy yang sedari tadi berada di sisi Fiona, hanya menatap dalam diam. Ia sengaja membiarkan wanita itu melampiaskan seluruh yang dirasakannya. Sebab Jimmy tahu, sebesar apa pun usahanya untuk menenangkan Fiona, tetap tak akan menghilangkan kesedihannya. Wanita itu baru saja kehilangan sosok berharga sekaligus yang sangat dicintainya.
“Fiona!” Jimmy sontak berteriak panik ketika tubuh Fiona secara tiba-tiba terkulai lemas di atas lantai dingin rumah sakit. Dengan cepat, ia mengangkat tubuh wanita itu lalu membawanya ke ruangan kosong yang bersebelahan dengan ruang ICU.
***
Jimmy yang melihat Alan dan Bianca yang baru saja tiba di tempat pemakaman, segera menatap mereka berdua seraya menunduk sekilas. Alan mengangguk pelan. Lalu menggenggam tangan Bianca sembari mengajak wanita itu untuk berdiri tak jauh dari Jimmy di tengah para pelayat yang datang.
Semalam, ketika ia baru saja terlelap, Jimmy tiba-tiba menelfon untuk memberitahunya jika ibu dari Fiona—wanita yang disukainya, baru saja meninggal. Alan yang mendengarnya, langsung mengatakan pada Jimmy jika ia yang akan mengurus dan menyiapkan semuanya. Jimmy hanya perlu terus berada di sisi wanita itu.
“Mom.” Fiona berucap lirih. Air matanya kembali menetes melihat peti mati berwarna putih tempat tubuh tak bernyawa ibunya berada, secara perlahan diturunkan ke dalam liang kubur. Bukan hanya sedih dan juga kehilangan. Tapi ia juga menyesal karena merasa belum mampu membahagiakan ibunya.
“Aku—” Tubuh Fiona kembali terkulai lemas di dalam dekapan Jimmy. Kedua matanya yang kabur karena sedari tadi tertutupi oleh air mata, menatap tak berdaya peti mati ibunya yang sedikit demi sedikit tertutupi oleh tanah.
“Fiona.” Bisik Jimmy. Ia segera mendaratkan satu kecupan hangat pada pucuk kepala Fiona. Berharap wanita itu menjadi sedikit tenang. Namun ternyata, tangisan serta isakan Fiona semakin menjadi.
Hatinya juga ikut teriris pedih melihat wanita itu. Jimmy hanya berharap, jika setelah ini, Fiona mampu menjalani kehidupannya seperti semula. Bahkan dengan jauh lebih baik. Sekalipun membutuhkan waktu. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri, untuk selalu menewani wanita itu dalam keadaan apa pun.
“Jimmy, ibuku–ibuku sudah pergi.” Lirih Fiona di dalam dekapan Jimmy. Dari lubuk hatinya, ia merasa bersyukur karena pria itu masih mau berada di sisinya. Fiona hanya tak bisa membayangkan akan seperti apa dirinya jika saat ini ia hanya seorang diri.
***
Setelah proses pemakaman selesai, Jimmy harus bersusah payah membujuk Fiona agar mau ikut pulang. Awalnya, wanita itu menolak dan mengatakan padanya jika ia ingin tinggal lebih lama untuk menemui ibunya. Jimmy tak punya pilihan lain. Ia dengan sabar menemani Fiona. Sampai akhirnya wanita itu sendiri yang meminta pulang.
“Fiona.” Jimmy melangkah pelan memasuki kamar yang Fiona tempati ketika menginap di rumahnya. Ia memang dengan sengaja tak mengantar wanita itu pulang ke rumahnya sendiri. Jimmy tak ingin membiarkan Fiona seorang diri. Dan lagi, ia juga harus mengurus Jane.
“Aku tak lapar.” Tolak Fiona dengan suara lemah ketika Jimmy menyodorkan padanya segelas kecil susu putih hangat. Kedua matanya masih membengkak.
Jimmy mengangguk mengerti seraya meletakkan gelas susu tersebut di atas nakas samping tempat tidur. Mata birunya menatap Fiona lekat.
“Istirahatlah.” Ucap Jimmy lembut. Sebelah tangannya terangkat ke atas untuk mengelus bagian bawah mata wanita itu.
“Aku tak lelah.” Balas Fiona seraya menatap kosong pada Jimmy. Ia memang tengah berbaring di atas tempat tidur. Sejak tadi, kepalanya tiba-tiba saja terasa sakit.
“Aku akan menemanimu.” Jimmy segera memposisikan dirinya di sebelah Fiona. Ia tak punya maksud lain. Jimmy hanya ingin menemani Fiona sampai wanita itu terlelap.
Tanpa Jimmy duga, Fiona langsung memeluknya erat. Wanita itu menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan hangat Jimmy. Tak lama kemudian, ia kembali mendengar isakan tertahan Fiona.
Jimmy balas memeluk wanita itu. Satu kecupan singkat kembali ia daratkan pada rambut panjang Fiona.
“Aku akan tetap berada di sini.” Bisik Jimmy. Setelahnya, ia ikut memejamkan mata saat Fiona tak lagi membalas ucapannya. Wanita itu sudah terlelap di dalam dekapannya. Dengan wajah penuh kesedihan.
__ADS_1