Married With The Devil

Married With The Devil
Sebuah Janji


__ADS_3

Menjelang pukul tujuh malam, Bianca dan Alan baru saja sampai di rumah. Pria itu mengajaknya untuk makan malam di luar. Sehingga membuat mereka pulang sedikit lama dari biasanya.


Bianca yang baru saja melangkah menaiki tangga, segera mengambil ponselnya yang berada di dalam clutch bag berwarna hitam tanpa tali yang sedang dipegangnya. Dan menemukan nama Lily tertera pada layar.


“Lily!” Sapa Bianca senang. Ini kali pertama Lily kembali menghubunginya setelah hampir satu minggu berlalu. Sahabatnya itu kini bekerja di sebuah penerbit mayor sebagai seorang copy editor—pengeditan atau pemeriksaan isi naskah.


“Aku lelah.” Keluh Lily di seberang sana seraya menghela napas berat.


“Kau bisa berhenti kalau kau mau.” Ucap Bianca santai.


“Kau gila?!” Pekik Lily tak percaya. Tak lama, keduanya tertawa kecil secara bersamaan. Mereka berdua memilik jam kerja yang berbeda. Pernah suatu hari, Bianca menghubungi Lily karena merindukannya, namun Lily justru menolak panggilannya. Dengan alasan sedang melakukan rapat penting. Jadi tak heran, jika mereka jarang berkomunikasi karena Bianca harus menunggu sampai Lily yang menelfonnya terlebih dulu.


“Aku mencintai pekerjaannku.” Ucap Lily pelan. Jurusan sastra yang diambilnya tidak berakhir sia-sia. Universitas tempatnya menempu pendidikan, bahkan merekomendasikan dirinya secara langsung pada tempatnya bekerja saat ini. Dan yang lebih membahagiakannya lagi, Lily bisa langsung menangani novel misteri dari salah satu penulis favoritnya.


“Seperti kau mencintainya, bukan?” Goda Bianca. Ia yakin jika saat ini, wajah Lily di seberang sana telah memerah seperti tomat.


“Ya. Dan aku juga merindukannya.” Lirih Lily.


“Apa Danny tak mengajakmu berkencan?” Tanya Bianca. Danny adalah kekasih Lily dan mereka sudah berpacaran selama satu tahun lebih. Mereka bertemu pertama kali ketika Lily menjadi salah satu bintang tamu di stasiun radio tempat Danny bekerja untuk membahas novel yang ditangani langsung oleh sahabatnya itu. Awalnya, mereka hanya saling bertukar pikiran. Lalu berlanjut dengan saling memberitahu nomor ponsel masing-masing.


“Besok. Dia mengajakku pergi menonton film dan makan malam bersama.” Jawab Lily malu-malu. Ia mencintai Danny. Pria pertama yang berhasil menarik perhatiannya dan juga hatinya. Ia bahkan merasa sangat bersyukur karena bisa bertemu dan mengenal pria berwawasan luas itu.


“Apa kalian juga akan menginap bersama?”


“Bianca!” Lily sontak memekik kaget seraya mendengus jengkel. Ia dan Danny memang telah berpacaran selama satu tahun. Tapi bukan berarti mereka berdua harus langsung melangkah ke arah yang lebih jauh lagi.


Bianca tanpa sadar terkekeh geli. Ia kembali teringat saat Lily tiba-tiba saja menelfonnya ketika jam telah menunjukkan pukul sebelas malam. Dan tepat setelah ia mengangkatnya, yang didengarnya justru suara pekikan tertahan wanita itu. Tak lama, Lily berucap dengan suara histeris untuk memberitahunya jika Danny—pria yang dekat dengannya, baru saja menciumnya.


“Aku hanya bercanda.” Seru Bianca seraya meletakkan clutchnya di atas meja.


Alan yang baru saja masuk ke kamar dan menemukan Bianca sedang beridiri di dekat jendela dengan ponsel yang menempel di telinga, segera memeluk wanita itu dari arah belakang seraya mengecup lama pucuk kepala istrinya.


“Alan.” Seru Bianca seraya berjengit kaget. Alan memang menyuruhnya untuk masuk ke kamar lebih dulu karena pria itu ingin memarkirkan mobilnya di dalam garasi.


“Siapa?” Bisik Alan seraya menatap Bianca yang menegokkan kepala ke arahnya. Dengan cepat, Bianca menunjukkan layar ponselnya dan membuat pria itu mengangguk mengerti.


Bianca kembali tersentak kaget ketika Alan menyampirkan seluruh rambutnya ke sebelah kiri lalu memberikan kecupan singkat pada lehernya. Kemudian beralih ke tengkuknya. Dan diakhiri dengan satu gigitan kecil di bahunya yang masih tertutupi blus berwarna hijau toska.


“Alan!” Bianca tanpa sadar berteriak jengkel seraya berbalik untuk menatap Alan. Dan menemukan pria itu tengah menyeringai puas. Sekaligus membuat Lily yang masih terhubung dengannya memutar bola mata malas.

__ADS_1


“Aku tahu jika aku pasti telah mengganggu kalian.” Seru Lily tanpa minat. Bianca telah memberitahunya perihal hubungannya yang sebenarnya dengan Alan. Tepat di hari kelulusan mereka. Awalnya, Lily tak mampu menutupi rasa marah dan kekecewaannya. Tapi setelah Bianca menjelaskan dan menceritakan semuanya, Lily akhirnya tersadar, jika setiap hal yang dilakukan sahabatnya itu punya alasannya tersendiri. Dan Lily benar-benar tak menyangka jika kehidupan yang Bianca jalani lebih buruk dari yang ia duga.


“Lily.”


“Sampaikan pada Mr. Drax, aku ingin melihatmu segera hamil.” Lily berucap cepat sembari memutuskan sambungan telfonnya. Jujur saja, ia memang sudah tak sabar untuk melihat hasil dari buah cinta Alan dan Bianca. Ia penasaran, akan seperti apa sosok anak mereka nanti. Tapi satu hal yang pasti, Lily sangat yakin jika anak pertama mereka nanti, pasti akan lebih banyak mewarisi sifat Alan.


“Aku mendengarnya.” Ucap Alan pelan seraya mengelus perut Bianca. Ia memang sudah tak sabar menanti kehamilan istrinya. Namun  di sisi lain, ia tak ingin membebani Bianca dan menuntut wanita itu. Alan ingin semuanya berjalan seperti biasa. Ia yakin, jika waktunya sudah tepat, kebahagiaan itu pasti akan menghampiri mereka.


“I love you.” Bianca berbisik tepat di depan wajah Alan. Tak lama, ia mendaratkan satu kecupan sayang pada pipi pria itu. Alan tersenyum simpul. Dengan cepat, ia menarik pinggang Bianca agar semakin menempel pada tubuhnya. Sebelah tangannya terangkat untuk memegang tengkuk wanita itu dan membuat bibir mereka bertemu.


Alan mencium Bianca dengan penuh kelembutan dan juga kasih sayang. Ia mencintai wanita itu. Dengan sangat. Alan bahkan rela memberikan apa pun untuk Bianca. Namun ia tersadar, jika tak lagi memiliki apa-apa karena Bianca telah mengambil semuanya. Termasuk kehidupan dan juga hatinya.


“Sayang.” Panggil Alan seraya memeluk erat tubuh Bianca. Posisi mereka berdua masih tetap sama—berdiri di dekat jendela di dalam kamarnya. Alan tak pernah mengira, jika kehidupannya yang ia sangka akan selalu sama—kosong dan juga gelap tanpa sedikit pun cahaya, mendadak berubah setelah kehadiran Bianca.


Perlahan, Alan menarik tangan Bianca menuju tempat tidur. Ia sudah tak sabar untuk menyentuh wanita itu.


“Alan.” Lirih Bianca. Ia segera mengalungkan kedua tangannya pada leher Alan ketika berada di atas pangkuan pria itu.


Malam ini, akan kembali menjadi malam yang panjang dan juga penuh candu untuk mereka berdua.


***


“Apa nona Bianca baik-baik saja?” Tanya Jimmy seraya menatap Alan. Hari ini, Bianca tak masuk kerja karena Alan memaksanya untuk beristirahat. Tadi pagi, ketika berniat melangkah ke kamar mandi, Bianca mengeluh jika tubuhnya sakit. Di tambah kepalanya yang terasa pusing.


“Ya. Dia hanya kelelahan.” Jawab Alan seraya menyeringai penuh arti. Jimmy tak bereaksi sama sekali. Ia tetap memasang wajah datar. Seolah sudah terbiasa mendengar ucapan tuannya.


“Bagaimana denganmu?” Kali ini Alan bertanya seraya mentap Jimmy lekat. Ia tahu jika pria itu telah bertunangan dengan kekasihnya.


“Baik-baik saja.” Jawab Jimmy singkat. Keadaannya memang sedang baik-baik saja.


Alan yang mendengar jawaban Jimmy, sontak mendesah kasar. Pria itu tak paham sama sekali akan maksud pertanyaannya.


“Apa kissmark di lehermu itu sebagai bukti jika kau baik-baik saja?” Alan berucap santai seraya kembali menyeringai nakal. Secara tak sengaja, ia melihat tanda kemerahan di dekat tulang leher Jimmy.


Dengan sigap, Jimmy memperbaiki kerah kemeja berwarna abu-abu terang yang dipakainya. Lalu menundukkan kepalanya dengan wajah memerah ketika kembali teringat pada Fiona. Pun yang mereka lakukan di dalam kamar wanita itu.


“Jimmy, aku tak melarangmu untuk menikah.” Ucap Alan. Sejujurnya, Alan berharap jika Jimmy segera menikahi Fiona. Ia bahkan tak keberatan untuk membiayai semuanya.


“Aku sudah berjanji pada Jane.” Jawab Jimmy seraya tersenyum simpul. Dulu, ketika baru saja menempati rumah yang saat ini mereka tinggali, Jimmy telah berjanji pada Jane jika ia akan menikah ketika keadaan wanita itu sudah cukup membaik. Jimmy tahu, ia mungkin sudah membuat Fiona menunggu cukup lama. Tapi ia ingin tetap menepati janji yang telah diucapkannya pada Jane—keluarga satu-satunya yang ia miliki.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Jane?”


“Keadaannya semakin membaik.” Raut wajah Jimmy mendadak berubah ceria. Setiap harinya, Jane selalu menunjukkan respon yang berbeda. Wanita itu memang belum mau berbicara, namun Jane sering memberikan balasan akan setiap yang ia dan juga Fiona katakan menggunakan anggota tubuhnya yang lain—berkedip atau pun mengangguk.


“Aku akan mengajak Bianca untuk mengunjunginya lagi.” Ucap Alan seraya tersenyum simpul. Jimmy memang telah memberitahu semuanya kepada Bianca. Dan setelah mendengar penyebab Jane menjadi seperti sekarang ini, wanita itu tak mampu menahan tangisannya. Bahkan tanpa sadar mengutuk sang pelaku.


Bianca juga meminta untuk langsung bertemu dengan Jane. Dan membawakan sebuah chesee cake berukuran besar sebagai hadiah. Yang disambut dengan senang hati oleh kakaknya.


“Ya, Tuan. Jane pasti akan senang.” Jimmy kembali mengalihkan perhatiannya pada berkas yang berada di hadapannya. Kedua bibirnya menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan. Ia benar benar tak menyangka, jika Tuhan masih mau mengasihaninya dengan menghadirkan orang-orang terbaik di sisinya. Jimmy sadar, jika semua yang telah terjadi pada Jane, tak bisa diputar kembali. Yang menjadi tugasnya saat ini adalah, memastikan keadaan wanita itu selalu baik-baik saja. Dan ketika nanti kakaknya telah sembuh dan kembali menjadi Jane yang ia kenal, Jimmy sendirilah yang akan mencarikan pria terbaik untuk wanita itu. Harapannya masih tetap sama, melihat Jane menikahi pria yang dicintainya pun sebaliknya. Dan hidup bahagia bersama.


***


Di salah satu kota kecil di Denmark, terdapat sebuah toko kue yang telah berdiri cukup lama. Pelanggannya pun juga sering bertambah setiap harinya. Bukan hanya karena enak, tapi pemiliknya pun terkenal ramah dan baik.


“Rico!” Seorang wanita cantik berkulit putih berusia sekitar lima puluh tahun, kembali memanggil nama anak semata wayangnya. Toko kuenya sedang ramai dan anak lelakinya justru sibuk entah sedang membuat apa.


“Mor.”


“Cepat bantu aku.” Sang wanita yang dipanggil Mor menatap anaknya sekilas lalu kembali melayani pembeli yang datang. Dengan sigap, pria yang dipanggil Rico itu menuruti perkataan ibunya. Kedua tangannya dengan lincah mengambil setiap kue yang menjadi pilihan pelanggannya.


“Tak.” Ucap Rico seraya tersenyum ramah pada pembelinya yang merupakan seorang gadis kecil berusia sekitar tujuh tahun.


Gadis kecil itu mengangguk kecil seraya tersenyum malu-malu. Lalu segera melangkah pulang menuju rumahnya yang hanya berjarak lima rumah dari toko kue ibu Rico.


Setelah bertengkar hebat dengan ayahnya—Daffin waktu itu, Rico memutuskan untuk pergi dan tinggal bersama ibunya sekalipun pria yang tak pantas disebutnya ayah itu melarang bahkan mengancamnya. Dan sejak ia tinggal bersama ibunya, Rico baru tersadar jika semua yang telah dilakukannya pada Bianca adalah perbuatan buruk dan tak masuk akal.


Semua kemewahan, uang serta fasilitas mewah yang ayahnya berikan untuknya, menjadi tak berarti bagi Rico. Ia justru merasa lebih tenang dan juga bahagia hidup di tengah kesederhanaan bersama ibunya. Bahkan, ia yang lebih sering menghabiskan waktunya di dapur untuk membuat kue dan menciptakan resep baru.


Rico menyesal. Kenapa bukan sejak dulu ia melakukannya. Sehingga tak ada satupun orang yang tersakiti karenanya. Tapi di sisi lain, ia juga merasa bersyukur dengan semua yang telah terjadi di dalam hidupnya, karena ia akhirnya berani untuk melangkah maju dan membuat keputusan sendiri. Tak terus tinggal dalam bayang-bayang ayahnya.


“Godt arbejde .” Ucap ibu Rico seraya mengelus rambut anaknya penuh sayang. Akhirnya, mereka berdua bisa berkumpul kembali setelah cukup lama terpisahkan.


Rico tersenyum lebar. Lalu memeluk ibunya sekilas sebelum akhirnya kembali lagi ke dapur untuk menyelesaikan kue yang dibuatnya menggunakan resep baru kreasinya sendiri.


Rico memilih untuk memulai semuanya dengan menjadi pria yang lebih baik lagi. Membuat ibunya bahagia adalah prioritas utamanya. Berbeda dengan kehidupannya dulu yang sering bermain wanita, kini Rico tak lagi peduli. Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama ibunya.


 


*Terima kasih*

__ADS_1


Kerja bagus**


__ADS_2