Married With The Devil

Married With The Devil
Menjauh


__ADS_3

Lily yang baru saja membuka pintu rumahnya, menatap Bianca kaget ketika wanita itu secara tiba-tiba menghubunginya dan mengatakan jika ia sedang berada di depan rumahnya. Hari sudah mulai beranjak gelap. Lily juga melihat Bianca membawa sebuah tas karton berwarna putih berukuran sedang.


“Masuk lah.” Ucap Lily seraya menyuruh Bianca untuk segera masuk ke dalam.


“Di mana ayah dan ibumu?” Bianca bertanya seraya menatap sekitar. Keadaan rumah Lily sedang sepi.


“Mereka sedang menghadiri acara keluarga.” Jawab Lily. Ia mengajak Bianca langsung menuju kamarnya yang terletak di lantai dua.


“Kau tak ikut?” Bianca bertanya seraya menatap Lily sekilas. Setelah memasuki kamar gadis itu, Bianca segera meletakkan tas yang dibawanya di atas meja belajar.


“Untuk apa? Aku hanya akan bertemu dengan anak ingusan yang sibuk membahas drama percintaan.” Lily berujar kesal. Jika disuruh memilih, maka ia akan dengan senang hati memilih untuk tinggal di rumah dari pada harus mengikuti acara keluarga. Ayahnya memang merupakan anak tunggal. Sementara ibunya adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dan kelima orang sepupunya adalah gadis remaja yang baru memasuki bangku sekolah menengah pertama.


Bianca tersenyum simpul. Tahu betul jika Lily bukan lah tipe gadis yang gemar menonton TV. Apalagi jika menyangkut drama percintaan.


“Bianca, aku akan membuatkanmu segelas susu hangat. Dan kau juga harus mandi.” Bianca mengangguk mengerti tanpa mengucapkan apa pun. Ia memang berniat untuk mandi. Setelahnya, ia ingin bercerita pada Lily. Dengan harapan, rasa sesak di hatinya bisa sedikit menghilang.


Sebelum benar-benar melangkah menuju kamar mandi, Bianca menatap sekilas pada layar ponselnya. Tak ada satu pun panggilan masuk atau pesan singkat dari Alan. Pria itu sungguh-sungguh ingin menjauh darinya.


***


Segelas susu yang Lily buatkan untuk Bianca baru saja tandas dan sahabatnya itu masih belum juga mengucapkan sepatah kata pun. Karena tak ingin memaksa, Lily akhirnya memilih untuk membawa novel.


“Lily.” Panggil Bianca. Ia tengah memeluk sebuah boneka beruang berwarna coklat milik Lily.


“Hm.” Jawab Lily singkat tanpa menatap Bianca.


“Lily!” Panggil Bianca sekali lagi. Wajahnya memberengut.

__ADS_1


“Kau sudah mau berbicara padaku?” Lily segera menutup novelnya dan beralih menatap Bianca. Saat ini, mereka sedang duduk saling berhadapan di atas tempat tidur.


“Yeah. Sepertinya.” Jawab Bianca ragu. Ia bingung harus memulai dari mana.


“Langsung saja, apa kalian sedang bertengkar?” Lily tak mau merepotkan dirinya untuk berbasa-basi. Sudah sedari tadi ia ingin mendengar penjelasan Bianca.


“Aku tak tahu—maksudku, beberapa hari yang lalu, hubunganku dan Alan baik-baik saja. Tapi sekarang, tanpa alasan yang jelas, semuanya menjadi buruk.” Bianca berujar sedih seraya menunduk. Kalau bisa, ia berharap jika hubungannya dengan Alan selalu baik-baik saja. Tanpa ada masalah atau pun pertengkaran.


“Aku sudah mulai merasa nyaman saat bersamanya. Sikapnya padaku juga sudah berubah sedikit demi sedikit. Namun yang tak kumengerti, ketika secara tiba-tiba ia bertingkah aneh.” Sambung Bianca. Ia masih enggan untuk menatap Lily.


“Mungkin saja dia sedang ada masalah di kantor.”


“Lily, sekali pun aku belum lama tinggal bersamanya, tapi aku tahu betul jika Alan tak pernah membawa masalah pekerjaannya di kantor ke rumah. Bahkan saat bersamaku, pria itu jarang memegang ponselnya.” Bianca tanpa sadar tersenyum simpul ketika mengingat kembali kebersamaan mereka berdua. Setelah pulang ke rumah, Alan akan langsung meletakkan ponselnya di atas meja nakas tanpa pernah memegangnya lagi. Kecuali jika ada telfon penting yang masuk. Pria itu lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengannya seraya berpegangan tangan. Tak jarang, Alan yang memintanya untuk tidur sambil berpelukan.


“Lalu, bagaimana dengan Alan? Apa dia tak mengatakan apa pun padamu?” Tanya Lily seraya menatap Bianca lekat.


Bianca mendesah kasar. Seandainya saja Alan mau bercerita, semuanya mungkin tak akan menjadi seperti ini.


“Tak ada salahnya untuk memberi dia waktu. Mungkin saja Alan masih belum bisa bercerita padamu.” Lily berusaha untuk menenangkan Bianca. Ini pertama kalinya ia melihat Bianca bersikap tak tenang karena seorang pria. Satu senyuman penuh arti tercetak di bibir Lily. Sahabatnya sudah jatuh terlalu dalam pada Alan.


“Masalahnya bukan terletak padaku, tapi pada Alan. Aku tak pernah memaksanya untuk bercerita. Tapi pria itu justru lebih memilih menjauhiku. Meminta jarak agar dia bisa menyendiri. Dan yang lebih parahnya lagi, Alan bilang padaku jika aku tak tahu apa-apa.” Bianca berucap jengkel seraya meremas boneka yang saat ini masih berada di dalam pelukannya. Hatinya kembali berdenyut sakit.


“Bian—”


“Aku tak tahu karena dia yang tak memberitahuku!” Bianca berteriak marah seraya mengepalkan tangannya. Bianca pikir, dengan terus membuat dirinya berada di sisi Alan, pria itu mau lebih terbuka lagi. Mau menceritakan semuanya. Namun nyatanya, ia yang terlalu bodoh karena berharap banyak. Sejak awal, Alan tak pernah ada niat untuk membuka dirinya. Pria itu lebih memilih untuk menyimpan semuanya. Padahal, jauh di dalam lubuk hatinya, ia akan tetap bertahan di sisi Alan apa pun yang terjadi.


“Aku sudah tak peduli lagi. Terserah pria itu mau melakukan apa. Bahkan jika Alan mengusirku dari rumahnya, aku akan pergi tanpa mengajukan protes sedikit pun.” Bianca berucap lirih. Tak bisa dipungkiri jika ia merindukan pria itu sekalipun hatinya sakit. Ia juga membayangkan bagaimana keadaan Alan saat ini. Bianca berharap, jika pria itu tetap baik-baik saj—

__ADS_1


Bodoh! Kau pikir Alan akan tersiksa karena wanita sepertimu?


Bianca sontak tersenyum miris. Mungkin hanya ia saja yang sedang tersiksa.


“Bianca, aku tak tahu kalau kau begitu mencintai Alan.” Ucap Lily lembut. Ia tersenyum hangat seraya menatap Bianca dengan raut bahagia.


“Apa? Aku tid—aku tak tahu!” Seru Bianca seraya membaringkan tubuhnya. Ia langsung menutupi wajahnya menggunakan bantal. Di sebelahnya, Lily tersenyum geli ketika melihat Bianca salah tingkah.


Mencintainya? Sepertinya Lily sedang tak waras karena terlalu banyak membaca novel misteri.


Tapi Bianca tak tahu mengapa wajahnya bisa sepanas ini ketika mengingat kembali ucapan Lily barusan. Ia yakin, jika wajahnya juga sudah semerah tomat.


***


Sudah sedari tadi Alan menatap kosong ke arah panggung. Tempat dua orang wanita tengah sibuk menari dengan gerakan menggoda. Sebelah tangannya memegang segelas Rum. Pikirannya sedang kacau. Ia juga berkali-kali menahan dirinya untuk tak menghubungi Bianca. Takut jika ia justru mengatakan sesuatu yang menyakitkan.


“Hai.” Seorang wanita berkulit sawo matang menyapa Alan ramah. Ia segera mendudukkan dirinya di sebelah Alan. Bahkan sebelum pria itu mempersilahkannya.


“Sendiri?” Tanya wanita itu lagi. Alan mengangguk pelan. Lalu kembali meneguk minumannya. Setiap kali ada masalah, Alan memang akan selalu mendatangi club langganannya. Menyibukkan diri dengan minum seorang diri. Tak jarang, ketika ia terbangun dipagi hari, di sebelahnya sudah berada seorang wanita dengan tubuh telanjang.


“Mau menemaiku?” Alan bertanya dengan nada datar seraya menatap wanita itu lekat. Sebelah sudut bibirnya menyeringai jijik.


Tanpa rasa malu, wanita tadi segera memposisikan dirinya di atas pangkuan Alan dengan kedua kaki yang terbuka lebar. Ia juga dengan sengaja mengelus paha Alan.


Alan masih bergeming. Dan tak lama, bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti. Tubuh dan miliknya di bawah sana tak bereaksi sama sekali. Padahal yang sedang berada di hadapannya saat ini adalah seorang wanita cantik bertubuh seksi. Hanya dengan satu kali sentuhan darinya, Alan yakin jika wanita itu pasti akan langsung menyerahkan dirinya.


“Menyingkir lah.” Alan berucap dingin seraya menatap wnaita itu tajam. Dengan gerakan cepat, ia segera bangkit dari duduknya dan melangkah pergi. Alan tak bisa lagi berbuat apa-apa. Bianca sudah mengambil alih semua yang ada pada dirinya. Bahkan tubuh bagian bawahnya pun juga telah dikunci mati oleh wanita itu.

__ADS_1


Hanya Bianca satu-satunya yang Alan inginkan. Hanya wanita itu yang ia yakini mampu membuatnya bahagia. Alan tak bisa lagi menahan dirinya. Ia mencintai Bianca. Juga merindukan wanita itu.


Alan berharap, jika Bianca masih mau menerima sekaligus memberikannya kesempatan sekali lagi.


__ADS_2