Married With The Devil

Married With The Devil
Kenangan Buruk 3


__ADS_3

Setelah merasa sedikit lebih tenang, Alan segera melepaskan pelukannya pada tubuh Bianca. Ia meminta Bianca untuk duduk di sebelahnya seraya menyenderkan kepala di bahunya. Tangan mereka berdua kembali bertautan.


Alan menghela napas dalam sejenak, lalu kembali membuka mulut,


Jangankan untuk berada di sisi Arthur, Albert bahkan tak mengizinkan Alan untuk menghadiri pemakaman kakeknya. Ia justru mengunci Alan di kamarnya dengan ditemani dua orang pelayan yang berjaga di luar.


Sehari setelah kakeknya dimakamkan, Alan dipaksa Albert untuk mengikuti rapat penting. Awalnya ia menolak, namun Albert mengancamnya dan berkata jika ia akan menghancurkan kolam ikan kesayang Arthur. Alan tak punya pilihan lain. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menjaga baik-baik semua kenangan yang Arthur tinggalkan untuknya.


“Jangan membuatku malu.” Desis Albert sebelum memasuki ruang rapat.


Setelah pintu terbuka lebar, Albert melangkah masuk dengan angkuh. Di belakangnya Alan mengikuti dalam diam. Tak ada sedikitpun raut sedih di wajah Albert bahkan setelah kehilangan ayahnya.


“Perkenalkan, Alan Drax. Anakku satu-satunya sekaligus pewaris tunggal dari Drax Corporation.” Albert membuka rapat dengan memperkenalkan Alan. Ia meminta anak laki-laki itu untuk berdiri di sebelahnya. Alan menurut. Sama seperti ayahnya, ia juga memasang wajah dingin yang angkuh. Serta tatapan tajam.


Albert tersenyum bangga. Bersama Alan, ia akan membuat perusahaannya terus berada di puncak. Tak akan ada lagi yang menghalanginya. Pelindung Alan satu-satunya telah pergi untuk selama-lamanya.


***


Alan yang baru saja tiba di rumah setelah mengikuti ayahnya, segera berlari menuju kamarnya. Ia membaringkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur tanpa mengganti pakaian. Langit di atas sana sudah berubah gelap sedari tadi. Alan menatap keluar jendela dengan pandangan kosong.


“Ya?” Alan segera bangkit dari atas tempat tidurnya ketika mendengar suara ketukan pada pintu kamarnya. Ia sedang lelah dan tak ingin diganggu oleh siapapun.


“Alan.” Suara lembut seorang wanita membuat Alan tersenyum senang. Dengan cepat, ia membuka pintu kamarnya dan menemukan seorang wanita cantik yang masih terlihat muda tengah menatapnya seraya tersenyum simpul.


“Mom.” Teriak Alan senang. Dengan cepat, ia menghambur ke dalam pelukan Maria—ibunya.


“Ayahmu mengajak makan malam bersama.” Ucap Maria lembut. Mendadak, raut wajah Alan berubah. Ia tak ingin menatap wajah ayahnya.


“Aku sedang tak lapar.” Tolak Alan.

__ADS_1


“Ayo. Jangan membuat ayahmu marah.” Maria berucap pelan seraya manarik tangan Alan untuk ikut bersamanya menuju ruang makan. Maria baru saja tiba setelah menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang di California. Dan ketika mendapati kabar jika mertuanya telah meninggal, ia memutuskan untuk pulang. Walaupun pada akhirnya, ia tetap tak bisa bertemu dengan Arthur untuk yang terakhir kalinya.


“Honey.” Maria yang baru saja tiba di ruang makan, menyapa suaminya lembut seraya menghampiri pria itu yang telah duduk lebih dulu. Kedua matanya menatap Alan tajam.


“Cepat duduk.” Perintah Albert pada Alan. Anak laki-laki itu mengangguk patuh.


“Aku merindukanmu.” Bisik Maria seraya mengecup mesra bibir Albert. Albert menyeringai kecil. Dengan cepat, ia menarik tengkuk istrinya untuk lebih memperdalam ciuman mereka. Ia bahkan tak peduli sama sekali pada keberadaan anaknya.


Alan menunduk. Ia merasa muak dan juga jijik.


“Kita lanjutkan di kamar.” Bisik Maria. Dengan segera, ia mendudukkan dirinya di sebelah Albert.


Mereka bertiga makan malam dalam diam. Sesekali, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan piring.


***


Selama ini, Alan tahu betul jika ayahnya adalah seorang pria yang tak akan berbuat sesuatu yang memalukan. Namun nyatanya, pria itu justru mati dengan cara yang paling buruk. Bersenang-senang dengan wanita lain. Lalu menenggak alkohol yang dicampur dengan berbagai jenis obat-obatan. Tak berkelas sama sekali.


“Albert!” Maria yang baru saja tiba di hotel tempat jasad suaminya berada, berteriak histeris tak percaya. Tak jauh darinya, ia melihat petugas kepolisian tengah membungkus tubuh suaminya dengan selimut untuk dibawa pulang ke rumahnya. Alan menolak untuk dilakukan otopsi atau pun penyelidikan lebih lanjut.


“Tidak! Itu bukan Albert.” Maria kembali menjerit. Di sebelahnya, Alan dengan sigap menarik tubuh wanita itu agar tak mendekati jasad ayahya.


“Steve!” Alan memanggil asisten pribadi ayahnya.


“Ya, Tuan.” Jawab Steve.


“Pastikan jika semuanya tertutup rapat. Jangan biarkan satu kata pun tersebar keluar.” Ucap Alan penuh penekakan. Matanya menatap Steve tajam.


“Baik.” Steve mengangguk paham seraya menunduk sekilas. Tak lama, Alan melangkah pergi seraya manarik tubuh ibunya. Wanita itu tak lagi berteriak. Tapi tubuhnya bergetar hebat dengan bibir yang terus meracau tak jelas.

__ADS_1


Salah satu sudut bibir Alan menyeringai sinis. Selama ini, ada satu hal yang tak pernah diketahui oleh orang lain yaitu, Alan beberapa kali mendapati ayahnya meringis sakit dengan suara kecil seraya memegangi bagian dada sebelah kirinya. Jantung. Yah, Alan sangat yakin jika Albert mengidap penyakit jantung. Dugaannya diperkuat dengan ia yang secara tak sengaja melihat sebotol obat di laci meja kerja ayahnya.


Alan yakin, Albert dengan sengaja tak memberitahu keluarganya karena pria itu terlalu angkuh untuk terlihat lemah di depan orang lain. Dan pada akhirnya, pria itu mati dengan membiarkan semuanya jatuh di tangan Alan.


***


Hanya berselang satu jam setelah ayahnya dikuburkan, Alan segera memerintahkan seluruh pelayannya untuk menghancurkan dan membakar segala sesuatu yang berhubungan dengan ayahnya. Ia tak ingin ada satu pun jejak Albert yang tertinggal di rumah tersebut.


“Brengsek!” Alan mengumpat jengkel. Ia tak terima dengan kepergian mendadak Albert. Ia belum membalas pria itu. Rasa sakitnya juga belum terlampiaskan. Namun Alan merasa sedikit puas, sebab, ia memerintahkan Steve untuk mengubur ayahnya seorang diri. Tak ada satupun anggota keluarga yang boleh hadir. Bahkan ibunya sendiri.


“Setidaknya, kau tahu bagaimana rasanya ditinggal seorang diri. Aku justru berharap kau mati dengan cara yang lebih mengenaskan lagi.” Lirih Alan. Seringaian mengerikan tersungging di sudut bibirnya.


Alan tak merasakan sedikitpun kesedihan akibat kehilangan ayahnya. Pun rasa sakit. Yang ada justru kemarahan yang besar karena ia belum sempat membalas dendam pada pria itu. Alan hanya ingin menunjukkan pada Albert jika ia mampu berada di puncak tanpa bantuan manusia tak punya hati itu. Ia juga berharap untuk merebut posisi Albet sebagai pemegang kekuasaan di keluarganya dengan cara yang membuat pria itu semakin membencinya.


“Alan.” Bianca memanggil lirih nama suaminya. Dan ketika Alan berbalik untuk menatapnya, ia tak menemukan sedikit pun jejak kesedihan di mata atau wajah pria itu. Alan justru tersenyum simpul. Yang sayangnya, justru terlihat menyakitkan di mata Bianca.


Bianca segera berpaling. Ia tak sanggup menatap Alan lebih lama lagi. Bianca sadar jika apa yang dilakukan oleh kedua orang tuanya, tak ada apa-apanya dibanding dengan yang dialami Alan. Bahkan sejak kecil, Alan sudah mengenal apa itu penderitaan dan juga rasa sakit.


“Ada apa?” Alan bertanya lembut seraya mengelus pipi Bianca.


“Tak ada apa-apa. Aku hanya–aku hanya merasa sedikit lelah.” Jawab Bianca. Ia terpaksa berbohong karena tak bisa memikirkan alasan lain.


“Berbaringlah.” Alan segera membaringkan tubuhnya seraya merentangkan tangan kanannya. Ia menarik Bianca untuk mendekat padanya dengan menjadikan tangannya sebagai bantal.


Bianca menurut. Setelah membaringkan tubuhnya di dekat pria itu, Bianca segera melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang Alan.


“Masih mau mendengar ceritaku?” Tanya Alan. Ia khawatir jika Bianca terpaksa menahan rasa kantuknya karena dirinya.


“Ya. Aku ingin mendengar semuanya.” Jawab Bianca seraya mengangguk pelan. Alan menghela napas dalam. Justru bagian tersulit yang menjadi penutup ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2