Married With The Devil

Married With The Devil
Spesial 9


__ADS_3

“Mr. Davis.” Alice yang melihat Jimmy sedang berada di dapur segera menghampiri pria itu. Ia berdiri di sampingnya sembari tersenyum senang.


“Ada apa?” Jimmy berucap datar tanpa menatap Alice. Ia tengah sibuk membuatkan segelas susu hamil untuk istri tercintanya.


“Biar aku yang melakukannya.” Alice berujar dengan suara yang sengaja dilemah lembutkan. Juga mengambil sendok yang sedang Jimmy pegang dan menyentuh tangan pria itu secara sengaja.


Jimmy yang melihat tindakan kurang ajar wanita itu hanya terdiam. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia bergegas mengambil segelas susu di hadapannya.


Mau tak mau, ia akan bertemu Alice karena jam masih menunjukkan pukul tiga sore. Alan memutuskan untuk pulang cepat dan menyuruhnya melakukan hal sama. Dengan alasan, ia harus sering-sering menemani istrinya.


Jimmy tak tahu lagi apakah bisa menemukan tuan yang jauh lebih baik dari Alan. Pria itu bukan hanya menganggap dirinya, Jane dan Fiona sebagai keluarga, tapi juga sering memberikan mereka bertiga hadiah tak terduga. Baru-baru ini, Alan dan Bianca memberikannya kereta bayi baru berharga fantastis.


“Mr. Davis, apa kau tak berniat untuk menikah lagi?”


Jimmy yang mendengar pertanyaan tak masuk akal Alice sontak menatap tajam wanita itu. Sepasang mata birunya berkilat marah.


“Apa maksudmu?” Jimmy berujar sinis. Kedua rahangnya mengeras menahan marah.


“Humm, kau tahu... maksudku, aku tak keberatan menjadi istri keduamu.” Alice berucap malu-malu dengan wajah tersipu. Tanpa menghiraukan tatapan Jimmy, ia beralih mengelus pelan lengan kiri pria itu. Berniat menggodanya.


Di waktu dan tempat yang sama, Fiona yang merasa suaminya telah berada cukup lama di dapur, dengan cepat menghampiri pria itu. Ia takut Alice melakukan hal gila padanya.


“Jimmy.”


“Sayang.” Jimmy tersentak kaget ketika melihat Fiona dan segera mendekatinya. Ia menepis secara kasar tangan Alice, juga mengabaikan panggilan wanita itu.


Fiona yang merasakan suasana tak nyaman di antara keduanya yakin jika telah terjadi sesuatu. Seharusnya ia memecat Alice sejak kemarin. Sekalipun teman Sofie baru bisa mulai bekerja besok.


“Apa yang telah kau lakukan pada suamiku?!” Fiona berucap marah seraya menatap tajam Alice. Sejak awal, ia memang sudah tak menyukai wanita itu. Dan sekarang, rasa tidak sukanya memberikan bukti.


“Tidak ada. Aku hanya mengajaknya mengobrol sebentar.” Kilah Alice. Tak sedikit pun ia menujukan rasa hormat pada Fiona.


“Kau!” Geram Fiona.


“Sayang, tenanglah.” Jimmy berucap lembut dan segera menggenggam tangan Fiona. Tatapannya kembali tertuju pada Alice.


“Aku tidak akan pernah bisa tenang saat tahu dia menggodamu!” Kesal Fiona. Ingin rasanya ia menyeret Alice keluar dan tak membiarkan wanita itu menginjak rumah mereka lagi.


“Dia mau menggoda seperti apa pun juga tetap tidak akan ada gunanya. Hanya kau satu-satunya.” Perkataan Jimmy barusan sukses membuat Alice memasang wajah memberengut. Pria itu menolaknya mentah-mentah tanpa berpikir dulu. Juga secara terang-terangan mengecup kening Fiona tepat di depannya.


Sial!


“Aku ingin kau memecatnya.” Ucap Fiona dingin. Tegas. Dan tak terbantahkan. Kali ini, ia tidak bisa lagi mentolerir perbuatan asisten rumahnya.


“Kau mendengarnya sendiri, bukan?” Jimmy menatap Alice tanpa minat yang tengah mematung tak percaya. Demi Fiona, ia akan melakukan apa pun.

__ADS_1


“Apa? Mr. Davis, kau yakin?” Seru Alice tak terima. Jika dirinya benar-benar dipecat, maka kesempatannya untuk mendekati pria bermata biru itu akan lenyap.


“Tentu saja. Perkataan istriku bersifat mutlak.” Jawab Jimmy penuh ketegasan. Sebelah tangannya telah melingkar sempurna di pinggang Fiona.


“Lalu bagaimana dengan pekerjaan rumahmu?” Alice masih terus berusaha membuat Jimmy menarik kembali kata-katanya. Kalau memang tak bisa menjadi istri kedua, setidaknya, Alice ingin mencoba tidur sekali dengan pria itu.


“Kau tidak perlu pusing memikirkannya. Besok pagi, asistenku yang baru akan mulai bekerja.” Fiona tersenyum puas melihat Alice terdiam membisu. Wanita itu pasti tak menyangka sama sekali jika akan dipecat secepat ini.


Fiona hanya tak ingin memberikan sedikitpun celah bagi hama pengganggu seperti Alice. Bukan hanya dirinya, tapi juga keutuhan rumah tangganya bersama Jimmy juga anak mereka yang akan menjadi korban jika Alice sampai berhasil menghasut suaminya.


Beruntung Sofie bersedia membantunya. Dan semuanya tak lepas dari kebaikan Bianca. Minggu nanti, ia akan mengajak Jimmy berkunjung ke rumahnya. Sekaligus mengajak Jane dan James untuk bermain bersama si kembar menggemaskan.


***


“Bagaimana?” Alan bertanya khawatir seraya menatap Bianca lekat. Setelah jam makan siang berakhir, wanita itu menghubunginya dan mengatakan kalau Beatrice tiba-tiba saja demam.


“Masih sedikit panas.” Jawab Bianca seusai menempelkan telapak tangannya pada kening Beatrice yang sedang tertidur lelap.


Alan sontak menghela napas lega. Ia segera menarik Bianca ke dalam pelukannya. Mendekapnya erat dan mengecup lama keningnya.


“Anak kita akan baik-baik saja.” Ucap Alan menenangkan.


Bianca yang masih berada di dalam pelukan hangat suaminya hanya mengangguk pelan. Dokter mengatakan padanya jika demam Beatrice akan mereda dengan sendirinya dalam waktu tiga hari.


“Kita terpaksa membatalkan pesta ulang tahun mereka berdua.” Bianca berucap lirih seraya mendongak menatap suaminya. Besok, Alex dan Beatrice akan berusia satu tahun. Ia dan Alan juga telah menyiapkan pesta besar untuk merayakannya. Namun ternyata, takdir berkata lain.


“Tentu saja. Kesehatan anak kita jauh lebih penting. Setelah demamnya turun, aku berjanji akan mengajak kalian bertiga keliling dunia.” Alan dengan cepat memenjara kedua bibir Bianca. ********** pelan lantas menyesapnya kuat.


Bianca balas melakukan hal yang sama. Setelah memeluk leher Alan, ia bergegas memainkan lidahnya di dalam mulut pria itu. Saling bertukar saliva dengan penuh gairah.


“Alan.” Panggil Bianca sedikit manja. Kedua matanya menatap suaminya penuh arti.


“Hmm.” Balas Alan. Ia tengah sibuk mengecupi leher istrinya.


“Apa kau benar-benar harus pergi?”


Pergerakan Alan mendadak terhenti saat mendengar pertanyaan istrinya. Ia lupa jika malam ini harus mendatangi pertemuan penting.


“Kau melarangku?” Bisik Alan. Kedua tangannya meremas pelan bokong Bianca. Beruntung Sofie sudah sejak tadi keluar sambil menggendong Alex.


“Kau pasti akan bertemu wanita bernama Liz itu.” Bianca berucap sedikit ketus. Ia tahu kalau malam ini, suaminya harus menghadiri pertemuan penting bagi pemegang saham yang bekerja sama dengan perusahaan Lizabeth.


“Lalu?”


“Bagaimana jika dia menggodamu?” Ketus Bianca.

__ADS_1


“Tubuh bagian bawahku tidak akan bereaksi.” Goda Alan.


“Alan!” Bianca menatap kesal suaminya yang terlihat tak ambil pusing sama sekali.


“Aku hanya mencintaimu.” Bisik Alan. Lalu kembali mengambil kendali mulut Bianca. Di sela-sela tautan bibir mereka berdua, Alan menggerakkan tangan kanannya secara perlahan menuju tubuh bagian bawah Bianca. Menyelipkannya masuk ke celana wanita itu guna mengelus miliknya.


“Sayang, bukankah kau harus segera pergi?” Ucap Bianca tak berdaya. Jam telah menunjukkan pukul delapan dan lima belas menit lagi, suaminya harus segera berangkat.


“Hanya sebentar.” Alan menggigit pelan daun telinga Bianca dan mulai memainkan jarinya di dalam tubuh wanita itu.


Sekalipun penampilannya telah rapi, Alan tetap ingin memuaskan istrinya. Lagi pula, ia selalu senang setiap kali mendengar desahan kenikmatan Bianca.


“Alan.” Bianca yang tak mampu lagi berdiri tegak, dengan cepat menopangkan tubuhnya pada Alan. Jemari pria itu semakin bergerak lincah. Bahkan menghasilkan suara yang membuat suasana di sekitar mereka semakin bertambah intim.


“I love you.” Seusai mengucapkan kalimat cinta, Alan dengan tak sabaran menyesap kuat lidah Bianca. Pergerakan tangannya terus bertambah cepat dan dalam satu kali hentakan, cairan pelepasan Bianca telah memenuhi tangannya.


***


Alan yang sejak tiga puluh menit lalu berada di ballroom hotel mewah tempatnya berada saat ini, lagi-lagi berdecak malas. Tidak ada satu pun yang menarik minatnya. Bahkan obrolan beberapa rekan bisnisnya yang sejak tadi berlangsung membuatnya merasa muak.


“Mr. Drax.” Lizabeth yang telah berada di dekat Alan menyapa hangat. Tubuhnya yang dihiasi gaun cantik nan mahal menjadikannya pusat perhatian.


“Hm.” Jawab Alan tak acuh. Ia merindukan istri dan anak-anaknya.


“Apa setelah ini kau masih acara lagi? Jika tidak, aku ingin kita menghabiskan waktu bersama.” Lizabeth dengan sengaja berbisik pelan. Kedua bibirnya tersenyum menggoda.


“Di kamar hotel?” Balas Alan sambil berbisik juga. Bibirnya menyeringai penuh arti.


Lizabeth pasti mengira dirinya adalah pria beristri hidung belang yang akan mudah terbujuk godaan wanita lain. Jika itu adalah Alan yang dulu, maka jawabannya adalah ya. Tapi sayang, sekarang semuanya sudah tidak berlaku lagi.


Bianca bukan hanya membuatnya bertekuk lutut. Tapi juga telah berhasil mengendalikan dirinya.


“Aku tak keberatan.” Ucap Lizabeth. Tubuhnya dengan sengaja ia tempelkan pada Alan.


“Sayang sekali, aku tak berminat. Kau bisa mencari pria lain.” Desis Alan. Raut wajahnya berubah dingin.


“Dan lagi, jangan sembarangan menyentuhku. Istriku tidak menyukainya.” Alan berucap memperingatkan. Setelah menatap tajam Lizabeth, ia bergegas pergi.


Hati dan pikirannya hanya dipenuhi oleh Bianca. Juga desahan penuh gairah wanita itu atas perbuatannya tadi.


***


Coganz XD


__ADS_1




__ADS_2