Married With The Devil

Married With The Devil
Belanja Bersama


__ADS_3

Di sekolahnya, setiap hari sabtu dan minggu,  Bianca mendapatkan jatah libur bersama seluruh murid yang lainnya. Terkecuali untuk mereka yang mengikuti ekstrakurikuler. Dan beruntung, ia tak mengikut kegiatan tambahan apapun. Sebenarnya, ada beberapa yang menawarinya termasuk klub cheerleader. Hanya saja, Bianca terlalu enggan untuk mengorbankan jatah liburnya dengan menari seraya bersorak tak jelas. Apalagi ketika membayangkan tubuhnya harus diinjak oleh anggota yang lainnya.


“Kau tak ke sekolah?” Alan yang baru saja bergabung bersama Bianca di ruang tengah pada lantai satu segera bertanya ketika melihat Bianca tengah baring dengan posisi telungkup seraya bermain ponsel.


“Libur,” jawab Bianca singkat. Kini, ia kembali fokus pada ponselnya.


Seandainya saja ia belum menikah, Bianca yakin jika saat ini ia tengah menghabiskan waktunya dengan bermain ataupun jalan-jalan seorang diri di taman. Sekalipun ia tak punya uang. Menurutnya, cuci mata tanpa mengeluarkan uang adalah salah satu hal terbaik dalam hidupnya.


“Kau tak pergi?”


“Ke mana?” jawab Alan dengan tetap menatap layar laptop yang saat ini dipangkunya.


“Berkencan, mungkin.”


“Jangan bodoh.” Ucap Alan datar. Setelah menikah dengan Bianca, Alan tak tahu, mengapa setiap wanita yang dilihatnya terasa tak menarik lagi. Padahal, dulu dia tak akan ragu untuk mengajak tidur wanita yang dengan sengaja mendekati dan menggoda dirinya. Alan tahu betul jika mereka menikah tanpa ada rasa cinta. Dan yang lebih anehnya, Alan tak tahu mengapa ia bisa berubah menjadi pria yang posesif. Dan penyebabnya, tak lain adalah Bianca—wanita yang telah berstatus sebagai istrinya.


“Alan.” Setelah merasa bosan bermain ponsel, Bianca segera duduk di atas sofa dengan kedua kaki yang ditekuk ke dalam. Seraya memanggil Alan pelan.


“Apa?” Jawab Alan dan balas menatap Bianca. Laptopnya juga telah ia taruh di atas meja.


“Apa kau tak punya kekasih?” Bianca bertanya dengan sedikit nada takut.


“Jika punya, aku mungkin sudah ada di hotel.” Jawab Alan ketus. Apalagi ketika mendengar pertanyaan bodoh dari Bianca.


Bianca mendesah kasar. Saat ini, ada begitu banyak pertanyaan di dalam benaknya yang ingin ia utarakan pada Alan. Namun Bianca sedikit takut jika akhirnya membuat Alan marah.


“Kenapa? Kau cemburu? Tenang saja, hanya ada kau seorang.” Alan berucap dengan nada serius seraya menatap Bianca lekat. Dan menyeringai kecil ketika melihat wajah wanita itu bersemu merah.


Bianca berdehem pelan lalu kembali membuka suara,


“Aku … hanya tak ingin menjadi penghalang untukmu.”


“Penghalang?” Tanya Alan tak mengerti.

__ADS_1


“Maksudku—begini, aku hanya tak ingin jika ternyata ada wanita yang kau cintai diluar sana dan aku justru menjadi penghalang.” Bianca berucap dengan suara parau. Mendadak, hatinya berdenyut sakit tanpa alasan yang jelas. Seingatnya, ia tak memiliki riwayat penyakit kronis. Apalagi diusinya yang masih muda.


“Hubunganku di atas ranjang selama ini tanpa landasan cinta.” Alan berucap dengan nada menggoda, sengaja ingin membuat Bianca kesal. Dan nyatanya, wanita itu tengah melihatnya dengan tatapan jengah.


“Lupakan saja.” Ketus Bianca seraya mencebikkan bibirnya. Merasa jengkel ketika Alan terus membahas perihal hubungannya di atas ranjang bersama wanita lain. Padahal bukan hal tersebut yang ia tanyakan.


Dengan segera, Alan bagkit dari duduknya untuk menghampiri Bianca. Tubunya yang tertutupi kaos polos berwarna putih dipadukan dengan training jogger berwarna hitam, berdiri tepat di hadapan Bianca. Tak lama, ia menundukkan sedikit tubuhnya dan membuat Bianca mendongak untuk menatapnya.


Iris hitamnya menatap bola mata coklat gadis itu. Hal yang sangat jarang ia temui.


Bianca tersentak kaget. Menatap wajah Alan dalam jarak pandang yang cukup dekat selalu membuat jantungnya di dalam sana membuat gerakan tak jelas. Wajah Alan nyaris sempurna tanpa cacat. Matanya yang tajam. Alis yang sedikit tebal. Rahang yang kuat. Serta tubuh atletis miliknya mampu membuat wanita manapun menjerit histeris.


“Bianca.” Alan memanggil nama Bianca dengan nada lembut. Dengan gerakan pelan, ia menjangkau bibir wanitanya.


“Stop!” Bianca dengan sigap mendorong tubuh Alan sebelum pria itu benar-benar menguasainya. Mendadak, Bianca berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju pintu.


“Mau ke mana kau?” tanya Alan.


“Aku akan mengantarmu.” Ucap Alan cepat seraya melangkah menuju lantai dua untuk mengambil kunci mobilnya.


Dengan berat hati, Bianca mengikuti Alan dalam diam menuju garasi mobil pria itu. Bahkan hanya untuk pergi ke minimarket pun pria itu tetap ingin memakai mobil.


***


Bianca bergumam tak jelas—lepih tepatnya, meracau sembari menatap Alan penuh kekesalan. Sementara pria itu tengah sibuk melihat rak-rak yang berisikan makanan kebutuhan sehari-hari.


“Alan, Minimarket. M-I-N-I-M-A-R-K-E-T!” ucap Bianca tegas.


“Bukankah sama saja?” Alan bertanya santai seraya sibuk mendorong troli belanjaan. Ia bahkan tak sadar jika saat ini tengah menjadi pusat perhatian.


“Ya Tuhan, apanya yang sama? Ini itu supermarket. Aku hanya ingin membeli beberapa pelembab wajah.” Bianca berucap frustasi. Sungguh, ia tak tahu jika Alan akan mengajaknya ke salah satu supermarket terbesar di daerah tempat tinggalnya. Padahal ia hanya berniat membeli pelembab wajah.


“Terserah kau saja.” Ucap Bianca pada akhirnya. Ia menyerah jika harus menghadapi pria itu.

__ADS_1


Dengan setia, Alan mengikuti Bianca yang telah jalan lebih dulu di depannya. Sesekali tangannya mengambil beberapa produk untuk dimasukkan ke dalam troli tanpa mau rept-repot melihat harganya.


“Hanya itu?” Alan bertanya dengan nada memastikan ketika melihat Bianca mengambil dua botol pelembab wajah serta satu kotak masker wajah langsung pakai.


“Uangku tak cukup.” Jawab Bianca seraya menatap Alan tajam. Inilah sebabnya ia berniat ke minimarket. Supermarket yang mereka datangi saat ini terkenal dengan harganya yang mahal. Apalagi produk perawatan tubuh.


“Oh, Bianca. Apa kau melupakanku?” Alan bertanya sarkatis seraya tersenyum mengejek.


“Menyebalkan!” umpat Bianca. Tanpa ragu, ia mengambil beberapa produk perawatan tubuh dari berbagai merek terkenal. Juga beberapa bungkus camilan, cokelat serta minuman bersoda. Tapi sayang, Alan masih terlihat begitu santai—tak peduli.


“Kau tak membeli pembalut?” Satu bungkus camilan yang baru saja Bianca ambil dari rak sontak terlepas dari tangannya dan jatuh bebas di atas lantai. Mulutnya terbuka sedikit seraya menatap Alan tak percaya. Apalagi ketika mendengar suara tawa kecil dari sekitarnya.


Bianca tertunduk, berusaha untuk menyembunyikan rona malu pada wajahnya.


Dengan sigap, Bianca menarik tangan Alan untuk melangkah ke kasir. Saat ini, Bianca hanya ingin pulang ke rumah lalu mengguyur tubuhnya di bawah shower seraya memaki Alan. Berharap otaknya membeku dan ia bisa melupakan kejadian hari ini.


“Kurasa kita tak perlu membeli pengaman.” Bisik Alan seraya menyeringai kecil. Yang dibalas Bianca dengan mata membulat.


“Kau—”


“Alan!” Bianca dan Alan tersentak keget ketika seorang wanita bertubuh tinggi bak model tiba-tiba saja memeluk Alan dari arah belakang. Wajahnya cantik. Ditambah dengan bulu mata lentik dan bibir yang dipoles lipstik berwarna nude. Serta rambut pirang yang sangat kontras dengan bola matanya yang berwarna hijau terang.


“Cathy.” Panggil Alan. Dengan cepat, ia melepaskan pelukan wanita itu lalu berbalik menatapnya.


“Aku merindukanmu.” Cathy berucap senang seraya tersenyum lebar dan memamerkan jejeran gigi putihnya yang tersusun rapi. Sebelum keberadaan Bianca mengalihkan perhatiannya.


“Siapa dia?” Tanya cathy seraya menatap Bianca dengan pandangan menyelidik.


Mendadak, Bianca menatap ke arah lain. Sengaja tak ingin menarik perhatian wanita yang memeluk Alan tadi. Ia hanya tak ingin terlibat masalah yang rumit.


“Kekasihku.” Jawab Alan santai seraya menatap Bianca. Mendengar jawaban Alan, ingin rasanya Bianca berteriak keras lalu memaki pria itu sampai ia merasa puas.


“What?!” Cathy berteriak kaget seraya menatap Bianca tajam. Mata hijau terangnya berkilat tak suka. Dan Bianca sadar betul jika wanita itu menatapnya dengan pandangan menilai.

__ADS_1


__ADS_2